"Angie Thio hanyalah seorang gadis biasa yang terpaksa bekerja sebagai pengasuh bayi di kediaman keluarga Liem — salah satu konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Tugasnya sederhana: merawat Guai, bayi mungil yang menolak semua susu formula dan terus menangis sepanjang malam.
Tapi Angie menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Diam-diam, di tengah kegelapan malam, dia menyusui Guai dengan ASI-nya sendiri. Bayi itu langsung tenang di pelukannya — seolah mengenali sentuhan ibunya. Angie tidak mengerti kenapa tubuhnya masih memproduksi ASI, kenapa hatinya terasa begitu terikat pada bayi yang bukan anaknya.
Atau... benarkah Guai bukan anaknya?
Sementara itu, sang Tuan Muda — Hansen Liem, CEO Liem Corporation — menyimpan rahasianya sendiri. Selama setahun, tubuhnya tidak pernah bereaksi terhadap wanita mana pun. Dokter memvonisnya mengalami disfungsi. Dingin. Mati rasa.
Sampai Angie datang.
Setiap kali gadis itu mendekat, jantungnya berdebar tak terkendali. Setiap kali aroma tubuhnya tercium, seluruh pertahanannya runtuh. Hansen tidak mengerti kenapa hanya Angie — seorang pengasuh bayi biasa — yang bisa membuat tubuhnya bereaksi seperti ini.
Di balik dinding mansion mewah Keluarga Liem, Celine Lau duduk di singgasananya sebagai ""ibu"" Guai dan calon istri Hansen. Tapi setiap kali Guai menangis, bayi itu hanya mau Angie. Setiap kali Hansen menatap seseorang, matanya hanya mencari Angie.
Celine tahu posisinya terancam. Dan Nyonya Lau — dalang di balik segalanya — tidak akan membiarkan seorang pengasuh menghancurkan rencana yang sudah disusun sejak setahun lalu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4 Rantai Emas
Surat pengunduran diri itu hanya terdiri dari empat kalimat.
Angie menulisnya di ruang tunggu RS Medistra saat Guai menjalani observasi, lalu melipat kertas tersebut sampai membentuk garis keras di tengahnya. Menjelang siang, ketika Guai diizinkan pulang, keputusan Angie sudah bulat.
Ia tidak bisa bertahan di rumah tempat seseorang berani menjadikan bayi sebagai alat untuk menjebaknya.
Pukul dua siang, Angie berdiri di depan meja kerja Hansen.
"Apa ini?" Hansen tidak menyentuh surat yang ia letakkan.
"Pengunduran diri saya."
"Aku bisa membaca judulnya." Tatapannya terangkat. "Aku bertanya kenapa."
Angie menautkan jari di depan tubuh. Bekas tamparan di pipinya sudah memudar, tetapi masih terasa panas ketika rahangnya bergerak. "Guai hampir meninggal. Orang yang melakukannya berada di rumah ini. Saya tidak yakin bisa melindungi dia kalau saya sendiri dijadikan sasaran."
"Bi Yanti sudah mengaku memasukkan rambut ke dot. Dia menerima transfer dari nomor rekening penampung dan instruksi lewat kartu SIM sekali pakai."
Hansen menggeser satu lembar laporan di atas meja. Di sana ada foto Bi Yanti saat dibawa keluar lewat pintu samping, wajahnya ditutupi kain agar para tetangga tidak membuat keributan. Di bawah foto tercetak bukti transfer dan nomor kartu SIM yang kini sudah tidak aktif.
"Hasil awal DNA rambut itu cocok dengan sampel Bi Yanti," lanjut Hansen. "Dia mengaku dibayar untuk membuat Guai tersedak, lalu menuduhmu. Dia bersikeras tidak tahu nama orang yang membayar."
Angie membaca angka transfer. Uang sebanyak itu cukup untuk mengubah kesetiaan orang yang sedang terdesak, tetapi terlalu kecil bagi orang yang hidup di lingkaran Celine.
