Ini adalah cerita tentang seorang remaja yang dianggap sebagai generasi muda terkuat saat ini. Ia tidak hanya kuat, ia juga kaya. Semua ia dapatkan berkat campur tangan gurunya.
Takdir mempertemukannya pada seorang pendekar misterius. Pendekar itu sangatlah kuat, walaupun tingkahnya agak sembrono.
Di kemudian hari ia akan mengetahui identitas dari pria itu. Petualangan mereka berdua akan sangat seru dan penuh intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Monster di Tengah Hujan
Sha Nuo masih menatap Gao Rui tanpa berkedip. Berbagai kemungkinan terus bermunculan di benaknya.
Namun, di sisi lain, raut wajah pemimpin Kelompok Serigala Darah berubah semakin buruk. Urat-urat di dahinya mulai menonjol.
"Dasar sampah!"
Suara bentakannya menggema di seluruh desa.
Dalam waktu singkat, hampir dua puluh anak buahnya telah tewas. Lebih memalukan lagi, semuanya mati di tangan seorang bocah yang bahkan belum genap dewasa. Baginya, itu merupakan penghinaan besar.
"Hmmm!"
Tatapannya dipenuhi amarah.
"Bukan karena bocah itu terlalu kuat... kalian saja yang meremehkannya!"
Ia mengepalkan tangan dengan keras.
"Sekarang berhenti bermain-main!"
Tatapannya menyapu seluruh anak buahnya.
"Kalian!"
Ia menunjuk ke arah depan.
"Majulah bersama! Serang dia dengan serius!"
"Jangan beri kesempatan sedikit pun untuk bernapas!"
Wush! Wush! Wush! Wush!
Puluhan pendekar langsung melesat keluar dari kerumunan. Kali ini jumlah mereka jauh lebih banyak.
Tiga puluh... Empat puluh... Hampir lima puluh orang berdiri mengelilingi Gao Rui dari segala arah. Mereka membentuk lingkaran rapat tanpa meninggalkan satu celah pun.
Tidak ada lagi senyum. Tidak ada lagi ejekan. Tatapan mereka kini dipenuhi kewaspadaan.
Setelah melihat dua gelombang sebelumnya dihancurkan dengan mudah, mereka akhirnya menyadari bahwa bocah di hadapan mereka sama sekali bukan lawan yang bisa diremehkan.
Salah seorang menarik napas panjang.
"Jangan menyerang sendiri."
"Ikuti aba-aba."
"Habisi dia bersama-sama!"
Yang lain mengangguk pelan.
Di tengah kepungan itu, Gao Rui perlahan mengangkat pedangnya. Tatapannya menyapu seluruh lawan yang mengepungnya.
"..."
Hampir lima puluh orang. Dengan berbagai macam senjata mengarah kepadanya dari segala sisi.
Namun, wajah Gao Rui tetap tenang. Ia menggenggam pedangnya sedikit lebih erat. Air hujan menetes perlahan dari ujung rambutnya hingga ke bilah pedang yang berkilau dingin.
Di kejauhan, Sha Nuo masih berdiri di bawah payung hitamnya. Tatapannya tidak pernah lepas dari Gao Rui.
Sementara para penduduk Desa Qinghe kembali menahan napas. Baru saja secercah harapan muncul di hati mereka.
Namun kini jumlah lawan yang maju hampir memenuhi jalan utama desa. Mereka semua bersiap menyerang seorang bocah.
Pemimpin Kelompok Serigala Darah perlahan mengangkat tangannya.
"Lakukan!"
"Bunuh dia!"
"Wuuush!"
Puluhan sosok melesat bersamaan. Tanah bergetar oleh hentakan kaki mereka.
Aura puluhan pendekar meledak serempak, berubah menjadi gelombang tekanan yang menyapu seluruh jalan desa.
Golok terangkat, pedang berkelebat, tombak menusuk lurus ke depan, dan kapak-kapak besar diayunkan dengan kekuatan penuh. Dalam sekejap, puluhan serangan datang dari segala arah, menelan sosok Gao Rui di tengah hujan deras. Pertarungan kembali dimulai.
Gao Rui memandang puluhan pendekar yang menerjang ke arahnya tanpa sedikit pun mengubah ekspresinya.
"..."
Tidak ada rasa takut. Tidak ada kepanikan. Yang ada hanyalah ketenangan.
Ia menarik napas pelan, lalu mengangkat pedangnya hingga sejajar dengan dada.
Wush!
Pendekar pertama telah tiba. Golok besar di tangannya membelah udara, mengarah lurus ke kepala Gao Rui.
Namun...
Tap!
Gao Rui hanya menggeser satu langkah ke samping. Golok itu menghantam tanah dengan keras.
Duar!
Tanah berlumpur langsung pecah.
Pada saat yang sama...
Srak!
Pedang Gao Rui berkelebat. Sebuah kepala langsung terlepas dari tubuhnya.
Belum sempat mayat itu menyentuh tanah, tiga pendekar lain telah datang dari arah berbeda.
"Mati!"
Pedang, tombak, dan kapak menyerang hampir bersamaan.
Clang!
Gao Rui memutar pedangnya, menepis tombak yang menusuk dari depan. Tubuhnya kemudian berputar mengikuti arah tepisan.
Sret!
Pedangnya membelah leher pendekar yang membawa kapak. Tanpa berhenti...
Wush!
Ia memanfaatkan putaran tubuhnya untuk melesat ke belakang lawan berikutnya.
Srak!
Pedangnya menusuk tepat ke jantung.
"Ugh...!"
