NovelToon NovelToon
Warisan Dewa Kematian: Naga Bintang & Hantu Pedang

Warisan Dewa Kematian: Naga Bintang & Hantu Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Timur / Anak Genius
Popularitas:116.9k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Ini adalah cerita tentang seorang remaja yang dianggap sebagai generasi muda terkuat saat ini. Ia tidak hanya kuat, ia juga kaya. Semua ia dapatkan berkat campur tangan gurunya.

Takdir mempertemukannya pada seorang pendekar misterius. Pendekar itu sangatlah kuat, walaupun tingkahnya agak sembrono.

Di kemudian hari ia akan mengetahui identitas dari pria itu. Petualangan mereka berdua akan sangat seru dan penuh intrik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gaya Bertarung yang Sangat Familiar

"Hahaha!"

Tawa para anggota Kelompok Serigala Darah kembali menggema di seluruh desa.

"Bocah itu benar-benar mau maju! Dia bahkan sudah mencabut pedangnya!"

"Kurasa dia datang hanya untuk menyetor nyawa!"

"Hahaha!"

Beberapa perampok sampai memegangi perut mereka karena terlalu keras tertawa. Di mata mereka, tindakan Gao Rui benar-benar tidak masuk akal. Seorang bocah yang baru menginjak usia belasan tahun berdiri seorang diri menghadapi lebih dari seratus pendekar.

Bukankah itu sama saja berjalan menuju kematian?

Pemimpin Kelompok Serigala Darah menggelengkan kepala sambil mendecakkan lidah.

"Sayang sekali. Aku sebenarnya masih berniat membiarkanmu pergi."

"Tapi karena kau sendiri yang memilih mencari mati..."

Tatapannya berubah dingin.

"...kalau memang harus dibunuh, bunuh saja."

"Bagaimanapun juga, bocah itu yang memulai lebih dulu."

Beberapa anak buahnya langsung menyeringai lebar.

"Serahkan padaku!"

"Aku yang akan memenggal kepalanya!"

"Tidak, biar aku!"

Wush! Wush! Wush!

Enam orang pendekar langsung melesat keluar dari kerumunan. Masing-masing membawa senjata berbeda. Ada yang menggenggam golok, pedang, tombak, hingga kapak besar.

Aura mereka meledak bersamaan.

"Mati!"

Salah seorang perampok mengayunkan goloknya lurus ke arah kepala Gao Rui.

Namun...

Wush!

Tubuh Gao Rui justru bergerak lebih dulu. Langkahnya ringan bagaikan angin. Dalam sekejap, sosoknya menghilang dari tempat semula.

"Apa?!"

Mata perampok itu langsung membelalak.

Srak!

Kilatan pedang melintas begitu cepat. Sebelum sempat bereaksi, sebuah garis tipis muncul di lehernya. Pria itu masih sempat memegang lehernya dengan wajah kebingungan.

"..."

Bruk!

Tubuhnya roboh ke tanah.

Belum sempat mayat itu menyentuh tanah sepenuhnya, dua perampok lain telah datang dari sisi kanan dan kiri.

"Cepung dia!"

Clang!

Dentang logam bergema. Pedang Gao Rui menahan serangan dari kiri, sementara tubuhnya berputar ringan menghindari tombak dari kanan.

Gerakannya mengalir tanpa sedikit pun terlihat kaku. Seolah-olah setiap langkah telah diperhitungkan sejak awal.

Srak!

Pedangnya menusuk ke depan. Ujung pedang menembus dada seorang perampok hingga tembus ke punggung.

"Ugh...!"

Pria itu memuntahkan darah sebelum tubuhnya terjatuh.

Pada saat yang sama...

Wush!

Gao Rui menarik pedangnya, lalu memanfaatkan putaran tubuhnya untuk membabat ke belakang.

Sret!

Kepala seorang perampok terlepas dari tubuhnya. Darah bercampur air hujan langsung menyembur ke udara.

Masih belum selesai. Dua orang lainnya mencoba menyerang bersamaan. Namun Gao Rui melompat ringan. Tubuhnya melayang sesaat di udara sebelum mengayunkan pedangnya ke bawah.

Srak!

Pedang itu membelah bahu salah seorang perampok hingga dada. Pria itu langsung tewas seketika.

Perampok terakhir yang melihat pemandangan itu langsung pucat.

"Ti... tidak mungkin..."

Ia buru-buru mundur. Namun Gao Rui sudah berada di hadapannya.

Tatapan bocah itu tetap tenang. Tidak ada amarah. Yang ada hanyalah ketegasan.

Srak!

Satu ayunan. Perampok terakhir pun roboh ke tanah.

"..."

Suasana langsung hening. Gelombang pertama yang maju menyerang kini telah berubah menjadi enam mayat yang tergeletak di tengah hujan. Darah merah perlahan mengalir mengikuti genangan air di jalan desa.

Sha Nuo yang sejak tadi berdiri santai di bawah payung hitamnya sedikit mengangkat alis.

"..."

