"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."
Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.
Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.
kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.
Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Air Mata dan Tatapan Dingin.
***
Keesokan pagi harinya...
pukul setengah delapan pagi, langit di atas pemakaman umum San Diego Hills tampak mendung, seolah ikut berduka atas tragedi yang menimpa keluarga Hendrawan.
Angin bertiup cukup kencang, menggugurkan dedaunan kering di atas tanah merah yang baru saja digali. Dua liang lahat terletak berdampingan, siap menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi sepasang suami istri yang pergi begitu cepat.
Freya berdiri di tepi liang lahat dengan tubuh yang masih sangat lemas. Langkah kakinya goyah, disangga sepenuhnya oleh Kirana—ibu kandung Galen.
Wanita yang berhati lembut itu terus memeluk erat bahu mungil Freya, mengusapnya dengan penuh kasih sayang.
Kirana tidak bisa menahan air matanya sendiri melihat anak perempuan sekecil Freya harus melepas kedua orang tuanya sekaligus.
"Mama... Papa... jangan tinggalin Freya..." Isakan Freya terdengar begitu serak dan menyayat hati saat kedua peti jenazah perlahan diturunkan ke dalam tanah.
Jemari mungilnya mencengkeram kuat pakaian hitam yang dikenakan Kirana. Matanya yang bengkak dan merah menatap kosong ke bawah.
"Tante... suruh mereka berhenti. Jangan ditutup tanah... nanti Papa dan Mama tidak bisa bernapas... Freya mohon, Tante..."
Kirana semakin erat memeluk Freya, menyembunyikan wajah anak itu di dadanya agar tidak melihat proses pengurukan tanah.
"Sabar, Sayang... Sabar, Nak. Mama dan Papa sudah tenang di surga. Ada Tante di sini, ya? Freya tidak sendirian..."
"Tapi Freya maunya Mama dan Papa, Tante! Freya tidak mau surga kalau tidak ada mereka!" raung Freya lagi.
Tangisnya kembali pecah dengan brutal. Suara tangisan anak sebelas tahun itu begitu memilukan, membuat beberapa pelayat yang hadir—sebagian besar adalah kolega bisnis—turut menyeka air mata mereka.
Beberapa berbisik kasihan, meratapi nasib sang ahli waris tunggal yang kini sebatang kara.
Di sudut lain, agak menjauh dari kerumunan pelayat, berdiri Galen Danendra.
Pemuda tersebut tampil sangat rapi namun misterius dengan setelan kemeja hitam, celana kain hitam, dan sepasang kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.
Kedua tangannya terlipat di depan dada. Dari balik lensa gelap kacamata itu, mata elangnya menatap lurus ke arah Freya dengan pandangan yang sedingin es.
Tidak ada setitik pun rasa iba di wajah tampannya. Justru sebaliknya, rahang Galen tampak mengeras. Setiap kali lengkingan tangis Freya membelah kesunyian makam, sudut bibir Galen berkedut menahan rasa jengkel yang amat sangat.
"Berisik. Menyebalkan. Lemah". Batin Galen mencemooh.
Bagi Galen yang sejak kecil dididik dengan keras oleh dunia bisnis untuk menjadi sosok yang rasional dan tak tersentuh, air mata adalah simbol kelemahan paling mutlak.
Baginya, menangis berjam-jam tidak akan mengubah takdir atau menggali kembali tanah yang sudah menimbun peti-peti itu.
Ia merasa muak berada di tempat ini, menyaksikan drama emosional yang menurutnya hanya membuang-buang waktu berharganya.
"Galen". Suara berat Baskoro mengejutkannya. Sang ayah berjalan mendekat setelah menaburkan bunga terakhir di atas makam sahabatnya. "Setelah ini, kita bawa Freya pulang lagi ke rumah kita. Dan Mulai hari ini, dia adalah adikmu. Jaga dia dengan baik jika nanti Papa sama Mamamu sedang ke luar kota."
Galen menoleh lambat, menatap ayahnya dari balik kacamata hitam. "Aku tidak punya waktu untuk menjadi pengasuh anak kecil untuknya, Pah. Urusan proyekku jauh lebih penting daripada mendengarkan anak itu merengek sepanjang hari."
