NovelToon NovelToon
Senyumku Untuk Anakku Dan Racun Ku Untuk Kamu

Senyumku Untuk Anakku Dan Racun Ku Untuk Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Queen_Fisya08

Fisya Alexander tak pernah menyangka rumah tangga yang ia jaga sepenuh hati justru menjadi awal kehancurannya.

Suaminya, Jason, berselingkuh dengan sahabat yang paling ia percaya namun pengkhianatan itu belum seberapa dibanding rencana keji yang mereka siapkan di ruang bersalin

Saat dua bayi perempuan lahir di hari yang sama, sebuah pertukaran terjadi, mereka yakin telah merebut segalanya dari Fisya.

Sayangnya, mereka tidak pernah sadar bahwa Fisya melihat semuanya

Sejak malam itu, senyum Fisya hanya untuk putrinya, sementara racunnya disiapkan untuk mereka yang telah menghancurkan hidupnya.

Ketika rahasia mulai terungkap, siapa yang sebenarnya sedang menjebak siapa ?

Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar dan Vote juga ya besty!🫰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiba Di Swiss

Pesawat yang membawa Fisya, Tina, dan Bik Lili akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Zurich, Swiss.

Begitu pintu pesawat dibuka, udara dingin langsung menyambut mereka.

Bik Lili menggigil sambil menggendong Tina yang masih tertidur lelap.

"Ya Allah, dingin sekali, Bu," ucap Bik Lili sambil merapatkan jaketnya.

Fisya hanya tersenyum tipis.

"Selamat datang di Swiss, Bik."

Mereka berjalan menuju pintu kedatangan.

Dari kejauhan, seorang wanita paruh baya berwajah anggun melambaikan tangan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Fisya!" Panggil Wanita itu sambil berlari kecil menghampiri mereka.

"Tante Isabel," ucap Fisya sambil tersenyum lebar.

Tanpa menunggu lagi, Isabel langsung memeluk Fisya dengan erat.

"Kamu akhirnya datang juga, Sayang." Ucap Tante Isabel

"Sudah bertahun-tahun Tante menunggumu datang lagi ke sini lagi" lanjutnya

Fisya membalas pelukan itu.

"Aku juga sangat merindukan Tante."

Air mata Isabel perlahan jatuh.

Sejak adik kandungnya, ibunya Fisya, meninggal dunia bertahun-tahun lalu, Isabel memang menganggap Fisya sebagai putrinya sendiri.

Bahkan ketika Fisya masih kecil, Isabel-lah yang mengurus dan membesarkannya selama menempuh pendidikan di Swiss.

Bagi Isabel...

Fisya bukan sekadar keponakan melainkan anak yang tidak pernah ia miliki.

Suaminya dahulu divonis mandul sehingga mereka tidak pernah dikaruniai seorang anak.

Namun hal itu tidak pernah membuat rumah tangga mereka retak.

Mereka justru mencurahkan seluruh kasih sayang kepada Fisya.

Hingga akhirnya...

Suaminya meninggal dunia karena sakit, sejak saat itu Isabel memilih hidup sendiri.

Ia menolak semua lamaran yang datang kepadanya.

Baginya...

Kasih sayangnya sudah cukup tercurah kepada Fisya.

Ia tidak ingin memulai kehidupan baru dengan orang lain.

Setelah puas melepas rindu, Isabel baru menyadari bayi kecil yang berada di pelukan Bik Lili.

Matanya langsung berbinar.

"Itu... Tina ya?"

Fisya mengangguk sambil tersenyum.

"Iya, Tante."

Isabel perlahan mendekat.

"Boleh Tante menggendongnya?"

"Tentu." Jawab Fisya dengan cepat

Bik Lili menyerahkan Tina dengan hati-hati.

Begitu Tina berada dalam pelukan Isabel...

Bayi kecil itu perlahan membuka matanya.

Mata bulatnya memandang wajah Isabel beberapa detik.

Lalu...

Tersenyum kecil.

Isabel langsung terharu.

"Ya Tuhan... Lucu sekali mirip sekali dengan kamu waktu bayi."

Fisya tertawa kecil.

"Masa sih, Tante?"

"Bukan mirip lagi ini sih, malah dah seperti kembaran kamu semasa kamu bayi dulu"

"Dulu waktu kamu seusia Tina... Pipimu juga tembam seperti ini, matamu juga sebesar ini bahkan senyumnya juga sama."

