Suara deru mesin mobil yang asing memecah keheningan sore di Desa Sukamaju. Aluna, yang sedang memilah daun teh di teras rumah panggungnya, mendongak. Tangannya yang halus—meski terbiasa bekerja di ladang—berhenti bergerak. Sebuah mobil sewaan berhenti tepat di depan pagar bambu rumahnya.
Dari dalam mobil, turunlah seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang tampak mentereng untuk ukuran orang desa. Kalung emas tebal melingkar di lehernya, dan kacamat hitam bertengger di hidungnya.
"Bik Sumi?" gumam Aluna, hampir tidak mengenali bibinya sendiri yang sudah lima tahun merantau di Jakarta.
Bik Sumi berjalan melenggang masuk ke halaman, disambut hangat oleh ibu Aluna yang langsung keluar dari dapur. Setelah melepas rindu dan berbasa-basi sejenak di ruang tamu yang sederhana, tatapan Bik Sumi langsung tertuju pada Aluna. Wanita itu memperhatikan keponakannya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan mata berbinar.
Di usianya yang menginjak 25 tahun, Aluna tumbuh menjadi gadis ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sengatan Di Tengah Malam
Aluna mengambil napas dalam-dalam saat melihat Arsen tertidur lelap di atas sofa panjang. Rasa tidak tega melihat majikannya tidur dalam keadaan masih mengenakan sepatu kulit membuat Aluna memberanikan diri untuk mendekat.
Dengan perlahan dan hati-hati, Aluna berlutut di samping sofa. Jemari tangannya yang gemetar mulai melepaskan ikatan tali sepatu Arsen satu per satu, lalu menariknya keluar dari kaki panjang pria itu secara perlahan agar tidak membagunkannya. Ia kemudian merapikan posisi kaki Arsen ke atas sofa dan membentangkan selimut tebal yang baru dibawanya hingga menutup dada bidang sang majikan.
Namun, gerakan Aluna di dekatnya membuat tidur lelap Arsen terganggu. Pria yang masih dalam pengaruh alkohol itu menggeliat pelan, kelopak matanya yang berat perlahan terbuka sedikit. Pandangannya samar dan berkabut di bawah remang-remang lampu malam ruang tengah.
Di saat itulah, iris mata elangnya menangkap siluet Aluna yang berada tepat di sampingnya.
Karena sudah siap untuk tidur sebelum Arsen pulang tadi, Aluna hanya mengenakan celana pendek di atas lutut dan kaus crop top santai—pakaian rumahan yang biasa ia pakai di dalam kamar saat tidak ada orang lain. Dalam jarak yang teramat dekat dan pencahayaan yang temaram, pakaian itu mengekspos kulit mulus kaki dan pinggang ramping Aluna dengan sangat jelas.
Rasa kantuk dan pusing di kepala Arsen mendadak memudar, tergantikan oleh sengatan gairah yang membakar kesadarannya secara instan. Matanya yang tadinya layu kini terbuka lebar, menatap lurus pada bentuk tubuh sintal pelayan pribadinya yang selama ini selalu tersembunyi di balik celemek dan pakaian longgar.
Grep!
Sebelum Aluna sempat berbalik untuk melarikan diri ke kamarnya, sebuah tangan besar bertato tipis milik Arsen sudah melingkar dengan cengkeraman kuat di pinggang telanjang gadis itu, menariknya rapat kembali ke atas sofa.
Sentuhan jemari Arsen yang dingin dan kasar pada kulit pinggangnya yang terekspos langsung mengirimkan sengatan listrik ke seluruh tubuh Aluna. Gadis itu terkesiap hebat, dadanya naik turun dengan napas yang tertahan di tenggorokan.
"D-Den Arsen... lepas..." bisik Aluna panik. Ia berusaha menarik tubuhnya mundur, namun kungkangan tangan Arsen di pinggangnya seperti jepitan besi yang mustahil untuk digoyahkan.
Arsen perlahan menegakkan posisi duduknya di atas sofa, menyandarkan punggungnya yang tegap sembari terus mengunci Aluna di depannya. Efek wiski yang menyisakan sedikit rasa pening di kepalanya justru menyalakan gairah yang teramat pekat saat matanya yang tajam menyapu setiap inci lekuk tubuh Aluna di bawah lampu remang.
Mata elang itu terpaku pada paha mulus yang terekspos bebas dari celana pendek Aluna, lalu naik menatap pinggang ramping yang kini berada dalam cengkeramannya, hingga berhenti di bibir mungil gadis itu yang bergetar ketakutan.
"Pakaian tidurmu... nakal sekali," ucap Arsen dengan suara berat yang serak dan sarat akan intimendasi gairah.
Suara bariton yang terdengar begitu dalam di kesunyian dini hari itu membuat bulu kuduk Aluna merinding. Wajah Aluna memerah padam, terbakar oleh rasa malu dan takut yang bercampur aduk.
"M-maaf, Den... saya tidak tahu kalau Den Arsen akan melihatnya. Tolong lepaskan, saya mau kembali ke kamar," mohon Aluna dengan suara bergetar, kedua tangannya menahan dada bidang Arsen yang hangat agar ada jarak di antara mereka.
Bukannya melepaskan, Arsen justru mengikis jarak tersebut. Ia menarik pinggang Aluna semakin rapat, membiarkan napasnya yang beraroma alkohol membelai ceruk leher pelayan pribadinya itu.
"Kamu pikir kamu bisa pergi begitu saja setelah membuatku melihat pemandangan seperti ini, hm?" bisik Arsen rendah di samping telinga Aluna.