Di tengah masa kelaparan parah yang melanda desa, seorang bayi perempuan dibuang begitu saja ke dalam hutan terlarang oleh orang tua kandungnya.
Takdir membawanya ke pelukan keluarga pemburu sederhana bernama Arga dan Mira yang kemudian menamainya Natasya.
Tujuh tahun berlalu, Natasya tumbuh menjadi anak ceria yang menyimpan rahasia ajaib karena ia mampu memahami dan berbicara dengan hewan.
Ketika Mira jatuh sakit parah dan membutuhkan tanaman obat langka, Natasya menggunakan kemampuannya untuk menjelajahi hutan terlarang demi menyelamatkan ibunya dan membawa kemakmuran bagi desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Kukuruyuk.
Suara ayam jantan berkokok bersahut-sahutan menyambut datangnya pagi yang cerah di desa.
Asap tipis mengepul dari atap-atap dapur rumah warga menandakan kehidupan yang kembali berdenyut normal.
Suasana desa yang dulunya sepi seperti kuburan kini kembali ramai oleh canda tawa anak-anak yang bermain di halaman.
Berkat penemuan lembah hijau rahasia itu, tidak ada lagi warga yang harus menahan perihnya perut kosong kelaparan.
Di dalam rumah Arga, keluarga kecil itu sedang bersiap-siap untuk memulai aktivitas harian mereka.
Mira sedang mengikat rambutnya ke belakang sambil merapikan baju kerjanya yang agak usang.
"Hari ini Ibu akan pergi ke lembah lagi bersama ibu-ibu yang lain untuk memanen sayur bayam liar."
Mira tersenyum menatap Natasya yang sedang duduk santai di ruang tengah memakan buah ceri hutan.
"Kamu mau ikut Ibu ke lembah atau mau main di rumah saja hari ini, sayang?"
"Aku mau main di sekitar desa saja hari ini, Ibu."
Natasya menjawab dengan mulut yang masih penuh dengan buah ceri yang manis.
"Di lembah udaranya sangat panas kalau siang hari dan aku tidak suka banyak nyamuknya."
"Ya sudah kalau begitu, kamu main yang pintar dan jangan nakal ya."
Arga menimpali sambil mengambil cangkulnya dari sudut ruangan.
"Ayah juga mau pergi ke lembah untuk membantu bapak-bapak membuat saluran air kecil dari sungai."
"Hati-hati di jalan ya, Ayah, Ibu."
Natasya melambaikan tangannya mengantar kepergian kedua orang tuanya sampai ke depan pintu rumah.
Setelah memastikan kedua orang tuanya benar-benar pergi jauh, Natasya langsung berlari keluar halaman.
Gadis kecil itu berencana untuk pergi ke perbatasan hutan lagi guna menjenguk Gaga yang pasti sedang tidur siang.
Namun baru saja ia melewati dua rumah tetangganya, sebuah keributan besar tiba-tiba terdengar.
Gubrak.
Prang.
Suara ember seng yang ditendang dengan keras disusul bantingan piring terdengar dari arah rumah Pak Joko.
"Ada apa ini ribut-ribut pagi-pagi begini, Pak Joko?"
Seorang tetangga bernama Mang Udin berlari menghampiri rumah Pak Joko dengan wajah panik.
Natasya ikut menghentikan langkahnya dan mengintip dari balik pagar bambu yang agak berlubang.
Pak Joko terlihat sedang duduk bersimpuh di depan kandang kambingnya yang sudah kosong melompong.
Pria kurus itu menangis sejadi-jadinya sambil memukuli tanah dengan kedua tangannya yang kotor.
"Kambing kesayanganku, Si Putih, hilang entah ke mana pagi ini, Mang Udin."
Pak Joko meratap dengan suara serak dan napas yang terputus-putus.
"Padahal Si Putih sedang hamil besar dan sebentar lagi mau melahirkan anak pertamanya."
"Kok bisa hilang begitu saja, apa pintunya lupa kau kunci semalam?"
Mang Udin ikut berjongkok dan memeriksa gerbang kayu kandang kambing tersebut.
"Aku selalu menguncinya dengan rapat setiap malam sebelum tidur."
Pak Joko mengusap air matanya dengan lengan bajunya yang lusuh.
