Michelle kembali ke Indonesia setelah enam tahun menetap di luar negeri untuk menemui calon tunangannya, Alvin. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa begitu banyak hal telah berubah, termasuk pria yang pernah berjanji akan menunggunya. Waktu dan jarak telah mengubah Alvin hingga Michelle merasa tak lagi mengenali sosok yang dulu begitu dicintainya.
Kenyataan yang paling menghancurkan hatinya adalah Alvin kini telah memiliki seorang kekasih yang begitu dicintai. Tempat yang dulu menjadi milik Michelle, kini telah diisi oleh orang lain.
Benarkah waktu mampu menghapus cinta yang pernah begitu dalam? Ataukah masih ada secercah rasa yang tersisa di hati Alvin untuk Michelle? Saat takdir kembali mempertemukan mereka, apakah mereka akan menemukan jalan pulang... atau justru menyadari bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan untuk menjadi kenangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Alicia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
"MICHELLE LO DI MANA?!"
"ASTAGA GUE DITINGGALIN!"
"MICHELLE JAWAB DONG WOI! Ini Raffa sama temen-temennya juga udah pergi! Gue sendirian kayak orang ilang nih, woi bangsul!"
"INI TELPON KESAMBUNG GAK SIH?!"
Michelle menatap malas ponselnya yang tergeletak di atas meja, ia sudah tahu pasti sekarang Meyra berteriak-teriak di sana, dan Michelle tidak mau mengambil resiko dengan mendekatkan ponsel itu ke telinganya. Ancamannya adalah budek.
"Itu temen lo ngoceh sendiri lo biarin gitu aja?"
Michelle menatap cowok di depannya, lalu mengangguk. "Entar kalau capek juga diem sendiri," jawabnya.
Devis terkekeh, tangannya terulur mengambil ponsel Michelle di atas meja. Michelle yang mengetahui niat Devis berniat segera menjauhkan ponsel itu, tapi gerakannya kalah cepat.
"Vis—"
"Stt, diem dulu, biar gue yang bicara."
Michelle berdecak kesal saat Devis sudah mendekatkan ponselnya ke telinga, kening Devis berkerut mendengarkan apa yang Meyra ucapkan dari seberang sana, hal itu membuat Michelle ikut mengerutkan kening, penasaran.
Michelle menaikkan sebelah alis saat Devis menatapnya, cowok itu menjauhkan ponsel dari telinga sebelum menjawab.
"Cerewet bener ya temen lo, gue nggak dikasih waktu buat ngomong," ujar cowok itu, mengembalikan ponsel Michelle setelah sambungan terputus.
Michelle menahan tawa mendengar jawaban Devis, ini baru pertama kali Devis mendengarkan betapa cerewetnya seorang Meyra Fransiska. Apa kabar Michelle yang mendengarnya tiap hari.
"Lo tadi ngapain di sana?" tanya Devis.
"Gue? Main lah!"
"Main ke stadion renang tapi nggak renang, main apaan?"
Michelle mencibir. "Kepo banget lo kayak wartawan. Hujannya udah reda nih, anterin gue pulang."
"Pulang sendiri nggak bis— iya iya gue anterin, nggak usah melotot gitu!"
Michelle memutar bola mata malas, lalu beranjak. Saat Michelle hendak melangkah meninggalkan bangku kafe tempat mereka duduk, kakinya tertahan. Kedua matanya menyipit melihat seseorang yang duduk di bangku ujung kafe.
Seorang cewek bersurai sepunggung yang dikuncir kuda, tampak sendirian sambil menatap ponsel di tangannya. Sampai beberapa saat kemudian cewek itu mendongak, menyambut seseorang yang datang menghampiri kursinya.
Mata Michelle melebar, ia yakin tidak salah lihat. Untuk sekali lagi Michelle memicingkan kedua matanya, memastikan itu benar cewek yang ia kenal. Dan setelah beberapa detik mengamati, ia dua kali lebih yakin dari sebelumnya.
"Lihatin apa sih lo?" tanya Devis, ikut celingukan.
Michelle menggeleng. "Pulang sekarang, Vis," ajaknya, lalu pergi meninggalkan Devis lebih dulu keluar dari kafe ini.
Devis menatap punggung Michelle yang menjauh, ia tahu apa yang cewek itu lihat tapi diam saja. Devis rasa semua akan menjadi lebih seru mulai sekarang.
.
.
.
.
.
"Kak Alvin,"
Alvin yang sedang bermain gitar di balkon kamarnya langsung menoleh, menatap datar Michelle yang berdiri di ambang pintu balkon.
"Siapa yang izinin lo masuk kamar gue?" tanyanya dingin.
Michelle terdiam, langsung kalah bicara padahal hanya beberapa kata. Ia langsung masuk karena sudah sangat penasaran dengan apa yang ia lihat tadi. Ia hanya ingin memastikan, apa Alvin tahu sesuatu, atau cowok itu sama sekali tidak tahu kalau pacar kesayangannya terpergok jalan berdua di kafe dengan cowok lain, tampak akrab pula.
"A-aku mau nanya sesuatu, Kak Alvin ada waktu?"
