Spin-of Baby's breath untuk Aretha
Arlo dan Queena sudah bersahabat sejak kecil, sebenarnya di bilang sahabat juga bukan atau lebih tepatnya musuh bebuyutan. Lebih pada Queena adalah sasaran empuk kejahilan dan kenakalan Arlo, si cantik putri dari pasangan Rega dan Rhea tersebut sudah menjadi target keusilan putra Hana dan Leo sedari Queena masih bayi.
“Apa? Mi-mom jangan bercanda, ya!” Arlo terkejut saat mi-mom Hana memberikan usulan untuk menikahkan Arlo dan Queena diusia mereka yang masih muda.
Arlo mengusak rambutnya frustasi, kecerobohannya memanjat balkon kamar Queena membuatnya terjebak dalam situasi yang membuat kedua orang tuanya dan orang tua Queena murka. Dan satu-satunya orang yang harus di salahkan adalah kakak sepupu Arlo yang tidak lain adalag Gavin.
Lalu apa alasan Arlo dan Queena menyembunyikan pernikahan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20 # Harus lebih tampan dari papa
Sepanjang perjalanan pulang, papa Rega banyak berpikir. Terlebih setelah melihat putrinya dengan kedua pemuda tadi, papa Rega punya kekhawatiran tersendiri. Meskipun papa Rega yakin kalau putrinya bisa mengatasi kedua pemuda tersebut, tetap saja Queena adalah putri kecil yang harus dia lindungi.
Apa aku bisa berharap pada Arlo? Tapi ucapan Hana juga ada benarnya. Dilemma mulai menyerang papa Rega.
Queena melirik sekilas papa Rega yang sedang fokus menyetir, dia takut untuk memulai pembicaraan. Karena papa Rega dari tadi hanya diam, Queena bahkan tidak berani memainkan gawainya. Dia hanya memandang lurus kearah jalanan yang ada di depannya.
Apa papa masih marah, ya? Queena menghela napas.
Papa Rega melirik kearah putrinya, dia kembali menepuk lembut puncak kepala Queena.
“Papa marah sama Ueena?” sorot matanya sendu menatap sang papa.
Papa Rega terkekeh mendengar pertanyaan putrinya tersebut. “Memang papa terlihat sedang marah?” balik papa Rega bertanya.
Queena menggeleng. “Tapi tidak biasanya papa diam,” jawab Queena.
Papa Rega tersenyum. “Maaf, sayang. Papa sedang memikirkan sesuatu,” ucap papa Rega. “Siapa dua pemuda tadi?” lanjut papa Rega bertanya, dia mengalihkan pembicaraan. Papa Rega tidak ingin putrinya tahu tentang kegelisahan yang sedang dia rasakan saat itu.
“Kak Bagas sama Andreas. Teman satu Fakultas tapi beda minat fokus,” jawab Queena. “Mereka itu … entah dari mana munculnya, setiap kali Ueena dari laboratorium pasti ketemu mereka. Ada di mana-mana,” gerutu Queena.
“Karena mereka suka Ueena, Bagas dan Andreas sedang berusaha mendapatkan hatimu. Ueena tertarik dengan salah satunya?” tanya papa Rega.
Queena langsung memberengut. “Huff … mereka bikin pusing, mending main sama anak-anakku. Lebih asik main sama mereka,” gerutu Queena.
Papa Rega mengerutkan dahinya. “Anak? Anak siapa?” bingung papa Rega.
Queena menggaruk keningnya. “Hehe … anak-anak kultur bakteri sama virus, pa.”
Papa Rega tertawa ringan. “Masa iya satu Fakultas tidak ada yang bsia menarik perhatian anak cantik papa ini, hmm?” papa Rega menoel dagu putrinya.
“Tidak ada yang sekeren papa,” celetuk Queena. “Paling tidak harus keren dan tampan seperti papaku. Kalau tidak … harus lebih ganteng dari papa,” imbuhnya.
Papa Rega tertawa. “Papa kamu ini hanya satu, sayang. Tidak ada yang mirip, karena papa hanya untuk mama Rhea.”
“Si bucin mama,” Queena meledek papa Rega.
“Papa memang bucin sama mama kalian,” jawab Papa Rega. “Calon kakak nanti harus papa seleksi dulu ini,”
Queena mengangguk. “Harus yang paling keren dari papa,”
Suasana di dalam mobil akhirnya mencair, papa Rega jadi lebih santai dari pada tadi. Mereka juga sempat mampir untuk membeli beberapa camilan, mereka sampai rumah saat senja mulai terlihat di ufuk timur.
***
Malam kian larut, udara yang berhembus mulai menusuk tulang. Papa Rega berdiri memandangi langit malam, dia menyandarkan tubuhnya pada pintu balkon kamar.
“Coklat hangat untuk menghangatkan hati dan pikiran,” mama Rhea datang dengan membawa secangkir coklat hangat, dia menghampiri papa Rega yang sedang berdiri melamun.
