NovelToon NovelToon
Konslet

Konslet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:236
Nilai: 5
Nama Author: Heriawan

Namaku Jefri Andalas Sinaga. Orang rumah memanggilku Jepot, pelanggan yang marah memanggilku bodat, dan satu kota kecil di internet memanggilku Bang Jepot sambil tertawa. Semua bermula ketika aku berkata “aman, bah” di pesta pernikahan, lalu satu gedung gelap sebelum kalimatku selesai.
Setelah kehilangan pekerjaan, aku pulang ke bengkel Bapak yang nyaris tutup. Bersama Liza Cemberut, Deli Patah, Bibir Ember, Tia Cekrek, dan orang-orang yang lebih bising daripada mesin gerinda, aku membuka jasa Konslet Medan. Setiap kerusakan ternyata tersambung ke gengsi, utang, pertengkaran keluarga, konten viral, atau rahasia yang tak seharusnya kusentuh.
Ketika serangkaian korsleting mengarah pada sambungan ilegal yang dapat membakar satu kawasan, lelucon tidak lagi cukup untuk melindungi siapa pun. Aku harus memilih diam demi usaha atau membuka sistem yang juga menyeret dosa lama keluargaku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PESTA YANG TERLALU TERANG

Delapan bulan sebelumnya, aku masih punya seragam perusahaan, kartu identitas yang tergantung di dada, dan keyakinan bahwa semua aturan dibuat untuk orang yang tidak cukup pintar mencari jalan singkat.

CV Cahaya Indah menugaskanku ke pesta pernikahan sepupuku di sebuah gedung serbaguna dekat Jalan Halat. Secara resmi aku datang sebagai teknisi lapangan. Secara tidak resmi, Mak Mina sudah memberi tahu seluruh keluarga bahwa aku “orang listrik” dan karena itu harus bisa membereskan apa pun yang memakai kabel, termasuk blender katering dan lampu hias berbentuk angsa.

Gedung itu sudah terang sejak sore. Terlalu terang, malah. Pelaminan dipenuhi lampu kecil berwarna emas. Dua pendingin ruangan tambahan dipasang di sisi kiri. Organ tunggal membawa pengeras suara yang ukurannya seperti lemari dua pintu. Di dekat pintu masuk, seorang penyedia dekorasi menyalakan mesin kabut untuk membuat pengantin terlihat turun dari awan.

Masalahnya, tidak seorang pun merasa perlu menghitung daya.

Aku berdiri di depan panel cabang bersama Rinso, rekan kerjaku. Seragamnya masih rapi walau kami sudah mengangkat kabel sejak siang. Seragamku sudah terbuka dua kancing dan memiliki noda kuah kari dari makan sore.

Rinso membaca angka pada clamp meter. “Beban jalur kiri sudah tinggi.”

“Masih hidup, kan?”

“Sekarang.”

“Berarti tinggi, bukan mati.”

Ia menatapku seperti dokter melihat pasien yang menolak percaya hasil rontgen. “Itu bukan ukuran aman.”

Dari aula terdengar suara panitia memanggil teknisi. Lampu dekorasi di sisi pelaminan berkedip tiga kali. Seorang tante berlari ke arah kami sambil membawa kipas tangan.

“Jefri, lampu bunga sebelah kanan mati. Nanti di foto nampak pincang.”

“Bukan jalur kami, Tante. Tunggu teknisi gedung.”

“Teknisi gedung entah di mana. Kau kan sekolah listrik.”

“Aku kerja listrik, Tante.”

“Lebih bagus lagi. Cepatlah.”

Bos kami, Pak Gunawan, muncul dari balik tumpukan kotak kabel. Ia mengangkat telapak tangan sebelum aku menjawab.

“Jangan ubah sambungan gedung,” katanya. “Teknisi gedung sedang dihubungi. Kita hanya bertanggung jawab pada jalur peralatan yang kita pasang.”

“Tapi pesta mulai setengah jam lagi.”

“Makanya jangan tambah masalah.”

Pak Gunawan pergi untuk memeriksa genset cadangan. Rinso kembali menulis angka pada lembar pemeriksaan. Ia bahkan memakai papan alas tulis, seolah kami sedang audit nasional, bukan mengurus pesta yang panitianya baru sadar stopkontak tidak tumbuh sendiri dari dinding.

Fadli muncul membawa dua gelas kopi dan satu piring mi goreng. Ia bukan bagian tim teknis. Ia datang sebagai teman keluarga, tetapi sejak siang sudah lebih sering berada di area kerja karena katanya di sana makanan lebih cepat sampai.

“Lek,” katanya kepadaku, “biasanya kau punya lelucon. Wajahmu cem orang baru tahu utang warung ada bunganya.”

“Aku sedang berpikir.”

“Bahaya kali.”

Rinso menerima satu gelas kopi tanpa mengalihkan pandangan dari meter. “Kalau dia berpikir, biasanya orang lain yang membayar.”

“Aku dengar itu.”

“Memang untuk didengar.”

Di dekat pelaminan, sepupuku sempat menangkap lenganku. Wajahnya sudah tertutup riasan, tetapi kepanikannya tidak bisa disamarkan.

“Bang, jangan sampai mati lampu, ya.”

