Xu Ming adalah pemuda biasa dari Bumi yang sangat menggemari novel dan komik kultivasi. Suatu hari, keinginannya untuk menjadi tokoh utama benar-benar terkabul. Ia tiba-tiba terbangun di Dunia Tianxuan dan memperoleh Sistem Pembimbing Kultivasi. Namun, alih-alih menjalani petualangan besar, ia justru dipaksa berlatih pedang, berkebun, memasak, melukis, memainkan qin, menulis kaligrafi, hingga melakukan berbagai pekerjaan sederhana selama sepuluh tahun.
Saat Xu Ming mengira perjalanan sebagai seorang kultivator baru akan dimulai, sistem justru menghilang setelah menyatakan bahwa tutorial telah selesai.
Menganggap dirinya masih seorang mortal yang lemah, Xu Ming memilih tinggal di Desa Qinghe dan menjalani hidup tenang. Tanpa ia sadari, seluruh latihan itu telah membuatnya melampaui semua tingkatan kultivasi. Sementara Xu Ming terus meragukan kekuatannya, seluruh dunia justru memanggilnya Senior, menganggapnya sebagai pertapa agung yang menyembunyikan identitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 — Mimpi Seorang Pembaca Novel Kultivasi
"Kalau aku yang jadi tokoh utama, pasti ceritanya lebih seru."
Kalimat itu sudah menjadi kebiasaan Xu Ming setiap kali selesai membaca novel kultivasi.
Di sebuah kamar kontrakan sederhana yang hanya berisi kasur tipis, meja kecil, kipas angin tua, dan rak penuh novel serta komik, seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun sedang tengkurap di atas kasurnya sambil memegang ponsel.
Layar ponsel itu menampilkan bab terakhir dari sebuah novel kultivasi yang baru saja ia tamatkan.
"Yah... tamat lagi."
Xu Ming menghela napas panjang sebelum meletakkan ponselnya di atas bantal.
Sebagai seorang pegawai kantoran biasa, hidupnya nyaris tidak pernah berubah. Pagi berangkat bekerja, sore pulang, malam membaca novel atau komik hingga tertidur.
Banyak orang menghabiskan uang untuk nongkrong atau liburan.
Xu Ming berbeda.
Jika ada uang lebih, ia akan membeli makanan favoritnya, lalu mencari novel kultivasi terbaru untuk dibaca.
Dari sekian banyak genre yang pernah ia coba, hanya kultivasi yang selalu berhasil membuatnya bersemangat.
Ia menyukai dunia yang dipenuhi sekte, teknik rahasia, harta karun surgawi, dan para ahli yang mampu membelah gunung dengan satu ayunan pedang.
Yang paling ia sukai tentu saja...
Sistem.
"Ding! Selamat mendapatkan Teknik Dewa."
"Ding! Selamat memperoleh Tubuh Abadi."
"Ding! Selamat mendapatkan hadiah."
Setiap kali membaca bagian seperti itu, Xu Ming selalu tersenyum lebar.
"Enak banget hidup tokoh utama."
Ia memutar tubuhnya lalu menatap langit-langit kamar.
"Coba saja aku bisa pindah ke dunia seperti itu."
"Aku juga tidak minta jadi yang paling kuat."
"Cukup kasih satu sistem saja."
"Nanti sisanya aku yang usaha."
Membayangkan dirinya menjadi seorang kultivator membuat Xu Ming tertawa sendiri.
Kalau dipikir-pikir, kehidupannya di Bumi memang biasa saja.
Tidak punya bakat istimewa.
Bukan anak orang kaya.
Prestasi juga biasa.
Bahkan saat sekolah dulu, nilainya selalu berada di tengah-tengah.
"Kalau benar ada dunia kultivasi..."
"Aku pasti lebih semangat hidup."
Ia menutup mata sambil membayangkan dirinya mengenakan jubah putih, berdiri di atas pedang terbang, dikelilingi awan.
"Xu Ming Senior!"
"Senior, tolong selamatkan sekte kami!"
"Senior, ini putri kami..."
"Hehehe..."
Belum sempat lamunannya berlanjut, suara notifikasi ponsel berbunyi.
Ting!
Xu Ming membuka mata.
Ternyata grup pertemanan lamanya sedang ramai.
Salah satu temannya mengirim pesan.
"Bro, besok lembur lagi, jangan telat."
Senyum Xu Ming langsung menghilang.
"..."
"Realitas memang kejam."
Ia menghela napas pasrah.
"Kalau benar ada dewa..."
"Tolong pindahkan aku ke dunia kultivasi saja."
"Tidak usah kaya."
"Tidak usah tampan."
"Asal jangan lembur lagi."
Setelah mengucapkan itu, Xu Ming tertawa kecil.
Mana mungkin keinginan konyol seperti itu terkabul?
