NovelToon NovelToon
Paradoks Waktu

Paradoks Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Sci-Fi / Misteri
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.

Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Selama tiga hari, laboratorium nyaris tidak melakukan aktivitas fisik apa pun. Tidak ada pengujian baru, tidak ada komponen yang dipasang. Yang ada hanyalah tumpukan data.

Video diputar berulang-ulang, sensor diperiksa satu per satu, bahkan kabel-kabel dilepas lalu dipasang kembali hanya untuk memastikan tidak ada kesalahan teknis.

Namun, hasilnya tetap sama. Tidak ditemukan kerusakan sama sekali.

Zain datang sore itu membawa sekotak donat. "Wah... masih melihat video itu lagi?"

Salah seorang teknisi mengangguk lesu. "Sudah hampir seratus kali."

"Ketemu penyebabnya?"

"Belum."

Zain menggelengkan kepala. "Dunia ilmuwan ternyata capek juga."

Ardi yang duduk di depan monitor tertawa pelan. "Kebanyakan orang mengira penelitian itu soal menemukan jawaban. Padahal, lebih sering tentang mencari letak pertanyaan yang benar."

...

Profesor Surya berdiri di depan papan tulis yang kini dipenuhi coretan panah, rumus, diagram, serta sebuah angka yang dilingkari berkali-kali: 2 mm.

Profesor mengetuk angka itu dengan spidol. "Kalau alat ini hanya menghasilkan gangguan listrik, motor tidak mungkin bergeser."

"Bagaimana kalau mejanya yang bergeser?"

Seorang teknisi langsung menggeleng. "Sudah dicek. Fondasinya juga aman."

Profesor kembali terdiam sejenak. "Kalau begitu, hanya ada dua kemungkinan."

Ruangan menjadi hening.

"Apa?" tanya Ardi.

Profesor menulis dua baris kalimat di papan:

》Sensor salah.

》Atau... motor benar-benar berpindah.

Tak seorang pun bersuara. Pilihan pertama terdengar masuk akal, sementara pilihan kedua sangat sulit dipercaya.

"Kalau memang berpindah..." ucap Zain pelan, "...kenapa cuma dua milimeter?"

Profesor tersenyum. "Itu pertanyaan yang bagus."

"Jawabannya?"

"Belum tahu. Namun, dua milimeter jelas lebih baik daripada nol."

Zain mengangguk pelan. Kalau dipikir-pikir, ucapan itu memang benar. Jika target akhirnya adalah memindahkan sebuah kendaraan, maka perpindahan sekecil apa pun tetaplah sebuah langkah awal.

...

Menjelang malam, Ardi membawa hasil analisis terbaru. "Prof."

"Hm?"

"Kamera nomor dua. Pada frame ke-8, bayangan motor hilang lebih dulu dibanding kamera lain."

Profesor langsung berdiri. "Tunjukkan."

Video diputar dan semua orang mendekat. Frame demi frame berganti hingga di layar tampak sesuatu yang membuat seluruh ruangan membisu.

Sesaat sebelum motor tampak bergetar, bayangannya di lantai sudah lebih dulu menghilang. Padahal lampu di ruangan tidak berubah, posisi kamera tidak bergeser, dan tak ada benda yang menghalangi cahaya.

Bayangan itu lenyap sekitar satu milidetik lebih awal.

Profesor memejamkan mata beberapa detik, lalu berkata pelan, "Besok... kita ulangi pengujiannya."

Ardi menatapnya ragu. "Dengan daya yang sama?"

Profesor menggeleng. "Tidak. Kali ini... naikkan sedikit."

Ruangan kembali sunyi. Semua orang paham bahwa setiap kenaikan energi berarti mereka melangkah semakin jauh ke wilayah yang belum pernah dijelajahi manusia.

Pagi itu, udara di laboratorium terasa lebih dingin dari biasanya—bukan karena pendingin ruangan, melainkan karena tak seorang pun banyak bicara. Semua orang fokus pada tugas masing-masing.