Wajahnya memperlihatkan sedikit keterkejutan.

"Dia..."

Tatapannya tetap tertuju pada Gao Rui.

"Aku mengira bocah itu akan ragu."

"Aku pikir ia hanya akan melukai mereka."

"Namun..."

Sha Nuo mengembuskan napas pelan.

"Ternyata ia mampu mengayunkan pedangnya tanpa keraguan sedikit pun."

Ia sama sekali tidak melihat keraguan di mata Gao Rui ketika menghabisi lawan-lawannya.

Yang dilakukan bocah itu bukan karena haus darah. Melainkan karena ia benar-benar telah memutuskan bahwa orang-orang seperti ini tidak boleh dibiarkan hidup.

Di sisi lain, senyum para anggota Kelompok Serigala Darah perlahan menghilang.

"..."

Mereka menatap enam mayat rekan mereka dengan wajah membeku.

"A... apa..."

"Dia..."

"Dia membunuh mereka..."

Tidak sedikit yang tanpa sadar menggenggam senjata mereka lebih erat. Tatapan meremehkan yang sebelumnya memenuhi wajah mereka mulai berubah menjadi kewaspadaan.

Bahkan pemimpin Kelompok Serigala Darah ikut menyipitkan matanya. Tatapannya kini tidak lagi memandang Gao Rui sebagai bocah biasa.

Sementara itu, di tengah kerumunan penduduk desa, seluruh warga membelalak tidak percaya.

"Itu..."

"Bocah itu..."

"Dalam sekejap..."

Kepala Desa Qinghe bahkan sampai berdiri tanpa sadar. Matanya terus menatap Gao Rui yang masih berdiri tenang dengan pedang di tangannya.

Harapan yang sebelumnya hampir padam kini kembali menyala, bahkan jauh lebih besar daripada sebelumnya. Mungkin kali ini, Desa Qinghe benar-benar bisa diselamatkan.

Pemimpin Kelompok Serigala Darah memandangi enam mayat yang tergeletak di hadapannya. Raut wajahnya berubah muram.

"Hmph."

"Ternyata kau memang punya sedikit kemampuan."

Ia mengangkat tangan kanannya tanpa mengalihkan pandangan dari Gao Rui.

"Gelombang berikutnya!"

"Majulah!"

Wush! Wush! Wush!

Belasan sosok langsung melesat keluar dari kerumunan.

Kali ini tidak ada lagi yang tertawa. Dua belas pendekar berdiri membentuk setengah lingkaran, perlahan mengepung Gao Rui dari berbagai arah. Aura mereka jauh lebih kuat dibandingkan enam orang sebelumnya. Mereka saling memberi isyarat, jelas berniat menyerang secara bersamaan.

"Bunuh dia!"

Salah seorang berteriak keras.

Seketika itu juga, seluruh pendekar menerjang.

Wush!

Belasan bayangan melesat dari berbagai arah. Golok, pedang, tombak, hingga rantai besi datang hampir bersamaan, menutup seluruh jalur menghindar Gao Rui.

Namun, tatapan Gao Rui tetap tenang. Ia menarik napas perlahan.

Wush!

Tubuhnya berubah menjadi bayangan samar. Langkahnya berputar di antara celah-celah serangan seolah tubuhnya sama sekali tidak memiliki berat. Belasan senjata hanya mampu membelah udara kosong.

"Apa?!"

"Dia menghilang!"

Belum sempat mereka memahami apa yang terjadi...

Srak!

Kilatan pedang melintas. Seorang perampok memegang dadanya sebelum roboh.

Bruk!

Gao Rui tidak berhenti. Ia memutar tubuhnya dengan ringan.

"Putaran Rembulan."

Pedangnya berputar membentuk lingkaran perak yang indah.

Clang! Clang! Clang!

Beberapa senjata terpental bersamaan.

Sebelum para perampok mampu menstabilkan tubuh...

Sret!

Dua kepala melayang ke udara.

Darah langsung bercampur dengan hujan yang mengguyur desa.

"Tidak mungkin!"

Salah seorang perampok mengayunkan kapaknya dari belakang.

Namun Gao Rui seolah telah mengetahui arah serangan itu. Ia sedikit memiringkan tubuh. Kapak besar hanya melintas beberapa sentimeter dari bahunya.

Pada saat yang sama...

"Bayangan Tujuh Bintang."

Wush!

Tubuh Gao Rui bergerak tujuh kali dalam sekejap. Yang terlihat hanyalah bayangan-bayangan samar berkelebat di antara para perampok.

Srak! Srak! Srak!

Tiga kilatan pedang muncul hampir bersamaan. Tiga orang kembali tumbang tanpa sempat mengeluarkan teriakan.

Pertarungan berubah menjadi pembantaian sepihak. Para perampok mulai panik.

"Dia terlalu cepat!"

"Kepung dia!"

"Jangan biarkan dia bergerak!"

Mereka mencoba mempersempit ruang gerak Gao Rui. Namun Gao Rui justru melompat tinggi.

