NovelToon NovelToon
DILUAR DIPUJA DIDALAM DIHINA Istri Pengganti Ceo Brayen

DILUAR DIPUJA DIDALAM DIHINA Istri Pengganti Ceo Brayen

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurelia Sadewa

Mengisahkan seorang gadis cantik yang berprofesi menjadi model, namun memiliki kita kelam semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita licik dan memiliki seorang anak yang bernama Lalita. Isyana selalu di bully di hina dan di perlakuan seperti anak pelayan. Hingga pada suatu hari Isyana di jodohkan oleh ibu tirinya dengan seorang CEO dingin dan kejam bernama Brayen Lucian Alkantara...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

First Class Bucin

*BAB 13 - FIRST CLASS BUCIN - m

Gate 5 - Boarding.

A

Suara pengumuman boarding menggema, tapi aku masih belum bisa jalan. Kakiku masih lemas. Pipiku masih basah. Tangan ku masih gemetar memegangi kalung berlian bulan sabit 1,2 Miliar yang baru saja jadi saksi keributan di loby tadi.

Lalita masih terduduk di kursi loby, memegangi pipinya yang merah bekas tamparan Brayen. Orang-orang masih merekam. Satpam bandara sudah datang menghampiri Lalita.

Brayen tidak menoleh sedikit pun ke belakang. Ia menggandeng tanganku erat, sangat erat, seolah takut kalau ia lepaskan, akan ada Lalita kedua, ketiga yang akan menyakiti ku lagi.

"Jangan lihat ke belakang, Berlian ku," bisiknya di telingaku, suaranya masih berat menahan amarah. "Lihat ke depan. Pesawat kita sudah menunggu."

Aku mengangguk. Aku menatap ke depan. Menatap punggung lebar Brayen yang melindungiku.

Kami berjalan melewati lorong belalai gajah menuju pesawat. Sepanjang jalan, semua mata pramugari dan penumpang ekonomi yang antri menatap kami. Tentu saja. Barusan video tamparan di loby VIP sudah tersebar di story Instagram. Dengan judul: "CEO ALKANTARA TAM PAR ADIK TIRI ISTRINYA DI BANDARA!"

Pramugari cantik dengan seragam biru dongker Alkantara Air menyambut kami di pintu pesawat dengan senyum profesional yang sedikit gugup.

"Selamat datang, Tuan Brayen, Nyonya Isyana Alkantara di first class Alkantara Air. Silakan, kursi Anda sudah siap, Tuan."

Ya. Pesawat ini pun milik perusahaan Brayen sendiri. Alkantara Air. Satu dari 10 bisnisnya.

Kami masuk ke kabin first class yang sangat privat. Bukan first class biasa seperti di pesawat komersil. Ini seperti kamar hotel bintang 5 di atas awan. Hanya ada 4 kursi. Kursinya sangat besar, bisa direbahkan 180 derajat jadi tempat tidur. Ada bantal bulu angsa, selimut sutra, TV layar 32 inch, bahkan ada tirai yang bisa ditutup untuk privasi.

Brayen mendudukkanku di kursi dekat jendela, kursi 1A. Ia sendiri di 1B, di sebelahku. Begitu aku duduk, ia langsung berjongkok di depanku, menyamakan tinggi mata denganku.

"Sayang, kaki kamu masih gemetar," bisiknya pelan sambil memegang lututku yang memang gemetar.

Aku mengangguk. "Aku malu, Mas... banyak orang lihat..."

"Malu kenapa?" Brayen menatapku heran. "Yang harusnya malu itu Lalita, bukan kamu. Kamu korban, Isyana. Kamu yang difitnah adik tiri kamu sendiri. Kenapa kamu yang malu?"

Ia mengambil selimut sutra yang ada di kursi, menyelimuti kaki ku yang dingin dengan lembut. Gerakannya sangat hati-hati, seperti sedang menyelimuti bayi.

Lalu ia duduk di kursinya, tapi tangannya tidak lepas dari tanganku. Ia genggam erat. Jari-jarinya yang besar dan hangat membungkus jari-jariku yang kecil dan dingin.

Pesawat mulai bergerak mundur, lalu melaju di landasan pacu. Lampu kabin dimatikan, hanya lampu baca yang menyala temaram.

Aku melirik ke samping. Brayen masih diam. Rahangnya masih mengeras. Tangannya yang menggenggam tanganku masih mengepal, uratnya keluar. Ia masih marah. Sangat marah.

"Mas..." aku berbisik kecil, takut. "Mas masih marah ya? Sama Lalita?"

Brayen menghela napas panjang. Ia menoleh. Begitu matanya bertemu mataku yang bengkak karena menangis, matanya yang tadinya merah marah langsung melembut. Seketika.