"Lalu Bibi pergi begitu saja?"
"Tidak. Polisi memeriksanya. Aku juga memastikan dia tidak bisa bekerja di rumah keluarga lain dan mengulangi hal yang sama."
"Kalau dia dipaksa?"
"Dia tetap memilih memakai bayi sebagai senjata." Tatapan Hansen mengeras. "Kesulitan menjelaskan keputusan. Tidak menghapus akibatnya."
"Siapa yang menyuruhnya?"
"Belum diketahui."
Itu justru memperkuat alasan Angie. "Berarti orang di belakangnya masih bebas."
Hansen bersandar. "Bi Yanti sudah dipecat, dilaporkan, dan dimasukkan ke daftar hitam jaringan pekerja rumah tangga yang digunakan keluarga kami. Keamanan Guai akan ditambah."
"Keamanan saya?"
Pertanyaan itu membuat ruangan hening.
Hansen menatap perempuan di depannya lebih lama. Angie tidak meminta belas kasihan. Bahunya tegak meski jemarinya saling menekan sampai memutih.
"Selama kamu berada di Kediaman Liem, tidak ada yang boleh menyentuhmu."
"Itu janji yang sangat besar, Tuan Hansen."
"Aku tidak membuat janji yang tidak bisa kutepati."
Angie mendorong surat itu sedikit lebih dekat. "Maaf. Saya tetap ingin pergi."
Hansen akhirnya membuka laci meja. Bukan surat pengunduran diri yang ia ambil, melainkan map putih bertanda rahasia.
"Saat melamar, kamu bilang kondisi kesehatanmu membuatmu tidak mampu mengambil pekerjaan lain."
Napas Angie tertahan.
"Kamu bilang pekerjaan dengan jam kantor, target, dan perjalanan jauh memperburuk penyakitmu. Karena itu kamu memilih menjadi pengasuh dengan tempat tinggal." Hansen membuka satu lembar hasil pemeriksaan. "Tapi laporan kesehatan masukmu menyatakan jantung, paru-paru, gula darah, dan fungsi dasar hormonmu normal."
"Saya tidak pernah bilang penyakit saya ada di jantung."
"Kamu juga tidak pernah bilang penyakitmu apa."
Hansen berdiri dan berjalan mengitari meja. Ia berhenti di sisi Angie, cukup dekat untuk membuat kulit di lengan perempuan itu mulai terasa hangat.
"Kamu butuh pekerjaan ini, tetapi sekarang kamu ingin meninggalkannya sebelum menerima gaji pertama. Kamu takut pada pelaku di balik Bi Yanti, atau takut aku menemukan sesuatu?"
Angie menatap lurus ke depan. "Tidak semua hal tentang tubuh saya menjadi urusan majikan."
"Benar." Suara Hansen rendah. "Tapi kebohongan yang berkaitan dengan anakku menjadi urusanku."
Ponsel Angie berdering.
Nama Dr. Kevin muncul di layar. Ia hampir menolaknya, tetapi panggilan itu mungkin berkaitan dengan obat yang sudah ditunggu selama dua bulan.
"Maaf, saya harus menjawab."
Hansen tidak memberi izin ataupun melarang.
Angie menjauh dua langkah. "Halo, Dok?"
"Angie, obat racikan yang kita pesan sudah tiba," suara Dr. Kevin terdengar cukup jelas di ruangan yang sunyi. "Satu rangkaian untuk mengendalikan reaksi kulit dan ketidakstabilan pascapersalinan biayanya Rp 60 juta. Idealnya tiga rangkaian, tetapi kita bisa mulai satu dulu."
Angie memejamkan mata. "Bisa ditahan sampai bulan depan?"
"Gejalamu makin sering. Kamu bilang kemarin reaksinya muncul lagi, kan?"
Tanpa sadar, Angie melirik Hansen.
Pria itu menangkap gerakan tersebut.
"Saya akan cari uangnya, Dok."
