Jodoh Pak Dokter
Aroma karbol yang tajam kian menusuk indra penciuman nya Shanum sebelum kelopak matanya benar-benar terbuka. Langit-langit putih yang asing menyambut pandangannya yang masih kabur. Perlahan, kesadarannya terkumpul, dan hal pertama yang ia ingat adalah hantaman keras mobil hitam itu.
Seketika, tangan Shanum bergerak cepat meraba perutnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat jemarinya tidak lagi merasakan gundukan hangat yang selama tujuh bulan ini menjadi tumpuan harapannya. Perutnya kini rata, kosong, dan dingin.
"Bayiku... mana bayiku?!" teriak Shanum. Suaranya pecah, mengguncang kesunyian bangsal rumah sakit.
Pintu terbuka kasar. Bu Siti, sang nenek, melangkah masuk dengan napas tersengal. Melihat cucunya meronta di atas ranjang, air mata wanita tua itu langsung luruh. Ia segera memeluk pundak Shanum yang bergetar hebat.
"Nduk, kamu yang sabar, Nduk... Istighfar," bisik Bu Siti dengan suara parau.
"Nek, mana bayiku, Nek? Katakan padaku dia baik-baik saja, kan! Dia cuma dipindahkan ke ruangan lain, kan?" Shanum mencengkeram lengan baju neneknya, matanya membelalak mencari kepastian.
Bu Siti hanya bisa terdiam, bahunya terguncang hebat menahan tangis yang lebih dalam. Keheningan itu menjadi jawaban yang paling menyakitkan bagi Shanum. Kecelakaan ojek itu telah merenggut segalanya, bayi yang ia pertahankan meski sang suami tega menceraikannya lewat pesan singkat dari negeri seberang sebulan yang lalu. Kini, di saat ia merasa sudah berada di titik nadir, takdir justru merampas satu-satunya alasan baginya untuk bertahan hidup.
Dua Minggu Kemudian
Matahari sore menyelinap masuk melalui celah jendela kamar yang remang. Di sudut ruangan, sebuah mesin jahit tua milik mendiang ibunya berdiri membisu. Shanum duduk bersimpuh di lantai, mendekap sepotong baju bayi perempuan berwarna merah muda dengan detail renda yang cantik, baju yang ia jahit sendiri dengan penuh cinta setiap malam.
Ia menciumi kain lembut itu, membayangkan aroma bayi yang seharusnya kini ia timang. Air matanya kembali jatuh membasahi jahitan yang ia buat dengan sisa-sisa harapan.
"Putri kecilku..." bisik Shanum lirih, suaranya nyaris hilang ditelan sepi. "Rasanya Bunda ingin sekali pergi menyusul mu, Nak. Dunia ini terlalu dingin untuk Bunda hadapi sendirian."
Ia terdiam sejenak, menoleh ke arah pintu kamar di mana terdengar langkah kaki Bu Siti yang menyeret, sesekali terdengar rintihan kecil karena penyakit jantungnya yang sering kumat. Shanum memejamkan mata erat, memeluk baju bayi itu lebih kencang ke dadanya.
"Namun, Bunda tidak bisa meninggalkan Nenek Siti seorang diri di sini. Hanya beliau yang Bunda punya, dan hanya Bunda yang beliau miliki."
Dalam kesedihan yang membiru, Shanum dipaksa untuk tetap bernapas, meski jiwanya seolah sudah ikut terkubur bersama malaikat kecilnya.
*
*
Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari saat kesunyian rumah petak itu pecah oleh suara erangan tertahan. Shanum, yang belum sepenuhnya terlelap karena masih memeluk baju bayi mungilnya, tersentak bangun. Ia mendapati Bu Siti sedang mencengkeram dada kirinya dengan wajah pucat pasi dan peluh dingin yang membasahi keningnya.
"Nek! Nenek kenapa?" suara Shanum bergetar hebat.
"Sakit, Nduk... rasanya sesak sekali," rintih Bu Siti dengan napas yang tersengal.