Motor Zain kembali berada di atas meja hidrolik. Kabel-kabel tebal disambungkan, monitor dinyalakan, dan kamera berkecepatan tinggi dipasang dari berbagai sudut. Kali ini jumlahnya lebih banyak: enam kamera. Tak boleh ada satu momen pun yang terlewat.

Profesor Surya memeriksa daftar terakhir. "Semua sensor aktif?"

"Aktif."

"Kamera?"

"Siap."

"Catu daya?"

"Normal."

Profesor menoleh kepada Zain. "Hari ini kamu hanya mengamati."

"Siap."

"Kalau terdengar aba-aba evakuasi... langsung keluar."

Zain mengangguk. Wajah Profesor terlihat jauh lebih serius dibanding biasanya.

Ardi mulai menghitung. "Tiga... dua... satu... mulai."

Suara dengungan halus kembali memenuhi ruangan. Lampu indikator biru menyala, dan grafik di monitor mulai bergerak.

"Lima persen."

"Stabil."

"Tujuh persen."

"Stabil."

"Sepuluh persen."

Masih normal. Tak ada getaran, tak ada pula percikan.

Profesor mengangkat tangan. "Naikkan ke dua belas persen."

Ardi menekan tombol. Dengungan berubah sedikit lebih berat, namun masih dalam batas aman.

Semua mata tertuju pada layar. Detik demi detik berlalu, lalu...

*Bip... Bip... Bip...*

Salah satu sensor berbunyi.

"Apa yang terjadi?"

Seorang teknisi menjawab cepat, "Medan di sekitar kendaraan berubah."

"Seberapa besar?"

"Naik tiga persen."

Profesor tetap tenang. "Teruskan."

Tepat pada detik keempat belas, hal aneh itu muncul lagi. Motor tidak bergerak, namun udara di sekitarnya tampak beriak—seperti bayangan aspal yang dipanaskan terik matahari. Efeknya hanya berlangsung sesaat, kurang dari satu detik.

Zain sampai mengucek matanya. "Saya enggak salah lihat, kan?"

Ardi menggeleng pelan. "Kamu tidak salah."

Semua kamera merekam fenomena yang sama.

"Matikan," perintah Profesor terdengar tegas.

Ardi langsung memutus aliran daya. Dengungan berhenti, dan ruangan kembali sunyi. Tak ada yang berbicara selama beberapa detik.

Seorang teknisi memeriksa posisi motor. "Prof... bergeser lagi."

"Berapa?"

"Empat milimeter."

Ruangan langsung hening. Pengujian sebelumnya dua milimeter, sekarang empat milimeter—tepat dua kali lipat.

Profesor tidak tampak gembira. Dahi pria tua itu justru semakin berkerut. "Kalau polanya benar, kenaikan energi akan memperbesar efeknya."

Ardi mengangguk pelan. "Itu berarti teorinya mulai sesuai."

"Namun..." Profesor menatap monitor, "...kita belum tahu apa sebenarnya yang sedang bergeser."

Motornya? Ruang di sekitarnya? Atau... waktu itu sendiri?

Tak seorang pun mampu menjawab.

Di balik pintu kaca laboratorium, Zain memandangi motor kesayangannya. Untuk pertama kalinya, ia merasa benda itu bukan lagi sekadar alat mencari nafkah.

Perlahan, motor itu berubah menjadi sebuah misteri—dan misteri tersebut baru saja mulai membuka pintunya sedikit demi sedikit.

1
Aegis
dan si kakek mentransfer dia ke masa lalu🥴
DeZigur: kalo mao skip langsung bab 20 aja. misterinya mulai
total 2 replies
Aegis
👍
Aegis
masalah psikotis tuh maksudnya apa bang?
DeZigur: ya kalo orangnya parnoan garaw pas bangun udah di dimensi lain terus ga bisa balik lagi ke kenyataan gimana?
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!