NovelToon NovelToon
Jangan Menyesal Setelah Aku Pergi

Jangan Menyesal Setelah Aku Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:92.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jalur Langit

Disa ingin memberi kejutan berupa kehamilan yang telah lama dinanti-nanti, tetapi dia malah mendapatkan kejutan lebih dulu dari Cakra. Cakra membawa pulang Risa yang sedang hamil anaknya.

Dari pada menerima Cakra, yang jelas-jelas sudah mengkhianatinya, dan harus menerima Risa sebagai madunya, Disa memilih pergi dengan membawa anak Cakra yang dia sembunyikan.

"Jangan menyesal setelah aku pergi."

***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Sambil membawa perutnya yang luar biasa besar, Disa sibuk membantu ibunya di warung. Menata piring dan sendok lah, membuatkan minuman untuk pengunjung lah, membereskan meja lah, apa saja yang bisa Disa lakukan akan ia lakukan.

Sudah ditegur berkali-kali oleh Rahmi, agar Disa duduk saja. Tidak perlu lah Disa membantunya dengan perutnya yang membesar, pasti itu menyulitkan bagi Disa. Tetapi Disa yang keras kepala mana peduli larangan ibunya?

Dari pada bengong, melamun, dan diam, lebih baik Disa melakukan kegiatan yang bermanfaat, begitu kata Disa. Karena kalau hanya diam saja, Disa terus menerus kepikiran tentang jadwal operasi yang akan dijalaninya dua minggu lagi.

Ya, secepat itu. Tiba-tiba saja Disa akan segera melahirkan. Tidak disarankan untuk melahirkan secara normal, dokter kandungan Disa menyarankan untuk operasi yang jadwalnya sudah ditentukan.

Jujur, Disa takut. Sangat ketakutan. Menyibukkan diri adalah suatu usaha agar Disa merasa rileks, tenang, sedikit mengurangi rasa takutnya yang kian mendera.

Pagi itu, Wulan—mamanya Rayyan—datang ke rumah sambil membawa oleh-oleh untuk Disa. Dari Rayyan tentu saja.

"Rayyan bawain oleh-oleh buat Disa, dia abis dari Bali." meletakkan bingkisan itu di dekat meja yang sedang Disa duduki. Lantas, ibu dari sahabat Disa itu duduk di samping Disa.

"Makasih ya, Mbak Wulan, Mas Rayyan nih kok jadi ngasih oleh-oleh terus buat Disa sih setiap kali pulang," sambut Rahmi, duduk di sisi Disa yang satunya. Jadilah Disa duduk di tengah, diapit oleh kedua ibu-ibu itu.

"Nggak apa-apa, Rayyan belinya kebanyakan, katanya sekalian buat Disa, yang lagi hamil, biar gak ngiler katanya." Wulan bergurau.

Dua ibu-ibu itu lantas tergelak.

Rayyan jarang muncul di rumah Disa, tetapi oleh-olehnya dari kota yang sebelumnya ia singgahi tak pernah absen di rumah Disa. Kadang cowok itu sendiri yang mengantarkannya, namun seringnya juga Tante Wulan yang mengantarkan oleh-oleh itu.

Disa jadi merasa tidak enak, dia tidak pernah meminta oleh-oleh apa pun dari Rayyan, tapi Rayyan yang selalu memberikannya.

"Rayyannya di mana, Tante?" tanya Disa penasaran. Ada hampir satu bulan mungkin ia tidak melihat Rayyan.

"Langsung tidur dia, Dis, baru sampai rumah jam enam tadi pagi. Mungkin kecapekan. Kenapa? Kangen sama Rayyan? Nanti siang Tante suruh si Rayyan ke sini kalau kangen," goda Wulan.

Disa lekas menggeleng cepat. "Enggak, Tante, cuma tanya aja nggak kangen kok."

Rahmi malah tertawa kecil.

"Kangen juga nggak apa-apa kok, nggak ada yang ngelarang, hihihi," Wulan cekikikan. Gurauannya pada Disa sebenarnya mempunyai maksud tertentu. Bahwa ia menginginkan hubungan Disa dan Rayyan lebih dari sekedar sahabat. Tapi entahlah ... Putranya juga tidak ada pergerakan untuk mendekati Disa.

Wulan gemas sendiri.

"Kapan perkiraan lahirnya, Dis?" tanya Wulan yang memperhatikan wajah Disa, merah padam karena digoda dirinya.

"Jadwal operasinya dua minggu lagi, Tante," jawab Disa.

