NovelToon NovelToon
Kaisar, Kesempatan Kedua Ini, Aku Mencintaimu

Kaisar, Kesempatan Kedua Ini, Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:46.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Mo Yuuran, seorang permaisuri yang dikenal bengis dan kejam, pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, menjatuhkan Kaisar Zi Xuan dari tahtanya demi cinta butanya kepada Bo Wen. Ia rela mengorbankan segalanya, bahkan mengkhianati pria yang mencintainya dengan sepenuh jiwa.

Tapi kenyataan yang terungkap di akhir hidupnya jauh lebih kejam dari apa pun yang pernah ia lakukan.

Bo Wen, pria yang ia cintai mati-matian, ternyata bersekongkol dengan keluarganya sendiri, kakak dan orang tuanya untuk membunuhnya. Selama ini, Mo Yuuran hanyalah alat. Sebuah pion yang dimanfaatkan untuk menyingkirkan Kaisar Zi Xuan, satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya, bahkan terobsesi.

Saat napas terakhirnya terenggut dalam pengkhianatan, penyesalan memenuhi hatinya. Tapi, takdir memberinya kesempatan kedua.

Mo Yuuran terbangun kembali di masa lalu sebelum semuanya hancur. Dengan ingatan akan kematian tragisnya, ia bersumpah untuk mengubah segalanya. Termasuk menjadi ibu tiri yang baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengambil Haknya

Kereta kekaisaran berhenti tepat di depan Kediaman Jenderal Mo. Mo Yuuran turun perlahan, matanya menatap bangunan besar itu dengan sorot yang sulit dijelaskan. Tempat ini menyimpan terlalu banyak kenangan, kenangan yang tidak pernah ingin ia ingat kembali.

Langkahnya terasa berat sesaat. Di tempat ini, ia selalu dipaksa mengalah demi Mo Weiwei, hanya karena alasan tubuh saudarinya itu lebih lemah.

Semua perhatian, semua kasih sayang tidak pernah benar-benar menjadi miliknya. Semua hanya kepalsuan yang mereka tampakkan.

Bahkan ia dikirim ke akademi militer bukan karena disayangi, melainkan untuk dijadikan alat. Sebuah pion dan tameng bagi Mo Weiwei.

Mo Yuuran selalu mendengarkan ucapan Lihau, karena mengira wanita itu ibu kandungnya. Bahkan jika wanita itu memukulinya, ia hanya berkata ia sebuah didikan agar ia menjadi lebih baik lagi.

Sementara dirinya sendiri, bahkan tidak pernah mengenal ibu kandungnya yang telah meninggal sejak ia masih bayi.

“Yang Mulia .…” panggil Xia Lu pelan, menyadarkannya dari lamunan.

Mo Yuuran menarik napas panjang, lalu melangkah maju tanpa ragu. Wajahnya kembali dingin, tanpa sisa keraguan sedikit pun. Hari ini, ia datang bukan sebagai gadis yang tertindas.

Begitu memasuki gerbang, para pelayan langsung terkejut melihatnya. Beberapa saling berbisik, tidak percaya dengan kedatangan wanita itu. Namun Mo Yuuran sama sekali tidak memedulikan mereka.

Kebetulan, Mo Weiwei dan Lihau tidak berasa dikediaman Mo. Karena dua wanita itu sibuk berbelanja dan minum teh bersama para istri bangsawan yang lain.

Salah satu pelayan lamgsung berlari untuk melaporkan hal ini.

Mo Yuuran langsung berjalan menuju gudang, tempat yang bahkan belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Langkahnya cepat dan pasti, seolah sudah mengetahui tujuannya sejak awal.

Salah satu pelayan akhirnya memberanikan diri maju. “Nona kenapa kau datang ke Kediaman Jenderal Mo?” tanyanya dengan nada angkuh.

