NovelToon NovelToon
Cintai Aku

Cintai Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Orang Disabilitas
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Di balik senyum ceria Nadia, tersimpan ketangguhan luar biasa. Meski ia tidak bisa bicara dan berasal dari keluarga sederhana, kecerdasannya membawa Nadia meraih beasiswa di universitas swasta ternama.

Namun, dunianya yang begitu sempurna seketika runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. ​Demi masa depannya, Nadia membalut lukanya dengan senyuman. Sayangnya, badai kembali datang seolah tidak membiarkan Nadia hidup dengan tenang, hingga ia bertemu dengan seorang pria yang membantunya dari kejamnya dunia.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang terjadi pada Nadia? Siapakah pria yang membantu Nadia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Beberapa hari berlalu setelah peristiwa malam kelam itu, namun bayangan Nadia tak pernah benar-benar lepas dari benak Aksa. Sementara itu, ketegangan di kediaman Mahendra mencapai puncaknya.

Papa Mahendra duduk di ruang tengah dengan raut wajah melunak dan berusaha meredam ego putra tunggalnya yang sekeras batu, ia memandangi Aksa yang berdiri kaku di dekat jendela dan memiringkan wajahnya dengan tatapan acuh tak acuh.

​"Hanya satu kali, Aksa. Papa tidak minta kamu langsung menyetujui pernikahan ini, bertemu saja dulu dengannya satu kali. Kalau setelah pertemuan itu kamu tetap merasa dia tidak pantas buat kamu atau kamu tidak menyukainya, Papa janji tidak akan pernah membahas perjodohan ini lagi seumur hidupmu," ucap Papa Mahendra dengan suara rendah namun penuh penekanan.

​Aksa diam sejenak, manik matanya yang pekat menatap sang ayah dan menimbang tawaran tersebut. ​"Oke, hanya satu kali. Dan setelah ini, Papa harus pegang janji Papa untuk tidak lagi mencampuri kehidupan pribadi Aksa," balas Aksa dingin, suaranya sarat akan kepastian.

​"Oke, Papa janji," sahut Papa Mahendra lega.

​Keesokan harinya, sebuah mobil sedan hitam mewah membelah kawasan pemukiman padat dan terpencil di pinggiran kota. Jalannya sempit, berkali-kali menyajikan pemandangan deretan rumah tua yang bersahaja.

​Aksa yang duduk di kursi belakang bersama Papa Mahendra mengerutkan dahi, ia merasa tidak asing dengan suasana jalanan berdebu ini, namun ia menepis pikirannya. Di mata Aksa, kedatangan mereka ke rumah kumuh seperti ini hanyalah formalitas buang-buang waktu.

​Mobil akhirnya berhenti tepat di depan sebuah rumah kayu sederhana dengan halaman kecil yang bersih, ​Papa Mahendra merapikan jasnya dan melangkah turun penuh rasa hormat, disusul Aksa yang melangkah dengan keangkuhan dinginnya. Namun, begitu langkah kaki mereka sampai di ambang pintu yang sedikit terbuka, raut wajah Aksa seketika membeku total.

​Di dalam ruangan tamu yang sempit itu, seorang gadis sedang sibuk mengelap meja kayu dengan kain lap basah. Gadis itu mengenakan pakaian sederhana membungkus tubuh ringkih yang amat sangat Aksa kenali.

​"Nadia...?" panggil Papa Mahendra lembut.

​Gadis itu tersentak pelan, Nadia membalikkan badannya dengan cepat. Ketika matanya menangkap sosok Papa Mahendra, pria yang wajahnya sangat mirip dengan foto teman almarhum ayahnya, matanya berbinar haru.

Namun, saat pandangannya bergeser ke samping, menatap sosok pria jangkung bertubuh tegap di sebelah Papa Mahendra, napas Nadia seketika tertahan di tenggorokan. ​Di sana, berdiri Aksa. Bagi Nadia, Aksa adalah penyelamatnya, dan kini pria itu berdiri tepat di dalam rumah sederhananya.

