Ada pertemuan yang terjadi karena kebetulan.
Ada pula pertemuan yang telah direncanakan jauh sebelum kedua insan itu saling mengenal.
Aluna tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah sejak malam ketika ia bertemu seorang pria asing bernama Niel.
Di balik sosok pria yang tampak tenang itu, tersimpan rahasia yang mampu mengubah hidup banyak orang.
Namun, Niel bukan satu-satunya yang menyimpan masa lalu.
Ketika satu demi satu kebenaran terungkap, keduanya menyadari bahwa mereka bukan sekadar dipertemukan oleh takdir.
Mereka adalah bagian dari Permainan Takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Dentuman
Suara ledakan masih menggema di seluruh bangunan.
Pecahan kaca berjatuhan dari jendela lantai dasar, disusul kepulan debu yang membuat pandangan menjadi kabur. Rak-rak buku bergoyang hebat hingga beberapa di antaranya roboh, menimpa meja dan kursi yang berada di dekatnya.
Jeritan memenuhi setiap sudut perpustakaan.
Pengunjung berlarian tanpa arah, saling bertabrakan demi mencari jalan keluar.
Aluna refleks berdiri.
"Apa yang terjadi?"
Belum sempat ia melangkah, Niel lebih dulu meraih pergelangan tangannya.
"Jangan bergerak."
Nada suaranya tetap tenang, tetapi tegas.
Aluna menoleh. Wajah pria itu tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Tatapannya justru mengarah ke pintu masuk, memperhatikan tiga pria bertopeng yang baru memasuki gedung.
Mereka mengenakan pakaian serba hitam.
Masing-masing membawa senjata api yang disembunyikan di balik jaket panjang.
Salah satu dari mereka mengangkat pistol ke udara.
Dor!
Satu tembakan dilepaskan.
Jeritan yang semula riuh langsung berubah menjadi keheningan mencekam.
"Semua diam!"
Suara berat pria itu bergema.
"Siapa pun yang mencoba melarikan diri akan menyesal."
Orang-orang spontan berjongkok sambil memeluk kepala.
Beberapa anak kecil mulai menangis.
Aluna merasakan telapak tangannya mulai dingin.
Ia belum pernah berada dalam situasi seperti ini.
Niel sedikit menariknya agar berdiri di balik rak buku besar.
"Tetap di belakangku."
"Tapi—"
"Percaya padaku."
Hanya tiga kata.
Entah mengapa, jantung Aluna yang semula berdebar hebat perlahan mulai tenang.
_________________________________________
Di luar perpustakaan.
Darren baru saja turun dari mobil ketika suara ledakan terdengar.
Ekspresinya berubah drastis.
"Semua tim!"
Beberapa mobil hitam berhenti hampir bersamaan.
"Lindungi Tuan!"
"Ya!"
Belasan pria berpakaian sipil segera bergerak menuju gedung dari berbagai arah.
Namun baru beberapa langkah...
Sebuah suara terdengar melalui alat komunikasi Darren.
"Jangan masuk."
Darren membeku.
"Itu suara Tuan."
"Beliau memerintahkan seluruh tim bertahan di luar."
Salah seorang anggota tampak bingung.
"Kenapa?"
Darren menatap bangunan perpustakaan.
Ia mengenal Niel.
Jika pria itu melarang mereka masuk...
berarti ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar penyanderaan.
__________________________________________
Di dalam gedung.
Pria bertopeng yang tampaknya menjadi pemimpin mulai berjalan perlahan menyusuri lorong.
Tatapannya mengamati setiap wajah.
Seolah sedang mencari seseorang.
"Aneh..." gumam Niel pelan.
Aluna menoleh.
"Apa?"
"Mereka tidak mengambil uang."
"Maksudmu?"
"Mereka juga tidak meminta siapa pun membuka brankas."
Tatapan Niel semakin tajam.
"Berarti tujuan mereka bukan perampokan."
Kalimat itu membuat Aluna semakin gelisah.