Isabel mengusap lembut pipi Tina.

"Kalau Tante tidak tahu... Pasti Tante mengira sedang menggendong Fisya kecil."

Fisya hanya tersenyum.

Melihat Tina dipeluk penuh kasih sayang membuat hatinya sedikit lebih tenang.

Mereka kemudian keluar dari bandara menuju mobil yang telah disiapkan Isabel.

Sepanjang perjalanan, Isabel terus mengajak Tina berbicara.

"Sebentar lagi kita sampai rumah, Tina akan tinggal bersama Tante, ya."

Bik Lili hanya tersenyum melihatnya.

Tidak lama kemudian...

Mobil memasuki sebuah kawasan elit yang tenang.

Rumah bergaya klasik berdiri megah di tengah taman bunga yang tertata rapi.

"Selamat datang di rumah," ucap Isabel.

Begitu masuk ke dalam rumah, beberapa asisten rumah tangga langsung menyambut mereka.

"Selamat datang, Nona Fisya."

Fisya tersenyum ramah.

Rumah itu masih sama seperti terakhir kali ia tinggalkan.

Bahkan kamar masa kecilnya masih terawat dengan baik.

Setelah semua barang diletakkan di kamar masing-masing, Isabel mengajak Fisya duduk di ruang keluarga.

Sementara Bik Lili membawa Tina ke kamar bayi yang sudah disiapkan.

Isabel menuangkan secangkir teh hangat lalu menatap Fisya dengan penuh perhatian.

"Sekarang ceritakan semuanya pada Tante"

"Kenapa kamu tiba-tiba mengirim Tina ke Swiss? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Isabel.

Wajah Fisya perlahan berubah serius, ia menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata pelan,

"Tante... semua yang selama ini Tante khawatirkan... ternyata benar."

Isabel mengernyit.

"Maksudmu... Jason?"

Fisya mengangguk pelan, kemudian ia menceritakan semuanya.

Mulai dari perselingkuhan Jason dengan Kasandra, kelahiran Tina, hingga fakta mengerikan tentang pertukaran bayi.

"Tunggu... Kasandra? Sahabat dekatmu itu?" tanya Isabel dengan mata membelalak.

Fisya hanya mengangguk lalu ia melanjutkan ceritanya tentang bagaimana Kasandra terus berusaha mendekati Tina, hingga kejadian kemarin sore saat ia memergoki Jason dan Kasandra sedang bercumbu di kamar Tina.

Tak ada satu pun kejadian yang ia sembunyikan.

Semakin lama mendengar cerita itu, wajah Isabel semakin memerah karena marah

Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Kurang ajar mereka! Tante sudah bilang sejak awal... Pria itu tidak pantas menjadi suamimu dan dulu Tante juga tidak pernah setuju kamu menikah dengannya."

"Dan Kasandra... Tante benar-benar tidak menyangka dia tega menikammu dari belakang seperti ini."

Fisya menundukkan kepala.

"Aku tahu, Tante. Aku terlalu bodoh karena tidak mengenalnya lebih dalam, saat itu yang kupikirkan hanya bagaimana menjaga nama baik keluarga Alexander setelah kejadian malam terkutuk itu."

Isabel segera menggeleng.

"Tidak, Sayang. Jangan pernah menyalahkan dirimu seperti itu."

"Tante sejak dulu sudah curiga kalau kejadian malam itu bukan sebuah kebetulan. Tante bahkan sempat berpikir semuanya sudah direncanakan."

Fisya mengangkat wajahnya.

"Maksud Tante?"

"Tante sebenarnya ingin menyelidiki apa yang benar-benar terjadi malam itu, siapa yang terlibat dan bagaimana semua itu bisa terjadi.

Tapi sebelum Tante sempat mencari tahu, alm papamu sudah memutuskan untuk segera menikahi mu dengan Jason

"Tante kehilangan kesempatan untuk mengungkap kebenarannya."

Isabel menarik napas panjang.

"Dulu, saat pertama kali bertemu Jason, Tante sudah merasa ada yang aneh, tatapannya penuh ambisi."

"Dia tidak pernah mencintaimu, Fisya."

"Dia hanya mencintai semua yang kamu miliki."

Air mata Fisya kembali mengalir.

