Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24
Hujan
Tepuk tangan meledak ketika Keira menggenggam tangan Kai.
Dia menoleh tajam kepada orang-orang yang bersiul. "Tidak usah berlebihan."
Seseorang justru berteriak, "Cium!"
Kai menatap Keira, lalu menggeleng kepada kerumunan. "Bukan urusan kalian."
Jawaban itu membuat sorak-sorai berubah menjadi tawa. Dia tidak memakai suasana ramai untuk mengambil sesuatu yang belum diberikan Keira.
Kevin menyerahkan bunga liar kepada staf panggung. Ketika melewati mereka, dia berhenti sebentar.
"Pilihanmu bagus?" tanyanya kepada Keira.
"Aku pikir begitu."
"Pikir begitu?" Kai menyela.
Kevin tersenyum. "Dia masih membuatmu bekerja. Bagus."
Dia lalu mengulurkan tangan kepada Kai. "Jaga dia. Bukan karena aku kalah, tapi karena dia pantas dijaga."
Kai menyambut jabatannya. "Dia bisa menjaga dirinya sendiri. Aku hanya memastikan dia tidak sendirian."
Untuk pertama kalinya, tidak ada permusuhan dalam tatapan mereka.
Kevin mundur. "Kalau begitu, saya kembali bekerja sebelum rumor besok bilang saya menangis di belakang panggung."
Dia naik lagi untuk menutup acara. Kamera kembali mengarah kepadanya, memberi Keira dan Kai ruang keluar dari lingkaran.
Koordinator acara mendatangi Keira sebelum mereka pergi. "Tim internal mau memasukkan momen tadi ke video penutup. Wajahmu tidak direkam oleh kamera resmi, tapi ada suara. Apakah boleh dipakai?"
"Tidak," jawab Keira. "Itu urusan pribadi."
"Baik. Bagian itu kami potong."
Kevin yang mendengar dari panggung mengangkat ibu jari, memastikan timnya mengikuti keputusan sama. Tidak ada protes dari penonton. Lanyard merah tetap berlaku bahkan setelah kisah romantis terjadi di depan banyak orang.
Kai memperhatikan Keira menandatangani formulir penolakan singkat. "Kamu baru saja menghapus pengakuan cintaku dari video perusahaan."
"Kalau ingin terkenal, buat akun sendiri."
"Aku cuma mau terkenal di rumahmu."
"Kamu sudah terkenal karena menghabiskan sabun mandi."
Pukul sembilan lebih, bus perusahaan membawa peserta kembali ke penginapan di kawasan bangunan tua Yogyakarta. Keira dan Kai turun satu pemberhentian lebih awal. Udara malam menyimpan bau tanah dan asap makanan dari warung yang mulai tutup.
Mereka berjalan beriringan di jalan sempit. Rumah-rumah lama berdiri rapat, beberapa dengan pintu kayu besar dan lampu kuning di bawah teras. Tangan mereka masih bertaut sejak api unggun.
"Kamu boleh lepas," kata Keira.
Pegangan Kai justru mengencang sedikit. "Aku tidak mau."
"Tadi kamu berani sekali."
"Tadi ada pesaing."
"Sekarang tidak ada."
"Tetap tidak mau."
Keira membiarkannya.
"Kenapa aku?" tanya Kai setelah beberapa langkah.
"Kamu yang menyuruhku memilih. Sekarang malah bertanya."
"Kevin datang dengan lagu, jutaan pengikut, dan pekerjaan yang jelas. Aku datang terlambat memakai topi."
Keira berhenti di dekat dinding bata yang dipenuhi bayangan daun. "Aku pernah ditanya hal yang mirip. Kaizan Tanujaya atau Kai, siapa yang kupilih."
Jantung Kaizan seperti berhenti satu ketukan. "Siapa yang bertanya?"
"Oma-nya Ko Moreno."
Dia hampir tertawa karena dapat membayangkan wajah licik neneknya. "Jawabanmu?"
"Aku tidak perlu memberitahumu."
"Kei."
"Aku memilih Kai. Bahkan sebelum kamu menyela Kevin."
Kai tidak bergerak.
Keira menyentuh tali jam biru di pergelangannya. "Aku tidak tahu siapa kamu sebelum tinggal di rumahku. Tapi aku tahu kamu mengingat jadwalku, menyiapkan obat, mengurus Mochi, dan tidak pernah menyuruhku mengecil supaya kamu terlihat besar. Itu yang kupilih."
Rasa bahagia datang bersama rasa malu yang lebih tajam. Keira telah memilih Kai tanpa kekayaan, sementara Kaizan masih menyembunyikan seluruh dunia di belakang nama pendek itu.