"Marah," katanya jujur, tidak ditutupi. "Marah banget sama Lalita. Berani-beraninya dia ngomong gitu ke kamu. Di depan umum lagi. Padahal dia adik kamu. Darah daging kamu sendiri."

Ia mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya pelan.

"Tapi..." ia melanjutkan, suaranya lebih pelan, hanya aku yang bisa dengar karena suara mesin pesawat mulai keras tanda take off. "Tapi Mas lebih marah sama diri Mas sendiri, Berlian."

Aku mengernyit bingung. "Kenapa sama diri sendiri? Mas kan udah nolongin aku..."

"Karena Mas tinggalin kamu sendirian di loby tadi," jawabnya, matanya menatapku penuh penyesalan. "Cuma 2 menit, Isyana. Cuma 2 menit Mas ke toilet. Dalam 2 menit itu, ada yang berani sakiti kamu, fitnah kamu, bilang kamu dijual. Kalau Mas ada di situ dari awal, dia tidak akan berani buka mulutnya. Dia tidak akan berani mendekati kamu."

_Deg!_

Ya Tuhan. Suami ku ini... dia menyalahkan dirinya sendiri karena aku disakiti orang lain.

Air mataku yang sudah berhenti, jatuh lagi. Kali ini bukan karena Lalita. Tapi karena Brayen.

"Mas jangan ngomong gitu..." aku langsung memeluk lengannya erat, menyandarkan kepalaku di bahunya. "Mas kan udah datang... pas banget malah... kayak pahlawan di film-film... Mas datang pas aku butuh..."

Brayen akhirnya tersenyum. Senyum kecil pertama setelah kejadian tadi. Ia menunduk, mencium puncak kepalaku lama. Aroma parfumnya yang mahal dan menenangkan masuk ke hidungku.

Pesawat sudah di atas awan. Jakarta sudah tidak terlihat. Hanya hamparan awan putih kapas yang luas seperti samudra.

Pramugari datang menawarkan champagne, tapi Brayen menolak. "Istri saya tidak minum alkohol. Beri kami air putih hangat dan coklat panas saja."

Setelah pramugari pergi, Brayen menekan sebuah tombol di samping kursinya. Kursi ku perlahan berubah menjadi tempat tidur datar yang empuk. Kursinya juga. Jadi kami berdua sekarang tiduran sejajar, hadap-hadapan, dalam satu selimut sutra first class yang sama yang lebar. Tirai privasi sudah kami tutup.

Sekarang benar-benar hanya kami berdua di ketinggian 35.000 kaki, di atas awan, di dalam kepompong kecil yang hangat.

Brayen berbisik di telingaku, suaranya berat tapi lembut, napasnya hangat di leherku.

"Isyana, dengerin Mas ya..."

Aku mengangguk di dalam pelukannya.

"Mulai hari ini, kamu bukan lagi Isyana yang gaunnya dirobek adik tirinya di backstage catwalk episode 1 dan hanya bisa diam dan nangis di toilet. Kamu bukan lagi Isyana yang difitnah dijual ayahnya dan hanya bisa gemetar."

Ia mengangkat daguku, menatap mataku dalam.

"Kamu sekarang Isyana Alkantara. Berlian nya Alkantara. Nyonya dari semua perusahaan Mas. Brand Ambassador Mas. Istri sah Mas. Kalau ada yang robek gaun kamu lagi, Mas yang akan jahit dengan cara Mas sendiri. Kalau ada yang hina kamu lagi, Mas yang akan tutup mulut mereka dengan cara Mas sendiri. Paham, Berlian ku?"

Aku mengangguk, air mataku jatuh lagi tapi kali ini haru dan bahagia. Aku merasa sangat... dimiliki. Sangat dijaga. Sangat dicintai.

"Iya Mas... paham..."

Ia menghapus air mataku dengan ibu jarinya yang kasar tapi lembut, lalu mencium keningku lama. Bukan ciuman nafsu. Tapi ciuman perlindungan. Ciuman janji.

"Tidur ya sayang. Perjalanan masih 8 jam. Nanti bangun, kita sudah di surga. Maladewa. Hanya kita berdua. Tidak ada Lalita, tidak ada hutang, tidak ada kontrak. Hanya aku dan kamu. Mau?"

Aku mengangguk manja dalam pelukannya. "Mau, Mas..."

Dan aku tertidur. Tertidur pulas di pelukan Brayen di first class itu, di atas awan, dengan kalung berlian bulan sabit yang masih berkilau di leherku, dengan tangan Brayen yang tidak pernah lepas dari pinggangku selama 8 jam penerbangan.

Karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, setelah 20 tahun menjadi kakak tiri yang selalu disakiti, aku merasa aman. Aman sepenuhnya.

Karena suami ku bukan cuma menampar orang yang menghina ku di bandara. Tapi ia juga menjaga ku bahkan saat aku tidur di atas awan.

---Bersambung---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!