Seorang wanita pekerja kantoran yang rasional bertransmigrasi ke dalam novel romansa tragis sebagai Geneviève de Montmirail, seorang putri Duke yang ditakdirkan dieksekusi karena cintanya yang gila dan obsesif kepada Duke muda, Lucien de Vaudémont.
Bertekad untuk mematahkan bendera kematiannya (death flag), Geneviève memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan Lucien dan lingkungan istana yang beracun. Alih-alih mengejar cinta fana, ia menggunakan kecerdasannya dalam administrasi keuangan untuk memajukan wilayahnya dan membuka bisnis perhiasan yang mendobrak tren kekaisaran.
Namun, sikap dingin Geneviève justru memicu retaknya "Sihir Putih" milik Putri Mahkota Camille, sang protagonis asli novel yang tampak suci namun bermuka dua. Saat Lucien mulai mengalami kilasan ingatan yang menyiksa tentang masa lalu yang tak pernah ia ketahui, Geneviève menemukan sebuah perhiasan rahasia peninggalan tubuh aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadnote, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyangkalan di Tengah Malam
"Apakah Anda sedang menulis naskah drama panggung picisan di dalam kepala Anda, Tuan Duke?"
Suara Geneviève terdengar sedingin bongkahan es di musim dingin kekaisaran. Ia menatap wajah Lucien yang hanya berjarak beberapa inci darinya tanpa berkedip sedikit pun.
Dengan satu hentakan kuat yang penuh perhitungan, Geneviève menarik pergelangan tangannya dari cengkeraman sang ksatria. Kulitnya terasa panas di tempat jari jemari Lucien tadi bertengger, tetapi ia mengabaikan sensasi itu sepenuhnya. Ia melangkah menyamping, membebaskan diri dari kungkungan tubuh besar Lucien dan dinding gerobak etalase kayu mahoni di belakangnya.
Lucien terhuyung ke depan saat kehilangan tumpuannya. Pria itu menekan pelipisnya dengan telapak tangan, wajahnya berkerut menahan rasa sakit yang luar biasa. Napasnya masih memburu cepat.
Di dalam kepala Geneviève, roda gigi rasionalitas berputar dengan kecepatan maksimal. Pertahanan logikanya yang sempat goyah kini kembali dibangun dengan tembok baja berlapis.
Alur novel adalah kebenaran mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Novel itu menuliskan dengan sangat jelas bahwa Geneviève de Montmirail adalah penjahat yang mati karena obsesi cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Tidak ada romansa rahasia. Tidak ada kisah cinta tragis di masa lalu.
Geneviève menyimpulkan bahwa pria di depannya ini sedang mengalami gangguan mental sementara. Tekanan politik dari faksi kerajaan, ekspektasi Putri Mahkota Camille yang manipulatif, dan rasa malu karena kekalahan di alun alun hari ini pasti telah merusak kewarasan Lucien. Pria ini hanya sedang mencari pelampiasan.
"Saya sarankan Anda memanggil tabib istana besok pagi, Lucien," ucap Geneviève sambil merapikan lengan gaun sutranya dengan gerakan elegan. "Tingkat halusinasi Anda sudah mencapai tahap yang sangat mengkhawatirkan."
Lucien mendongak. Urat urat merah di matanya terlihat semakin menyedihkan di bawah cahaya lentera minyak yang temaram.
"Kau menyebut perasaanku sebagai halusinasi?" bisik Lucien parau. Pria itu mengepalkan tangannya kuat kuat. "Aku tahu apa yang kurasakan saat melihat desain perhiasan itu, Geneviève. Kepalaku serasa ingin pecah, tetapi hatiku... hatiku mengatakan bahwa aku mengenal setiap lekukan sulur perak itu. Kau tidak mungkin merancangnya sendirian."
"Tentu saja saya merancangnya sendirian," potong Geneviève dengan tawa renyah yang terdengar sangat meremehkan. "Itu murni inspirasi bisnis saya. Desain estetika dongeng itu lahir dari perhitungan pasar, bukan dari kenangan masa lalu yang konyol. Jika Anda merasa sangat familier dengan lekukan perak tersebut, mungkin Anda diam diam memiliki bakat terpendam sebagai perajin perhiasan."