"Walah ... Sebentar lagi mau punya cucu ya Mbak Rahmi, mana langsung dua sekaligus lagi."

"Alhamdulillah .... " Rahmi tersenyum.

"Semoga lancar ya, Dis, operasinya. Kamu dan anak-anak kamu sama-sama sehat dan selamat tanpa kurang suatu apa pun," ucap Wulan mendoakan dengan tulus. Tangan satunya mengusap bahu Disa, sementara yang satunya lagi mengusap perut buncit Disa.

"Aamiin, Tante, makasih doanya," sahut Disa.

"Pasti deg-degan ya?" tebak Wulan.

"Iya, Tante, deg-degan banget. Sama takut."

"Deg-degan sama takut menjelang melahirkan itu wajar, tapi harus tetap tenang, positif thinking, dan yakin kalau kamu pasti bisa." Wulan memberikan semangat.

"Iya, Tante, semoga nanti aku bisa melewatinya."

"Boleh ya Tante ikut nemenin kamu lahiran?" pinta Wulan.

"Apa nggak ngerepotin nanti, Mbak?" sahut Rahmi balik bertanya.

"Insha Allah enggak. Dua minggu lagi, kan? Nanti aku sama Rayyan ikut nganterin Disa lahiran boleh, kan, Mbak Rahmi?"

"Boleh, kalau nggak ngerepotin, Mbak."

Wulan tersenyum senang setelah mendapatkan izin dari Rahmi dan Disa. Semenjak mendengar Disa hamil, Wulan diam-diam sering memperhatikan Disa.

"Senangnya yang mau punya cucu. Aku juga pengen punya cucu, Mbak."

"Suruh lah Mas Rayyan nikah biar cepet punya cucu, Mbak Wulan."

Wulan, ibu dari Rayyan itu malah cengengesan. "Udah ada calonnya sih, tapi gak bisa langsung nikah, harus nunggu waktu yang pas dulu."

Lho? Disa melongo. Rayyan sudah punya calon? Terus, maksud dia yang ngasih kalung serta oleh-oleh di setiap ia pulang buat Disa itu apa artinya?

"Alhamdulillah kalau udah punya calon. Semoga bisa segera dihalalkan." Rahmi mendoakan sambil melirik Disa yang semakin dibuat diam.

"Aamiin...."

......................

Dua minggu menjelang hari perkiraan kelahiran bayinya Risa, calon cucu mereka, Yuni dan Hadrian ikut tinggal di rumah Cakra. Menemani Risa sekaligus menunggu kelahiran si bayi perempuan. Yuni yang paling semangat, kalau Hadrian hanya mengikut saja, dia lebih tidak sabar menanti kelahiran si kembar, cucunya dari Disa.

Mengingat ada kedua orang tuanya di rumah, Cakra menjaga sikap, menurunkan egonya, pelan-pelan menyingkirkan rasa kecewa dan marahnya. Lagi pula, Risa sudah mendapatkan hukuman terlalu lama. Sikap Cakra kepadanya kembali menghangat bagaikan sinar matahari pagi, kembali manis bagikan gula.

Mereka sudah tidak pisah kamar. Tidur bersama lagi membuat hubungan kian mesra, sebab Cakra kembali menyentuh Risa. Meneguk surga dunia bersamanya, hingga masalah kalung itu perlahan terlupakan, berganti dengan ketidaksabaran menanti kelahiran sang anak.

Sama seperti Disa, Risa juga merasakan ketakutan. Bukan takut akan proses melahirkannya, tetapi takut karena hal lain. Yang namanya menyimpan kebohongan besar, pasti merasa was was setiap detik. Takut kebohongannya terbongkar.

Andre memang tidak pernah muncul di depan Risa, namun dia selalu menghubungi Risa lewat chat Instagram atau Facebook. Menanyakan bagaimana keadaan Risa? Kapan ia akan melahirkan? bla, bla, bla.

Mencari jalan aman, Disa blokir semua akun medsos Andre. Dan semoga Andre tidak akan pernah muncul lagi di hidupnya.

Pintu kamar terketuk dari luar. Disusul oleh suara mama mertuanya.

"Sa, kamu lagi apa? Ini mam buatin susu buat kamu, di minum ya?"

"Iya, Ma!"

Risa meluncur turun hati-hati dari tempat tidurnya, melangkah pelan dan tertatih-tatih menuju pintu. Perutnya sudah merasakan kram kontraksi sejak tadi sore.

Yuni begitu sangat perhatian terhadap Risa. Ia seolah lupa pada calon cucu yang lainnya yang sedang dikandung Disa, yang seharusnya juga mendapatkan perhatian yang sama. Ia pikir, Risa dan calon bayinya saja sudah cukup.

