NovelToon NovelToon
LENTERA

LENTERA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:144
Nilai: 5
Nama Author: Areka Leywin

Di Karang Wetan, hukum punya pintu belakang — dan orang-orang seperti Rangga tidak pernah diundang lewat situ. Setelah menjadi korban kejahatan yang pelakunya berlindung di balik kekuasaan, Rangga bersumpah tidak akan pernah lagi menunggu keadilan datang dari atas. Dari gang sempit dan bantaran kali, ia membangun Lentera — perkumpulan orang-orang tertindas yang saling melindungi ketika negara menutup mata. Namun setiap cahaya yang menyala akan menarik perhatian kegelapan yang lebih besar: Komisaris Yusuf Baskoro dan Bupati Hardian Wibowo, dua penguasa yang saling melindungi demi mempertahankan takhta mereka. Ini kisah tentang seorang anak miskin yang menjelma jadi pemimpin yang ditakuti — dan pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah ia masih pelindung, atau sudah jadi seperti yang dulu ia lawan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Areka Leywin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mata di Dalam

Keesokan harinya, setelah malam paling berat sejak Lentera terbentuk, aku mengumpulkan Yanto, Ujang, dan Salim di gudang kosong dekat pasar—tempat yang sudah jadi semacam ruang rapat tidak resmi kami.

"Kita nggak bisa terus main tebak-tebakan soal siapa yang gerakin siapa," kataku, membuka pertemuan dengan nada yang lebih tenang dari yang kurasakan semalam. "Selama ini kita cuma tahu Broto, kita curiga Baskoro, kita curiga proyek Bupati Hardian ada hubungannya. Tapi kita nggak punya bukti yang bisa kita pakai. Kita butuh mata di dalam."

"Maksud Bang Rangga?" tanya Salim.

"Orang yang bisa kasih kita info dari dalam. Dari kantor polisi, dari kantor kelurahan, dari mana aja yang deket sama mereka."

Yanto menggeleng pelan. "Itu bahaya, Rangga. Kalau ketahuan, orang itu bisa lebih celaka dari Sari."

"Aku tahu," jawabku. "Makanya kita nggak akan maksa siapa pun. Tapi aku yakin, di antara semua orang yang kerja buat mereka, pasti ada yang nggak sepenuhnya setuju sama cara mereka. Nggak semua orang berseragam itu kayak Baskoro."

---

Pencarian itu tidak mudah. Ujang menghabiskan berminggu-minggu mengamati pola orang-orang di sekitar kantor kecamatan dan kantor polisi—siapa yang terlihat tidak nyaman tiap kali nama proyek "revitalisasi" disebut, siapa yang pernah terdengar mengeluh pelan-pelan ke rekannya soal "atasan yang makin serakah".

Titik terang datang dari arah yang tidak kuduga. Seorang staf muda di kantor kecamatan bernama Dedi—yang tugasnya mengurus arsip perizinan—ternyata adalah keponakan jauh Bu Inah. Dedi, yang selama ini merasa terjebak antara kebutuhan kerja dan rasa bersalah karena tahu banyak dokumen proyek yang "dipercantik" sebelum diserahkan ke publik, awalnya menolak waktu Bu Inah mencoba mengenalkannya padaku.

"Saya bisa dipecat, atau lebih buruk, kalau ketahuan," katanya gugup waktu kami akhirnya bertemu diam-diam di warung Bu Inah yang sudah tutup.

"Aku nggak akan minta kamu curi dokumen atau lakuin sesuatu yang bisa langsung nunjuk ke kamu," kataku, mencoba meyakinkannya. "Aku cuma butuh tahu, kapan ada pertemuan penting, siapa yang terlibat, hal-hal kecil yang mungkin nggak keliatan penting buat kamu, tapi penting buat kami buat jaga-jaga."

Dedi diam lama, menatap gelas tehnya yang mulai dingin. "Saya bantu bukan karena saya berani, Bang. Saya bantu karena saya capek lihat orang-orang di sekitar saya digusur, sementara di kantor, semua orang ngomongin proyek ini kayak itu prestasi."

---

Dengan bantuan Dedi—kecil-kecilan, hati-hati, tanpa pernah membuatnya melakukan sesuatu yang bisa langsung membongkar identitasnya—kami mulai mendapat gambaran lebih jelas soal bagaimana proyek revitalisasi itu berjalan. Izin lingkungan yang seharusnya melalui proses panjang, ternyata disetujui dalam waktu singkat yang tidak wajar. Beberapa dokumen appraisal tanah, yang menentukan besar kompensasi warga, angkanya jauh lebih rendah dari nilai pasar sebenarnya—selisihnya, menurut catatan yang sempat dilihat Dedi, mengalir ke rekening perusahaan yang sama yang disebut Pak Darto dulu, perusahaan yang terafiliasi keluarga Bupati Hardian.

Sari, yang meski masih dalam status penangguhan penahanan, tetap diam-diam membantu menyusun semua info itu jadi catatan yang rapi—pengalamannya waktu kuliah dulu, meski tidak selesai, ternyata sangat berguna untuk pekerjaan semacam ini.

"Kalau semua ini beneran valid," kata Sari suatu malam, menunjukkan catatannya di bawah cahaya lampu minyak, "ini bukan cuma soal penggusuran yang nggak adil. Ini soal korupsi yang bisa diproses hukum kalau sampai ke tangan yang benar."

"Masalahnya," kataku, "tangan yang benar itu susah dicari kalau semua yang berwenang di sini udah kebeli."

---

Malam itu, waktu aku pulang ke rumah dan melihat Bapak sudah bisa duduk tegak lagi meski wajahnya masih memar, aku duduk di sampingnya dan untuk pertama kalinya menceritakan semua yang sudah kami temukan—bukan detail teknisnya, tapi gambaran besarnya.

Bapak mendengarkan dalam diam, matanya menerawang jauh, seperti sedang membayangkan sesuatu yang lebih besar dari yang bisa ia bayangkan sebelumnya.

"Kamu tahu apa yang paling Bapak takutkan, Rangga?" katanya akhirnya. "Bukan mereka nyakitin Bapak lagi. Bapak takut, semakin dalam kamu masuk ke ini, semakin susah juga buat kamu keluar—menang atau kalah."

Aku tidak punya jawaban yang bisa menenangkannya, karena aku sendiri tahu, Bapak benar. Setiap langkah yang kami ambil sekarang bukan lagi soal membalas satu insiden atau melindungi satu warung. Ini sudah jadi sesuatu yang jauh lebih besar—pertaruhan antara sekelompok orang kecil yang mulai berani bersuara, melawan sistem yang sudah lama terbiasa tidak pernah dikalahkan.

Aku menatap Bapak, lalu berkata pelan, lebih untuk meyakinkan diriku sendiri daripada dia.

"Kalau kita menang, Pak, ini bukan cuma buat kita. Ini buat semua orang kayak kita, yang selama ini nggak pernah dianggap penting."

Bapak menepuk pundakku pelan, tidak mengatakan apa-apa lagi malam itu. Tapi aku tahu, dari caranya menatapku, ia mulai memahami bahwa jalan yang dulu ia takutkan, sekarang sudah jadi satu-satunya jalan yang tersisa buat kami berdua.

---

*(Bersambung ke Bab 13)*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!