NovelToon NovelToon
IBU MAFIA

IBU MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Single Mom
Popularitas:741
Nilai: 5
Nama Author: Princess Catalunya

Amara pernah memiliki keluarga yang ia cintai. Namun setelah bertahun-tahun mendukung suaminya dari nol, ia justru dikhianati.

Sebagai ibu tunggal dengan tiga anak, Amara berusaha bangkit dari luka dan kehancuran. Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pria mafia yang memberinya sebuah kerajaan.

Kini, di mata dunia, Amara hanyalah seorang ibu sederhana yang bekerja sebagai careworker.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik sosok pendiam itu, tersembunyi seorang penguasa dunia bawah tanah.

Amara membangun kerajaan demi ketiga anaknya. Ia ingin mereka memiliki masa depan, tetapi tidak pernah ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang bergantung pada kekayaan.

Karena seorang ibu akan melakukan apa pun untuk melindungi anak-anaknya.

Bahkan jika ia harus menjadi seorang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princess Catalunya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pria dengan Motor Butut

Pagi itu langit Jakarta mendung. Gedung kaca milik Aether Global Group berdiri megah di tengah pusat bisnis kota. Orang-orang berlalu lalang dengan jas mahal dan langkah terburu-buru. Namun tak ada yang tahu, perusahaan raksasa itu hanyalah satu dari puluhan bisnis legal milik keluarga Amara.

Di lobby utama, seorang pria paruh baya turun dari motor tua yang suaranya bahkan terdengar kasar saat dimatikan. Motor itu kusam dan attnya memudar serta spion sebelah kanannya retak.

Pria itu melepas helm perlahan. Rupanya dia adalah Reza, Mantan suami Amara.

Wajahnya masih menyisakan ketampanan masa muda, namun hidup jelas menggerus banyak hal dari dirinya. Ada lelah terlihat di matanya dan ada penyesalan yang terlalu lama dipendam.

Ia menatap gedung tinggi itu cukup lama dengan tangannya yang menggenggam map lamaran kerja.

Hari itu ia datang untuk melamar sebagai driver operasional bagi manajer marketing salah satu anak perusahaan Aether Global. Ia tahu hanya posisi kecil. Namun ia membutuhkan pekerjaan. Sangat membutuhkan.

Hidup Reza ternyata tidak seindah yang dulu ia bayangkan. Wanita yang dulu membuatnya meninggalkan Amara memang berhasil ia nikahi. Namanya Clara, ia seorang reporter televisi.

Awalnya semua terasa menyenangkan. Namun kehidupan perlahan berubah menjadi penuh tekanan. Gaji pas-pasan. Sementara cicilan, Anak-anak yang semakin besar, biaya hidup yang naik membuatnya frustasi.

Mereka masih bisa makan dan masih bisa bertahan. Namun tidak benar-benar bahagia. Yang paling menyakitkan adalah ketika kedua anak mereka harus mengubur impian kuliah karena keadaan ekonomi.

Dan ironisnya, Clara bekerja di salah satu stasiun televisi terbesar nasional, milik Madam A. Media Network, tanpa pernah tahu siapa pemilik sebenarnya.

Reza masuk ke lobby dengan canggung. Sepatu tuanya sedikit basah terkena hujan. Ia melihat orang-orang di sekelilingnya tampak terlalu mewah dibanding dirinya. Namun resepsionis tersenyum profesional.

“Bapak ada janji interview?”

“Iya…” jawab Reza pelan sambil menyerahkan berkas.

Wanita itu memeriksa data sebentar lalu mengangguk.

“Silakan ke lantai dua puluh tiga.”

Reza menelan ludah. Tangannya berkeringat. Entah kenapa tempat ini membuatnya gugup.

Sementara itu, Di lantai paling atas gedung yang sama, Amara sedang membaca laporan bisnis. Ruangannya luas namun sederhana. Tidak banyak dekorasi mewah. Amara tidak terlalu menyukai dekorasi yang ramai.

Sekretaris pribadinya masuk perlahan.

“Madam.”

“Hm?”

“Ada sesuatu yang mungkin perlu Anda tahu.”

Amara mengangkat mata.

Sekretaris itu tampak ragu sesaat.

“Reza datang melamar kerja.”

Sunyi. Sangat sunyi.

Namun ekspresi Amara nyaris tidak berubah. Kilatan matanya tetap sama dengan kali terakhir ia memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.

“Hari ini?”

“Ya.”

Amara kembali menutup dokumennya perlahan. Tatapannya kosong beberapa detik. Lalu ia hanya berkata tenang,

“Pastikan prosesnya profesional.”

“Baik, Madam.”

Tidak ada kemarahan, dan tidak ada dendam. Hanyalah keheningan yang sulit dibaca.

Sementara di ruang interview, Reza duduk gelisah. Tangannya beberapa kali meremas celana.

Ia baru saja mengetahui sesuatu yang membuat dadanya terasa kosong. Ternyata perusahaan ini, dimiliki oleh keluarga Arsen. Anak kandungnya sendiri.

Dan yang lebih mengejutkan lagi, pemilik utama grup perusahaan tersebut adalah Amara. Mantan istrinya. Wanita yang dulu ia tinggalkan demi Clara istri kecilnya.