"Nggak ada." Alvin beranjak, lalu membawa gitarnya masuk ke kamar. "Keluar, gue mau ganti baju."
Michelle mengerjap, dengan reflek melihat baju hitam yang kini Alvin kenakan. "Kak Alvin mau ke mana? Udah malem."
"Bukan urusan lo."
"Tapi Kak—"
Brak!
Michelle terlonjak sampai reflek menutup mata saat Alvin membanting pintu lemari, cowok itu menatapnya dengan tatapan yang membuat hati Michelle langsung perih.
"Bisa nggak sih lo nggak banyak tanya? Lo gue biarin tinggal di rumah gue bukan berarti dengan seenaknya lo bisa masuk ke kamar gue. Sedeket apa pun lo sama orang tua gue, lo tetep orang asing tau nggak?" Alvin tampak menahan amarahnya. "Dan kalau lo nggak ngerti, malem-malem cewek ke kamar cowok itu bahaya, jangan percaya sama cowok segampang itu, Chel. Apalagi lo nggak kenal orang itu sekarang gimana."
Michelle mengerjap, perlahan melangkah mundur saat Alvin melangkah mendekatinya. Napasnya langsung tertahan saat punggungnya menyentuh pintu yang tertutup, apalagi Alvin semakin mendekat.
"Pergi sekarang sebelum lo kenapa-kenapa," ucap Alvin datar tepat di depan wajah Michelle yang kini tampak shock.
Alvin menatap Michelle sangat datar sebelum berpindah dan pergi menuju kamar mandi. Michelle mengerjap beberapa kali, shock. Sementara Alvin menarik ujung bibirnya, jujur saja ia hampir tertawa melihat ekspresi ketakutan Michelle tadi.
Jika Michelle berpikir yang Alvin katakan itu serius, maka Alvin akan benar-benar tertawa.
.
.
.
.
.
"Kenapa Michelle?"
Michelle tersenyum tidak enak pada Rita dan Jordan. "Michelle udah bilang ke Daddy kalau mau tinggal sendiri Om, Tan. Lagian nggak enak lama-lama di sini, nanti nyusahin," jelasnya.
Rita menggeleng. "Kamu sama sekali nggak nyusahin, Michelle. Tante malah seneng kamu di sini, jadi ada temannya."
Ada orang yang nggak seneng Michelle di sini Tante, batin Michelle.
"Bagaimana tanggapan Daddy kamu?" tanya Jordan.
"Daddy setuju, Om, bahkan udah mau dibeliin apartemen kalau Om sama Tante kasih izin," jawab Michelle.
Jordan mengangguk setelah berpikir beberapa saat, ia percaya kalau Allan sahabatnya itu pasti sudah memikirkan semua sebelum mengambil keputusan. Termasuk mengizinkan putri tunggalnya ini untuk tinggal sendiri.
"Om izinkan."
Rita menoleh dengan wajah terkejut, ia kira Jordan akan menolak permintaan Michelle. Melihat wajah ragu istrinya, Jordan memberi isyarat dengan menganggukkan kepala.
Rita menghela napas, ia tidak pernah bisa membantah Jordan, termasuk sekarang. Wanita itu mengusap lengan Michelle.
"Kalau kamu nggak betah di sana, nanti kamu balik ke rumah ini ya? Rumah ini akan selalu terbuka buat kamu karena Tante udah anggap kamu seperti putri Tante sendiri," ujar Rita dengan mata berkaca-kaca, tidak rela kalau setelah ini Michelle tidak akan tinggal bersamanya.
Rita yang dulu merawat Michelle kecil karena cewek itu ditinggal Ibunya sejak masih bayi, Ibu Michelle adalah sahabat Rita yang sangat dia sayangi, tidak heran Rita menyayangi Michelle seperti putrinya sendiri.
Michelle mengusap punggung tangan Rita yang masih memegang lengannya. "Tenang aja Tante Rita, Michelle bakal sering mampir kok, lagian Michelle minta ke Daddy supaya tempat tinggal Michelle yang baru nggak jauh dari rumah ini," jelas Michelle seraya tersenyum.
Kali ini air mata yang ditahan Rita benar-benar luruh, wanita itu memeluk Michelle seolah akan melepas putri kesayangannya untuk pergi jauh. Michelle yang mendapat perlakuan itu secara tiba-tiba langsung terdiam, ini bukan pertama kali Rita memeluknya, tapi pelukkan kali ini terasa berbeda.
Michelle bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu dari pelukkan itu, kasih sayang yang tidak pernah ia dapatkan dari kecil.
Alvin yang berdiri tak jauh dari ruang keluarga tempat Jordan, Rita, dan Michelle mengobrol, mengerutkan kening mendengar keputusan cewek itu untuk pergi dari rumah ini.
Alvin tidak mau mengakuinya, tapi ada rasa tidak rela saat Alvin mendengar keputusan Michelle untuk pergi setelah dua bulan tinggal di rumahnya.
Alvin berdecak, merutuki Michelle yang mungkin menganggap serius perkataannya di kamar tadi.
"Dasar, baperan."