​"Tu-Tuan Aksa...?" gumam Nadia pelan, jemarinya bergetar hebat hingga kain lap di tangannya hampir terjatuh.

​Di sisi lain, jantung Aksa serasa dihantam godam raksasa. Matanya melebar, urat-urat di lehernya menegang saat kenyataan pahit itu menghantam kesadarannya tanpa ampun.

​'Jadi, anak temannya Papa yang mau dijodohkan denganku itu Nadia,' batin Aksa murka pada takdir.

​Aksa teringat kata-kata pedasnya sendiri di ruang kerja papanya beberapa hari lalu, dimana ia menolak perjodohan ini karena ia tidak mau memiliki istri yang tidak bisa bicara. Namun, kini semuanya justru berbalik menghantam dadanya seperti bumerang yang beracun.

​Papa Mahendra yang tidak menyadari riak gejolak mematikan di antara mereka berdua melangkah maju dan menatap Nadia dengan mata berkaca-kaca penuh penyesalan.

​"Nadia... ini Om, nak. Om Mahendra, teman almarhum Ayah kamu, maafkan Om baru menemukanmu sekarang... Maafkan Om membiarkanmu berjuang sendirian di tempat sekeras ini," ujar Papa Mahendra dengan suara serak.

​Nadia menundukkan kepalanya dalam-dalam, air mata bening meluncur deras membasahi pipinya yang masih menampakkan bekas memar tipis. Dengan jemari bergetar, ia mengambil buku tulis kecilnya di meja dan mengetik pesan.

​[Om Mahendra... Ayah sering cerita tentang Om dulu, terima kasih sudah berkunjung ke rumah sederhana kami]

​Papa Mahendra membaca tulisan itu dan mengusap bahu Nadia penuh kasih, lalu menoleh ke belakang dan menatap sang putra yang masih berdiri mematung bagaikan patung es di tengah ruangan.

​"Aksa, sini," panggil Papa Mahendra.

"Ini Nadia, anak dari teman Papa, yang Papa ceritakan sebelumnya," lanjut Papa Mahendra, saat Aksa sudah didekatnya.

​Aksa melangkah mendekat dengan sangat pelan, setiap pijakan kakinya terasa begitu berat. Tatapan pekatnya terkunci lurus pada mata bulat Nadia yang jernih namun menyiratkan kepasrahan dan kejutan yang sama besarnya.

​Nadia menatap Aksa, jemarinya yang masih bergetar perlahan mengetik di buku tulisnya, lalu mengarahkannya ke depan dada Aksa dengan senyuman tipis yang amat tulus.

​[Tuan Aksa... ternyata Tuan adalah putra dari Om Mahendra? Dunia benar-benar sempit, terima kasih sekali lagi untuk bantuan Tuan.]

​Membaca tulisan polos itu, ego dan kesombongan Aksa hancur berkeping-keping. Pria yang tak pernah tunduk pada siapapun itu kini merasakan sesak luar biasa di dadanya, perasaan bersalah, gengsi dan ketertarikan yang coba ia sangkal selama ini mendadak meledak menjadi satu.

​Papa Mahendra memandangi keduanya ganti-berganti dengan dahi berkerut bingung. "Kalian... sudah saling kenal sebelumnya?" tanya Papa Mahendra heran.

Aksa membeku. Pertanyaan sang ayah menggantung di udara ruangan yang sempit itu, beradu dengan aroma kayu tua dan sisa wangi cendana dari tubuhnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Aksa, lidahnya yang biasa tajam dan penuh kendali mendadak terasa kelu.

​Nadia reflek menundukkan kepala. Jemari tangannya meremas pinggiran buku tulis kecilnya, ada ketakutan terselip di hatinya. Ia takut jika menceritakan bahwa mereka bertemu di Eternity Club, hal itu justru akan mencoreng nama baik Aksa di depan ayahnya sendiri dan Nadia tidak ingin pria yang telah menjadi pahlawannya itu mendapat masalah.

​[Tuan Aksa pernah membantu saya saat saya mendapat kesulitan di jalan beberapa hari lalu, Om. Tuan Aksa orang yang sangat baik.]