Langkah Mo Yuuran langsung terhenti. Perlahan, ia menoleh dengan tatapan dingin yang membuat udara di sekitarnya terasa membeku.

Plak!

Suara keras itu menggema di halaman. Pelayan itu langsung terhuyung, memegang pipinya dengan mata membelalak.

“Ini rumahku,” ucap Mo Yuuran tajam. “Sejak kapan aku harus meminta izin pada pelayan rendahan sepertimu?”

Ia melangkah mendekat, suaranya semakin dingin. “Dan hati-hati dengan lidahmu. Panggil aku Yang Mulia Permaisuri. Kau paham?”

Pelayan itu langsung gemetar. “H–hamba mengerti, Yang Mulia,” jawabnya terbata. Tangannya mengepal kuat.

Mo Yuuran tidak menoleh lagi. Ia kembali melangkah menuju gudang, diikuti Xia Lu yang semakin kagum dengan perubahan tuannya.

Gudang itu tampak berdebu dan jarang digunakan. Begitu masuk, Mo Yuuran langsung menyapu ruangan dengan pandangan tajam. Ada sesuatu di tempat ini sesuatu yang selama ini disembunyikan.

Ia mulai mencari, membuka satu demi satu barang yang tersimpan. Xia Lu ikut membantu, memindahkan peti dan kain penutup yang menumpuk.

Tak lama, Mo Yuuran berhenti di depan sebuah lukisan besar. Matanya langsung terpaku.

Wanita dalam lukisan itu mengenakan zirah emas, berdiri gagah dengan aura seorang jenderal. Wajahnya sangat mirip dengannya.

“Ibu .…” gumam Mo Yuuran pelan.

Ia mengulurkan tangan, menyentuh permukaan lukisan itu dengan hati-hati. Untuk pertama kalinya, ia melihat wajah wanita yang melahirkannya.

Setelah memandangi lama lukisan itu, Mo Yuuran tersadar, iia tidak berhenti di situ. Ia terus mencari, keyakinannya semakin kuat bahwa ada sesuatu yang lebih penting tersembunyi di sini.

Hingga akhirnya, ia menemukan sebuah kotak kecil. Kotak itu tampak sederhana, seperti peti obat biasa yang tidak berharga. Namun Mo Yuuran bisa merasakan sesuatu yang berbeda.

Ia memperhatikannya dengan saksama. Sebuah mekanisme rumit terlihat samar, dan sebuah jarum kecil tersembunyi di salah satu sisi.

Tanpa ragu, Mo Yuuran menusukkan ujung jarum itu ke jarinya sendiri. Setetes darah jatuh ke permukaan kotak.

Klik!

Kotak itu terbuka perlahan. Di dalamnya terdapat beberapa gulungan surat dengan segel resmi. Mo Yuuran langsung mengambil salah satunya dan membukanya.

Matanya bergerak cepat membaca setiap kata. Nafasnya sempat tertahan.

“Jenderal Lingzhi,” bisiknya pelan.

Itu adalah nama ibunya.

Isi surat itu menjelaskan segalanya, seluruh Kediaman Mo, semua harta dan kekuasaan adalah milik Lingzhi. Dan setelah kematiannya, semuanya diwariskan kepada putrinya.

Kepada Mo Yuuran.

Ia tersenyum tipis, matanya berkilat dingin. “Jadi selama ini mereka hanya mencuri milikku,” gumamnya.

Pantas saja, mereka tidak membunuh Mo Yuuran karena tentu mereka membutuhkan Mo Yuuran agar mengambil seluruh harta itu.

Dan mereka melarang Mo Yuuran mendekati gudang dengan alasan Mo Yuuran tidak pantas mendekati hal-hal yang berbau kotoran. Dan menyuruh Mo Yuuran fokus ke akademi. Ternyata semua ini adalah alasannya.

