Demi menyelamatkan nyawa sang adik yang mempunyai penyakit jantung bawaan, Alina Savina seorang figuran terpaksa menerima tawaran gila dari Leon Gennadi Alexander.
Leon, aktor mega bintang sekaligus pewaris tunggal imperium bisnis Alexander Group, membutuhkan istri instan demi menghindari perjodohan kolosal keluarganya.
Sebuah kecelakaan tak sengaja di basement apartemen membawa keduanya ke meja pernikahan kontrak yang rahasia, dingin, dan penuh batasan ketat.
Di balik dinding kaca penthouse yang megah, sandiwara pernikahan satu tahun dimulai.
Sanggupkah mereka menjaga hati agar tetap logis, ataukah skenario takdir akan meruntuhkan dinding keangkuhan yang telah mereka bangun?
JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAAA
FOLLOW IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saya Tidak Keberatan
Sedangkan di sisi lain, tepat pukul tujuh pagi, Alina sudah berdiri di depan sebuah gedung pencakar langit berarsitektur modern di kawasan bisnis utama ibu kota. Gedung itu adalah Alexander Tower, markas besar dari seluruh jaringan bisnis Alexander Group.
Penampilan Alina sangat kontras dengan para karyawan yang berlalu-lalang mengenakan pakaian kerja formal yang rapi dan wangi.
Alina hanya mengenakan kemeja flanel longgar yang agak pudar, celana jins hitam, dan sepatu flat yang solnya sudah menipis. Wajahnya pucat tanpa riasan, dan ada perban kecil yang menempel di siku serta pelipisnya akibat kecelakaan semalam.
Dengan keberanian yang tersisa, Alina melangkah mendekati meja resepsionis yang dijaga oleh dua wanita cantik berpenampilan bak model.
"Permisi... saya ingin bertemu dengan Tuan Leon Gennadi Alexander." ucap Alina dengan nada suara yang agak menciut.
Resepsionis itu memandang Alina dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan menilai yang merendahkan.
"Apakah sudah membuat janji sebelumnya, Mbak? Tuan Leon sangat sibuk, hari ini ada rapat direksi utama. Jika tidak ada janji, silakan tinggalkan pesan." ucap sang resepsionis dengan tidak bersahabat, karena memang banyak yang mengaku-ngaku ingin bertemu dengan Leon namun itu hanya seorang penggemar sehingga siapapun yang ingin bertemu dengan Leon di perusahaan cukup ketat dan tidak sembarangan orang bisa bertemu.
Alina segera merogoh sakunya dan mengeluarkan kartu nama berlapis emas yang diberikan Leon semalam, lalu meletakkannya di atas meja konter.
"Tuan Leon yang meminta saya datang ke sini pagi ini." seru Alina sambil memperlihatkan kartu nama yang diberikan oleh Leon kemarin.
Melihat kartu nama khusus tersebut yaitu kartu nama yang hanya dimiliki oleh kalangan internal level tertinggi Alexander Group, wajah resepsionis itu seketika berubah ramah dan penuh hormat.
"Ah, mohon maaf, Nona. Mari, saya antar ke lift khusus menuju lantai teratas. Asisten pribadi Tuan Leon, Pak Jefri, sudah menunggu Anda." ucapnya berubah menjadi sopan.
Alina hanya mengangguk pelan, mengikuti langkah resepsionis menuju sebuah lift berdinding kaca yang bergerak sangat cepat menuju lantai lima puluh. Di dalam lift, jantung Alina berdegup kencang hingga dadanya terasa sakit.
Tepat saat jam dinding di ruangan itu menunjukkan pukul tujuh lewat lima menit, interkom di meja kerja Leon berbunyi.
Bip.
Resepsionis: [Tuan Leon, ada seorang wanita bernama Alina Savina di lobi bawah. Dia membawa kartu nama khusus Anda.] suara resepsionis terdengar.
Leon menatap Jefri, lalu mengangguk kecil.
^^^Leon: [Bawa dia naik, Jefri. Saatnya menandatangani kesepakatan.]^^^
Ting.
Pintu lift terbuka, menampilkan koridor luas dengan lantai marmer Italia yang mengkilap. Seorang pria berkacamata dengan setelan jas rapi yaitu Jefri yang sudah berdiri di sana menyambutnya dengan senyuman formal.
"Nona Alina Savina? Mari ikuti saya, Tuan Leon sudah menunggu di ruang kerja pribadinya." ujar Jefri dengan sopan tanpa mempertanyakan penampilan Alina yang berantakan.
Jefri membawa Alina masuk ke dalam sebuah ruangan yang sangat luas dengan dinding kaca besar yang langsung menghadap ke pemandangan seluruh kota dari ketinggian.