"Maafkan aku, Tante... Aku baru menyadari semuanya sekarang."

Isabel langsung menggenggam kedua tangan keponakannya dengan erat.

"Tidak, Sayang, orang licik memang pandai memakai topeng dan tidak semua orang mampu melihat wajah asli mereka."

Sesaat kemudian Isabel berkata dengan nada lebih serius,

"Fisya, kamu harus menyelidiki kejadian malam itu."

"Cari tahu siapa yang memasukkan obat ke dalam minumanmu hingga kamu pingsan dan terbangun di kamar hotel bersama Jason."

"Tante yakin... itu bukan kebetulan."

Fisya mengangguk mantap.

"Iya, Tante. Secepatnya akan Fisya selidiki."

Beberapa saat suasana kembali hening.

"Oh ya, Tante... Aku ingin menitipkan Tina di sini." Ucap Fisya pelan

Tanpa berpikir panjang, Isabel langsung memeluk Fisya.

"Kamu tidak perlu meminta seperti itu, mulai hari ini... Tina adalah cucu Tante"

"Selama Tante masih bernapas, tidak akan ada seorang pun yang bisa mengambilnya."

Air mata Fisya kembali jatuh untuk pertama kalinya setelah sekian lama, beban yang menghimpit dadanya terasa sedikit berkurang.

Namun tak lama kemudian wajahnya kembali serius.

"Tante... aku hanya bisa tinggal disini tiga hari."

Isabel langsung menatapnya terkejut.

"Tiga hari?"

Fisya mengangguk.

"Iya. Setelah itu aku harus kembali ke Indonesia."

"Kamu sudah gila? Jason dan Kasandra bisa melakukan apa saja kepadamu." Seru Isabel

Fisya menggeleng pelan.

"Justru karena itu aku harus kembali kalau aku menghilang terlalu lama, mereka akan mulai curiga."

"Mereka harus tetap mengira Tina masih berada di Indonesia."

Isabel memejamkan mata beberapa saat.

Ia tahu... Keponakannya itu sama keras kepalanya dengan almarhum kakak iparnya

Kalau sudah mengambil keputusan... hampir tidak ada seorang pun yang mampu mengubahnya.

Akhirnya Isabel mengembuskan napas panjang.

"Baiklah tapi berjanjilah satu hal."

"Apa itu, Tante?" Jawab Fisya cepat

"Kalau keadaan mulai berbahaya... tinggalkan semuanya, pulanglah ke Swiss, di sini masih ada rumah masih ada Tante dan masih ada keluarga yang akan selalu menerimamu." Ucap Isabel

Fisya menggenggam tangan Isabel sambil tersenyum haru.

"Tenang, Tan, aku punya seseorang yang akan melindungiku."

Isabel langsung mengangkat sebelah alisnya.

"Siapa? Jangan-jangan... kamu sudah punya pacar lagi?" tanyanya dengan nada penasaran.

Fisya tertawa kecil.

"Bukan pacar, Tante, dia hanya orang kepercayaanku, orang yang selalu menolong ku dan membantuku"

Isabel tersenyum penuh arti.

"Wah... Tante jadi penasaran."

"Nanti kalau ada kesempatan, kenalkan dia pada Tante, ya."

Fisya mengangguk sambil tersenyum.

"Pasti, Tante."

"Ya sudah sekarang kamu istirahat dulu sana di kamar, kamu pasti capek di perjalanan" Ucap Isabel

Fisya mengangguk dan menurut apa yang di ucapkan Isabel

Ia pun naik keatas menuju kamarnya untuk beristirahat lalu ia teringat ucapan Tantenya barusan

*"Fisya, kamu harus menyelidiki kejadian malam itu, cari tahu siapa yang memasukkan obat ke dalam minumanmu hingga kamu pingsan dan terbangun di kamar hotel bersama Jason."*

*"Tante yakin... itu bukan suatu kebetulan."*

Fisya mengingat semuanya kejadian malam itu dipesta perayaan ulang tahun Kasandra

"Apakah itu semua ulah Kasandra yang menjebakku" Fisya menutup mulutnya

"Kalau itu benar, tidak akan aku maafkan" ucap Fisya sambil mengepalkan kedua tangannya

1
Anisa Nur Afifah
balikk lgii buatt bacaa😍
Anisa Nur Afifah
bagusss kakkk
Queen_Fisya08: terima kasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!