Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.
Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.
Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.
Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.
Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.
Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.
Dan apinya... baru saja mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 : DUA PILIHAN
Udara di bawah rindang pohon hutan terasa panas menyesakan dada.
Bukan karena cuaca, melainkan amarah yang meluap di dada Karta.
Matanya melotot, rahangnya mengeras, jari-jarinya mencengkeram gagang SANGHYANG WAJA hingga buku jarinya memutih. Keringat dingin menetes di pelipis, bercampur debu yang masih menempel di kulit sejak hari kebakaran.
Setelah mendengar cerita lengkap dari Mbah Karsa mengenai siapa dalang kebakaran kampung mereka, semangatnya meledak. Tanpa berpikir panjang, ia mengayunkan pisaunya ke udara.
SREEEEET!
Suara desiran tajam membelah angin, memenggal ranting kering yang melayang di dekatnya hingga jatuh berantakan.
"Kalau begitu mengapa harus menunggu lagi!" serunya. Suaranya menggema di antara pepohonan, memecah kesunyian hutan yang biasanya tenang. "Kita kembali ke Ciaruteun! Buat mereka merasakan apa yang kita rasakan! Biar mereka tahu rasanya kehilangan rumah, harta, dan orang-orang yang disayang!"
Wajahnya memerah, napasnya memburu, setiap otot di tubuhnya tegang dan siap meledak. Di benaknya hanya ada satu hal: balas dendam.
Bayu melangkah mendekat. Gerakannya lembut namun tegas, telapak tangannya menekan bahu Karta. Tatapannya tenang, tidak menyimpan kemarahan, melainkan ketenangan yang menyejukan di tengah suasana yang memanas.
Ia menggeleng perlahan.
"Dengarkan aku, Karta." Suaranya rendah namun jelas.
"Jika kita pergi ke sana, membakar rumah mereka, dan memukuli mereka sebagaimana mereka memperlakukan kita... apa bedanya kita dengan mereka?"
Karta mengepal tangan kuat-kuat hingga kuku menancap ke telapak tangan sendiri. Pandangannya jatuh ke sebilah ranting runcing di tanah, lalu ia tendang pelan hingga melayang menabrak batang pohon.
"Tapi rasanya tak adil Kang... melihat mereka tenang sementara kita harus mengubur segala yang kita punya," suaranya bergetar, tertahan di tenggorokan.
"Setiap malam aku teringat wajah mereka yang tertawa saat rumah kita di bakar."
Bayu mengangguk pelan, merangkul bahu adiknya sebentar sebelum melepaskan.
"Aku juga merasakannya, Kar. Tapi biarkan rasa sakit itu yang mengingatkan kita untuk tidak menyakiti orang lain dengan cara yang sama."
Bayu menatap lekat mata adiknya.
"Kita akan menjadi persis seperti Jaka Wiradipa. Kita melawan kejahatan, bukan dengan meniru caranya. Jika kita melawan dengan cara seperti mereka, siapa yang akan melindungi mereka yang lemah?"
Karta terdiam, namun amarah di dadanya belum surut. Ia menepis tangan Bayu perlahan, lalu berbalik memunggungi.
"Lantas apa yang harus kita lakukan? Diam saja? Melihat warga yang selamat terus menderita? Membiarkan mereka terus menindas dan membakar tanpa perlawanan? Jika kita diam, sama saja kita membiarkan kejahatan itu menang!"
Nadanya meninggi, penuh kepedihan yang tertahan lama.
Bayu tidak marah. Ia hanya menghela napas panjang, lalu menatap seekor burung merpati yang terkapar di semak tak jauh dari sana. Sayapnya terluka terkena serpihan kayu yang terbawa angin dari kejauhan. Burung itu mencoba mengepakkan sayap kembali ke dahan, namun selalu jatuh ke tanah yang lembap dan berlumuran debu hitam. Sesekali ia mematuk tanah seolah menahan sakit, lalu kembali mencoba bangkit walau tak berdaya.
Tak jauh dari situ, seekor kelinci kecil berlari menjauh ketakutan saat mendengar suara bentakan, menghilang di balik rimbunnya semak berduri.
Melihat pemandangan itu, panas yang meluap di dada Karta perlahan mereda, digantikan rasa haru yang tak sanggup ia ucapkan.
Bayu menoleh kembali ke arah jalan setapak, menuju bekas kampung mereka. Di kejauhan, asap tipis masih mengepul dari sisa-sisa kayu yang terbakar, menjadi saksi bisu kehancuran yang terjadi.
"Kita kembali ke kampung," ujar Bayu perlahan. "Membantu mereka yang selamat mendirikan rumah. Mencari umbi liar dan buah yang masih bisa dimakan. Mengambil air bersih dari mata air di pinggir hutan untuk yang lemah dan sedang sakit. Melindungi mereka agar tidak ada yang berani mengganggu lagi."