"Jangan memaksa. Kita bicara lagi saat kontrol."
Panggilan berakhir. Angie memasukkan ponsel ke saku dengan telapak tangan dingin.
Hansen mengambil ponselnya sendiri. "Nama lengkap dokternya?"
"Itu tidak perlu."
"Kevin Halim?"
Angie membeku. "Tuan mengenalnya?"
Hansen tidak menjawab. Ia menekan satu nomor. "Kevin, kirimkan tagihan tiga rangkaian pengobatan Angie ke William. Bayar hari ini."
Suara Dr. Kevin terdengar samar, meninggi karena terkejut. Hansen memutus panggilan sebelum penjelasan panjang dimulai.
"Apa yang Tuan lakukan?"
"Membayar pengobatanmu."
"Saya tidak meminta."
"Rp 180 juta." Hansen menyebut angka itu seperti membaca harga makan siang. "Kamu bisa menganggapnya uang muka."
"Uang muka gaji saya tidak sebanyak itu."
"Kalau begitu anggap utang."
Angie menatapnya tidak percaya. "Tuan tidak bisa memberi orang utang tanpa persetujuan."
"Bisa. Aku baru saja melakukannya."
"Lalu bunganya?"
"Tidak ada."
"Jangka waktunya?"
"Sampai lunas."
"Potongan gaji?"
"Kamu yang menentukan jumlahnya. Aku tidak akan mengambil biaya pengobatan dari kebutuhan pokokmu."
Jawaban itu terlalu masuk akal untuk sesuatu yang jelas-jelas dirancang sebagai perangkap. Angie menghitung cepat. Bahkan bila setengah gajinya dipotong setiap bulan, utang sebesar itu akan mengikatnya cukup lama. Selama itu pula ia harus tidur hanya beberapa meter dari kamar bayi, menyembunyikan ASI, dan menghadapi seseorang yang berani mencelakai Guai.
"Tulis perjanjiannya," kata Angie. "Saya tidak menerima utang tanpa bukti."
Hansen mengangkat alis.
"Kalau Tuan bisa mengikat saya dengan uang, saya berhak memastikan rantainya punya ujung."
Untuk pertama kalinya, Hansen benar-benar tersenyum tipis. Ia menekan tombol interkom dan meminta William menyiapkan perjanjian tanpa bunga, tanpa denda, serta tanpa hak untuk memotong seluruh gaji Angie.
Ia ingin perempuan itu tetap tinggal, tetapi bukan sebagai budak.
Marah dan lega datang bersamaan, membuat dada Angie sesak. Ia membutuhkan obat itu. Setiap sentuhan tak terduga bisa membuat kulitnya terbakar dari dalam, napasnya lepas kendali, dan tubuhnya tidak mampu mengikuti pikirannya. Namun menerima uang Hansen berarti menyerahkan satu-satunya jalan keluar.
"Saya akan mengembalikannya."
"Bagus." Hansen mengambil surat pengunduran diri, lalu merobeknya menjadi dua bagian. "Kamu bisa pergi setelah bayar lunas."
Sobekan kertas jatuh ke atas meja.
Angie menatapnya. "Ini bukan pertolongan. Ini rantai."
Untuk sesaat, sesuatu yang nyaris seperti senyum muncul di sudut bibir Hansen.
"Rantai emas tetap lebih nyaman daripada tidak punya obat."
"Tuan selalu mengikat orang dengan uang?"
"Hanya orang yang bersikeras pergi ketika aku belum selesai mencari jawaban."
Angie menggenggam tali tasnya. "Jawaban apa?"
Tatapan Hansen turun sekilas ke bagian depan seragamnya, tempat noda ASI terlihat semalam, lalu kembali ke wajahnya.
"Laporan kesehatanmu mengatakan semuanya normal," katanya tenang. "Tapi kamu jelas menyembunyikan sesuatu."
Ia mendorong salinan laporan itu ke arah Angie.
"Aku akan mencari tahu."