Ia mematikan lampu kamar.
Ruangan langsung gelap.
Suara kipas angin tua terus berputar pelan.
Xu Ming menarik selimut hingga menutupi dada.
"Mudah-mudahan besok tidak lembur..."
Perlahan, matanya mulai terasa berat.
Kesadarannya semakin kabur.
Entah berapa lama berlalu.
Xu Ming merasa tubuhnya sangat ringan.
Seolah-olah ia sedang melayang.
"Aneh..."
"Aku mimpi, ya?"
Ia mencoba membuka mata.
Yang terlihat bukan lagi langit-langit kamar kontrakannya.
Melainkan atap kayu yang tampak tua.
"..."
Xu Ming berkedip beberapa kali.
"Hah?"
Ia langsung duduk.
Ruangan yang ia tempati benar-benar asing.
Dindingnya terbuat dari kayu.
Di sudut ruangan terdapat kapak, cangkul, dan keranjang bambu.
Sebuah meja kayu sederhana berdiri di dekat jendela.
Tidak ada kipas angin.
Tidak ada lampu.
Tidak ada colokan listrik.
"..."
Xu Ming memijat pelipisnya.
"Aku masih mimpi?"
Ia mencubit pipinya.
"Aduh!"
Sakit.
"Sakit berarti..."
"Bukan mimpi?"
Xu Ming buru-buru membuka pintu rumah.
Begitu pintu terbuka, ia membeku.
Di hadapannya terbentang sebuah desa kecil yang dikelilingi pegunungan hijau.
Asap tipis mengepul dari cerobong rumah-rumah kayu.
Beberapa petani sedang bekerja di sawah.
Anak-anak berlari sambil tertawa.
Seekor sapi melintas dengan santai.
Udara yang sejuk membuat Xu Ming tanpa sadar menarik napas panjang.
"Segar sekali..."
Namun beberapa detik kemudian, wajahnya berubah.
"Tunggu dulu."
"Ini di mana?"
Ia melihat ke kiri.
Lalu ke kanan.
Tidak ada jalan beraspal.
Tidak ada tiang listrik.
Tidak ada kendaraan.
Semuanya terasa seperti desa kuno.
Xu Ming menelan ludah.
"Jangan-jangan..."
"Ini..."
"Dunia lain?"
Jantungnya mulai berdebar.
Ia menoleh ke arah pegunungan.
Lalu melihat pakaian yang dikenakannya.
Bukan lagi kaus oblong dan celana pendek.
Melainkan pakaian kain sederhana berwarna abu-abu.
Xu Ming semakin bingung.
"Ini benar-benar bukan Bumi."
Saat itu juga, seorang kakek lewat sambil memikul kayu bakar.
Melihat Xu Ming berdiri mematung, kakek itu tersenyum ramah.
"Pagi, Ming."
Xu Ming spontan menjawab.
"P-pagi..."
Kakek itu lalu melanjutkan langkahnya seolah tidak ada yang aneh.
Xu Ming menggaruk kepala.
"Beliau kenal aku?"
"Tapi aku tidak kenal beliau."
Belum sempat ia berpikir lebih jauh...
Tiba-tiba...
Ding!
Suara mekanis yang sangat jelas terdengar di dalam kepalanya.
Xu Ming membelalakkan mata.
"Tidak mungkin..."
Suara itu kembali terdengar.
Ding!
Mendeteksi tuan rumah berhasil berpindah ke Dunia Tianxuan.
Tubuh Xu Ming langsung menegang.
"Tunggu..."
"Jangan bilang..."
Persyaratan terpenuhi.
Sistem Pembimbing Kultivasi sedang diaktifkan...
Xu Ming menutup mulutnya.
Matanya mulai berbinar.
Dadanya berdebar semakin cepat.
Ia hampir melompat kegirangan.
"A-Aku tahu!"
"Aku benar-benar jadi tokoh utama!"
Air mata haru bahkan hampir keluar dari matanya.
Setelah bertahun-tahun membaca novel kultivasi...
Hari ini...
Gilirannya akhirnya tiba.
Xu Ming mengepalkan kedua tangannya.
"Ayo!"
"Berikan aku teknik dewa!"
"Atau tubuh suci!"
"Atau pedang legendaris!"
"Aku siap!"
Suara sistem kembali terdengar.
Sistem berhasil diaktifkan.
Selamat datang, Tuan Rumah.
Xu Ming tersenyum lebar.
"Ya! Akhirnya!"
Namun...
Kalimat berikutnya membuat senyumnya perlahan membeku.
Misi Pemula telah dibuat.
Silakan menuju sungai di sebelah timur desa.
Ambil air sebanyak dua puluh ember.
Hadiah: Tidak ada.
Xu Ming terdiam.
"..."
Ia berkedip pelan.
"...Hah?"
Bersambung...