Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.
Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8: Rahasia Awakener Alpha
Suara alarm itu tidak membuat Arga panik. Yang justru membuat tengkuknya terasa dingin adalah kenyataan bahwa alarm tersebut berbunyi tanpa satu pun kesalahan yang ia lakukan. Dalam kehidupan sebelumnya, ia pernah menyusup ke markas militer, laboratorium, bahkan sarang kelompok bandit bersenjata, tetapi belum pernah sekalipun menemukan sistem yang mampu mendeteksi sesuatu yang tersembunyi di dalam Ruang Dimensi.
Bip...
Bip...
Bip...
Lampu merah terus berkedip di sepanjang lorong gudang, memantulkan cahaya yang membuat suasana terasa semakin mencekam. Arga tetap membeku di balik rak logam sambil memaksa napasnya tetap stabil. Matanya bergerak cepat menghubungkan setiap petunjuk yang telah ia kumpulkan sejak memasuki Sektor-9. "Bukan langkahku..." gumamnya lirih. Tatapannya menyipit sebelum melanjutkan, "...bukan panas tubuhku."
Perlahan ia memejamkan mata selama beberapa detik. Dalam benaknya kembali terlintas tabung berisi kristal ungu yang berada jauh di ruang terdalam fasilitas. Saat pria berjubah hitam membuka mata, kristal itu ikut memancarkan denyut cahaya yang samar.
Hum...
Jantung Arga serasa dihantam palu. "Kristal..." bisiknya pelan sebelum segera mengulurkan tangan ke dalam Ruang Dimensi. Kristal Tier 1 berwarna abu-abu yang diperolehnya dari laboratorium pertama muncul kembali di telapak tangannya. Hampir bersamaan dengan itu, irama alarm berubah semakin cepat.
Bip!
Bip!
Bip!
Pemahaman itu datang seketika. "Mereka tidak mendeteksi manusia," ucap Arga dengan napas tertahan. "Mereka mendeteksi resonansi kristal."
Kesimpulan tersebut jauh lebih mengerikan daripada suara alarm yang terus meraung. Dalam seluruh ingatan selama sepuluh tahun bertahan hidup, manusia baru memahami fungsi dasar kristal hampir setahun setelah kiamat dimulai. Bahkan markas penyintas terbesar hanya mampu mengukur kualitas kristal menggunakan alat yang sangat sederhana. Namun organisasi ini telah berhasil menciptakan sensor energi bahkan sebelum dunia hancur. Arga menggigit bibir bawahnya. "Terlalu jauh..." gumamnya lirih. "Pengetahuan mereka terlalu jauh."
Belum sempat pikirannya menyusun kemungkinan lain, suara langkah kaki mulai menggema dari ujung lorong.
Tap!
Tap!
Tap!
"Tim Bravo ke sektor bawah!"
"Cari setiap sudut!"
Perintah itu menggema melalui pengeras suara, disusul bayangan beberapa penjaga yang mulai bergerak menyusuri celah-celah di antara rak logam. Arga mengedarkan pandangan secepat kilat hingga matanya berhenti pada jaringan pipa pendingin yang membentang di sisi lorong. Seluruh pipa itu dilapisi logam tebal untuk menjaga suhu ruang penyimpanan biologis tetap stabil.
Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. "Bukan menghilangkan energinya..." bisiknya sambil mengeluarkan kunci serbaguna. "...melainkan mengurungnya."
Ia membuka panel inspeksi kecil di sisi pipa.
Klik...
Panel logam terbuka perlahan, memperlihatkan rongga sempit di antara lapisan pipa pendingin. Arga membungkus Kristal Tier 1 dengan kain tebal, memasukkannya ke dalam kotak perkakas kecil berbahan baja yang sebelumnya disimpan di Ruang Dimensi, lalu menyelipkan kotak itu ke dalam rongga tersebut.
Tak.
Panel kembali ditutup rapat. Hanya beberapa detik kemudian, suara alarm mulai melambat.
Bip...
...Bip...
........Bip...
Lalu seluruh suara itu lenyap.
Keheningan mendadak menyelimuti gudang. Salah seorang penjaga yang sedang berlari menghentikan langkahnya, sementara suara operator terdengar melalui radio dengan nada kebingungan.
"Padam?"
"Sumber resonansi menghilang."
"Mungkin gangguan sistem."
"Tetap lakukan penyisiran."