Reza menatap kosong meja di depannya. Tidak mungkin. Mengapa Amara yang dulu hanya ibu rumah tangga sederhana, kini memiliki kerajaan bisnis sebesar ini? Apakah suaminya saat ini, adalah orang kaya? Apakah semua ini didapatnya karena menikahi pria kaya?

Kakinya terasa lemas. Semua potongan hidup mulai terasa seperti tamparan keras. Sementara dirinya datang dengan motor butut untuk melamar pekerjaan kecil. Berbagai macam pertanyaan terus berputar di kepalanya.

“Pak Reza?”

Suara seorang pria muda membuatnya tersadar. Reza mengangkat kepala. Dan jantungnya hampir berhenti. Itu adalah Arsen, putra sulungnya.

Kini berdiri di hadapannya dengan jas mahal dan aura dingin seorang pemimpin besar. Namun yang paling menghancurkan hati Reza, Tatapan Arsen sangat sopan. Terlalu sopan yang adalah bukan tatapan seorang anak kepada ayahnya.

“Silakan duduk,” ujar Arsen profesional.

Reza ingin bicara. Ia ingin mengatakan banyak hal. Namun lidahnya kelu. Ia bahkan kesulitan menelan ludah, karena kerongkongannya tiba-tiba kering.

Sementara Arsen tetap serius membaca data di depannya dengan tenang.

“Pengalaman mengemudi cukup baik.”

Reza menunduk pelan. Dulu ia jarang mengemudi untuk sekedar membawa anak-anaknya jalan-jalan. Ia lebih suka membawa ponakan-ponakannya, teman-temannya, dan keluarganya. Sedangkan istri dan anak-anaknya, hanya bisa dihitung dengan jari. Katakan saja, jika itu ada acara penting.

“Aku… maaf…”

Arsen menghentikan bacaannya. Namun ekspresinya tetap datar.

“Di perusahaan ini, saya bekerja secara profesional, Pak.”

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada makian apa pun. Karena Reza sadar, anaknya bahkan tidak lagi menganggapnya ayah.

Reza berdiri perlahan dari kursinya. Ia sempat ingin memanggil Arsen, tetapi langkahnya terhenti di dekat pintu.

“Arsen…”

Putranya mengangkat wajah.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak Reza?”

Kalimat itu membuat dada Reza terasa sesak. Dulu, anak laki-laki itu selalu berlari menyambutnya setiap kali pulang. Arsen kecil pernah menunggu di depan pintu hanya untuk menunjukkan gambar yang dibuatnya di sekolah. Namun Reza sering terlalu sibuk atau terlalu lelah untuk memperhatikan.

Kini, anak yang dulu memanggilnya Ayah berdiri di hadapannya sebagai seorang direktur muda yang berbicara dengan sopan, tetapi menjaga jarak.

“Tidak ada,” jawab Reza akhirnya.

Arsen mengangguk. “Baik. Tim HR akan menghubungi Bapak mengenai jadwal kerja.”

Reza membuka pintu, lalu berjalan keluar tanpa berani menoleh lagi. Di dalam ruangan, Arsen tetap duduk diam. Setelah pintu tertutup, ia menatap berkas lamaran kerja itu cukup lama. Wajahnya masih tenang, tetapi tangannya perlahan mengepal. Ia tidak membenci Reza. Namun ia juga tidak tahu bagaimana harus kembali menganggap pria itu sebagai ayah.

Ada luka yang tidak hilang hanya karena seseorang datang kembali.

Sementara itu di ruangannya, Amara berdiri di depan jendela besar. Hujan mulai turun. Ia bisa melihat motor tua Reza dari atas. Motor itu, di beli saat ia terima gaji dan THR di tahun pertama Reza bekerja. Namun ia jarang membonceng Amara dan anak-anaknya. Itu sudah sangat lama.

Motor yang bahkan mungkin lebih murah dibanding satu vas bunga di ruang lobby. Namun Amara tidak merasa puas. Tidak juga bahagia. Yang ia rasakan justru aneh. Perasaanya kosong.

Leon yang sedang duduk santai di sofa memperhatikannya diam-diam.

“Kau masih mencintainya?” tanya Leon tiba-tiba.

Amara tersenyum tipis tanpa menoleh.

“Tidak.”

“Lalu kenapa wajahmu seperti itu?”

Amara memandangi hujan.

“Karena dulu… aku pernah sangat mempercayainya.”

Sunyi. Leon memahami sesuatu malam itu. Luka terdalam Amara bukan karena kehilangan suami. Namun karena pengkhianatan dari seseorang yang pernah menjadi rumahnya.

Interview selesai dan Reza diterima bekerja. Bukan karena belas kasihan. Namun karena Reza memang benar-benar memenuhi syarat. Tidak bisa dipungkiri, Reza memang bisa menyetir mobil sejak berusia 14 tahun. Saat ia masih remaja.

Saat berjalan keluar gedung, hujan turun semakin deras. Ia berdiri di samping motor tuanya sambil menatap gedung tinggi itu. Lampu-lampu kantor menyala megah. Dan di salah satu lantai tertinggi, ada Amara.

Wanita yang dulu tidur di sampingnya dalam rumah kecil sederhana, wanita yang pernah ia sia-siakan, kini menjadi seseorang yang bahkan tidak bisa lagi ia jangkau.

Reza menunduk pelan. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Ia benar-benar memahami arti kehilangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!