Bagi Aris dan ibunya, Tita adalah istri sempurna: kaya, penurut, dan sabar. Saat Tita divonis tak bisa memberi keturunan, mereka berlagak menerima dengan lapang dada. Padahal di belakangnya, Aris diam-diam menikah siri demi mendapatkan anak sambil terus menikmati kemewahan dari uang Tita.
Mereka pikir Tita bodoh. Padahal, Tita sudah tahu segalanya.
Tanpa air mata atau labrakan emosional, Tita tersenyum dingin. Ia mulai memutus aliran dana, merebut asetnya, dan menjebak bisnis Aris ke jurang utang.
"Kalian pikir bisa hidup mewah di atas penderitaanku? Mari kita lihat seberapa lama kalian bertahan tanpa sepeser pun uangku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SKENARIO KEHANCURAN UNTUK SUAMIKU
Matahari sore merambat turun di barat Jakarta, menyisakan hawa gerah yang membakar udara kota. Di sebuah trotoar kusam dekat stasiun kereta api, asap kendaraan bermotor dan bising klakson saling beradu tanpa henti.
Mama Rahma duduk tersandar di sebuah bangku kayu lapuk milik warung makan yang sudah tutup.
Pakaian daster sutra mewahnya kini sudah tampak sangat dekil, penuh bercak debu dan keringat kotor. Kakinya yang bengkak tanpa alas sepatu terasa sangat perih akibat berjalan seharian menelusuri trotoar jalanan tanpa arah. Di samping kakinya, tiga kantong plastik hitam besar berisikan pakaian bekas menjadi satu-satunya beban tersisa yang ia seret sejak kemarin.
Wajah wanita tua itu sangat kusam, matanya sayu dan cekung. Kelaparan dan rasa haus yang hebat mencengkeram tenggorokannya. Sisa uang tiga ratus ribu rupiah yang kemarin dilemparkan Jesika ke tanah... sudah habis tak berbekas untuk membayar ongkos taksi dan membeli sesuap nasi di warung makan kecil tadi pagi.
"Tita... Aris... Jesika..." bisik Mama Rahma parau, air matanya yang mengering kembali menetes menembus kerutan pipinya.
Ia memandangi telapak tangannya yang gemetar. Dulu, dengan jemari inilah ia memamerkan cincin-cincin emas yang ia paksa Tita belikan. Dengan mulut inilah ia menyindir Tita mandul, memanfaatkan rasa bersalah menantunya demi meras uang belasan juta rupiah setiap minggu. Dulu, ia selalu merasa jumawa karena memiliki anak pengusaha sukses seperti Aris dan putri cantik yang begitu disayanginya seperti Jesika.
Namun kini, kenyataan menghantamnya tanpa ampun.
Aris mendekam di sel tahanan menghadapi ancaman belasan tahun penjara akibat tindak pidana pencucian uang. Dan Jesika... anak kesayangan yang selalu ia bela... telah mengusirnya bagaikan seekor anjing kurap hanya demi menyelamatkan diri sendiri.
"Ibu! Jangan melamun di situ! Mau beli es teh enggak?! Kalau enggak beli jangan duduk di situ, bikin sempit tempat!" tegur seorang penjual es keliling dengan suara kasar.
Mama Rahma terlonjak kaget. Pria tua yang dulu dipuja-puja oleh para tetangganya kini ditertawakan dan diusir oleh pedagang kaki lima.
"M-maaf, Mas..." bisik Mama Rahma menundukkan kepala.
Dengan tubuh yang bergetar menahan sakit pada persendian lututnya, Mama Rahma berdiri perlahan. Ia menyarungkan ketiga kantong plastik hitamnya ke jemarinya, lalu melangkah kembali menyusuri trotoar yang berdebu.
Rasa dingin yang menyengat mulai merayap saat angin malam Jakarta bertiup kencang. Langit berubah menjadi hitam keabu-abuan, menandakan hujan deras akan segera turun.
Mama Rahma berjalan tanpa tujuan hingga sampai di bawah selasar jembatan penyeberangan orang (JPO). Tempat itu dipenuhi oleh beberapa tunawisma dan pengemis yang duduk berderet beralaskan kardus kusam.
Ketika Mama Rahma mencoba duduk di sudut selasar untuk berteduh dari rintik air hujan, seorang wanita pengemis setengah baya langsung menatapnya dengan pandangan curiga.
"Nenek mau ngapain di sini?! Ini tempat saya! Cari lapak lain sana!" gertak wanita pengemis itu.
"S-saya cuma mau berteduh sebentar, Mbak... hujan..." pohon Mama Rahma sambil memegangi dadanya yang terasa makin sesak.
"Enggak bisa! Pergi sana!" dorong wanita pengemis itu kasar.
Tubuh lemah Mama Rahma tersungkur jatuh ke atas lantai semen yang dingin dan kotor. Kantong-kantong plastiknya terlepas, membuat beberapa pakaian mewahnya berhamburan ke atas tanah basah.
Saat Mama Rahma merayap menangis memunguti pakaian-pakaian kotornya di tengah rintikan hujan, suara derap langkah kaki beriringan dengan jeritan histeris seorang perempuan terdengar melintas dari arah ujung jalan.
