Seorang Hakim Ketua yang menjunjung tinggi keadilan harus memilih antara hukum, ayahnya, dan cinta kelamnya pada seorang buronan nomor satu yang pernah menghancurkan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yrp putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bidadari Kematian dan Tawa Sang Algojo
Musim dingin mulai menyelimuti Pegunungan Alpen, mengubah lanskap di luar *château* kuno itu menjadi hamparan putih yang membeku. Namun, suhu di dalam ruang cerutu utama justru terasa menegang oleh aliansi baru sindikat Baskara.
Untuk memperkuat cengkeramannya di Eropa, Arjuna terpaksa menjalin kerja sama dengan Bratva. Perwakilan yang dikirim oleh mereka adalah seorang wanita mematikan bernama Katya. Ia adalah pembunuh bayaran elit dengan rambut pirang platina, bermata biru sedingin es, dan memiliki reputasi berdarah yang nyaris menyamai Arjuna.
Malam itu, usai perjamuan makan malam, Katya sengaja mengambil tempat duduk tepat di sebelah Arjuna di sofa kulit. Aluna duduk di kursi tunggal di seberang mereka, menyilangkan kakinya dengan anggun sambil memegang gelas *champagne*.
Katya menatap Aluna dengan sorot meremehkan. Dengan gerakan yang disengaja, ia mencondongkan tubuhnya ke arah Arjuna, bahunya nyaris menempel. Jari-jari Katya yang lentik merayap pelan di atas meja, bermain-main dengan pemantik emas milik Arjuna.
"Kau tahu, Baskara," panggil Katya dengan suara serak yang sengaja dibuat menggoda. "Taktikmu menyergap pelabuhan Marseille kemarin sangat brilian. Kurasa... hanya kita berdua di ruangan ini yang benar-benar mengerti bau anyir darah dan adrenalin di medan perang."
Katya melirik Aluna dengan senyum mengejek. "Dunia ini terlalu kasar untuk wanita yang hanya terbiasa memegang palu kayu, bukan begitu?"
Aluna membalas tatapan itu tanpa berkedip. Sang "Palu Es" itu tersenyum tipis, sebuah senyuman anggun namun memancarkan intimidasi intelektual yang mematikan.
Di sisi lain, Arjuna merespons provokasi dan godaan Katya dengan cara yang paling tidak terduga: **ia tidak mendengarnya sama sekali.**
Perhatian "Sang Algojo dari Timur" itu seratus persen tersedot pada peta logistik digital di tabletnya. Ia sedang merancang skema penghancuran kartel pesaing ayahnya. Saat Katya bicara, Arjuna hanya bergumam, "Hn," tanpa repot-repot mengangkat wajahnya. Ia bahkan bergeser sedikit menjauh dari Katya secara refleks semata-mata agar ia mendapat sudut baca yang lebih baik, sama sekali tidak sadar ada wanita pembunuh yang sedang mencoba merayunya.
Melihat suaminya mengabaikan wanita itu secara alami, senyum Aluna semakin dalam. Ia meletakkan gelas *champagne*-nya dan menatap Katya dengan sorot menguliti.
"Nona Katya," ucap Aluna dengan nada bicara yang sangat terukur dan berwibawa. "Kau benar. Aku tidak tertarik mengotori tanganku dengan hal-hal rendahan seperti menarik pelatuk. Tapi ada satu hal yang harus kau pahami tentang hierarki. Kau mungkin anjing pelacak yang ahli membunuh di medan perang... tapi pada akhirnya, aku adalah alasan mengapa suamiku membangun rute ini."
Wajah Katya memerah padam oleh amarah dan penghinaan. Ia membuka mulutnya untuk membalas, namun tiba-tiba Arjuna meletakkan tabletnya ke atas meja dengan bunyi *klak* yang cukup keras.
Katya seketika terdiam, mengira Arjuna akhirnya akan membelanya atau setidaknya menyadari ketegangan ini.
Namun, Arjuna langsung berdiri. Ia berjalan melintasi meja, melewati Katya seolah wanita itu hanyalah pajangan furnitur yang tidak terlihat, dan berhenti tepat di depan Aluna. Mata kelamnya menatap istrinya dengan kelembutan yang luar biasa.