Geneviève melangkah mendekati meja kerjanya, mengambil pena bulu dan memutar mutarnya dengan santai.
"Anda bisa datang ke bengkel Tuan Fabron di distrik selatan besok pagi, Tuan Duke. Kami sedang membutuhkan asisten tambahan untuk memoles safir biru. Saya bersedia membayar Anda sepuluh koin tembaga per jam jika Anda berhenti meracau di rumah saya," tawar Geneviève dengan senyum sarkas yang mematikan.
Lucien menatap wanita itu dengan rasa frustrasi yang luar biasa. Ia baru saja meruntuhkan ego ksatrianya, memacu kuda menembus hutan malam, dan nyaris memohon penjelasan di kaki wanita ini. Namun, Geneviève justru menanggapinya dengan tawaran pekerjaan bergaji koin tembaga.
Sihir Putih di dalam otak Lucien kembali memanfaatkan celah penolakan tersebut. Rasa sakit di kepalanya berlipat ganda, memaksa ingatan palsu tentang kebencian untuk kembali mengambil alih. Lucien menggertakkan giginya hingga terdengar bunyi gemeretak yang menakutkan.
"Kau benar benar wanita yang tidak memiliki hati," desis Lucien menahan rasa sakit. Ia mundur perlahan, menjauhi Geneviève seolah wanita itu adalah sumber lukanya.
"Saya adalah seorang pedagang," koreksi Geneviève tenang. "Hati tidak bisa digunakan untuk membayar pajak wilayah."
Lucien menatap mata cokelat Geneviève untuk terakhir kalinya malam itu. Pria itu mencari kebohongan, namun ia hanya menemukan dinding kaca yang sangat tebal dan dingin. Dengan napas yang tersengal, Lucien membalikkan badannya. Ia berjalan gontai melewati pintu kayu ek yang hancur, menghilang ke dalam kegelapan malam musim gugur.
Suara derap langkah sepatu bot Lucien perlahan menjauh, diikuti oleh ringkikan kuda dan teriakan pelan Gaspard dari luar pagar. Beberapa saat kemudian, suara roda kereta kuda terdengar melaju meninggalkan kediaman Montmirail dengan kecepatan tinggi.
Geneviève berdiri mematung di tempatnya. Bahunya yang sejak tadi tegang perlahan merosot turun. Ia menghela napas panjang, merasa seolah baru saja memenangkan perdebatan yang menguras seluruh energinya. Berurusan dengan pria yang otaknya tidak stabil jauh lebih melelahkan daripada menghitung laporan pajak tahunan.
Tiba tiba, suara renyahan keras memecah keheningan ruangan.
Kriuk.
Geneviève terlonjak kaget. Ia menoleh ke arah sumber suara.
Dari balik meja kayu besar di sudut ruangan penyimpanan, sebuah kepala perlahan menyembul naik. Odette berdiri dengan santai, mulutnya sedang sibuk mengunyah sebuah apel merah yang besar. Tangan kanannya masih memegang kunci inggris besi, sementara tangan kirinya memegang sisa apel tersebut.
"Pria yang sangat aneh," komentar Odette dengan mulut penuh. Ia menelan gigitan apelnya dan berjalan mendekati Geneviève. "Dulu dia mengabaikan Anda seperti mengabaikan lalat di meja makan. Sekarang, dia mendobrak pintu toko kita di tengah malam hanya untuk menanyakan desain perhiasan sambil menatap Anda seperti anak anjing yang kehilangan induknya."
Geneviève memijat pelipisnya. "Sejak kapan kau bersembunyi di bawah meja itu, Odette? Bukankah Gaspard sudah membawamu keluar?"
"Tuan Ksatria Kaku itu memang meminta hamba keluar," jawab Odette santai sambil menggigit apelnya lagi. Kriuk. "Tetapi hamba adalah pelayan pribadi Anda. Hamba tidak akan membiarkan majikan hamba berduaan dengan pria yang kewarasannya sedang diragukan. Begitu Tuan Ksatria Kaku lengah mengatur anjing pelacaknya, hamba merangkak masuk lewat jendela samping dan bersembunyi di bawah meja."