Tanpa ia sadari, hal ini akan menjadi penyesalannya yang paling dalam di kemudian hari.

......................

Cakra dan Hadrian sedang menonton acara bola di televisi. Kedua pria itu duduk bersebelahan di atas sofa, mata fokus menatap layar televisi, sesekali berteriak saat merasa senang atau geregetan.

"Kamu udah tau kapan jadwal operasinya Disa?" Hadrian membuka obrolan lain.

"Udah, Pa. Dua minggu lagi kan jadwal operasinya Disa?" Cakra menyahut tanpa melepas tatapannya pada televisi.

"Kamu ada ngerasa nyesel nggak, Cak?"

"Nyesel sih ada lah, Pa. Tapi ya mau gimana lagi, semua udah terlanjur terjadi. Mau nyesel sampe bego pun, nggak akan ngerubah yang udah terlanjur terjadi."

Hadrian terkekeh kecil. "Semua nggak akan kayak gini kalau kamu ... bisa tahan nafsu kamu, Cakra."

Cakra melirik papanya. Iya, Cakra akui, dia yang tergoda dengan Risa. Tidak bisa menahan syahwatnya.

"Cakra! Papa!"

Tiba-tiba, terdengar teriakan Yuni dari lantai atas yang membuat Cakra dan Hadrian saling berpandangan, bertanya-tanya, dan menebak-nebak.

"Cakraaa! Ke sini cepat! Risa udah mau melahirkan! Anak kamu mau lahir!"

Secepat kilat, Cakra melompat bangun dari duduknya, berlari gesit menaiki anak tangga. Begitu pun dengan Hadrian yang langsung menyuruh sopir untuk menyiapkan mobil. Memerintah ke sana, ke sini.

...****************...

Aku tau, kalian pada nungguin kebohongan Risa terbongkar ya? (nyengir dulu). Iya sabar ya, sebentar lagi kok, nggak akan lama.

Terima kasih ya yang udah baca sampai sejauh ini... Aku harap semoga kalian semua terus baca dan baca, bertahan menemani aku dan Disa sampai akhir.

1
Retno Harningsih
up
sunaryati jarum
Biar kan Disa tinggal di rumah sendiri nanti kambuh liarnya kalian yang rugi,tapi semoga beneran sadar dan niatnya berubah ke perilaku baik tidak goyah
sunaryati jarum
Itu murni kesalahan ayah kalian dan Bu Wati yang selalu menghindar jika di temukan Bu Rahmi ,dan ibu pasti menjelekkan - jelekkan ayahmu dan keluarga barunya.
sunaryati jarum
Semoga Risa beneran berubah menjadi baik.Dan tidak berniat mencelakai Disa dan ibunya apalagi anak,- anaknya
Vivi Zenidar
semoga Risa bisa berubah dan mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik
Ma Em
Disa lbh baik Risa jgn tinggal dgn mu takut nya nanti Risa cuma jadi duri pada hubungan Disa dgn Rayyan .
Yunita Sophi
mungkin ibu nya Risa menjelek jelekan ayah nya agar Risa membenci ayah nya
Vivi Zenidar
Akhirnya..... bisa ketemu RIsa
Retno Harningsih
up
Ma Em
Semoga Saja Risa beneran sdh sadar dari kesalahan nya jgn pura2 baik tapi nanti akan berbuat jahat lagi .
Retno Harningsih
up
Yunita Sophi
sukurlah mereka akhir nya bertemu...
dyah EkaPratiwi
Alhamdulillah akhirnya ketemu
Vivi Zenidar
Alhamdulillah.... akhirnya ketika Risa
Maa Yanti Maa Yanti
raasaain loo cakraaa
Maa Yanti Maa Yanti
thorr ku sayang 💕😍 udh jdiian Rayyan ama dista biar s cakraaa nyeseeeellll bngett aplgi tau klau anak dri s ulet bulu itu bukn anak nya 🤣🤣🤣🤣
Vivi Zenidar
semoga Risa mendapatkan jalan keluar untuk semua permasalahannya
Yunita Sophi
semoga bu Rahmi menerina Risa dgn baik...kasian nasib nya Risa kurang beruntung..
Ma Em
Kalau Risa baik tdk jahat pada Disa dia berhak ditolong tapi kalau jahat hanya untuk membuat Disa dan Bu Rahmi celaka lbh baik dihindari saja biarkan Risa dgn hdp nya sendiri
Retno Harningsih
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!