"Kau lelah, Na?" tanya Arjuna lembut, mengabaikan total eksistensi Katya di ruangan itu. "Asap cerutu di ruangan ini membuat napasku sesak. Ayo kita kembali ke kamar."
Tanpa menunggu persetujuan siapa pun, Arjuna meraih tangan Aluna, menuntunnya berdiri, dan merangkul pinggang istrinya posesif. Mereka berjalan keluar dari ruang cerutu, meninggalkan Katya yang duduk mematung dengan rahang menganga, merasa luar biasa terhina karena ia bahkan tidak dianggap ada oleh pria yang coba ia goda.
Begitu pintu kamar utama yang megah itu tertutup, Aluna melepaskan mantelnya dan menatap Arjuna sambil melipat kedua tangan di dada.
Arjuna yang sedang melepaskan dasinya mengerutkan kening, bingung melihat raut wajah istrinya yang tampak menahan tawa sekaligus jengkel.
"Ada apa, Na? Kau tidak suka kamar ini? Terlalu dingin?" tanya Arjuna polos.
"Juna, kau benar-benar tidak sadar dengan apa yang terjadi di ruang cerutu tadi?" Aluna menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Terjadi apa? Bukankah kita hanya sedang membaca laporan rute Marseille?"
Aluna menghela napas, lalu menceritakan semuanya. Ia bercerita bagaimana Katya mencondongkan tubuh dengan agresif, mencoba merayu Arjuna, menyentuh barang-barangnya, hingga perang dingin dan adu mulut sarkas yang baru saja terjadi tepat di sebelah telinga pria itu.
Arjuna terdiam selama beberapa detik. Ia mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Aluna. Membayangkan istrinya yang anggun dan rasional berhadapan sengit dengan pembunuh elit Bratva—sementara ia sendiri sibuk menghitung jumlah kontainer peluru di tabletnya.
Detik berikutnya, tawa Arjuna meledak.
Itu bukan kekehan kecil. Tawa renyahnya membahana, menggema di dalam kamar yang hangat itu. Arjuna tertawa hingga ia harus memegang perutnya dan bersandar pada tiang ranjang. Sang iblis bawah tanah yang ditakuti seluruh Eropa itu kini tertawa lepas seperti remaja bodoh.
### Bab Selanjutnya: Percakapan di Balik Pintu Ek Ek Ek (Ekspansi Dialog Kecemburuan)
Tawa renyah Arjuna masih menggema di dalam kamar utama yang hangat itu. Sang iblis bawah tanah yang ditakuti seluruh Eropa, yang dikenal dengan nama Baskara, kini harus bersandar pada tiang ranjang sambil memegangi perutnya, tertawa lepas seperti remaja bodoh.
Melihat suaminya tertawa hingga matanya berair, Aluna justru mendengus pelan. Ia menyilangkan kedua lengannya di depan dada, memasang wajah "Palu Es" andalannya, meski semburat merah tipis menjalar di pipinya.
Aluna melangkah maju dan memukul dada bidang Arjuna dengan telunjuknya, memotong sisa tawa pria itu.
"Berhenti tertawa, Arjuna Dirgantara. Ini sama sekali tidak lucu," gerutu Aluna, mencoba terdengar ketus. "Wanita itu nyaris menempelkan payudaranya di lenganmu! Dia bahkan memainkan pemantik emasmu dengan jari-jarinya yang memakai cincin tengkorak norak itu. Kau benar-benar tidak merasakannya?"
Arjuna menangkap jari telunjuk Aluna, lalu menarik tangan wanita itu hingga tubuh mereka berdekatan. Sisa tawa masih menghiasi sudut bibirnya.
"Sayang, sungguh," kekeh Arjuna, menatap mata istrinya dengan binar jenaka. "Jas ini berlapis tebal. Dan di saat yang bersamaan, otakku sedang sibuk menghitung berapa juta Euro kerugian kartel musuh di Marseille. Otakku sudah tidak punya ruang untuk memproses keberadaan wanita beraksen aneh di sebelahku."
"Aksen aneh?" Aluna memicingkan matanya. "Dia memanggilmu dengan suara serak yang sengaja dibuat mendesah. *'Kau tahu, Baskara...'* Cih, menggelikan sekali. Dan kau sama sekali tidak mendengarnya?"