Geneviève menggelengkan kepalanya tak percaya. "Kau bisa saja ketahuan dan dibunuh karena menguping pembicaraan seorang Duke."
"Hamba membawa kunci inggris, Nona. Hamba selalu siap untuk skenario terburuk," sahut Odette bangga. Pelayan itu membuang sisa apelnya ke dalam keranjang sampah di dekat pintu masuk. Ia berkacak pinggang menatap puing puing pintu kayu ek yang berserakan di lantai.
"Jadi, haruskah hamba membelikan perangkap beruang dan rantai kapal besok pagi?" tanya Odette serius. "Kita bisa memasangnya tepat di depan pintu baru kita. Jika Duke itu datang mendobrak lagi, kakinya akan putus dan kita bisa menjual sepatu bot kulitnya ke pasar loak."
Tawa pelan akhirnya lolos dari bibir Geneviève. Lelucon barbar pelayannya ini entah bagaimana selalu berhasil menetralkan ketegangan di dalam hatinya.
"Tidak perlu perangkap beruang, Odette. Cukup panggil tukang kayu terbaik besok pagi dan pastikan engsel pintu yang baru dilapisi baja murni," perintah Geneviève. Ia mengambil lentera minyak di atas meja. "Ayo kita tidur. Besok kita memiliki puluhan pelanggan yang harus dilayani. Jangan biarkan drama bangsawan mengganggu jam istirahat kita."
Odette mengangguk setuju. Pelayan itu membantu Geneviève membereskan beberapa perkamen yang berserakan akibat angin dari luar, lalu mereka berdua berjalan menyusuri lorong panjang menuju kamar tidur utama.
Malam semakin larut. Kediaman Montmirail perlahan tenggelam dalam kesunyian. Hanya terdengar suara jangkrik dan embusan angin musim gugur yang menyapu jendela kaca.
Di dalam kamar tidurnya yang luas, Geneviève membaringkan tubuhnya di atas kasur berlapis sutra yang sangat empuk. Ia menatap langit langit kamarnya yang dihiasi lukisan malaikat abad ketujuh belas.
Pikirannya kembali bekerja, menyusun rencana bisnis untuk esok hari. Ia harus memastikan pasokan batu mentah dari pesisir aman. Ia harus memikirkan strategi promosi baru untuk mengalahkan harga diri faksi kerajaan. Semua logikanya tersusun rapi, rapi, dan sempurna. Tidak ada ruang untuk Lucien. Tidak ada ruang untuk romansa.
Dengan perasaan puas karena berhasil mempertahankan kendali rasionalnya, Geneviève memejamkan mata. Rasa lelah akibat konfrontasi seharian penuh akhirnya menarik jiwa pekerja kantorannya ke dalam alam tidur yang lelap.
Namun, saat kesadaran rasional Geneviève sepenuhnya padam, dinding pertahanan yang ia bangun dengan susah payah di dalam kepalanya ikut runtuh.
Di kedalaman alam bawah sadarnya, sebuah jiwa lain yang selama ini terkurung diam diam bangkit. Itu adalah sisa sisa kesadaran dari pemilik tubuh asli, Geneviève de Montmirail yang sesungguhnya. Jiwa yang menanggung penderitaan masa lalu, jiwa yang mengingat setiap detail kehangatan tangan Lucien saat pria itu memasangkan cincin biru ungu ke jari manisnya.
Dalam keheningan malam, tubuh Geneviève perlahan bergetar di atas ranjang sutranya.
Napas wanita itu mulai tersengal sengal. Alisnya berkerut sangat dalam, seolah ia sedang bermimpi buruk yang luar biasa menyiksa. Tangan kirinya bergerak meremas dada gaun tidurnya dengan kuat, tepat di atas letak jantungnya yang berdegup penuh rasa sakit.
"Lucien..."
Sebuah bisikan lirih yang sangat menyayat hati meluncur dari bibir Geneviève. Suara itu bukan milik sang transmigrator yang hiper rasional. Itu adalah suara asli dari seorang wanita yang cintanya dilupakan oleh pria yang paling ia hargai di dunia ini.
