NovelToon NovelToon
Anomali Sang Pewaris

Anomali Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Sci-Fi
Popularitas:167
Nilai: 5
Nama Author: Rjm10

Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran.
Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rjm10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Api Suci dan Baja Ketiadaan

Lonceng peringatan bergema membelah malam, suaranya lebih tajam daripada rentetan senapan mesin. Lampu-lampu sorot magis yang tadinya memancarkan cahaya putih kini berubah menjadi merah darah, menyapu seluruh area sektor terdalam bagai mata iblis raksasa yang mencari mangsa.

"Rencana siluman dibatalkan!" teriak Lyra. Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia melemparkan bom asap beracun yang sedari tadi digenggamnya ke arah jembatan.

BUM!

Asap hijau pekat meledak, menelan keempat Inkuisitor yang menjaga penghalang cahaya. Namun, pasukan elit Kekaisaran Pusat itu bukanlah kroco jalanan dari Distrik Bawah. Dari dalam kepulan asap, pendar cahaya putih yang membutakan menyala terang, membakar habis partikel racun itu seketika. Topeng perak mereka sama sekali tidak tertembus asap.

"Biar kutebak, racun tidak mempan terhadap orang suci?!" rutuk Lyra, melompat mundur sambil mencabut kedua belatinya.

"Mundur, Lyra. Mereka milikku," suara Kaelen terdengar menggema, berat, dan tanpa sedikit pun kepanikan.

Keempat Inkuisitor itu menerjang maju menembus sisa asap. Tombak mereka yang berlapis Aura Suci diayunkan. Udara di sekitar bilah tombak itu mendesis, membakar oksigen dengan hawa murni yang terasa menyesakkan dada. Silas telah memperingatkannya: Aura Suci dirancang untuk memurnikan korupsi. Jika Kaelen menelan energi itu dengan pusarannya, Inti Leviathan akan mendidih layaknya mesin uap yang disuntikkan lava.

Satu tombak melesat lurus ke arah dada Kaelen.

Kaelen tidak membuka pusaran ketiadaannya. Sebaliknya, ia memusatkan energi netral dari Inti Leviathan langsung ke jaringan otot kakinya. Dengan kecepatan yang merobek batas ruang, Kaelen memutar tubuhnya, membiarkan mata tombak itu mendesis hanya beberapa milimeter dari wajahnya.

Panas dari Aura Suci itu langsung menghanguskan ujung rambut dan melepuhkan sedikit kulit pipinya, namun Kaelen bahkan tidak berkedip. Tidak ada emosi. Tidak ada rasa sakit yang diproses oleh otaknya.

Sebelum Inkuisitor itu sempat menarik tombaknya kembali, Kaelen melangkah maju, menutup jarak. Ia tidak menggunakan telapak tangannya untuk menyerap, melainkan mengepalkan tinjunya erat-erat, membalut sarung tangannya dengan lapisan tipis Domain Null yang bertindak sebagai perisai tolak, bukan penyerap.

BAM!

Tinju Kaelen menghantam pelat dada Inkuisitor itu dengan tenaga kinetik murni yang setara dengan hantaman meriam. Zirah putih yang diberkati dengan ratusan rune pertahanan itu remuk seketika, melesak ke dalam, menghancurkan tulang rusuk sang prajurit suci. Inkuisitor itu terpental puluhan meter ke udara, memuntahkan darah sebelum tubuhnya menghantam tanah dan tak bergerak lagi.

Melihat rekan mereka tewas dalam satu pukulan fisik, tiga Inkuisitor yang tersisa mengubah taktik. Mereka tidak lagi menyerang secara membabi buta. Ketiganya bergerak membentuk formasi segitiga, mengepung Kaelen dan menyatukan ujung tombak mereka ke arah tengah.

"Purifikasi Absolut!" seru mereka serentak dari balik topeng perak.

Pilar cahaya putih meledak dari penyatuan ketiga tombak itu, membentuk jaring laser magis yang menyergap Kaelen dari tiga sisi.

"Kaelen!" teriak Lyra, yang tengah merayap di atas kereta suplai.

Kaelen terjebak di tengah formasi. Cahaya suci itu mulai membakar ujung jubah kulitnya. Inti Leviathan di dadanya menjerit, bergetar hebat menolak energi murni tersebut. Jika ia tidak menelannya, ia akan terbakar menjadi abu. Jika ia menelannya, artefaknya akan kelebihan beban.

Maka, Kaelen memilih jalan ketiga. Ia menghancurkan sumbernya.

Mengabaikan rasa panas yang mulai memanggang dagingnya, Kaelen menghentakkan kakinya. Ia menggunakan Langkah Bayangan bukan untuk menghindar, melainkan menabrak langsung salah satu Inkuisitor.

Prajurit suci itu terkejut melihat Kaelen berani menerobos masuk ke dalam zona radiasi mematikan. Kaelen meraih poros tombak milik Inkuisitor itu—bagian kayunya yang tidak terlapisi sihir—dan menariknya dengan tenaga raksasa. Inkuisitor itu kehilangan keseimbangan. Kaelen memutar tubuhnya, menggunakan Inkuisitor itu sebagai perisai hidup untuk menahan pancaran cahaya dari dua rekannya yang lain.

Terdengar jeritan mengerikan saat Inkuisitor itu hangus oleh serangan rekan-rekannya sendiri.