"Jangan membuat wajah sedih," kata Keira. "Aku baru saja memujimu."
Kai mengangkat tangan mereka dan mencium punggung jemarinya. "Aku sedang berusaha tidak terlihat terlalu senang."
"Gagal."
Mereka melewati penjual wedang ronde yang sedang membereskan bangku. Kai membeli satu mangkuk untuk dibagi karena Keira mengaku masih kenyang. Lima menit kemudian, sebagian besar bola ketan justru habis olehnya.
"Katanya tidak mau," kata Kai.
"Aku membantu supaya kamu tidak terlalu banyak gula."
"Terima kasih atas pengorbanannya."
Keira menyodorkan sendok berisi kuah jahe. Kai menunduk dan meminumnya langsung dari sendok yang dia pegang. Gerakannya biasa, tetapi jarak wajah mereka membuat telinga Keira panas.
Dia cepat-cepat menarik sendok.
"Kita belum selesai bicara," katanya.
"Tentang Kevin?"
"Tentang kita."
Kai mengembalikan mangkuk kepada penjual dan membayar. Setelah mereka berjalan lagi, Keira berhenti di bawah lampu teras sebuah toko yang sudah tutup.
"Aku memilihmu malam ini. Tapi aku tidak memilih status enam bulan, aturan pura-pura, atau seseorang yang terus menghindari pertanyaan."
Keceriaan di wajah Kai menghilang.
"Aku memilih laki-laki yang tinggal bersamaku," lanjut Keira. "Kalau kamu mau kita benar-benar bersama, kamu harus hadir sebagai dirimu sendiri."
"Kalau kita bersama, apa yang berubah?"
"Kita tidak menggunakan orang lain untuk membuat pasangan cemburu. Kita tidak menghilang tanpa kabar. Kita bilang kalau ada masalah yang memengaruhi keduanya. Dan keputusan pekerjaanku tetap milikku."
"Setuju."
"Jangan terlalu cepat. Ada satu lagi."
"Apa?"
"Jangan membeli seluruh toko setiap kali merasa bersalah."
"Itu aturan yang sangat spesifik."
"Karena pelanggarannya juga sangat spesifik."
Kai menyentuh dua liontin awan di lehernya. "Kalau hanya satu barang?"
"Tergantung harga sebenarnya."
Tangannya langsung turun.
Kaizan merasakan kesempatan yang diberikan Oma terulang di depannya. Jalan itu sepi. Tidak ada dewan direksi, kamera, atau Moreno. Dia hanya perlu mengatakan namanya dengan lengkap.
Namaku Kaizan Tanujaya.
Empat kata itu telah berkali-kali dia latih. Malam ini, kata-kata tersebut kembali tertahan.
"Aku serius padamu," katanya.
"Itu bukan jawaban soal rahasia."
"Aku tahu."
"Tadi kamu bilang perasaanmu bukan bagian dari penyamaran. Apa maksudmu?"
Kai menatap tangan mereka yang masih bergandengan. "Maksudku, aku tidak berpura-pura menyukaimu demi kontrak."
Itu benar, tetapi bukan seluruh kebenaran.
Keira mengembuskan napas. "Pekerjaanmu? Uangmu? Kenapa Ko Moreno selalu muncul setiap kamu punya masalah?"
"Aku akan menjelaskan."
"Kapan?"
"Segera."
"Kata yang sangat nyaman."
Keira menarik tangannya. Sebelum jemari mereka benar-benar terpisah, tetes air jatuh di punggung tangannya.
Satu tetes berubah menjadi puluhan.
Hujan datang tanpa peringatan. Mereka berlari menuju gang samping dan berlindung di bawah atap genteng yang menjorok dari sebuah bangunan tua. Dalam hitungan detik, jalan batu di depan mereka berkilau dan air mengalir di tepinya.
Keira tertawa sambil mengusap air dari wajah. "Yogyakarta memutuskan pembicaraan kita."
"Aku belum selesai."
Kai melepas kemeja luar dan menyelubungkannya ke bahu Keira. Kaos hitamnya ikut basah di bagian lengan. Ruang di bawah atap sempit, memaksa mereka berdiri sangat dekat.
"Aku tidak punya jawaban sempurna malam ini," katanya. "Aku tahu itu tidak adil."
"Setidaknya kamu sadar."
"Tapi aku bisa menjawab satu hal. Aku ingin hubungan kita nyata. Eksklusif. Tidak berakhir ketika enam bulan habis. Tidak ada orang lain yang kubawa ke rumah atau ke hidupku."
"Dan aku tetap boleh pergi kalau kamu melewati batas."
"Selalu."
"Aku tidak akan berhenti terbang hanya karena kamu cemburu."
