Asap kelabu dari sisa pembakaran minyak mesin siber menyelinap masuk melalui celah pilar obsidian Aula Gerhana, berputar-putar menciptakan bayangan kaku di atas lantai batu yang dingin. Di luar menara istana, langit Planet Akuma sedang memuntahkan badai hujan merkuri cair yang paling pekat sepanjang satu abad sejarah klan Shinto. Ketukan logam mendidih yang menghantam atap baja terdengar konstan, menciptakan simfoni bising yang meredam detak kehidupan normal. Dengan gaya tarik bumi yang bekerja seratus kali lipat lebih ekstrem, atmosfer di dalam bilik bersalin itu terasa begitu menjepit raga, memaksa setiap hela napas yang keluar dari tenggorokan terasa berat dan membakar sistem pernapasan seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Hancurnya Harga Diri sang Anak Emas
Sisa uap mesin hitam yang keluar dari baju besi Valen Vorash masih mendidih pekat. Cairan mesin yang bocor menetes lambat di atas permukaan lantai baja Altar Baja Utama. Asap hangus berbau logam cair menyengat hidung seluruh murid yang berdiri kaku membeku. Keheningan total yang dibawa oleh jatuhnya sang utusan tertinggi Vorash seolah-olah mengunci jalannya takdir. Di tengah kepulan debu batu hitam yang melayang, Ren berdiri mematung sendirian dengan mata melotot menahan rasa terkejut yang luar biasa gila.
Keangkuhan mutlak sebagai anak emas faksi pengkhianat Sektor Delapan mendadak lumpuh total dalam sekejap mata. Ren menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya bagaimana baju besi berat milik Valen, yang harganya sangat mahal, hancur berkeping-keping menjadi serpihan rongsokan logam mati murni hanya karena satu hantaman horizontal besi tua berkarat milik Ryuken. Rasa malu dan kepanikan kini merangkak naik membakar batinnya yang selama ini selalu berlindung di balik kekuatan mesin.
"Gila! Bagaimana mungkin baju besi kuat itu pecah tanpa ada setitik pun getaran tenaga?!" geram Ren. Suaranya yang berat terdengar bergetar hebat memancarkan tanda bahaya dari komputernya. Ia mengepalkan tangan kanannya, memaksa aliran daya generator di punggungnya untuk berputar ke titik muatan maksimal yang terlarang. "Aku adalah ksatria pedang tercepat klan Shinto! Aku menolak tunduk pada keajaiban takdir seorang budak pembersih kasta terendah yang membusuk di gudang kotor!"
BZZZZZZT... WHIIIIIR!
Ren melompat maju membelah sisa-sisa asap hangus dengan satu sentakan kakinya yang memicu kecepatan luar biasa. Ia mengayunkan pedang ungu miliknya secara vertikal dari atas langit, melepaskan satu tebasan mematikan yang mengincar langsung ke arah kepala Ryuken seutuhnya. Kecepatan gerak Ren begitu gila, menciptakan sebaris garis cahaya berwarna ungu pekat yang sanggup merobek jalinan kabut kelabu sepanjang puluhan meter ke arah depan dalam sekejap mata.
Namun, ketenangan di dalam sepasang mata hitam legam Ryuken menolak untuk goyah. Di bawah pengaruh detak jantungnya yang mendadak kembali berhenti berdetak total selama beberapa saat, ia membiarkan tubuh kurusnya bergerak geser setengah langkah ke arah kanan. Gerakan ini murni mengandalkan kekuatan otot tubuhnya yang telah menempa diri ribuan kali di bawah guyuran air limbah kemarin malam. Ryuken membiarkan lintasan mata pisau ungu Ren meluncur kosong menembus sisa bayangan udara tempat ia berdiri sebelumnya, tanpa melukai selembar rambutnya sedikit pun.
CRACK... BANG!