Dalam tidurnya yang lelap, setetes air mata jatuh dari sudut mata Geneviève. Air mata itu mengalir turun melewati pangkal hidungnya, membasahi bantal sutra putih di bawah kepalanya.
Satu tetes disusul oleh tetesan lainnya. Geneviève menangis tersedu sedu tanpa suara. Tubuhnya melengkung menahan kerinduan dan keputusasaan yang tidak bisa ia jelaskan secara logika saat ia terbangun nanti. Sisa ingatan asli tubuhnya sedang meronta, menjeritkan kebenaran masa lalu yang dengan paksa dibantah oleh logika sang penghuni baru.
Kebenaran bahwa mereka berdua pernah sangat saling mencintai, sebelum intrik licik Putri Mahkota merampas segalanya dari mereka.
Esok harinya, cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah tirai jendela kamar.
Geneviève membuka matanya secara perlahan. Ia mengerjap beberapa kali, merasa kepalanya sedikit pusing. Saat ia mencoba bangkit, ia merasakan sensasi dingin dan basah di sisi wajahnya.
Ia menyentuh pipinya sendiri. Basah. Ia menatap bantal sutranya yang kini memiliki noda air yang cukup lebar.
Geneviève mengerutkan kening kebingungan. Logikanya langsung mencari penjelasan paling masuk akal untuk anomali fisik ini.
"Apakah atap kamar ini bocor semalam?" gumam Geneviève pada dirinya sendiri. Ia mendongak menatap langit langit kamarnya yang kering dan bersih sempurna.
Ia menyeka sisa air di pipinya. Perasaan sesak yang aneh masih tertinggal di dadanya, tetapi ia dengan cepat menepisnya. Ia adalah pekerja kantoran yang rasional. Ia pasti hanya kelelahan karena bekerja terlalu keras merancang strategi etalase berjalan kemarin. Mengeluarkan air mata saat tidur karena stres berlebihan adalah hal yang lumrah di dunia medis, pikirnya.
Pintu kamar terbuka. Odette melangkah masuk membawa nampan perak berisi teko teh kamomil dan beberapa potong roti panggang yang masih mengepulkan asap hangat.
"Selamat pagi, Nona," sapa Odette ceria. Pelayan itu meletakkan nampan di atas meja kecil di dekat jendela. "Tukang kayu sudah datang untuk mengukur pintu belakang kita. Dan utusan dari Tuan Fabron mengatakan ada tiga perajin baru yang melamar kerja hari ini karena mendengar kesuksesan Le C'eow di alun alun."
Berita tentang bisnis langsung membuat mata Geneviève kembali berbinar tajam. Segala kebingungan tentang air mata di bantalnya menguap tanpa sisa.
"Itu berita yang sangat bagus, Odette," ucap Geneviève seraya bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan menuju meja riasnya. "Kita harus memperluas kapasitas produksi kita. Faksi kerajaan mungkin kalah dalam tren mode kemarin, tetapi Putri Mahkota Camille bukanlah wanita yang akan menyerah begitu saja. Dia pasti sedang merencanakan sesuatu yang lebih kotor."
"Biar saja dia merencanakan apapun, Nona," cibir Odette sambil menuangkan teh ke dalam cangkir porselen. "Selama kita memiliki perhiasan eksklusif ini dan ratusan bangsawan yang mengantre memberikan koin emas mereka, istana tidak akan bisa menyentuh kita."
Geneviève menatap pantulan dirinya di cermin. Ia memasang wajah sedingin es, wajah seorang pengusaha aristokrat yang siap menghancurkan pesaingnya.
Ia akan memfokuskan seluruh energinya pada ekspansi Le C'eow. Ia akan melupakan kedatangan Lucien yang mengganggu malamnya. Ia akan mengabaikan debaran jantung aneh dan air mata tidak beralasan ini. Baginya, masa lalu adalah buku tertutup, dan masa depannya hanya akan ditulis dengan tinta emas kemandirian.
Perang dagang faksi kerajaan baru saja memasuki babak yang sesungguhnya.