Kalimat itu sederhana. Namun, di dalam kepalaku berubah menjadi perintah untuk membuktikan bahwa aku berguna. Aku menepuk bahunya dan berkata, “Tenang. Selama aku di sini, lampu ini tidak akan mati.”

Rinso mendengar dari belakang.

Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya memandangku, lalu memandang panel, seperti seseorang yang baru melihat dua kecelakaan berdiri bersebelahan.

Lampu bunga di pelaminan padam lagi. Tante tadi berteriak dari jauh sambil menunjuk-nunjuk. Di belakangnya, pengantin perempuan sedang dirias ulang karena keringat. Pendingin tambahan belum boleh dimatikan. Penyedia organ tunggal meminta satu stopkontak lagi untuk lampu panggung. Kru dokumentasi datang membawa dua lampu sorot. Mesin kabut masih menyembur setiap beberapa menit seperti naga masuk angin.

Aku menatap panel. Jalur utama gedung masih punya ruang sedikit. Sedikit sekali, memang, tetapi ruang tetap ruang.

“Kalau kita tarik satu jalur darurat dari panel servis, lampu dekorasi bisa hidup,” kataku.

Rinso menutup papan tulisnya. “Tidak.”

“Aku belum selesai.”

“Aku sudah tahu akhir kalimatmu.”

“Pala susah kali. Sambung sikit, hidup semua.”

“Ukuran kabel yang ada tidak cukup untuk beban tambahan.”

“Lampu bunga itu kecil.”

“Lampu bunga, dua sorot dokumentasi, dan entah apa lagi yang akan mereka colok setelah kau bilang boleh.”

Aku membuka kotak alat dan mengambil gulungan kabel. “Kita pasang sementara. Setelah acara mulai, beban bisa dibagi.”

“Dibagi ke mana?”

“Nanti kita lihat.”

“Itu bukan rencana.”

“Itu fleksibilitas.”

Fadli menyesap kopi. “Aku tidak paham listrik, tapi kalau orang bilang ‘nanti kita lihat’, biasanya motorku pulang didorong.”

Aku mengabaikannya. Harga diriku sudah terlanjur berdiri di tengah aula bersama semua saudara yang yakin aku bisa menyelamatkan pesta. Menunggu teknisi gedung terasa seperti mengakui bahwa kartu identitasku hanya hiasan dada.

Rinso berdiri di depanku. “Pak Gunawan sudah melarang.”

“Pak Gunawan tidak lihat keadaan.”

“Dia lihat. Makanya dia melarang.”

“Geser, lek.”

Ia tidak bergeser. Kami saling tatap beberapa detik. Rinso lebih tinggi sedikit, tetapi aku lebih keras kepala banyak.

Dari aula, Mak Mina berteriak, “Jefri! Jangan buat malu keluarga. Lampu itu dari tadi mati!”

Kalimat pertama dan kedua ibuku sering tidak bekerja sama.

Aku mengangkat gulungan kabel. “Dengar sendiri. Ini darurat keluarga.”

“Listrik tidak kenal hubungan keluarga,” kata Rinso.

“Kalau listrik kenal tagihan, pasti kenal keluarga.”

Fadli berbisik, “Itu leluconmu sudah kembali.”

Aku menatap mesin kabut yang baru saja menyemburkan asap tebal ke pelaminan. “Kali ini jangan kasih aku alasan.”

Kami menarik kabel melalui sisi panggung. Aku memilih jalur tercepat, melewati belakang tirai dan mengikatnya pada rangka dekorasi. Rinso tetap ikut, bukan karena setuju, melainkan karena ia tahu meninggalkanku sendirian akan membuat laporan kecelakaan lebih panjang.

“Jangan sambungkan dulu,” katanya. “Kita ukur lagi.”

“Sudah kuhitung.”

“Kau menghitung dengan apa?”

“Pengalaman.”

“Pengalamanmu tidak punya angka.”

Aku menghubungkan ujung kabel ke terminal cabang. Lampu bunga menyala. Tanteku bertepuk tangan seolah aku baru mengembalikan matahari. Kru dokumentasi langsung menancapkan lampu sorot tambahan tanpa bertanya. Penyedia organ tunggal melihat stopkontak kosong dan ikut menyambungkan kipas amplifier.

Rinso menunjuk meter. Angkanya naik.

“Cabut sorot itu,” katanya.

“Nanti foto gelap.”

“Lebih baik foto gelap daripada satu gedung gelap.”

Musik pembuka dimulai. Pintu utama dibuka. Pengantin berjalan masuk diiringi tepuk tangan, kabut, dan cahaya emas yang memang tampak bagus sekali. Aku berdiri di samping panel dengan dada mengembang.

“Nampak?” kataku. “Aman, bah.”

Pengantin menaiki pelaminan. Kedua keluarga berdiri untuk menyambut. Pada saat yang sama, mesin kabut menyala, pendingin menarik daya, dan lampu sorot berpindah ke mode penuh.

Dari dalam panel terdengar bunyi keras, pendek, seperti pistol mainan ditembakkan tepat di dekat telingaku.

Tak.

1
Kustri
ini cerita ttg apa thor✌
Kustri
mau ketawa takut karma🫣
Kustri
penasaran ama bang J✌(lbh keren)
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!