Bilah pedang ungu milik Ren mendadak patah berantakan menjadi potongan halus yang berhamburan di atas lantai altar baja. Hal itu memicu meletusnya ledakan listrik besar yang merusak seluruh kabel mesin di sepanjang lengan kanan zirahnya hingga hancur berantakan menjadi besi yang mendidih. Tubuh kekar Ren terdorong mundur secara paksa sejauh lima belas langkah sebelum akhirnya ia jatuh tersungkur bertumpu pada kedua lututnya, dengan baju besi yang mengeluarkan kepulan asap hitam berbau hangus menyengat.
Anak emas Sektor Delapan tersebut terengah-engah. Wajahnya pucat pasi menahan rasa perih kejutan listrik dan kehancuran harga diri yang luar biasa menyayat hati di depan seluruh perguruan seutuhnya.
"Ujian perebutan takhta pedang hari ini resmi ditangguhkan sepihak oleh perintah tertinggi dewan tetua!" raung Tetua Kaelen dari atas balkon tribun kehormatan. Suaranya terdengar aneh dan keras melalui pengeras suara, memotong seluruh gema keheningan yang melanda lapangan. Kaelen mengepalkan kedua tangan besinya hingga pilar batu di samping kursinya mengeluarkan bunyi patah yang sangat keras. "Ryuken telah menggunakan teknik terlarang yang melanggar aturan klan Shinto untuk merusak senjata militer kerajaan! Pengawal kuil, kunci seluruh jalan keluar! Tangkap anak buangan ini sekarang juga!"
Namun, sebelum barisan pendekar elit faksi pengkhianat sempat mengepung arena, tubuh raksasa Instruktur Jurota melangkah tegap keluar ke tengah Altar Baja Utama. Tubuh raksasanya sekeras baja murni. Sang "Titisan Iblis Pedang" menancapkan pedang besi kasarnya yang panjang ke lantai, memandang lurus ke arah kursi Kaelen dengan sorot mata pendekar tua yang menolak untuk tunduk pada ancaman zirah mesin kotor.
"Aturan kuno klan kita menetapkan keputusan mutlak yang tidak bisa dibantah, Kaelen!" geram Jurota. Getaran suaranya begitu berat hingga memotong seluruh pengeras suara Kaelen. "Ryuken telah memenangkan pertarungan ini secara sah di atas arena! Jika dewan tetua mu menolak menjalankan janji pernikahan politik bersama Kuil Tinggi sore ini, maka seluruh jajaran guru veteran Perguruan Batu Hitam yang akan mengangkat senjata memicu meletusnya perang saudara!"
Perdebatan sengit di antara dua kekuatan tertinggi perguruan seketika memicu ketegangan yang sangat pekat di tengah lapangan. Kaelen mengepalkan jemari besinya, menyadari sepenuhnya bahwa ia tidak bisa memicu perang saudara terbuka bersama kelompok Jurota di saat pasukan Kekaisaran Vorash masih tertahan di luar atmosfer planet. Dengan senyum licik, Kaelen akhirnya menarik kembali perintah penangkapannya. Ia memutar siasat politiknya ke arah hukum adat yang mengikat rahim Sayuri, murni untuk mengusir Ryuken secara halus dari tanah airnya seumur hidup.
"Baiklah! Jika hukum Jurota menginginkan martabat suci klan Shinto dikotori oleh budak cacat, maka biarkan janji pernikahan paksa itu dijalankan sore ini juga tanpa ada pesta perayaan sedikit pun!" ludah Kaelen melesat sadis dari balik topeng besinya yang berkilat merah pekat penuh kesombongan. "Namun dengarkan perintah pembuangan ini, Ryuken! Setelah ritual pengikatan darah selesai di Aula Penjara, namamu resmi dicabut dari silsilah kerajaan! Kau diturunkan menjadi buronan kasta rendah dan diusir keluar dari wilayah Kuadran Utara seumur hidup! Kosongkan gudang kayu lapuk mu sebelum matahari tenggelam ke bawah tanah planet yang mendidih!"