"Aaghh! Jangan sentuh barang-barang saya! Lepasin!"
Mama Rahma menengadah. Matanya membelalak kaku saat mengenali suara melengking yang teramat sangat familier di telinganya.
Di bawah guyuran hujan gerimis di tepi jalan raya, seorang perempuan muda tampak berjalan dengan tubuh basah kuyup. Perempuan itu memegangi dua koper pakaian dengan erat sembari menangis histeris. Wajahnya yang biasa dipoles kecantikan salon kini berantakan total oleh sisa-sisa makeup yang luntur terkena air hujan.
"Jesika...?" bisik Mama Rahma tak percaya, suaranya tercekat di tenggorokan.
Perempuan muda itu terhenti. Jesika menoleh ke arah selasar jembatan, dan mata mereka berdua saling bertumbukan.
Jesika berdiri membeku di tengah kencangnya tiupan angin malam. Baju cantiknya sudah kotor berkerut. Tatapan matanya liar, penuh guncangan kejiwaan, kegagalan, dan kehancuran total.
"Jesika?! Kamu... kenapa bisa ada di sini, Nak?!" jerit Mama Rahma, lupa akan rasa sakit di kakinya. Wanita tua itu merayap bangkit dan berlari menyongsong anak perempuannya.
Jesika menatap ibunya dengan tatapan kosong bercampur histeris. "Hancur, Ma... Semuanya hancur!"
"Ada apa, Jes?! Mana rumahmu?! Mana mobil merahmu?! Mana Reno suamimu?!" cecar Mama Rahma memegangi kedua pundak Jesika dengan tangan gemetar.
"Disita, Ma! Semuanya disita sama tim hukumnya Mbak Tita!" tangis Jesika pecah, ia meraung-raung di tengah jalanan tanpa memedulikan tatapan heran orang-orang yang melintas. "Rumah Jesi distempel pengadilan! Mobil Jesi diangkut! Semua tas mahal dan perhiasan Jesi disita gara-gara voucher lima puluh juta dulu! Dan Reno... Reno menceraikan Jesi di depan rumah tadi siang, Ma!"
Deg.
Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar tepat di kepala Mama Rahma.
"D-diceraikan...?" bisik Mama Rahma dengan bibir memutih. "Disita...?"
"Iya! Kebencian Mbak Tita nggak main-main, Ma!" teriak Jesika frustrasi, mencengkeram lengan ibunya dengan jemarinya yang dingin. "Rekening Jesi dibekukan! Jesi enggak punya uang sepeser pun lagi! Jesi diusir dari kompleks!"
Jesika terduduk lemas di atas trotoar yang basah oleh air hujan, memeluk koper pakaiannya sembari menangis meraung-raung bagaikan orang gila.
Mama Rahma berdiri mematung di hadapan putri kesayangannya.
Kemarin sore, Jesika mengusirnya dengan sangat dingin dan melemparkan uang receh ke wajahnya demi menyelamatkan posisinya di depan keluarga suami. Namun malam ini, roda takdir berputar begitu kejam. Jesika mendadak kehilangan segalanya dibuang oleh suaminya, dimiskinkan oleh hukum, dan terlempar ke jalanan yang sama dengan ibunya.
Mama Rahma perlahan berlutut di atas trotoar basah, merengkuh tubuh Jesika yang bergetar ke dalam pelukannya.
Dua wanita yang dulu menghabiskan hidup mereka untuk memeras, menghina, dan menikmati penderitaan Titania... kini duduk bersimpuh bersama di bawah selasar jembatan penyeberangan yang kumuh. Hujan deras turun membasahi bumi Jakarta, seolah membersihkan sisa-sisa kesombongan semu yang selama lima tahun ini mereka agung-agungkan.
Tidak ada lagi rumah mewah, tidak ada lagi tas desainer ratusan juta, tidak ada lagi mobil kota berkelas, dan tidak ada lagi rasa bangga.
Di balik jeruji besi di tempat lain, Aris Pratama meraung kesakitan dalam sel isolasi. Sementara di tepi jalanan ini, ibu dan adiknya menangis terisak-isak menahan kelaparan dan kebingungan mencari tempat beralas untuk melewatkan malam.
Keluarga Pratama yang dulu dipenuhi oleh keserakahan dan dusta... kini telah runtuh tak tersisa. Hukum karma dari kehidupan telah dibayar tuntas tanpa ada satu rupiah pun kembalian.
tp bgus lh...saatnya ngejar cntamu kmbli y felix...
dlunya nabur kjhtan,skrng mnuai akibtnya....slmt jd gembel.....😛😛😛
😂😂😂 jgn sampe deh pindah ke jempol kaki ,, 😁😁😁😁
tu laa akibat dr keserakahan berkedok pengen punya anak ,, 😒😒😒😒
😱😱😱😱😱
pdahl msh byk cara lain supaya punya anak ,, bisa adopsi anak kn ,, emnk dasar pgen selingkuh aj ,, 😒😒😒😒
tp yg pling ngeri,nsibnya aris d pnjra.....scra kknya tita udh blik buat ngsih doa pljran......
udh buka aib sndri,skrng mlah msuk kandang singa......ga ykin kl pad kluar dia msih utuh.....🤣🤣🤣