Mo Yuuran sendiri langsung ke gudang, karena ia mengingat ucapan Lihau, ibu tirinya di kehidupan pertamanya, jika milik ibunya berada di sini sebelum akan dibakar setahun yang akan datang. Jadi sebelum dibakar, Mo Yuuran lebih dulu mengambilnya.

Terlihat masih ada beberapa surat lain, namun ia menahannya untuk nanti. Saat ini, ada hal yang lebih penting.

“Xia Lu,” panggilnya.

“Ya, Yang Mulia.”

“Panggil prajurit yang kita bawa. Suruh mereka bersiap di gudang penyimpanan harta.”

Xia Lu langsung mengangguk. “Baik, Yang Mulia.” Ia segera bergegas keluar.

Mo Yuuran pun keluar dari gudang itu dan berjalan menuju tempat penyimpanan harta. Namun langkahnya terhenti saat empat prajurit menghadangnya.

“Maaf, Andq tidak bisa masuk,” kata salah satu dari mereka tegas.

Wajah Mo Yuuran langsung berubah dingin. “Tidak bisa?” ulangnya pelan.

Ia menatap mereka satu per satu dengan tekanan yang kuat. “Kediaman ini milikku. Dan aku adalah Permaisuri. Siapa di antara kalian yang berani melarangku?”

Mo Yuuran lalu menunjukkan segel resmi dari kotak itu.

Keempat prajurit itu langsung terdiam. Mereka saling berpandangan, jelas ragu.

Beberapa detik kemudian, mereka mundur serentak. “Silakan, Yang Mulia,” ujar mereka bersamaan.

Mo Yuuran masuk tanpa ragu.

Di dalam, peti-peti emas tersusun rapi memenuhi ruangan. Cahaya keemasan memantul di dinding, namun bagi Mo Yuuran, itu bukan sekadar harta.

Itu adalah miliknya yang dirampas.

Tak lama, prajurit dari istana datang. Mo Yuuran menatap mereka dengan tenang.

“Angkut semuanya,” perintahnya singkat. “Satu peti pun tidak boleh tertinggal.”

Para prajurit langsung bergerak tanpa ragu.

Mo Yuuran berdiri di tengah ruangan, menatap pemandangan itu dengan senyum tipis. Hari ini ia mulai mengambil kembali apa yang memang menjadi miliknya.

Mo Yuuran melangkah keluar dari Kediaman Jenderal Mo dengan tenang. Hanffu kebesarannya bergesekan lembut dengan lantai batu, sementara deretan peti harta telah diangkut lebih dulu oleh para prajurit istana.

Wajahnya tetap datar, seolah apa yang baru saja ia lakukan hanyalah hal biasa.

“Mo Yuuran!” teriak sebuah suara keras dari kejauhan.

1
tinie
ya lagian jadi pelayan aja
belagu tidur nyenyak dikasur empuk
eeh justru anak kaisar malah dikasih kasur tikar
RheaAdelya
😍
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
ini siapa yg tak tau malu
mama_im
mantap👍👍🤣🤣🤣
FAISHAL GAMING
luar biasa
💟노르 아스마💟
whuuuhhhh...keren!!!👏👏👏👏
Allfa Rizky
suka sama cerita spt ini FL nya Badas keren banget gak menye-menye,, sar set eksekusi man taappp
Allfa Rizky
sadiiisss,, tpi kereenn Badas
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Uuuhhh mantaaapp itu baru Permaisuri /Applaud/
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
/Drowsy//Scream/ Tumaaaann mang enak disiram aer nanaasss
SENJA
mantabs🔥
SENJA
yaelaaah kurang lah segitu😳
SENJA
lu yang mati 😤
SENJA
udah langsung hukum langsung siksa
SENJA
siksa udah buseh dah ga beres nih 😤
SENJA
emang ga ada ingatan yuran sebelumnya?
Vika Lestari
uf lagi kaka🙏
Sribundanya Gifran
lanjut
Maydian li Maydian
lanjut thor 😍
Atik Kiswati
mantap....🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!