"Galen! Jaga bicaramu! Ini pemakaman sahabat Papa!". Tegur Baskoro dengan nada berbisik namun penuh penekanan. "Hendrawan sudah menyelamatkan perusahaan kita dulu. Merawat Freya adalah utang budi sekaligus janji Papa pada mendiang. Kau harus menerimanya."
Galen hanya mendengus tipis, hampir tak kentara. Ia melirik jam tangan mewah di pergelangan tangannya.
"Utang budi Papa, bukan utang budiku". Gumamnya sangat pelan, memastikan sang ayah tidak mendengarnya.
Prosesi pemakaman baru saja selesai, para pelayat mulai berpamitan satu per satu. Beberapa kolega sempat menghampiri Baskoro dan Galen, memberikan ucapan belasungkawa formal yang hanya dibalas anggukan kaku oleh Galen.
Pikirannya sudah melesat jauh ke dokumen-dokumen rapat yang menumpuk di mejanya.
Di sana, Freya masih bersimpuh di atas gundukan tanah merah yang bertabur bunga, menangis sejadi-jadinya sambil memeluk nisan kayu bertuliskan nama ibunya. Gaun hitamnya kini kotor penuh noda tanah.
"Freya sayang, ayo kita pulang dulu, Nak. Sudah siang, nanti kamu sakit lagi". Bujuk Kirana lembut, mencoba menuntun Freya untuk berdiri.
"Tidak mau, Tante! Freya mau tidur di sini bersama Mama dan Papa! Biarkan Freya di sini!". Freya meronta lemah, jemarinya yang kotor terkena tanah merah mencengkeram rumput di sekitar makam dengan erat.
"Freya, dengarkan Tante, sayang..." Kirana mulai terisak, tidak tega memaksa anak itu.
Melihat pemandangan itu, rasa sabar Galen benar-benar habis. Langkah kakinya yang panjang berderap mendekat, membelah jarak antara dirinya dan kerumunan kecil yang tersisa.
Kehadirannya yang intimidatif membuat Kirana mendongak kaget.
"Galen, bantu Mama bujuk Freya—"
"Berdiri". Potong Galen, suaranya terdengar dingin dan mutlak, memotong kalimat ibunya.
Freya yang masih terisak tidak mendengarkan. Ia justru semakin menenggelamkan wajahnya di atas tanah makam yang basah oleh air matanya sendiri.
Galen berdecak jengkel. Ia membungkuk, lalu tanpa aba-aba mencengkeram lengan atas Freya dengan cukup kuat, memaksanya berdiri.
"Aku bilang berdiri. Jangan bertingkah konyol dan membuang waktu semua orang di sini."
"Galen! Jangan kasar pada Freya!". Pekik Kirana terkejut, mencoba melepaskan tangan putranya.
Freya mendongak dengan wajah yang kacau. Air mata, keringat, dan tanah merah bercampur di pipinya.
"Lepaskan! Aku mau sama Mama dan Papa! Kakak jahat! Lepas!". Freya memukul-mukul dada Galen dengan kepalan tangan mungilnya yang tak bertenaga.
Bagi Galen, pukulan itu tak lebih dari gigitan semut, namun histeria Freya merusak harga dirinya. Galen melepaskan cengkeramannya dengan sentakan pelan yang membuat Freya agak terhuyung ke pelukan Kirana.
"Jika kau ingin mati kelaparan di atas makam ini, silakan. Tapi jangan susahkan orang tuaku". Ucap Galen tanpa perasaan.
Ia tidak sudi berlama-lama di bawah terik matahari hanya untuk menunggu seorang anak kecil menyelesaikan aksi mogoknya.
Tanpa pamit kepada ayah atau ibunya, Galen membalikkan badannya dengan cepat. Langkah kakinya yang lebar dan tegap melangkah meninggalkan area pemakaman menuju mobil sport miliknya yang terparkir di luar gerbang.
"Galen! Mau ke mana kamu?!". Seru Baskoro menoleh dengan amarah yang tertahan, namun putranya itu sama sekali tidak menoleh ke belakang.