Memanfaatkan kepanikan itu, Lyra melompat dari atas kereta suplai. Layaknya kelelawar pemburu, ia mendarat di punggung salah satu Inkuisitor yang tersisa. Dengan presisi mematikan, gadis itu menancapkan belati karambitnya tepat di celah kecil antara helm perak dan pelindung leher—titik buta dari setiap zirah berat. Inkuisitor itu tumbang seketika.

Tersisa satu Inkuisitor. Sebelum pria bermata membelalak di balik topeng itu sempat mundur, Kaelen sudah berada di depannya, mencengkeram tenggorokannya, dan mematahkannya dalam satu gerakan efisien tanpa suara.

Dalam waktu kurang dari dua menit, empat pasukan elit kaisar telah dibantai.

Namun, pertempuran baru saja dimulai. Dari arah sektor infanteri, suara derap langkah ribuan prajurit mulai terdengar menggetarkan bumi. Mereka hanya punya waktu hitungan detik sebelum lautan emas dan putih menelan mereka.

Kaelen berbalik menghadap parit cahaya—penghalang magis terakhir yang menutupi tenda raksasa. Pendar biru keunguan dari dalam tenda memanggilnya semakin kuat, membuat dadanya terasa seperti ditarik gravitasi.

"Bagaimana kau akan melewati itu?" napas Lyra memburu, melirik cemas ke arah datangnya ribuan prajurit yang semakin dekat. "Benda itu murni Aura Suci kental. Kau tidak bisa meninjunya!"

"Aku tidak akan meninjunya," ucap Kaelen, melangkah mendekati tirai cahaya yang menyilaukan itu. "Aku akan membelahnya."

Kaelen merentangkan kedua tangannya. Ia membalik polaritas Inti Leviathan. Ia mengumpulkan seluruh sisa energi ketiadaan di tangannya, membentuk dua bilah pisau vakum tak kasat mata. Kemudian, ia menancapkan kedua tangannya langsung ke dalam parit cahaya tersebut.

Sensasinya seperti memasukkan tangan ke dalam cairan besi mendidih. Kaelen menggeram, rahangnya terkatup rapat. Otot-otot di lengan dan lehernya menonjol hingga kulitnya nyaris robek.

"Buka!" raung Kaelen dengan suara yang tidak terdengar seperti manusia, melainkan perpaduan antara geraman monster dan derak mesin raksasa.

Ia menarik kedua tangannya ke arah yang berlawanan. Domain Null miliknya memaksa energi suci itu untuk terpisah, menciptakan lubang sebesar pintu yang sisinya bergolak liar.

"Masuk!" perintah Kaelen pada Lyra. Gadis itu tidak membuang waktu, langsung melompat menembus celah tersebut. Kaelen menyusul di belakangnya, membiarkan penghalang itu menutup kembali dengan suara ledakan kecil di belakang mereka.

Di dalam tenda, keheningan menyambut mereka. Suara ribuan prajurit di luar tiba-tiba teredam total.

Tenda itu ternyata bukan sekadar ruang militer biasa, melainkan sebuah ruang distorsi ruang angkasa yang dirancang khusus untuk mengurung energi purba. Interiornya seluas balai istana, dilapisi dengan ukiran rune penekan sihir.

Di tengah ruangan, melayang di udara, terikat oleh puluhan rantai cahaya emas, adalah potongan kedua dari Mesin Pemakan Dewa.

Sebuah sarung tangan mekanis (gauntlet) raksasa yang terbuat dari obsidian yang sama dengan benda di dada Kaelen, memanjang hingga melindungi seluruh lengan kanan, berakhir pada bantalan pelindung bahu berbentuk sayap baja yang terlipat. Benda itu berontak, meronta-ronta di dalam rantai cahayanya, memancarkan pendar biru-ungu yang beresonansi gila-gilaan dengan dada Kaelen.

Namun, benda itu tidak sendirian.

Berdiri di bawah sarung tangan raksasa itu, seorang pria jangkung dengan rambut pirang panjang yang diikat rapi, mengenakan jubah putih bertahtakan emas murni. Di tangannya, ia memegang sebuah tongkat yang ujungnya berbentuk matahari terbit. Enam sayap energi cahaya memancar dari punggungnya.

"Inkuisitor Agung Valerius," Lyra berbisik horor, mundur selangkah tanpa sadar.

Pria itu menoleh, menatap Kaelen dengan sepasang mata emas yang tidak memiliki pupil. Senyum tipis yang memancarkan arogansi ilahiah menghiasi wajahnya.

"Kaelen Adiwangsa," suara Valerius mengalun lembut, namun memancarkan otoritas absolut yang membuat tulang Lyra bergetar. "Semesta rupanya tidak pernah membuat kesalahan. Ia mendatangkan wabah penyakit ini, langsung ke hadapan sang penawar."

Valerius mengarahkan ujung tongkatnya ke arah Kaelen. "Kau datang untuk melengkapi tubuh rongsokanmu, Anomali? Sayang sekali, hari ini, artefak itu akan dikirim kembali ke Ibukota. Dan jantungmu... akan kujadikan persembahan di atas altar Kaisar Agung."

Inti Leviathan di dada Kaelen merespons. Bukan dengan ketakutan, melainkan dengan kemarahan purba. Sarung tangan mekanis di atas mereka bergetar semakin liar, membuat rantai-rantai emas yang mengikatnya mulai retak. Benda itu tahu, tuan aslinya telah tiba.

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
hai outhor salam kenal . mau masuk grup ku gak saling support
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: ayo saling folow
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!