Kalau bukan merampok...
Lalu mengapa mereka datang?
Tiba-tiba salah seorang pria bertopeng berhenti tepat beberapa meter dari tempat mereka bersembunyi.
Jantung Aluna seakan berhenti berdetak.
Pria itu memandang ke arah rak buku.
Selangkah.
Dua langkah.
Semakin dekat.
Aluna menahan napas.
Namun sebelum pria itu sempat melihat mereka...
Suara seorang anak kecil menangis terdengar dari sisi lain ruangan.
Pria bertopeng langsung berbalik.
"Diam!"
Anak itu justru menangis semakin keras.
Tanpa berpikir panjang, Aluna spontan keluar dari tempat persembunyiannya.
"Nona!"
Bisikan Niel terlambat.
Aluna berjalan menghampiri anak kecil itu.
"Tolong..."
Ia mengangkat kedua tangannya perlahan.
"Dia hanya ketakutan."
Pemimpin kelompok itu memandang Aluna cukup lama.
"Lihatlah."
Ia tersenyum tipis di balik topengnya.
"Orang baik memang sulit berubah."
Aluna mengernyit.
"Apa maksudmu?"
Pria itu tidak menjawab.
Sebaliknya, ia mengarahkan pistol ke arah anak kecil tersebut.
"Kalau begitu..."
"Buktikan."
Tanpa ragu, Aluna berdiri di depan anak itu.
"Tolong jangan sakiti dia."
Ruangan mendadak sunyi.
Bahkan para sandera lain ikut menahan napas.
Pemimpin kelompok itu tertawa pelan.
"Ternyata benar."
"Benar apa?"
"Kau memang akan memilih melindungi orang lain."
Tatapan Niel berubah.
Ada sesuatu yang janggal.
Cara pria itu berbicara...
Seolah-olah ia sudah mengenal Aluna sejak lama.
"Niel."
Aluna langsung menoleh.
Jadi...
Mereka memang mencari Niel.
Perlahan, Niel keluar dari balik rak buku.
Tatapannya dingin.
"Aku di sini."
Pemimpin kelompok itu tersenyum.
"Akhirnya."
"Apa tujuanmu?"
"Bukan aku."
Pria itu menggeleng pelan.
"Seseorang ingin bertemu denganmu."
"Aku tidak tertarik."
Tetapi dia sangat tertarik padamu."
Niel melangkah maju.
"Kalau targetmu aku..."
"...lepaskan semua orang."
Pria bertopeng tertawa kecil.
"Masih sama seperti dulu."
"Tidak banyak bicara."
"Tetapi selalu memilih memikul semuanya sendiri."
Aluna memandang Niel dengan bingung.
"Dulu?"
Belum sempat siapa pun menjawab...
Suara tembakan kembali terdengar.
Dor!
Namun kali ini bukan dari pria bertopeng.
Melainkan...
dari atap perpustakaan.
Semua orang refleks mendongak.
Kaca langit-langit pecah berkeping-keping.
Sesosok pria berpakaian hitam turun menggunakan tali baja.
Hanya seorang diri.
Begitu kedua kakinya menyentuh lantai...
Ia perlahan melepaskan helm taktis yang menutupi wajahnya.
Pemimpin kelompok bertopeng yang semula percaya diri langsung membeku.
"Wah..."
Pria itu mundur satu langkah.
"Jadi kau benar-benar datang."
Orang asing itu tersenyum tipis.
Tatapannya tidak tertuju kepada para penyandera.
Bukan pula kepada Niel.
Melainkan...
langsung kepada Aluna.
"Lama tidak bertemu..."
Kalimat itu menggantung di udara.
Membuat seluruh ruangan membeku dalam kebingungan.
Sementara Aluna hanya mampu menatap pria asing itu dengan napas yang mulai tidak teratur.
Karena entah mengapa...
Ada perasaan yang sangat aneh.
Seolah...
ia pernah melihat mata itu.
Sangat lama sekali.
