"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9
Dunia Lain
Pagi pertama setelah pernikahan, Nadhira terbangun karena tak mendengar apa-apa.
Tidak ada gedoran pintu. Tidak ada bentakan dari dapur. Pendingin ruangan berdengung begitu halus hingga suara napas Alif dari kamar sebelah terdengar lebih jelas.
Nadhira membuka pintu penghubung. Alif sudah duduk di atas ranjang kecil, memandangi tirai otomatis yang perlahan terbuka ketika cahaya pagi menyentuh sensor.
"Mama, jendela gerak."
"Iya." Nadhira tersenyum tipis. "Tapi jangan pencet semua tombol sebelum kita tahu gunanya."
Alif turun dan segera menginjak karpet tebal dengan kaki telanjang. Ia melompat sekali, lalu memandang ibunya seolah baru menemukan awan di dalam rumah. Kegembiraannya belum menghapus kebiasaan baru untuk selalu memastikan Nadhira berada dalam jarak pandang.
Mereka keluar kamar bersama.
Lantai marmer memantulkan cahaya dari jendela tinggi. Sebuah lukisan abstrak memenuhi dinding dekat tangga, lebih besar daripada kasur di rumah lama. Di bawah, dua staf sedang menata meja sarapan yang panjangnya cukup untuk belasan orang.
Seorang perempuan berseragam krem menghampiri.
"Selamat pagi, Bu Nadhira. Saya Mbak Rini, pengelola rumah ini."
Senyumnya rapi. Tatapannya berhenti pada sandal murah Nadhira sebelum kembali ke wajah.
"Selamat pagi, Mbak Rini."
"Pak Rayhan sudah berangkat ke kantor. Beliau biasanya sarapan pukul enam tepat." Nada perempuan itu terdengar seperti pemberitahuan, tetapi penekanan pada kata tepat terasa seperti penilaian. "Kami tidak tahu kebiasaan Ibu, jadi koki menyiapkan menu yang aman."
Di meja ada roti sourdough, telur setengah matang, buah impor, dan semangkuk yoghurt. Alif memandangi semuanya tanpa mengenali satu pun.
"Ada nasi?" tanya Nadhira.
Mbak Rini berkedip. "Tentu bisa dimasakkan. Biasanya tamu Pak Rayhan memilih sarapan kontinental."
"Kami bukan tamu. Tapi nasi sisa semalam juga cukup. Tidak perlu membuang makanan."
Senyum Mbak Rini menegang sepersekian detik. "Baik, Bu."
Saat seorang staf membawa nasi hangat dan telur dadar, Nadhira melihat bocah lain di ujung lorong.
Arkan berdiri setengah bersembunyi di balik dinding.
Tubuhnya lebih tinggi sedikit daripada Alif, tetapi jauh lebih kurus. Kulitnya pucat setelah demam, dan rambutnya jatuh menutupi dahi. Kedua tangannya memeluk seekor boneka beruang cokelat yang bulunya sudah tipis di satu telinga.
Nadhira tidak mendekat.
"Selamat pagi, Arkan."
Bocah itu menatapnya. Tidak mengangguk, tidak menjawab.
Alif turun dari kursi. "Aku Alif."
Arkan mundur satu langkah.
"Alif," Nadhira memanggil lembut. "Kita kasih Arkan tempat dulu."
Alif memandang bocah itu, lalu kembali ke kursinya tanpa protes. Arkan tetap di lorong sampai seorang pengasuh meletakkan semangkuk bubur di meja kecil terpisah. Ia duduk jauh dari Nadhira, menyendok dua kali, lalu berhenti.
"Den Arkan memang susah makan," kata Mbak Rini. "Biasanya tidak suka orang baru berada di ruang makan."
Pesannya jelas. Kehadiran Nadhira dianggap penyebab.
"Kalau begitu, jangan paksa dia menghabiskan," jawab Nadhira. "Simpan buburnya. Tawarkan sedikit lagi nanti."
Mbak Rini mengangkat dagu. "Dokter sudah memberi jadwal."
"Jadwal membantu. Memaksa anak mual tidak membantu."
Arkan mengangkat mata sebentar. Tatapannya masih curiga, tetapi sendoknya tidak lagi mencengkeram sekeras tadi.
Setelah sarapan, Mbak Rini menunjukkan rumah. Ada dapur utama dan dapur bersih untuk penyajian, ruang keluarga, ruang bermain yang penuh mainan mahal, serta taman belakang dengan kolam dangkal. Alif berseru kecil setiap kali pintu baru dibuka.
"Mama, banyak mobil!"
Ia menunjuk rak kendaraan mini di ruang bermain.
"Main satu dulu. Setelah selesai, kembalikan."
Arkan mengikuti dari kejauhan. Ketika Alif memilih mobil pemadam kebakaran, matanya bergerak ke mainan itu, tetapi ia tidak mendekat.
Di dekat pintu ruang bermain, langkah Arkan goyah. Tangannya menekan dinding, lalu ia duduk begitu saja di lantai.
