Keira Khiu bukan tipe sekretaris yang kamu lihat di drama.
Dia gemuk, biasa-biasa saja, dan lebih suka makan bakso pinggir jalan daripada makan malam di restoran mewah. Tapi di balik penampilannya yang sederhana, Keira adalah orang yang paling dipercaya oleh Rayhan Kie — Direktur Utama Gemilang Group, konglomerat properti terbesar di kota ini.
Rayhan tampan, kaya, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Wanita datang dan pergi dari hidupnya tanpa meninggalkan bekas. Tapi Keira? Dia berbeda. Dia menolak semua godaannya. Dia menamparnya ketika dia mencoba memeluknya. Dia bahkan pernah mematahkan tangan seorang pria yang menyentuhnya tanpa izin.
Selama bertahun-tahun, Rayhan menganggap Keira hanya sebagai asisten terbaiknya. Sampai dia menyadari — dia tak bisa hidup tanpanya.
Tapi Keira punya lukanya sendiri. Cinta pertamanya, Arya, memilih wanita lain setelah sepuluh tahun kebersamaan. Dan di balik kemewahan keluarga Kie, tersembunyi rahasia gelap: istri Rayhan, Sanya, mengandung anak pria lain. Adik tirinya, Selene, merencanakan segalanya dari balik bayangan. Dan Kevin — sepupu Keira sendiri — terjerat di tengah-tengah semuanya.
Ketika kebenaran terungkap, hanya satu orang yang bisa dipercaya Rayhan.
Dan orang itu justru ingin pergi meninggalkannya.
**"Aku mencintaimu, Rayhan. Tapi aku tak bisa menjadi burung dalam sangkar emasmu."**
---
*Sebuah kisah tentang wanita biasa yang menolak menjadi milik siapa pun — kecuali dirinya sendiri.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8: Godaan dan Penolakan
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.
Bella lebih dulu menunduk, lalu tersenyum dengan cara yang dipaksakan santai. "Kei, kamu datang pagi sekali."
Keira menatap kemeja putih pria di bahu Bella, lalu sepatu hak di dekat sofa, lalu kembali ke wajah temannya.
"Aku memang kerja di sini."
Pintu ruang Rayhan terbuka lebih lebar. Rayhan muncul dengan kemeja hitam yang kancing atasnya belum tertutup. Rambutnya masih basah, wajahnya tenang, seolah menemukan teman kuliah sekretarisnya keluar dari ruangannya pada pagi hari adalah bagian normal dari jadwal direksi.
"Keira," katanya, "jadwal rapat pukul sembilan dimajukan."
Keira menelan kalimat yang ingin keluar. Baik sekali, Pak Direktur. Setelah semalaman sibuk, pagi masih rapat.
"Baik, Pak Direktur."
Bella melihat Keira, mungkin menunggu pertanyaan, mungkin menunggu celaan. Keira hanya meletakkan map di meja sekretariat dan menyalakan komputer.
Di dunia orang dewasa, ada hal-hal yang tidak perlu dijelaskan karena semua bukti sudah berdiri telanjang di depan mata.
Sejak hari itu, Bella menjadi nama yang kadang muncul di jadwal pribadi Rayhan. Tidak resmi, tentu saja. Tidak ada "kencan" di kalender. Hanya catatan singkat: antar dokumen ke penthouse, pesan suite hotel untuk tamu, kosongkan malam Jumat. Keira tidak bodoh.
Bella juga tidak berusaha terlalu keras menyembunyikan kebanggaannya. Ia beberapa kali datang ke kantor dengan tas baru, parfum baru, dan senyum yang seolah berkata bahwa peringatan Keira tidak ada artinya dibanding satu malam di sisi Rayhan Kie.
Keira makin yakin pada satu hal: Rayhan adalah Si Merak yang bukan hanya suka membuka ekor, tetapi juga membiarkan orang lain memungut bulunya dan mengira itu mahkota.
Masalahnya, Si Merak itu mulai mengarahkan ekor ke tempat yang salah.
Suatu malam setelah jamuan bisnis dengan calon investor, Rayhan meminta Keira mengantar dokumen ke mobilnya. Ia minum sedikit, tidak sampai mabuk, tetapi cukup membuat suaranya lebih pelan dari biasa.
"Kamu selalu memakai parfum yang sama?" tanyanya.
Keira berdiri satu langkah menjauh. "Saya tidak memakai parfum, Pak. Mungkin aroma hand sanitizer."
"Bukan." Rayhan menunduk sedikit. "Aroma rumah. Makanan. Sabun biasa."
Kalimat itu terdengar terlalu pribadi.
"Dokumennya sudah lengkap, Pak. Saya pulang dulu."
Rayhan tiba-tiba mengangkat tangan, menyentuh ujung rambut dekat pipi Keira.
Tubuh Keira bergerak lebih cepat daripada pikirannya. Ia menangkap pergelangan Rayhan, memutar, lalu mendorongnya ke sisi mobil. Tidak keras sampai melukai, tetapi cukup membuat Rayhan terkejut dan supir di depan hampir menjatuhkan ponsel.
"Pak Direktur," kata Keira, suaranya sangat sopan, "kalau Bapak masih ingin tangan itu dipakai tanda tangan kontrak, jangan sentuh saya tanpa izin."
Rayhan menatapnya.
Keira melepas tangan itu, mundur, lalu membungkuk sedikit. "Selamat malam."