Petir kembali membelah langit. Kilatan cahaya putih menerangi seluruh desa.

Di bawah cahaya sesaat itu, Gao Rui mengangkat pedangnya.

"Tebasan Langit."

Wush!

Tubuhnya meluncur turun dengan cepat. Pedangnya membelah udara dengan kekuatan luar biasa.

Sraaaak!

Dua orang terbelah seketika.

Gelombang kejut dari tebasan itu bahkan membuat tiga orang di belakangnya terpental beberapa meter.

Bruk! Bruk! Bruk!

Pertarungan terus berlanjut. Dalam beberapa tarikan napas, seluruh belasan pendekar itu telah berubah menjadi mayat.

Hujan deras terus turun membasuh darah yang menggenang di jalan desa.

"..."

Suasana kembali sunyi. Tak seorang pun berbicara.

Mata para anggota Kelompok Serigala Darah membelalak lebar.

"Bel... belasan orang..."

"Semuanya..."

"Tewas..."

Rasa takut mulai merayapi hati mereka. Mereka tidak lagi melihat Gao Rui sebagai seorang bocah. Yang berdiri di hadapan mereka sekarang adalah seorang pendekar muda yang mampu membantai belasan lawan tanpa mengalami satu luka pun.

Di sisi lain, para penduduk Desa Qinghe juga terpaku. Beberapa wanita sampai menutup mulut mereka. Seorang pria tua mengusap matanya berkali-kali.

"Aku... aku tidak sedang bermimpi, kan?"

"Itu benar-benar bocah tadi..."

Kepala desa bahkan sampai menggenggam kedua tangannya erat. Harapan di dalam hatinya kini berubah menjadi keyakinan. Mungkin, mereka benar-benar akan selamat hari ini.

Namun, di antara semua orang yang menyaksikan pertarungan itu, orang yang paling terkejut justru adalah Sha Nuo.

"..."

Tatapannya tidak lagi tertuju pada mayat-mayat yang bergelimpangan. Melainkan pada setiap gerakan Gao Rui.

Cara ia melangkah. Cara ia memutar pergelangan tangannya. Cara ia mengubah arah tebasan di tengah serangan. Bahkan ritme napasnya ketika menghunus pedang. Semuanya, terasa begitu familiar.

Sha Nuo sedikit menyipitkan matanya.

"..."

"Mustahil..."

Ia telah menjalani hidup yang sangat lama. Telah melewati ribuan pertempuran.

Ia pernah bertarung melawan pendekar dari berbagai sekte, keluarga bangsawan, kekaisaran, bahkan para ahli yang namanya mengguncang dunia persilatan. Ia telah melihat begitu banyak aliran pedang.

Namun, dii antara semua pendekar yang pernah ditemuinya, hanya ada satu orang yang memiliki gaya bertarung seperti yang Gao Rui tunjukkan.

"Tuan..."

Sha Nuo bergumam pelan. Tatapannya semakin dalam mengamati Gao Rui. Setiap ayunan pedang bocah itu dan setiap perubahan langkahnya, semuanya mengingatkannya pada sosok yang paling dihormatinya, Boqin Changing.

"Kenapa... gaya bertarung bocah itu..."

"...begitu mirip dengan Tuan Muda Boqin Changing?"

...**********...

Terima kasih temen-temen yang udah follow akun tiktokku @boqin.changing

Dari 0 pengikut jadi 40 pengikut dalam hitungan jam.

Yg belum follow bisa follow ya. Bisa aja nanti aku ada pemberitahuan di sana.

1
Tosari Agung
thor next bab paman nuo coba suruh tanyain ke Gao Rui siapa gurunya biar pada gak penasaran
Tosari Agung
thor next bab paman nuo coba suruh tanyain ke Gao Rui siapa gurunya biar pada gak penasaran
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Makjlebz pokok'é 🔥🌽
Irfan tejo laksono
ahaiiii 👍👍👍
Akhmad Baihaki
👍👍👍👍👍👍
mbono keling
👍👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪💪💪💪
yayat
bantai jangn kash ampun tujukan pada paman nou rui murid dr boqin
Adek Darmansyah
udh mulai menyebalkan ni authorr...
Nanik S
Bantai semua dan ambil semua Cincin ruang musuh seperti biasanya
Nanik S
Rui... tunjukan pada Paman Nuo, bahwa mampu membantai mereka dan tidak selembut hatinya🤣🤣🤣
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Ridwan Pasirjambu
😍😍😍😍
budiman
satu mawar 🌹
Raju
tiba dilokasi, bertatap muka, mengetahui tingkt kultivasi musuh, di izinkan bertarung seraya mencabut pedang... udah.... slsai....🤣🤣🤣
tariii
jangan remehkan bocil itu, wooooyyyyy.... jangan lihat tampangnya yg polos, dia itu monster kecil yg siap membant*i kalian para perampokk...🤭🤭🤭😂😂😂
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Muantebz
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Makjlebz 🔥🌽
kute
super seru enak alur ceritanya tidak membosankan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!