Mbak Rini segera menghampiri. "Den Arkan harus minum obat. Ayo, buka mulut."
Sendok obat yang dibawa staf membuat Arkan memalingkan wajah. Mbak Rini mencoba memegang dagunya. Bocah itu menendang lemah dan memeluk bonekanya lebih kuat.
"Jangan dipegang dulu," kata Nadhira.
"Kalau tidak dipaksa, obatnya tidak pernah masuk," balas Mbak Rini. "Kami sudah mengurus Den Arkan jauh sebelum Ibu datang."
Nadhira berjongkok beberapa langkah dari anak itu. Ia tidak mengulurkan tangan.
"Arkan, aku taruh termometer di sini." Ia meletakkan alat digital di lantai, cukup dekat untuk dijangkau. "Kamu boleh pegang sendiri."
Arkan menatap benda tersebut, lalu Nadhira, tetapi tetap diam.
Alif yang sedang memainkan mobil mendekat. "Aku bisa."
Nadhira membersihkan ujung termometer, lalu membiarkan Alif menjepitnya di ketiak beberapa detik. Ketika alat berbunyi, Alif tertawa.
"Bunyi, Mama."
"Iya. Tidak sakit."
Nadhira membersihkannya lagi dan mengembalikan alat ke lantai. Arkan akhirnya mengulurkan satu tangan. Ia meniru Alif tanpa diperintah. Angka di layar menunjukkan demam ringan.
"Kita minum sedikit air dulu," kata Nadhira.
Ia menuangkan air ke gelas kecil, lalu meletakkannya di samping obat. Nadhira meminta staf mengambil obat dalam pipet takar agar Arkan tidak perlu menghadapi sendok besar. Ia menjelaskan satu kali bahwa rasa obat pahit hanya sebentar dan Arkan boleh minum air setelahnya.
Bocah itu masih ragu. Alif duduk di lantai di seberangnya dan pura-pura meneguk dari gelas kosong.
Arkan mengambil pipet. Dengan bantuan Nadhira yang hanya memegang ujungnya setelah mendapat anggukan kecil, obat akhirnya masuk. Ia meringis, lalu segera meminum air.
"Sudah," ujar Nadhira. "Tidak ada lagi."
Tidak ada pujian berlebihan atau tepuk tangan yang membuatnya menjadi tontonan. Arkan berdiri pelan dan kembali mengikuti mereka, kali ini jaraknya tidak sejauh sebelumnya.
Nadhira meminta catatan suhu, jadwal obat, nomor dokter anak, dan daftar makanan yang biasanya diterima Arkan. Mbak Rini menyerahkannya dengan wajah kaku.
"Saya bukan mengambil pekerjaan Mbak," kata Nadhira. "Saya perlu tahu kondisi anak yang tinggal serumah dengan saya."
Mbak Rini menunduk. "Baik, Bu."
Mbak Rini membawa Nadhira melewati satu pintu kayu gelap di ujung koridor bawah.
"Itu ruang kerja Pak Rayhan. Sebaiknya tidak dimasuki tanpa izin. Banyak dokumen rahasia."
"Saya mengerti."
Jawaban singkat Nadhira tampaknya mengecewakan. Mbak Rini mungkin berharap ia bertanya atau mencoba melihat ke dalam agar dapat dicap tidak tahu batas.
Menjelang siang, pintu ruang kerja ternyata terbuka. Bukan karena Nadhira menyentuhnya. Arkan berdiri di dalam dengan sebuah buku cerita bergambar di dada. Di ruangan itu, rak buku tinggi mengelilingi meja besar. Semua benda tersusun kaku kecuali bantal kecil dan selimut anak di sofa sudut.
Nadhira berhenti di ambang pintu. "Kamu suka membaca?"
Arkan memeluk buku lebih erat.
"Mama bisa baca," Alif menawarkan dari belakang.
Nadhira menoleh. "Kalau Arkan mau."
Tak ada jawaban. Arkan berjalan ke sofa dan duduk, tetapi tidak mengusir mereka. Itu bukan undangan yang hangat. Namun, juga bukan penolakan.
Nadhira duduk di karpet, menjaga jarak satu lengan dari sofa. Alif bersandar pada bahunya. Ia mulai membaca kisah seekor rusa kecil yang tersesat di hutan. Suaranya tidak dibuat berlebihan. Ia hanya membalik halaman perlahan dan menunjukkan gambar kepada kedua anak.
Arkan tidak melihat Nadhira. Matanya tetap pada buku.
Satu cerita selesai. Lalu yang kedua.
Ketika waktu zuhur lewat dan cahaya bergeser di lantai, Alif sudah tertidur di paha Nadhira. Arkan berbaring di sofa, masih memegang boneka beruang. Demamnya membuat kelopak matanya berat.
Nadhira menutup buku. Ia hendak mengangkat Alif ketika jari kecil menyentuh punggung tangannya.
Arkan sudah tertidur.
Namun, tangannya menggenggam satu jari Nadhira dan tidak melepaskannya.