Di balik sebuah meja kerja kayu jati berukuran besar, duduklah Leon. Pria itu tampak sangat berwibawa dengan setelan jas tiga potong berwarna abu-abu gelap, rambutnya tertata rapi, memancarkan aura kekuasaan yang mutlak.
"Tinggalkan kami sendiri, Jefri." perintah Leon tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas di tangannya.
"Baik, Tuan." Jefri membungkuk sekilas lalu melangkah keluar, menutup pintu kayu ek yang tebal dengan rapat.
Suasana ruangan seketika menjadi sunyi senyap. Alina berdiri mematung di dekat pintu, tidak berani melangkah lebih dekat. Leon perlahan menutup berkasnya, lalu mendongak, menatap Alina dengan mata elangnya yang dingin.
"Kamu datang tepat waktu. Kurang dua jam dari batas waktu yang kuberi," kata Leon, suaranya terdengar datar namun penuh penekanan.
Dia bersandar pada kursi kerjanya, menopang dagunya dengan tangan yang saling bertautan.
"Jadi, apa keputusanmu, Alina?" tanya Leon yang sebenarnya sudah bisa menebak pilihan Alina.
Alina menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan suaranya yang bergetar.
"Saya... saya menerima tawaran Anda, Tuan Alexander. Saya bersedia menikah dengan Anda." ucapnya pelan dan gugup.
Leon tersenyum tipis, sebuah seringai kemenangan yang dingin. "Pilihan yang cerdas. Aku suka orang yang tahu bagaimana cara menyelamatkan dirinya sendiri."
Leon menggeser sebuah dokumen tebal bersampul kulit hitam yang sudah ada di atas mejanya ke arah Alina.
"Maju dan baca ini. Ini adalah draf kontrak pernikahan kita. Jika kamu setuju dengan semua pasalnya, silakan tanda tangan." ucapnya.
Alina melangkah ragu-ragu mendekati meja, lalu mengambil dokumen tersebut. Jemarinya membalik halaman demi halaman. Isinya adalah aturan-aturan ketat yang mengikat hidupnya selama satu tahun ke depan.
Namun, ada satu pasal khusus yang langsung menarik perhatian Alina di halaman kedua.
Pasal 4: Kerahasiaan Mutlak
Pernikahan ini adalah pernikahan yang bersifat rahasia dan non-publik. Tidak boleh ada satu pun pihak luar, termasuk media massa, agensi hiburan, atau teman dari Pihak Kedua (Alina Savina) yang mengetahui tentang keberadaan pernikahan ini. Pernikahan ini hanya akan dilegalkan secara hukum negara, tampa pesta dan hanya diketahui oleh keluarga inti dari Pihak Kesatu (Keluarga Besar Alexander). Pelanggaran terhadap pasal ini akan dikenakan sanksi pembatalan kontrak sepihak dan tuntutan ganti rugi sebesar seratus kali lipat dari biaya yang telah dikeluarkan.
Alina mendongak, menatap Leon dengan bingung. "Pernikahan rahasia? Hanya keluarga Anda yang tahu?" tanya nya dengan bingung.
Leon mengangguk, tatapannya menajam. "Benar. Aku adalah seorang aktor publik, Alina. Jika berita pernikahanku dengan seorang figuran dan pengantar makanan bocor ke media, itu akan menghancurkan reputasiku dan memicu spekulasi liar di bursa saham Alexander Group. Aku tidak butuh drama publik. Pernikahan ini murni untuk menenangkan nenekku yang terus-menerus menjodohkanku. Di mata keluargaku, kamu adalah wanita dari latar belakang biasa yang aku pilih sendiri. Di mata dunia, aku tetaplah Leon Alexander yang lajang." ucapnya cukup menyakitkan buat Alina, memang apa salahnya seorang figuran dan juga ojek online? Dia tidak mencuri.
Leon menjeda kalimatnya, menatap Alina dengan tatapan menuntut yang dingin. "Kamu tidak keberatan menjadi istri rahasia di balik pintu tertutup, bukan? Toh, kamu mendapatkan apa yang kamu butuhkan." ujarnya.
Alina menelan ludahnya dengan susah payah. Menjadi istri rahasia berarti dia harus hidup dalam bayang-bayang, menyembunyikan statusnya dari semua orang yang mengenalnya, bahkan mungkin dari Agra jika saatnya tiba. Namun, ingatan akan suara suster rumah sakit semalam kembali menggema di kepalanya.
'Tiga puluh lima juta... atau Agra akan dipindahkan.'
"Saya... saya tidak keberatan, Tuan." jawab Alina lirih.
"Asalkan... asalkan Anda menepati janji Anda tentang pengobatan adik saya." lanjutnya.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
kuraanggg terus
kelamaan nunggu bsok thor😭😭😭😭
apa lagi perasaan wanita yg lemah lembut kaya lelembut wehhh melot duluan
gak sabar nunggu leon bucin akut 🤣🤣🤣