Arga mengembuskan napas panjang. Dugaan kasarnya ternyata benar. Lapisan logam tebal pada pipa pendingin mampu meredam pancaran energi kristal sehingga sensor kehilangan target. Namun keberhasilan kecil itu justru menambah daftar pertanyaan yang terus memenuhi kepalanya. "Kalau mereka sudah bisa membuat sensor seperti ini..." pikirnya, "...seberapa jauh penelitian mereka sebenarnya?"
Ia menunggu hingga suara langkah para penjaga semakin menjauh. Begitu lorong kembali sunyi, Arga segera bergerak ke arah berlawanan. Sesuai perkiraannya, hampir seluruh tim keamanan kini berkumpul di gudang utama akibat alarm palsu, sehingga area terdalam yang sebelumnya dijaga ketat justru menjadi jauh lebih lengang.
Kesempatan itu tidak disia-siakan. Arga menyelinap melewati pintu akses yang sempat terbuka ketika para penjaga berlarian.
Klik...
Pintu baja menutup perlahan di belakangnya.
Ruangan yang terbentang di balik pintu membuat langkahnya terhenti. Tempat itu bukan lagi gudang penyimpanan biasa, melainkan laboratorium inti dengan teknologi yang bahkan belum pernah ia lihat sepanjang kehidupan pertamanya. Puluhan tabung kaca transparan berjajar rapi memenuhi ruangan, masing-masing diterangi cahaya kebiruan yang menciptakan suasana dingin sekaligus tidak manusiawi.
Hum...
Mesin-mesin raksasa berdengung pelan sambil memompa cairan hijau ke dalam setiap tabung. Arga mendekati salah satunya dan mendapati sebuah kristal merah tua sebesar kepalan tangan melayang di dalamnya. Permukaan kristal itu berdenyut perlahan seperti jantung yang masih hidup. Di tabung berikutnya terdapat kristal biru, lalu hijau, ungu, hingga hitam. Puluhan kristal dengan warna berbeda memenuhi laboratorium tersebut.
Napas Arga tertahan. "Mereka..." bisiknya lirih. "...sudah menemukan jenis kristal lain."
Namun keterkejutannya belum berakhir. Di sisi kiri laboratorium berdiri beberapa tabung raksasa berisi sosok manusia yang telah berubah menjadi zombie. Tubuh-tubuh itu terendam cairan bening, tetapi mata putih mereka masih bergerak perlahan mengikuti cahaya di luar tabung. Salah satunya bahkan mengangkat tangan dan mulai menghantam kaca.
Buk!
Buk!
Buk!
Arga tanpa sadar mengepalkan tangan. Zombie-zombie itu masih hidup.
Pemandangan yang lebih menyakitkan menunggunya di sisi lain ruangan. Beberapa manusia masih bernapas di atas ranjang operasi dengan tubuh dipenuhi kabel dan selang infus. Monitor jantung di samping tempat tidur terus mengeluarkan bunyi pelan.
Tit...
Tit...
Tit...
Sebagian dari mereka tampak tertidur, sementara yang lain hanya mampu menatap langit-langit dengan mata kosong. Seorang anak laki-laki yang mungkin baru berusia lima belas tahun masih berusaha menggerakkan jarinya meski seluruh tubuhnya dipasangi alat penahan.
Rahang Arga mengeras. "Mereka memakai manusia..." ucapnya pelan. "...sebagai bahan percobaan."
Ia segera menghampiri meja utama yang dipenuhi monitor komputer. Sebagian besar data telah dikunci, tetapi beberapa layar masih menampilkan laporan penelitian. Matanya bergerak cepat membaca setiap baris yang terpampang.
"Sinkronisasi Kristal."
"Integrasi Necrovirus."
"Adaptasi Sel Inang."
Lalu sebuah judul besar memenuhi layar.
PROJECT AWAKENER ALPHA
Tubuh Arga membeku. Awakener... mereka sedang mencoba menciptakan Awakener. Bukan setelah kiamat dimulai, melainkan jauh sebelum dunia mengetahui keberadaan zombie.
Tanpa membuang waktu, ia mencabut hard drive utama dari komputer.
Klik.
Perangkat itu langsung menghilang ke dalam Ruang Dimensi. Beberapa map penelitian penting ikut menyusul.
Wussh...
Saat hendak mengambil tiga kristal eksperimen berukuran kecil yang berada di atas meja analisis, bulu kuduk Arga tiba-tiba berdiri. Nalurinya yang telah ditempa selama sepuluh tahun langsung memberi peringatan bahwa seseorang telah berada di belakangnya.
"Aku sudah menduga..." terdengar suara tenang dari balik ruangan. "...kau akan datang ke sini."