Galen membuka pintu mobilnya, masuk ke dalam, dan membanting pintu dengan cukup keras.
Pria tersebut melepas kacamata hitamnya, melemparkannya ke atas dasbor dengan perasaan dongkol.
Melalui kaca spion, ia bisa melihat dari kejauhan ibunya akhirnya berhasil membopong Freya yang tampaknya mulai kehabisan energi dan hampir pingsan.
"Sialan. Hidupku benar-benar akan berantakan karena anak kecil itu". Gumam Galen dingin sembari menyalakan mesin mobilnya yang menderu keras.
Pria itu langsung menginjak pedal gas, melesat pergi meninggalkan area pemakaman dan pulang terlebih dahulu.
Ia memilih kembali ke dunianya yang dingin, kaku, dan penuh perhitungan, mengabaikan takdir yang sebenarnya baru saja resmi mengikat hidupnya dengan gadis kecil yang sangat ia benci tangisannya itu.
***
Satu jam kemudian...
Tepat pukul sembilan pagi, mobil mewah milik Baskoro memasuki pekarangan mansion keluarga Danendra. Rumah megah berarsitektur modern itu terasa sunyi.
Kirana keluar dari mobil dengan perlahan, menggendong tubuh kurus Freya yang tertidur dan terkulai lemas karena kelelahan menangis.
Baskoro berjalan di sampingnya dengan wajah yang sarat akan beban pikiran.
Saat mereka melintasi ruang tamu, mereka melihat Galen sudah duduk santai di sofa panjang. Kemeja hitamnya sudah diganti dengan kaus santai, dan sebuah laptop menyala di pangkuannya.
Ia bahkan sedang menyesap kopi hitam seolah-olah tidak terjadi apa-apa beberapa jam lalu.
Baskoro menghentikan langkahnya, menatap putranya dengan pandangan tajam.
"Kamu tidak punya empati sama sekali, Galen. Di mana hatimu? Kau meninggalkan kami begitu saja di pemakaman."
Galen tidak mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Jemarinya masih lincah mengetik. "Aku punya jadwal pertemuan virtual dengan investor Surabaya tiga puluh menit lagi, Pa. Aku sudah katakan, pekerjaanku tidak bisa menunggu anak kecil itu selesai menangis."
"Dia punya nama, Galen! Namanya Freya!". Bentak Baskoro, kehilangan kesabaran.
Suara bentakan itu membuat Freya yang berada di gendongan Kirana sedikit melenguh, bergerak gelisah dalam tidurnya yang tidak nyenyak.
"Pa, sudah. Jangan ribut disini, kasihan Freya sedang tidur". Bisik Kirana menenangkan suaminya. Wanita itu kemudian menatap Galen dengan pandangan kecewa yang mendalam.
"Mama kecewa dengan sikapmu hari ini, Galen. Suatu hari, kamu akan tahu rasanya kehilangan, dan Mama harap saat itu tidak ada orang yang memperlakukanmu sedingin kamu memperlakukan Freya hari ini."
Kirana kemudian melangkah pergi, membawa Freya menuju kamar tamu yang berada di lantai bawah
Baskoro memberikan tatapan peringatan terakhir pada Galen sebelum menyusul istrinya.
Setelah kedua orang tuanya pergi, keheningan kembali menguasai ruangan. Galen menghentikan gerakan jemarinya di atas papan ketik.
Perkataan ibunya barusan entah mengapa menyisakan sedikit rasa tidak nyaman di dadanya. Namun, ego dan logikanya dengan cepat menepis perasaan itu.
Galen melirik ke arah lorong, tempat ibunya tadi membawa Freya ke kamar tamu.
"Keluarga ini bukan tempat penampungan anak yatim". Gumam Galen pada dirinya sendiri, suaranya berbisik tajam di tengah kesunyian rumah. "Kita lihat, berapa lama kau bisa bertahan dirumah ini, Freya."
Dengan perasaan acuh tak acuh, Galen kembali memfokuskan matanya pada layar laptop, melanjutkan pekerjaannya dan menutup rapat hati nuraninya dari kehadiran anggota baru di rumah tersebut.
***