Besoknya, Rayhan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Keira juga. Namun percobaan berikutnya datang seminggu kemudian, ketika mereka meninjau ruang arsip lama dan Rayhan menahan tangannya saat ia hendak mengambil map.
Keira menarik tangan seketika.
"Ada debu, Pak. Jangan kotori tangan Bapak."
"Kamu marah?"
"Saya bekerja."
"Kamu selalu punya jawaban."
"Karena Bapak selalu punya tingkah."
Rayhan diam. Lalu, untuk pertama kalinya, ia tertawa pelan.
Keira tidak ikut tertawa. "Saya serius."
"Aku juga."
"Kalau serius, Bapak harus tahu. Kalau suatu hari saya punya suami dan dia main perempuan, saya punya seribu satu cara untuk membuat hidupnya menyesal. Saya tidak cantik, tapi saya cukup rajin untuk merencanakan balas dendam."
Di balik rak arsip, Ci Lien yang kebetulan datang membawa dokumen langsung berhenti. Rayhan pun berhenti tersenyum.
"Seribu satu?"
"Minimal."
Sejak hari itu, Rayhan tidak lagi mencoba menyentuhnya sembarangan.
Di sisi lain, nama Sanya Yong mulai masuk ke hidup Rayhan dengan cara yang jauh lebih rapi. Keira pertama kali melihatnya dalam makan malam bisnis di hotel. Sanya memakai dress hijau lembut, rambut panjangnya jatuh di bahu, senyumnya halus seperti perempuan yang sejak kecil diajari untuk tidak pernah terlihat marah.
Pak Herman Yong memperkenalkannya dengan bangga.
"Ini Sanya, putri saya."
Sanya menunduk sopan. "Senang bertemu, Rayhan."
Rayhan menjawab seperlunya. Keira, yang berdiri di belakang dengan tablet, melihat sesuatu di mata Sanya yang tidak cocok dengan senyumnya. Lelah. Terlatih. Seperti boneka porselen yang tahu rak mana tempat ia harus diletakkan.
Malam itu, setelah tamu Yong pergi, Rayhan tiba-tiba berkata, "Kamu sudah makan?"
Keira melihat jam. "Belum, Pak. Tapi saya bisa makan di rumah."
"Ikut."
"Ke mana?"
"Makan."
Sepuluh menit kemudian, mobil Rayhan berhenti di dekat warung bakso pinggir jalan yang sering dilewati Keira. Supir terlihat bingung. Keira lebih bingung lagi.
"Bapak yakin?"
"Kamu yang pilih tempat."
"Kalau Bapak sakit perut, saya tidak bertanggung jawab."
"Duduk."
Rayhan Kie duduk di bangku plastik, menggulung sedikit lengan kemeja mahalnya, dan memesan bakso urat setelah meniru pilihan Keira. Pemandangan itu begitu aneh sampai pemilik warung beberapa kali melirik.
Keira menambahkan sambal dan jeruk limau ke mangkuknya. Rayhan mengikuti, terlalu banyak sambal, lalu batuk pada suapan pertama.
Keira menahan tawa. "Bapak tidak harus menang di semua bidang."
"Diam."
"Baik, Pak."
Mereka makan dalam suara sendok dan kendaraan lewat. Untuk pertama kalinya, Rayhan tidak duduk di balik meja rapat, tidak dikelilingi kaca tinggi, tidak menjadi pusat ruangan. Ia hanya pria yang kepedasan di warung bakso.
"Menurutmu," tanya Rayhan tiba-tiba, "orang seperti Sanya bahagia?"
Keira memutar sendok. "Saya tidak kenal dia."
"Jawab sebagai perempuan."
"Kalau seseorang tersenyum karena diajari harus tersenyum, itu bukan bahagia."
Rayhan menatapnya. "Lalu bahagia menurutmu apa?"
Keira berpikir sebentar. Di kepalanya muncul Papa Hendra menunggu di parkiran, Mama Lina menyisihkan daun bawang, Kevin membawa teh jahe, dan rumah kecil yang selalu punya suara panci.
"Bahagia itu sederhana, Pak. Bersama orang yang kita cintai. Makan tiga kali sehari, pulang ke tempat yang membuat kita tidak perlu pura-pura, melewati musim hujan dan panas tanpa takut ditinggalkan."
Rayhan tidak langsung menjawab.
"Uang tidak masuk?"
"Uang penting. Saya tidak munafik. Tapi uang tidak bisa menggantikan orang yang menunggu kita pulang."
Saat Rayhan hendak membayar dua mangkuk bakso, Keira lebih dulu menyodorkan uang ke pemilik warung.
"Saya traktir bagian saya, Pak."
"Aku yang mengajak."
"Dan saya yang memilih tempat. Lagipula ini bukan jam kerja." Keira memasukkan dompet kembali ke tas. "Saya tidak mau semua hal dalam hidup saya tercatat sebagai fasilitas dari Bapak."
Rayhan memandang uang kecil di meja warung itu lebih lama daripada ia memandang kontrak bernilai miliaran.
Di bawah lampu warung yang sedikit redup, Rayhan melihat Keira menyuap bakso dengan wajah biasa. Tidak cantik secara mencolok, tidak menggoda, tidak berusaha membuatnya terkesan. Justru karena itu, setiap kalimatnya terasa seperti sesuatu yang tidak bisa dibeli.
Untuk pertama kalinya, Rayhan merasa ia mungkin bukan sedang ingin memiliki tubuh perempuan itu.
Ia ingin tahu isi rumah yang membuatnya bisa bicara seperti itu.