"Pasti ada maling dari desa sebelah yang mencurinya saat aku sedang tertidur lelap semalam."
"Atau jangan-jangan kambingmu itu dimakan oleh siluman buas dari Hutan Larangan."
Suara melengking khas Bu Rini tiba-tiba menyela pembicaraan kedua pria tersebut.
Wanita penggosip itu berjalan mendekat dengan keranjang sayur di tangannya dan raut wajah sok tahu.
"Jangan menakut-nakuti orang yang sedang kena musibah begitu, Bu Rini."
Mang Udin menegur wanita itu dengan nada yang sangat kesal.
"Aku kan cuma bicara kemungkinan yang paling masuk akal saja."
Bu Rini memutar bola matanya dan mencibir dengan sinis.
"Desa kita ini kan bersebelahan langsung dengan Hutan Hitam yang penuh monster gaib itu."
Natasya yang mendengarkan percakapan itu dari balik pagar langsung merasa kasihan pada Pak Joko.
Kambing itu adalah satu-satunya harta berharga yang dimiliki oleh Pak Joko selain gubuk reyotnya.
"Aku harus membantu Pak Joko menemukan kambingnya yang hilang itu."
Natasya bergumam pelan pada dirinya sendiri lalu segera berbalik arah dan berlari kencang.
Gadis kecil itu tidak jadi pergi ke batas hutan melainkan berlari menuju padang rumput ilalang di belakang desa.
Area itu adalah tempat di mana kambing-kambing warga desa biasanya dilepas untuk mencari makan siang hari.
Sesampainya di padang rumput yang luas itu, Natasya langsung meletakkan kedua tangannya di depan mulut.
Gadis itu menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan suara siulan yang sangat panjang dan nyaring.
Fwiiit.
Suara siulan itu terdengar seperti nada panggilan khusus yang biasa digunakan oleh burung gembala.
Tidak lama setelah siulan itu menggema, sekawanan burung pipit terbang turun dari arah pepohonan.
Mereka hinggap berjejer rapi di atas dahan pohon randu tepat di depan Natasya.
"Ada yang bisa kami bantu, putri kecil dari batas hutan?"
Seekor burung pipit yang paling besar berkicau menyapa Natasya dengan nada yang sangat hormat.
"Halo teman-teman, aku butuh bantuan kalian untuk mencari sesuatu yang hilang pagi ini."
Natasya mendongak dan menatap burung-burung kecil itu dengan senyum manis andalannya.
"Apa kalian melihat seekor kambing betina berwarna putih dengan perut buncit di sekitar sini?"
"Oh, maksudmu hewan pemakan rumput yang jalannya lambat dan suka mengembik berisik itu ya?"
Burung pipit itu memiringkan kepalanya mengingat-ingat kejadian pagi tadi.
"Kami melihatnya berjalan sendirian ke arah timur dekat dengan jurang sungai kering satu jam yang lalu."
"Jurang sungai kering di sebelah timur desa?"
Natasya mengerutkan keningnya karena tahu tempat itu cukup berbahaya dan licin jika terinjak.
"Apa dia diculik oleh manusia jahat dari desa sebelah?"
"Tidak ada manusia satupun di sekitarnya tadi pagi."
Burung pipit yang lain ikut berkicau memberikan laporan tambahan yang sangat berguna.
"Hewan putih itu sepertinya tersesat saat sedang asyik memakan bunga liar di pinggir jurang dan akhirnya terperosok jatuh."
"Astaga, dia terperosok ke dalam jurang rupanya."
Natasya menepuk jidatnya pelan menyadari kecerobohan hewan herbivora tersebut.
"Terima kasih banyak atas informasinya ya teman-teman, kalian sangat membantuku hari ini."
Ciap.
Ciap.
Burung-burung pipit itu kembali terbang ke udara melanjutkan aktivitas mencari biji-bijian mereka.
Natasya tidak membuang waktu lagi dan langsung berlari secepat kilat kembali ke rumah Pak Joko.
Setibanya di sana, Pak Joko masih duduk menangis meratapi nasibnya ditemani oleh beberapa warga yang mencoba menghibur.
"Pak Joko, jangan menangis lagi."
