Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
"Di budayaku, hal baik itu tak pernah datang terburu-buru. Segala sesuatu ada waktunya, ada langkahnya. Seperti teh yang harus diseduh dengan sabar, rasanya baru akan sempurna. Begitu pun dengan pertemuan..."
- Arjun
\_\_\_^^^^\_\_\_
Hujan sore itu rintik-rintik banget, bikin suasana di dalam kafe tempat aku kerja jadi adem dan nyaman sekali. Wangi kopi yang baru diseduh bercampur sama aroma tanah basah dari luar, rasanya tenang banget di dada. Di sini aku kerja udah hampir setahun, nggak ada yang terlalu istimewa sih, cuma rutinitas biasa tiap hari.
Namaku Aira, dua puluh satu tahun, cuma pelayan biasa yang tugasnya mencatat pesanan, mengantar makanan, dan merapikan meja.
Dari sekian banyak meja yang ada di ruangan ini, ada satu meja yang paling sering aku perhatikan-meja nomor tujuh. Bukan karena mejanya lebih bagus atau apa, tapi karena pelanggannya selalu sama, datang tiap hari jam empat sore pas, nggak pernah terlambat, nggak pernah absen.
Namanya Arjun.
Cowok keturunan India yang lahir dan besar di kota ini. Cara bicaranya santai dan enak didengar, sama persis seperti orang lokal lain, nggak ada nada kaku atau asing sama sekali. Kulitnya sawo matang, rambut hitamnya selalu rapi disisir ke belakang, matanya cokelat gelap yang kalau menatap rasanya tenang sekali. Dan satu hal yang paling bikin aku penasaran: di lehernya, selalu terkalung seutas benang tipis berwarna merah campur kuning, nggak pernah lepas walau dia pakai baju apa pun.
Pintu kafe berbunyi ting, dan masuklah Arjun sambil sedikit menepuk-nepuk bahu jaketnya yang kena gerimis. Dia tersenyum pas melihat aku berdiri di dekat kasir, lalu berjalan santai menuju meja biasa, seolah sedang masuk ke rumah sendiri.
"Sore, Aira," sapa Arjun, suaranya ramah banget, bikin suasana yang tadinya hening jadi agak hidup.
Aku membalas senyum sambil mengambil buku catatan dan pulpen. "Sore juga, Arjun. Seperti biasa ya? Teh tarik, agak manis sedikit?"
Arjun duduk dan meletakkan tasnya di kursi sebelah, lalu menatapku sambil tersenyum kecil.
"Nah, gitu dong, panggil nama saja, lebih enak didengar. Iya, sama seperti biasa. Kamu memang paling ingat kebiasaan aku deh, pantas jadi pelayan andalan di sini."
Aku hanya menggaruk kepala sambil tersenyum canggung.
"Ya... kan setiap hari pesannya sama terus, jadi sudah hafal saja sih."
Aku pergi ke belakang untuk menyiapkan pesanannya. Pas air panas dituang ke daun teh, uapnya mengepul ke atas, membawa wangi khas yang manis. Di dalam hati, aku masih memikirkan benang merah di leher Arjun. Sudah lama sekali penasaran, tapi rasanya canggung kalau bertanya hal pribadi begitu.
aku meletakkan cangkir teh di meja, Arjun sedang mengelus pelan benang itu dengan jari telunjuknya. Tanpa sadar mulutku terbuka sendiri.
"Itu... benang di leher kamu itu apa sih? Setiap hari dipakai terus, ada arti khusus ya? Kirain cuma hiasan biasa saja," tanyaku pelan, takut terdengar kepo banget.
Arjun mengangkat kepalanya, dia menatap benang itu lalu menatapku lagi, senyumnya makin melebar tapi kali ini ada rasa bangga di matanya.
"Ini? Ini bukan cuma benang biasa lho, Aira. Di keluarga aku, ini namanya Benang Raksha atau benang perlindungan. Warna merah dan kuning ini punya arti penting banget di budaya India. Merah itu simbol keberanian, kehidupan, dan kasih sayang. Kuning itu simbol kebahagiaan dan kemakmuran."
Dia mengangkat cangkirnya, memutar-mutar sedikit sebelum melanjutkan berbicara.
"Kakek aku yang mengikatkan ini pas aku masih umur lima tahun. Pesannya cuma satu, sederhana tapi dalam banget: 'Ke mana pun kamu pergi, seberapa jauh pun kamu melangkah, jangan pernah lupa siapa kamu dan dari mana asalmu.' Jadi ini kayak tanda pengingat saja, supaya aku selalu ingat budaya dan keluarga."
Aku mengangguk-angguk mengerti, sambil mendengarkan dengan saksama. Wah, ternyata di balik benda kecil yang kelihatan biasa saja, ada makna yang sebesar itu ya.
"Wah... keren banget ya. Jadi kayak identitas gitu ya?"
"Persis sekali," jawab Arjun sambil menyeruput tehnya pelan.
"Di India, kami percaya kalau identitas itu mahal banget harganya. Tidak boleh hilang, tidak boleh ditukar dengan apa pun. Sama seperti rasa teh tarik ini lho-harus tetap punya rasa khasnya, tidak boleh berubah meski disajikan di mana saja. Biar siapa pun yang minum tahu, ini rasa aslinya."
Dia menatapku lagi, matanya berbinar sedikit.
"Katanya sih, benang ini juga tanda ikatan. Ikatan yang tidak terlihat tapi kuat banget. Sama seperti pertemuan kita setiap hari di sini. Kelihatannya biasa saja kan? Pelayan sama pelanggan. Tapi di kepercayaan orang India, pertemuan itu bukan kebetulan lho. Segalanya ada alasannya, cuma kadang kita belum tahu alasannya apa."
Jantungku berdebar sedikit, tapi bukan karena jatuh cinta, lebih ke rasa kaget dan takjub saja. Berbicara dengan Arjun memang gitu, hal-hal sederhana saja bisa dibuatnya jadi dalam banget maknanya.
Di luar sana hujan masih turun rintik-rintik, tapi di meja nomor tujuh ini, rasanya suasana jadi enak banget untuk mengobrol. Hari itu aku makin tahu kalau Arjun memang beda dari cowok lain. Dia tenang, sopan, dan bangga banget dengan asal-usulnya.
Dan entah kenapa, rasa penasaranku sama dia makin besar saja. Banyak banget hal dari budayanya yang sepertinya bakal seru banget kalau didengarkan ceritanya satu-satu.