"Suaranya lebih terdengar seperti orang yang sedang radang tenggorokan bagiku, Na," goda Arjuna santai. Ia melingkarkan lengannya di pinggang ramping Aluna, namun wanita itu menahan dada suaminya agar tidak memeluknya terlalu erat.
"Jangan mengalihkan pembicaraan," tuntut Aluna, meski sudut bibirnya mulai berkedut menahan senyum. "Katya itu cantik, Juna. Rambut pirang platina, mata biru yang tajam, tubuh model. Dia adalah lambang wanita mematikan yang biasanya menjadi pendamping para bos mafia di film-film aksi. Jujur saja padaku, apa sama sekali tidak ada setitik pun ego lelakimu yang merasa bangga digoda oleh pembunuh elit dari Bratva?"
Mendengar rentetan pertanyaan yang penuh dengan kecemburuan itu, senyum jenaka Arjuna perlahan memudar. Berganti dengan sebuah tatapan kelam, dalam, dan luar biasa intens. Tatapan yang selalu berhasil membuat napas Aluna tercekat.
Tangan besar Arjuna bergerak ke atas, menangkup kedua rahang Aluna dengan sangat lembut. Ibu jarinya membelai tulang pipi istrinya perlahan.
"Dengarkan aku, Aluna," suara Arjuna turun satu oktaf, menjadi sangat berat dan memabukkan. "Aku bukan bos mafia murahan di film-film aksi. Dan aku tidak butuh bidadari kematian berambut pirang untuk mendampingiku."
Arjuna mencondongkan wajahnya, menatap lurus menembus bola mata hitam Aluna.
"Kau pikir aku peduli seberapa mematikan dia di medan perang? Di mataku, wanita paling berbahaya, paling berkuasa, dan paling mematikan di seluruh daratan Eropa ini... adalah wanita yang sedang berdiri di pelukanku sekarang," bisik Arjuna, jarak bibir mereka hanya tersisa beberapa milimeter. "Wanita yang tidak perlu memegang senjata api untuk membuat pembunuh bayaran elit Bratva mati kutu dan tertunduk malu, hanya dengan bermodalkan kata-kata."
Aluna menelan ludah. Wajah ketusnya benar-benar runtuh tak tersisa. "Gombal."
"Aku serius, Na," Arjuna tersenyum tipis, mengecup ujung hidung Aluna. "Sejak aku berumur enam belas tahun, sejak kau menangis di ruang ganti itu... mataku sudah buta untuk wanita lain. Mau dia punya mata biru, hijau, atau emas sekalipun, tidak akan ada yang bisa menggantikan mata hitammu yang selalu menatapku dengan penuh amarah sekaligus cinta ini."
Aluna menggigit bibir bawahnya, menahan rona merah yang kini membakar seluruh wajahnya. Ia akhirnya menyerah, menurunkan kedua tangannya yang sedari tadi menahan dada Arjuna, lalu melingkarkannya di leher sang suami.
"Jadi... kau benar-benar mengabaikannya murni karena kau sedang membaca peta rute logistik?" gumam Aluna pelan, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Arjuna.
"Seratus persen," jawab Arjuna mantap, memeluk pinggang istrinya erat-erat dan menenggelamkan wajahnya di rambut Aluna. "Lagipula, untuk apa aku melirik wanita lain, kalau aku tahu di kamarku sudah ada Ratu yang akan menghukumku jika aku berani macam-macam?"
"Hukumanmu akan jauh lebih berat dari sekadar putusan pengadilan, Juna," ancam Aluna dengan suara teredam, namun ada senyum lebar yang merekah di bibirnya.
"Aku tahu. Dan aku dengan senang hati akan menerima hukuman apa pun darimu, Yang Mulia," bisik Arjuna.
Arjuna mengangkat wajah Aluna, menatap bibir istrinya yang sedikit terbuka. Sisa-sisa kecemburuan itu telah menguap tanpa bekas, digantikan oleh kehangatan dan rasa memiliki yang absolut. Tanpa membuang waktu lagi, Arjuna membungkam bibir Aluna, membiarkan dunia mafia yang berdarah dan dingin di luar sana membeku, sementara di dalam kamar itu, hanya ada mereka berdua dan cinta yang tak terbantahkan.