Ia terdiam sejenak, menatap punggung Karta yang perlahan rileks.
"Mereka tak perlu tahu siapa nama kita, dari mana asal kita, atau kekuatan apa yang kita miliki. Yang terpenting mereka merasa aman, merasa masih ada harapan, bahwa kejahatan tak akan selamanya berkuasa di tanah ini."
Suaranya tenang namun tegas, seolah keputusan itu sudah bulat sejak lama.
Kata-kata itu meresap perlahan, menembus dinding amarah yang membentengi hati Karta. Ia menunduk, menatap pisau di genggamanya.
Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang ganjil. Gagang pisau itu terasa semakin berat, seolah ada beban yang menariknya ke bawah. Biasanya ringan dan pas di tangan, kini terasa seperti memegang bongkahan batu besar yang tak sanggup ia angkat.
"Mengapa... mengapa terasa berat?" gumamnya, dahi berkerut bingung. Ia mencoba mengangkatnya, namun tangannya terasa kaku.
Bayu mengangguk, seolah sudah menduga hal itu terjadi.
"Itulah jawabannya."
"Ingat pesan Mbah Karsa tempo hari? Senjata itu bekerja bukan seberapa keras ayunan tangan kita, melainkan apa yang tersimpan di dalam hati dan niat kita."
Bayu menunjuk dada Karta dengan ujung jari.
"Selama hati masih dipenuhi amarah dendam, selama niat hanya untuk melampiaskan rasa sakit pribadi... senjata itu akan terasa berat, tumpul, dan tak akan berguna bagi siapa pun."
Karta tertegun mendengarnya. Ia menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan, berusaha menenangkan gejolak yang masih ada di dada. Ia memejamkan mata, bukan membayangkan wajah Jaka Wiradipa atau Bupati Rangga Sasmita, melainkan wajah para tetua yang dulu selalu berbagi makanan, anak-anak yang bermain petak umpet di bawah pohon beringin, serta para ibu yang sedang memasak di tungku sambil bercerita. Rasa iba muncul perlahan menggantikan kebencian yang sempat meluap tak terkendali.
Seiring meredanya amarah, beban di tangannya perlahan hilang. Pisau kembali ringan, pas, dan nyaman digenggam seperti sediakala.
Ia membuka mata, menatap Bayu dengan pandangan yang kini jernih.
"Kau benar," ucapnya pelan namun mantap. "Jika bertindak saat dikuasai kemarahan... kita hanya akan mengulangi kesalahan yang sama. Maafkan aku, tadi aku tak dapat menahan diri."
Bayu tersenyum tipis, lalu menepuk bahu Karta.
"Bukan hal mudah menahan amarah saat melihat orang lain menderita. Aku pernah merasakan seperti yang kau rasakan."
"Namun itulah ujiannya, Kar. Kekuatan yanh di berikan bukan untuk memuaskan hawa nafsu, melainkan untuk melindungi yang lemah dan menegakkan keadilan yang dirampas."
Keduanya terdiam sejenak, menyadari beban yang kini dipikul bersama. Tak ada kata yang perlu diucapkan, keputusan sudah bulat tak tergoyahkan.
Mereka bersiap melanjutkan perjalanan. Barang-barang dikemas rapi dalam ikatan kulit kayu. Bayu menyelipkan busur panjang di punggung, ditutup kain lusuh agar tak terlihat mencolok. Tujuh anak panah diletakkan dalam tabung kayu keras yang tergantung di pinggang, tersembunyi rapi. Karta memasukkan pisau ke dalam sarung kulit, menyelipkanya di pinggang bagian dalam pakaian agar tak terlihat oleh siapa pun.
Setelah semua siap, mereka melangkah beriringan menyusuri jalan setapak yang berkelok, menembus hutan yang mulai meredup diterpa senja. Langkah mereka mantap, perlahan namun memiliki arah yang pasti. Menuju tempat yang dulunya mereka sebut rumah, kini hanya menyisakan puing-puing reruntuhan, namun di sanalah tugas sesungguhnya akan dimulai.
Di balik rimbunnya pepohonan, matahari perlahan tenggelam. Langit berubah jingga kemerahan yang mulai memudar. Cahayanya menyinari jalan yang mereka lalui, seolah memberi tanda bahwa hari ini mungkin gelap dan penuh luka, namun esok matahari akan kembali terbit membawa harapan baru.
Di dalam hati kedua pemuda itu, tumbuh tekad yang jauh lebih kuat dari sekadar dendam. Bukan untuk membalas luka yang ada, melainkan untuk kembali membangun rasa aman bagi mereka yang membutuhkan. Perjalanan mereka baru memasuki babak sesungguhnya, penuh tantangan dan bahaya tak terduga, namun dengan hati yang lurus dan niat yang benar, mereka siap menghadapi apa pun yang akan terjadi.