__________________________________
Pria yang baru turun dari atap itu melangkah perlahan melewati pecahan kaca yang berserakan di lantai. Langkahnya tenang, tanpa sedikit pun terlihat tergesa.
Seluruh ruangan terdiam.
Bahkan ketiga pria bertopeng yang sebelumnya menguasai keadaan kini tampak saling berpandangan.
Pemimpin mereka menggenggam pistol lebih erat.
"Kau tidak seharusnya berada di sini."
Pria itu tersenyum tipis.
"Benarkah?"
"Aku tidak menerima undanganmu."
"Memang."
Tatapannya beralih kepada Niel.
"Aku datang karena urusanku dengannya belum selesai."
Niel maju selangkah.
"Aku tidak mengenalmu."
Pria asing itu menggeleng pelan.
"Itu tidak penting."
"Lalu apa yang kau inginkan?"
"Bukan darimu."
Sekali lagi, pandangannya beralih kepada Aluna.
Tatapan itu tidak dipenuhi kebencian.
Namun juga bukan tatapan seorang yang baru pertama kali bertemu.
Lebih seperti...
seseorang yang sedang memastikan sesuatu.
Aluna tanpa sadar menggenggam ujung bajunya.
"Kita... pernah bertemu?"
Pria itu terdiam beberapa detik.
Kemudian ia tersenyum sangat tipis.
"Mungkin."
Jawaban itu justru membuat Aluna semakin bingung.
Di sisi lain, Niel menangkap perubahan kecil pada sorot mata pria tersebut.
Tatapan itu tidak tertuju kepada Aluna sebagai target.
Melainkan sebagai seseorang yang sedang diamati.
Seolah pria itu sedang mencari kepastian.
Tiba-tiba suara sirene polisi terdengar dari luar gedung.
Melengking semakin dekat.
Pemimpin kelompok bertopeng langsung menoleh ke arah jendela.
"Sial."
Ia mengangkat tangannya memberi isyarat kepada anak buahnya.
"Kita pergi."
Namun sebelum sempat melangkah...
Pria asing itu menghalangi jalan mereka.
"Tidak ada yang pergi sebelum percakapan kita selesai."
Pemimpin kelompok mengangkat pistol.
"Apa kau ingin mati?"
Pria itu sama sekali tidak bergeming.
"Kalau memang bisa."
Kalimat itu diucapkan dengan begitu tenang hingga membuat suasana semakin mencekam.
Dalam sekejap, pemimpin kelompok menarik pelatuk.
Dor!
Suara tembakan memecah keheningan.
Aluna memekik pelan.
Namun sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Pria asing itu memiringkan tubuhnya tepat sebelum peluru mengenainya.
Gerakannya begitu cepat hingga nyaris tidak terlihat.
Dalam satu langkah, ia sudah berada tepat di depan pria bertopeng.
Tangannya meraih pergelangan tangan lawan, memutar dengan keras.
Krek!
Pistol terjatuh ke lantai.
Belum sempat dua anak buah lainnya bereaksi, pria asing itu telah menjatuhkan mereka hanya dalam hitungan detik.
Semua terjadi begitu cepat.
Niel memperhatikan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Keahlian seperti itu...
bukan dimiliki orang biasa.
Pria asing itu membungkuk mengambil pistol yang terjatuh, lalu meletakkannya kembali di lantai, jauh dari jangkauan siapa pun.
Ia menoleh kepada Niel.
"Hari ini bukan waktunya."
"Maksudmu?"
"Masih banyak pertanyaan yang belum siap kau dengar."
Sesaat kemudian, suara baling-baling helikopter terdengar dari atas gedung.
Pria itu mengangkat wajahnya, lalu tersenyum samar.
"Sampai jumpa lagi."
Belum sempat siapa pun menghentikannya, ia berlari menuju jendela yang pecah dan menghilang begitu saja di tengah kepulan debu.
Yang tertinggal hanyalah keheningan... dan semakin banyak pertanyaan yang belum memiliki jawaban
Bersambung...