Pria itu memuntahkan darah sebelum roboh.
Namun serangan tidak berhenti. Puluhan pendekar terus berdatangan silih berganti. Mereka berusaha memanfaatkan jumlah untuk menekan Gao Rui.
Sayangnya, semakin lama pertarungan berlangsung, semakin jelas perbedaan kemampuan mereka. Setiap kali senjata mereka diayunkan, Gao Rui selalu telah berada di tempat lain.
Setiap kali mereka membuka celah pedang Gao Rui pasti telah lebih dahulu menghukum mereka.
Srak!
Seorang perampok roboh.
Sret!
Perampok lain kehilangan kepalanya.
Wush!
Gao Rui melesat di antara kerumunan.
Srak!
Pedangnya kembali menembus dada seseorang.
"Arghhh!"
Jeritan demi jeritan mulai menggema di seluruh desa.
"Tolong...!"
"Aaaagh!"
"Leherku...!"
"Selamatkan aku!"
Darah bercampur air hujan mengalir memenuhi jalan utama Desa Qinghe. Mayat-mayat mulai bergelimpangan di mana-mana.
Semakin banyak rekan mereka yang tumbang, semakin pucat wajah para anggota Kelompok Serigala Darah.
"Mustahil..."
"Bagaimana mungkin...?"
"Kenapa kita bahkan tidak bisa menyentuhnya?!"
Rasa takut mulai menggantikan keberanian mereka. Seorang perampok tanpa sadar mundur beberapa langkah. Tatapannya dipenuhi kengerian.
"Bocah itu..."
"Sialan..."
"Dia gila!"
Perkataan itu segera disambut oleh yang lain.
"Bukan..."
"Sial... dia bukan bocah biasa!"
"Dia monster!"
"Monster!"
Teriakan panik mulai terdengar dari berbagai penjuru. Mereka tidak lagi melihat Gao Rui sebagai manusia biasa.
Di mata mereka, bocah yang bergerak di tengah hujan deras itu bagaikan malaikat maut. Ke mana pun pedangnya berkelebat, selalu ada nyawa yang melayang.
Srak!
Satu orang lagi roboh.
Sret!
Seorang lainnya terbelah oleh tebasan pedang.
"Aaaahhhh!"
"Tidak! Jangan dekati aku!"
"Lari...!"
"Monster!"
Jeritan ketakutan, raungan kesakitan, dan suara benturan senjata bercampur menjadi satu, menggema di seluruh Desa Qinghe.
Pertempuran yang semula mereka yakini akan menjadi pembantaian terhadap seorang bocah, kini perlahan berubah menjadi pembantaian terhadap Kelompok Serigala Darah sendiri.
Di sisi lain, seluruh penduduk Desa Qinghe hanya mampu menyaksikan pemandangan itu dengan wajah membeku.
"..."
Tak seorang pun berani mengeluarkan suara. Yang terdengar hanyalah derasnya hujan, dentang senjata, serta jeritan para anggota Kelompok Serigala Darah yang terus bergema di seluruh desa.
Srak!
Kilatan pedang kembali melintas. Seorang perampok terjatuh dengan tubuh bersimbah darah.
Bruk!
Mayatnya menghantam tanah berlumpur di depan kerumunan penduduk.
Beberapa warga tanpa sadar tersentak. Seorang wanita muda langsung memeluk anaknya erat-erat sambil memalingkan wajah bocah itu ke dadanya.
"Jangan lihat..."
Suaranya bergetar.
"Jangan melihat ke sana."
Di sudut lain, seorang kakek segera mengangkat kedua telapak tangannya, menutupi mata dua cucunya.
"Pejamkan mata kalian."
"Jangan dibuka."
Kedua anak itu menurut, meski tubuh mereka masih gemetar ketakutan akibat suara jeritan yang terus terdengar dari arah medan pertempuran.
Orang tua lain melakukan hal yang sama. Mereka menutupi mata anak-anak mereka, tidak ingin pemandangan mengerikan itu tertanam di dalam ingatan mereka sejak usia dini.
Namun, tidak semua anak sempat memejamkan mata. Beberapa bocah yang sedikit lebih besar masih menatap ke arah Gao Rui dengan mata membelalak.
Di dalam hujan deras, mereka melihat seorang pemuda seusia kakak mereka bergerak begitu cepat hingga nyaris tak dapat diikuti pandangan. Setiap kali kilatan pedang muncul, selalu ada seorang perampok yang tumbang.
"Itu..."
Salah seorang anak bergumam lirih.
"Dia... melindungi kita?"
“Tapi mengapa rasanya ia terlihat menakutkan...”
Tak jauh darinya, seorang pria paruh baya menggenggam tangan istrinya erat-erat. Matanya memerah.
"Tidak kusangka... ada orang yang rela mempertaruhkan nyawanya demi desa kita."
Kepala Desa Qinghe sendiri berdiri terpaku. Tatapannya tidak pernah lepas dari sosok Gao Rui.
Bocah itu jelas masih sangat muda. Namun, di tengah hujan deras dan kepungan puluhan musuh, punggungnya berdiri tegak tanpa sedikit pun menunjukkan rasa gentar.
Kepala desa mengepalkan kedua tangannya.
"Semoga... Semoga langit benar-benar melindunginya."
Kini, seluruh harapan Desa Qinghe seolah bertumpu pada satu sosok yang terus mengayunkan pedangnya di tengah lautan musuh.
...********...
Bonus:
tenang Paman Nuo turun tangan, pasti semua beres dan aman... dan seterusnya
tinggal panen cincin ruang