Mama Rhea menyentuh lembut lengan suaminya. “Di sini dingin, mas. Nanti masuk angin,” mama Rhea mengulurkan cangkir berisi coklat hangat.
Papa Rega menoleh. “Terimakasih, sayang.” Sepasang suami istri tersebut duduk di sofa yang ada di balkon kamar mereka.
Secangkir coklat hangat mampu menghangatkan hati dan pikirannya, sebenarnya bukan karena coklatnya. Melainkan si pembuat coklat tersebut, entah dingin atau hangat rasa coklat tersebut akan tetap sama jika mama Rhea yang membuatnya.
Mama Rhea merangkul pinggang sang suami, dia menyandarkan kepalanya pada dada papa Rega. Tangan yang biasa di gunakannya untuk memeriksa anak-anak tersebut terulur menyentuh dan mengusap lembut dada sang suami. “Mas Rega sedang memikirkan Arlo dan Ueena?” tanya mama Rhea dengan penuh kelembutan.
“Apa Hana sudah memberitahumu soal ide gi lanya, sayang?” papa Rega menunduk, dia meraih tangan sang istrinya untuk dia genggam.
Mama Rhea menggeleng. “Belum,”
Papa Rega meng3cup lembut tangan sang istri. “Hana punya ide untuk menikahkan Arlo dengan Ueena, sayang. Dia merasa itu adalah keputusan yang paling tepat untuk Ueena dan Arlo,” Rega menjelaskan tentang semua isi pembicaraannya dengan papi Leo dan mi-mom Hana pagi tadi.
“Arlo sudah masuk ke kamar Ueena. Meskipun tidak terjadi apapun karena aku dan Dean di sana, tapi tetep saja ada beberapa karyawan yang melihat kejadian itu. Yuyun mungkin bisa diam, tapi tidak untuk yang lain. Hana pikir itu adalah cara terbaik untuk Ueena dan Arlo saling menjaga,” lanjut papa Rega.
Mama Rhea menghela napas. “Masa depan Ueena dan Arlo masih panjang, mas. Mereka punya impian masing-masing, terlebih lagi kita harus bertanya pendapat mereka. Aku yakin jika Ueena akan mendapatkan yang terbaik untuk dirinya,” ucap mama Rhea.
“Kamu tidak setuju jika Ueena dengan Arlo?” papa Rega memastikan.
“Bukan tidak setuju, mas. Tapi kita tidak bisa memaksa Ueena dan Arlo,” jawab mama Rhea. “Kecuali jika mereka berdua sama-sama mau,” imbuh mama Rhea, dia tidak ingin memaksakan kehendak pada putra putrinya.
Terlebih mereka sendiri tahu apa yang sebenarnya terjadi, Queena dan Arlo tidak melakukan apapun. Kesalahan Arlo hanya pada dia yang tidak berpikir panjang karena memanjat dinding balkon kamar Queena.
“Kita tanyakan pada Ueena dan Arlo, sayang. Meskipun mungkin aku mulai sepakat dengan pemikiran Hana,” papa Rega menatap serius mama Rhea. “Tadi siang saat aku menjemput Ueena, aku melihat dua pemuda berjalan mengiringinya. Aku ini pria, dan tahu pasti maksud kedua pemuda tersebut. Mereka sedang berusaha merebut hati Ueena,” lanjut papa Rega.
“Mas khawatir kalau mereka mengganggu Ueena?” tebak mama Rhea diangguki papa Rega.
“Ueena, bagi orang lain adalah perempuan cantik yang terus tumbuh menjadi dewasa. Tapi bagiku, Ueena tetaplah toddler. Aku tidak akan rela jika ada pria lain yang mendekati Ueena dan hanya main-main, sayang. Melihat dua cecu rut itu dekat-dekat Ueena, rasanya ingin aku lemparkan mereka ke laut. Enak saja mau merayu anakku,” papa Rega berapi-api saking kesalnya pada Bagas dan Andreas.
Mama Rhea terkekeh, dia lantas mengusap dada suaminya dengan lembut. “Putri kita lebih dari yang kamu bisa bayangkan, mas. Ueena tidak akan semudah itu luluh dengan pria-pria itu,”
“Aku tahu, sayang. Tapi tetap saja da rahku ini serasa mendidih, tidak bisa aku biarkan begitu saja. Mau mendekati Ueena? Hadapi dulu papanya ini,” kesal Rega.
“Jangan bilang kalau mas Rega mencari tahu siapa mereka?” mama Rhea tahu betul suaminya tersebut, papa Rega pasti sudah mencari informasi tentang dua pemuda yang tadi mendekati Queena.
Papa Rega menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Hanya berjaga-jaga, sayang. Aku harus waspada kalau soal itu,” jawabnya.
Mama Rhea hanya bisa menggelang, suaminya tersebut memang posesif jika berkaitan dengan istri dan anaknya.