Natasya menerobos kerumunan warga dan berdiri tepat di hadapan pria kurus tersebut.
"Aku tadi sedang mengejar kupu-kupu besar sampai ke dekat jurang sungai kering di timur desa."
Semua orang dewasa di sana langsung mengalihkan pandangannya menatap gadis kecil yang tiba-tiba muncul itu.
"Lalu apa hubungannya kupu-kupumu dengan kambingku yang hilang, Natasya?"
Pak Joko bertanya dengan nada bingung di sela-sela isak tangisnya.
"Waktu aku sedang asyik mengejar kupu-kupu itu, aku mendengar suara embikan dari bawah jurang sungai."
Natasya memasang wajah sepolos mungkin dan membesarkan matanya agar terlihat sangat meyakinkan.
"Suaranya persis seperti suara Si Putih milik Pak Joko kalau sedang minta makan."
"Benarkah yang kau katakan itu, Natasya?"
Pak Joko langsung melompat berdiri dengan sisa tenaganya dan mencengkeram kedua bahu Natasya.
"Kau tidak sedang berbohong mengerjai orang tua yang sedang sedih ini kan?"
"Tentu saja aku tidak berbohong, Pak Joko."
Natasya mengangguk cepat dengan sangat yakin dan meyakinkan.
"Coba saja Bapak periksa ke bawah jurang sungai kering sekarang juga, pasti Si Putih ada di sana sedang terjebak."
"Ayo kita ke sana sekarang juga, Mang Udin, tolong temani aku turun ke jurang."
Pak Joko tidak menunggu persetujuan lagi dan langsung berlari sekencang mungkin menuju arah timur desa.
Mang Udin dan beberapa pemuda desa lainnya ikut berlari menyusul dari belakang membawa tali tambang panjang.
Bu Rini yang masih berdiri di sana hanya mencibir pelan melihat kepergian rombongan pria tersebut.
"Paling juga anak itu cuma berhalusinasi karena kebanyakan main di tempat panas."
"Mana mungkin kambing bisa jalan sejauh itu sampai ke jurang tanpa ada yang menggembalakannya."
Namun cibiran Bu Rini tidak bertahan lama karena setengah jam kemudian rombongan itu kembali.
Pak Joko terlihat berjalan paling depan sambil menuntun Si Putih yang lehernya sudah diikat dengan tali tambang.
Kambing betina itu terlihat kotor dipenuhi tanah kering namun kondisinya sangat sehat dan tidak terluka parah.
"Kambingnya benar-benar ketemu di dasar jurang."
Mang Udin berteriak dari kejauhan memberi kabar kepada warga yang masih menunggu di depan rumah.
"Tebingnya longsor jadi kambing ini terperosok ke bawah dan tidak bisa naik lagi karena perutnya yang besar."
Pak Joko langsung menjatuhkan dirinya di depan Natasya dan memeluk gadis kecil itu dengan sangat erat.
"Terima kasih banyak, Natasya, kau benar-benar malaikat penyelamat bagi keluarga kecilku."
"Kalau saja kau tidak sedang mengejar kupu-kupu ke sana, kambingku pasti sudah mati kelaparan di dasar jurang."
"Sama-sama, Pak Joko, aku senang Si Putih bisa pulang dengan selamat."
Natasya membalas pelukan pria tua itu sambil tersenyum lega.
Warga desa yang menyaksikan kejadian itu mulai bertepuk tangan dan memuji kehebatan firasat Natasya.
"Anak ini benar-benar membawa keberuntungan ke mana pun dia pergi."
"Kemarin ayahnya yang mendapat firasat lembah setelah dicegah pergi oleh anak ini, sekarang dia sendiri yang menemukan kambing hilang."
Bisik-bisik kekaguman itu terdengar sangat jelas mengudara di telinga semua orang yang hadir di sana.
Bu Rini menatap Natasya dengan mata menyipit tajam penuh dengan rasa curiga yang tidak beralasan.
"Ini bukan sekadar kebetulan atau keberuntungan biasa lagi, pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan anak pungut ini."
Wanita penggosip itu bergumam pelan sebelum akhirnya melenggang pergi kembali ke rumahnya sendiri.
Hari itu desa kembali tenang setelah masalah kambing hilang berhasil diselesaikan dengan manis.