​Papa Mahendra menaikkan alisnya, matanya berpindah menatap sang putra dengan pandangan tidak percaya sekaligus penuh rasa ingin tahu. "Oh ya? Kamu mau menolong orang, Aksa? Papa tidak tahu kamu punya sisi dermawan seperti itu," sindir Papa Mahendra.

​Aksa berdehem keras untuk menutupi gejolak di dadanya, ia mengepalkan tangan di samping tubuhnya dan memalingkan wajah sedikit dari tatapan jernih Nadia yang tampak sengaja melindunginya dari kebenaran tentang pekerjaan malamnya, kepolosan dan kebaikan gadis itu justru terasa bagaikan tamparan yang makin memanjakan rasa bersalah di ulu hati Aksa.

​"Cuma kebetulan, Pa," jawab Aksa singkat dengan suara beratnya yang kini terdengar agak kaku.

​Papa Mahendra tersenyum lebar, keheningan canggung itu diartikannya sebagai takdir yang manis. Ia menepuk bahu Aksa pelan, lalu kembali menatap Nadia dengan raut wajah penuh keseriusan dan kasih sayang seorang Ayah.

.

.

.

Bersambung.....

1
Raisha
kluarga dari pihak Nadia apa gak di kabari & undang ya Thor,kok gak di ceritain? bibinya apa kabar, jadi mo jual rumahnya Nadia? serasa dia ahli warisnya aja,main jual rumah ayahnya Nadia sembarangan, dah kena karmanya lom bik?
Aidil Kenzie Zie
lumayan katanya tapi sampai ludes🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
ada yang masih kangen nich 🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
ah akhirnya Aksa mau juga 🥰🥰🥰
erviana erastus
rajin pulang kerumah aksa eh 🤭
falea sezi
lanjut
falea sezi
anak kuliahan klo ada hutang minta bukti. hutang klo asal ngomong gk ada hitam di atas putih itu sama aj nipu😒
falea sezi
moga aja nadia
erviana erastus
ih aksa 🤣 tuh kan terpesona kamu sama nadia makax jgn sok² nolak gtu 🤭 demi apa coba tetiba mau tidur dirumah 🤣
Raisha
moduuuuuuss...kamu dah gak bisa tahan pengin dekat² Nadia kan meski otakmu menolak tp hatimu berkata lain😂😂...untungnya papamu tau & ngerti apa yg kamu inginkan,makanya kamu gak boleh tinggal di rumahnya lagi...sabar Aksa, tunggulah sampai waktunya tiba
Naufal Affiq
buat emosi bacanya
Naufal Affiq
lanjut kak
Naufal Affiq
lanjut kak,seru ceritanya
erviana erastus
kalo jodoh nggak kemana kan aksa🤣
Rizky Manik
Aksa, kau yg ngajak Nadia nikah ya awas aja kalo kau gkbisa cintai Nadia, bakal kukutuk kau jadi batu😏🤣
Raisha
kalimatnya typo lg Thor🙏🤭....bukan "...teman anak Papa..." harusnya "...anak teman Papa..." krn yg othor tulis itu artinya temannya anak Papa pdhal Nadia kan anak temannya Papa,gitu kan maksudnya? Maaf kalo salah 🙏😃
elaretaa: Siap Kak, nanti author revisi lagi ya🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Sartini 02
bagus ceritanya dan selalu ditunggu
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
Raisha
sampai di bab ini,masih banyak typo Thor 🙏...seperti kalimat "....dg balapan kemeja hitam yg tergulung....", artinya kata "balapan" itu apa?🤔,aku kurang faham. Maaf ya Thor 🙏😃
Raisha: sama² Thor.... terimakasih untuk ceritanya ini, semangat nulisnya ya Thor 🙏😍😂
total 2 replies
Evi Rachmawati
wadidaw aska... uangku banyak....
Aidil Kenzie Zie
E e e Aksa dijodohkan sama perempuan bisu nggak mau ini malah jadi pahlawan terus 🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!