Tanpa pikir panjang, Shanum segera mencari bantuan. Dengan sisa tabungan yang kian menipis, ia membawa sang nenek ke Rumah Sakit Citra Medika. Di dalam taksi, pikiran Shanum berkecamuk. Esok pagi seharusnya menjadi hari pertamanya bekerja sebagai ART di sebuah rumah mewah di komplek sebelah. Ia sangat membutuhkan pekerjaan itu untuk menyambung hidup, namun kini nyawa neneknya sedang di ujung tanduk.
Di Depan Ruang IGD
Setelah pemeriksaan cepat, seorang perawat menghampiri Shanum dengan raut wajahnya yang serius.
"Mbak Shanum, kondisi Bu Siti kritis. Ada penyumbatan serius dan beliau harus segera menjalani operasi pasang ring malam ini juga. Ini rincian biayanya, mohon segera diurus ke bagian administrasi agar tindakan bisa segera dilakukan."
Shanum menerima selembar kertas itu. Angka yang tertera di sana seakan menghantam jantungnya lebih keras dari kecelakaan dua minggu yang lalu. Puluhan juta rupiah. Dari mana ia mendapatkan uang sebanyak itu dalam semalam?
Shanum terduduk lemas di bangku panjang koridor. Ia menangkupkan wajah ke telapak tangannya. "Ya Allah... kenapa cobaan Mu datang bertubi-tubi? Bayiku pergi, suamiku berkhianat, dan sekarang Nenek..." ia berbisik lirih, hampir menyerah pada takdir.
Namun, di tengah keputusasaannya, deru langkah kaki yang tegas mendekat. Seorang pria tinggi dengan jas putih dokter yang rapi lewat di depannya. Di belakangnya, beberapa asisten tampak sibuk mencatat instruksinya.
"Siapkan ruang operasi sekarang. Saya yang akan menangani pasien serangan jantung di bed nomor tiga," ucap dokter itu dengan suara bariton yang tenang namun penuh wibawa.
Ia adalah Dokter Daniel Lee, seorang spesialis jantung yang baru saja dipindahtugaskan dari salah satu rumah sakit ternama di Singapura. Kabarnya, ia adalah "si tangan dingin" yang sanggup menyelamatkan nyawa di saat-saat paling kritis sekalipun.
*
*
Sore itu, Shanum kembali ke rumah sakit dengan tubuh yang letih luar biasa setelah seharian bekerja di rumah majikan barunya. Ia beruntung sang majikan memberinya izin pulang lebih awal setelah mendengar musibah yang menimpanya.
Di lobi, ia berpapasan dengan Pak Budi, petugas keamanan rumah sakit yang sudah mengenalnya sejak lama.
"Mbak Shanum! Wajahnya kok kuyu sekali? Oh iya, beruntung sekali Bu Siti ditangani langsung oleh dokter baru itu," sapa Pak Budi ramah.
"Dokter baru, Pak?" tanya Shanum bingung.
"Lho, Mbak belum tahu? Itu Dokter Daniel Lee. Dia baru pindah dari Singapura. Bukan cuma hebat dan masuk banyak artikel kesehatan internasional, tapi beliau itu terkenal sangat dermawan. Sering sekali membantu biaya pasien yang kurang mampu kalau beliau lihat keluarganya sungguh-sungguh ingin sembuh," jelas Pak Budi antusias.
Mendengar hal itu, ada binar harapan yang kembali menyala di matanya Shanum. Ia teringat sosok dokter yang ia lihat sekilas semalam, sosok yang terlihat begitu tenang namun mematikan keputusasaan.
"Dokter Daniel Lee..." gumam Shanum. "Apakah beliau jawaban dari doa-doaku, Pak?"
Shanum segera melangkah menuju ruang rawat kelas tiga, tempat neneknya berada. Ia bertekad untuk mencari keberanian menemui Dokter Daniel. Bukan hanya untuk memohon kesembuhan neneknya, tapi juga untuk berterima kasih karena telah memberi secercah cahaya di tengah kegelapan hidupnya yang seolah tak berujung.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments
Teh Yen
hadir.thor namanya aj.daniel lee aku langsung kebayang opa opa.korea xixixi pastinya tampang banget yah
2026-05-18
1
Devita Ithoe Evie
critanya seru kak jadi penasaran lankutan critanya
2026-05-18
1
Nar Sih
hadirr kakk ,cerita dr lee dan hanum pasti seruu😍
2026-05-19
1