"Aku jatuh cinta karena kamu terbang. Aku tidak akan memotong sayapmu."
Napas Keira tersangkut.
"Kamu baru bilang apa?"
Kai tidak bersembunyi kali ini. "Aku jatuh cinta padamu."
Hujan memukul genteng lebih keras. Air menetes dari rambut Kai melewati pelipis. Keira mengangkat tangan untuk menghapusnya, lalu berhenti sebelum menyentuh kulit.
Kai memiringkan wajah ke telapak tangannya.
"Kei."
Suaranya hampir hilang oleh hujan.
Keira menyentuh pipinya. "Aku juga memilihmu bukan karena kontrak."
Tatapan Kai turun ke bibirnya, lalu kembali ke mata. Dia tidak bergerak lebih dekat.
"Boleh?"
Keira menjawab dengan menarik kerah kaosnya.
Bibir mereka bertemu.
Ciuman pertama di Ciater penuh rasa terkejut dan langkah mundur. Kali ini tidak ada yang mundur. Kai menahan satu tangan di pinggang Keira tanpa menarik lebih jauh, sementara tangan yang lain menutup jemarinya di pipi. Keira mencengkeram kain basah di bahunya dan membalas dengan seluruh keberanian yang tadi membawanya melewati Kevin.
Kai berhenti ketika napas Keira terputus, memberi ruang sampai perempuan itu membuka mata. Keira tidak melepaskan kerahnya. Dia menarik Kai kembali, kali ini tanpa keraguan.
Telapak Kai yang terluka tetap berada di luar kain, tidak menekan kulitnya. Keira merasakan tepi perban saat menutup tangan di atasnya.
"Sakit?" bisiknya di sela napas.
"Tidak."
"Pembohong."
Satu kata itu membuat tubuh Kai kaku. Keira hanya mengacu pada luka di tangannya, tetapi rasa bersalah sudah telanjur menyusup ke momen yang seharusnya sempurna.
Dia menarik sedikit jarak. "Maaf."
"Untuk tanganmu atau untuk menciumku?"
"Bukan ciumannya."
Keira tersenyum lalu menyentuhkan bibir singkat ke sudut mulutnya. "Bagus."
Hujan mengaburkan gang, suara kendaraan, dan lampu toko. Dunia mengecil menjadi napas hangat, jantung yang terlalu cepat, dan ujung kalung Cloud yang dingin di antara mereka.
Saat mereka berpisah, dahi Kai tetap menempel pada dahinya.
"Janji, kamu akan selalu suka aku."
Keira masih menarik napas. "Permintaanmu banyak."
"Yang ini saja."
Dia seharusnya meminta kejujuran sebagai balasan. Dia seharusnya memaksa semua rahasia dibuka sebelum memberikan janji apa pun.
Namun malam itu, di bawah hujan Yogyakarta, Keira ingin percaya pada laki-laki yang datang jauh-jauh hanya karena dia memintanya.
"Janji."
Kai menciumnya lagi, lebih singkat dan lembut.
Setelah hujan mereda, mereka kembali ke penginapan dengan pakaian setengah basah. Keira masuk ke kamar peserta perempuan, sedangkan Kai mendapat kamar tamu pendamping di lantai berbeda. Sebelum pintu lift tertutup, Kai menyentuh jam biru di pergelangan.
"Kalau kangen, kirim pesan suara."
"Kita hanya beda dua lantai."
"Tetap jauh."
Keira menahan senyum sampai pintu menutup.
Di kamar, jam tangan Kai berbunyi sebelum dia sempat mencapai balkon. Pesan suara pertama dari Keira masuk.
"Tes. Pacarku sudah sampai kamar atau tersesat?"
Kaizan memutar pesan itu dua kali, lalu menahan tombol balas.
"Sudah sampai. Pacarmu juga sedang kangen, padahal baru tiga menit."
Balasan Keira muncul sebagai teks: lebay.
Beberapa detik kemudian, satu pesan lagi masuk.
Selamat malam, pacarku.
Kaizan menyentuh layar kecil itu dengan ibu jari. Dua kata sederhana tersebut lebih memabukkan daripada sampanye termahal yang pernah dia minum.
Setengah jam kemudian, Kaizan berdiri sendirian di balkon kamar. Rokok menyala di antara jarinya, tetapi hanya dua kali diisap sebelum dimatikan. Janji Keira seharusnya membuatnya bahagia. Sebaliknya, kalimat Oma terus mengetuk kepalanya.
Sebelum terlambat.
Ponselnya bergetar. Moreno menelepon.
"Bos, rencana kita pakai penerbangan perdana FK980 biar dia tahu sendiri identitas kamu. Waktu udah nggak banyak."