Arga berbalik secepat kilat. Di ujung laboratorium berdiri pria berjubah hitam yang sebelumnya membuka mata di ruang terdalam. Wajahnya masih tertutup bayangan tudung, tetapi kedua matanya memancarkan cahaya keemasan redup yang sama sekali tidak menyerupai manusia biasa.
"Aneh," ujar pria itu sambil memiringkan kepala. "Kau bahkan belum menjalani proses sinkronisasi. Lalu kenapa tubuhmu membawa jejak kristal?"
Jantung Arga berdegup semakin keras. Ia tidak mengenal pria tersebut, tetapi tekanan yang dipancarkan sosok itu membuat seluruh naluri bertarungnya langsung aktif. Tanpa menjawab, ia melemparkan sebuah kunci pas besar ke arah lawannya.
Whoosh!
Pria berjubah itu hanya mengangkat satu tangan.
Tang!
Kunci pas tersebut berhenti sesaat di udara sebelum jatuh ke lantai.
Mata Arga sedikit membelalak. "Bukan telekinesis..." gumamnya pelan. "Ledakan energi."
Dalam sekejap pria berjubah itu menghilang.
Tap!
Bukan benar-benar menghilang. Kecepatannya saja yang telah melampaui batas penglihatan manusia biasa. Arga segera memiringkan tubuh tepat ketika sebuah pukulan menghantam meja logam di belakangnya.
Buk!
Meja itu langsung penyok seperti kaleng kosong. Dentang logam memenuhi laboratorium ketika kedua orang itu mulai saling mengitari sambil mencari celah. Arga memahami satu kenyataan yang tidak bisa diabaikan. Jika pertarungan ini terus berlanjut, dirinya pasti kalah. Tubuhnya belum menjadi Awakener, sedangkan lawannya jelas telah melampaui batas kemampuan manusia biasa.
" Tidak perlu menang," gumamnya dalam hati. "Cukup hidup."
Tanpa ragu ia meraih tiga kristal eksperimen yang berada di atas meja.
Wussh...
Ketiga benda itu lenyap ke dalam Ruang Dimensi. Pada saat yang sama, Arga mengeluarkan tabung gas portabel yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Pria berjubah mengernyit.
"Apa itu—"
Brak!
Tabung itu dilempar tepat ke arah rak penyimpanan. Parang Arga menyambar cepat.
Sret!
Percikan api muncul ketika bilah logam menghantam baja.
Booom!
Ledakan kecil mengguncang laboratorium. Asap putih langsung memenuhi seluruh ruangan, sementara alarm kembali meraung tanpa henti.
Bip!
Bip!
Bip!
Memanfaatkan kekacauan tersebut, Arga berlari menuju jalur evakuasi darurat yang sempat ia lihat pada peta bangunan. Ketika pria berjubah berhasil menerobos kepulan asap, Arga sudah menghilang tanpa jejak.
Sepuluh menit kemudian, Arga muncul dari saluran pembuangan tua yang berada hampir satu kilometer dari kompleks Sektor-9. Napasnya memburu dan pakaiannya dipenuhi debu, tetapi hard drive beserta seluruh data yang berhasil dicurinya masih tersimpan aman di dalam Ruang Dimensi. Ia terus berlari hingga mencapai motor tuanya sebelum akhirnya memastikan tidak ada seorang pun yang mengejar.
Barulah setelah keadaan benar-benar aman, Arga membuka salah satu map penelitian yang sempat diambil secara acak. Halaman demi halaman dipenuhi istilah ilmiah yang sulit dipahami, tetapi pada lembar terakhir terdapat daftar fasilitas penelitian beserta nama penanggung jawab setiap proyek.
Tatapan Arga berhenti pada satu nama.
Darah di wajahnya seolah menghilang dalam sekejap.
Nama itu adalah sosok yang enam tahun setelah kiamat dikenal sebagai manusia terkuat sekaligus dalang runtuhnya puluhan markas penyintas. Dalam kehidupan sebelumnya, seluruh dunia mengenalnya sebagai seseorang yang muncul entah dari mana setelah membantai para Awakener terkuat. Namun kini namanya telah tercetak jelas di dokumen tersebut, jauh sebelum kiamat dimulai.
Arga menggenggam kertas itu hingga tangannya bergetar. "Jadi..." suaranya nyaris tak terdengar. "...semua ini memang sudah direncanakan sejak sebelum dunia hancur."
Tatapannya perlahan berubah dingin.
"Berarti musuh sebenarnya..."
"...bukan zombie."