Altair seorang eksekutor miskin di rumah Andrea's. Motifnya untuk balas dendam kepada kepala keluarga itu karena sudah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Tapi dia malah jatuh cinta kepada anak kesayangan keluarga itu membuatnya dijebak dan mati di tangan mereka.
Dia di beri kesempatan kedua untuk tidak menjadi bodoh dan jatuh cinta. Di kehidupan ini dia menuntaskan dendamnya. Dan siapa sangka dia malah berhubungan dengan anak angkat keluarga itu, Aquilla.
Akankah dendamnya terbalaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Sengatan rasa sakit itu sangat menyiksa Altair. Setiap sendi dalam tubuhnya seakan menjerit. Rasanya sangat buruk hingga Altair memilih untuk mati daripada merasakan rasa sakit yang menyiksanya saat ini.
Mati.
Altair seakan tersadar. Ini mungkin memang tahapan menghadapi kematian. Dimana rasa sakitnya semakin meningkat setiap saat. Rasanya dia sudah tidak kuat lagi menahannya. Saat cowok itu merasa rasa sakit itu sudah di puncaknya dan dia sudah sekarat. Namun rasa sakit itu tiba-tiba berhenti. Indra perasanya kembali berfungsi. Dia sedang berbaring. Punggungnya menyentuh kasur yang begitu empuk.
"Apa yang terjadi?" Altair berpikir panik.
Kelopak matanya terbuka.
Sekelilingnya tampak gelap. Hanya ada cahaya samar dari lampu nakas di samping ranjangnya. Tempat ini terasa familiar untuknya. Namun dia tidak bisa mengingat dengan pasti tempat apa ini. Keadaan yang remang-remang tidak cukup membuatnya mengenali keadaan sekitar. Dia mencoba duduk menatap sekeliling.
Altair kembali menutup kedua matanya. Dia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi. Jelas-jelas Evan sudah membunuhnya. Apakah dia selamat? Dia juga melihat Steve dibunuh terlebih dahulu. Mengingat hal itu api kebencian dalam diri Altair berkobar dengan kuat.
Jika dia memang benar dia selamat, jika memang ada orang yang menyelamatkannya. Maka, Altair akan membalaskan dendamnya pada Evan dan keluarga Andrea's. Bahkan jika perlu dia akan menyerang keluarga itu untuk menuntaskan dendamnya.
Altair terhenyak saat sebuah dering pesan masuk mengoyak lamunannya. Mata tajamnya menatap ponsel yang tergeletak di nakas dengan alis terangkat, tanda kebingungan. Tangannya meraih benda itu dan membalik-baliknya perlahan. Itu ponsel lamanya. Matanya terpaku pada layar di bagian atas, melihat tanggal dan tahun yang terpampang jelas—lima tahun lalu.
"Apa gue benar-benar diberi kesempatan kembali?" gumamnya dengan suara hampir tak percaya.
Untuk memastikan, ia mencubit lengannya hingga kulitnya memerah. Rasa sakit itu menjalar, nyata dan menusuk, mengusir bayang-bayang halusinasi. Altair meyakinkan diri, ini bukan mimpi buruk.
Jantungnya berdegup cepat saat membaca pesan masuk dari Mr. Daniel, tuannya sekaligus dalang di balik niat pembunuhan di kehidupannya yang lalu. Genggamannya di ponsel mengeras, rahangnya mengatup kuat mengingat luka-luka yang pernah ia alami.
Pesan itu sederhana namun tajam: "Silakan menghadap saya ke ruang kerja saya."
Altair mengerutkan dahi, senyum sinis mengembang di bibirnya saat membaca pesan itu. Ingatan tajam tentang malam yang menentukan hidupnya kembali menghantui. Malam ini titik awal dari segala masalah yang ia hadapi.
"Ok... kita ikuti permainan anda, Mr. Daniel," bisiknya dengan suara serak, menahan bara dendam yang menggelora di dada. Ia segera bangkit, tangan cekatan meraih kaos yang sudah menunggu di atas kursi, lalu mengenakannya perlahan ke tubuhnya yang masih telanjang.
Langkah kakinya mantap melangkah keluar dari kamar yang mewah—lebih dari yang layak diterima seorang eksekutor keluarga Andrea's. Tapi itulah hidup Altair, sebuah tempat tinggal untuk kelangsungan hidupnya.
Saat pintu terbuka, pandangannya tertangkap barisan bodyguard yang berdiri rapi sepanjang lorong. Mereka menundukkan kepala hormat saat melihatnya lewat, namun langkahnya tiba-tiba terhenti oleh ketukan hak tinggi mendekat. Sosok gadis bergaun mini kini berdiri di hadapannya.
"Viper!"
Dia adalah Aquilla, anak angkat keluarga Andrea's. Tapi sampai sekarang, Aquilla sendiri belum tahu itu. Sifat manja dan sikapnya yang suka menyulitkan membuat siapa saja yang berurusan dengannya jadi terperangah. Dia tumbuh sebagai anak konglomerat pada umumnya, sombong dan bersifat kekanak-kanakan.
Altair menatap gadis itu dengan dada terlipat, ekspresi datarnya tak bergeming. "Sampai sekarang lo masih manggil gue ‘berbisa’," ucapnya pelan, suaranya mengandung ejekan halus.
Aquilla malah cemberut, matanya menyipit tajam. "Nggak nyadar, lo cowok berbisa, tahu," balasnya.
Altair malas menanggapinya, tapi senyum tipis terukir di bibirnya, memaksa hatinya teringat sesuatu. Dulu, sebelum napasnya berhenti di kehidupan pertama, ia pernah melihat Aquilla menangis untuknya. Lihat sekarang, gadis keras kepala itu justru tak menunjukkan setitik pun kelembutan. Rasa penasaran semakin menggerogoti Altair. Apa sebenarnya yang membuat Aquilla dulu menangis untuknya?
Tiba-tiba, suara melingking Aquilla memecah lamunannya. "Viper!" teriaknya.
Altair terkejut, seperti disambar listrik, lalu ia mendongak. Aquilla tampak setengah kesal. "Lo ngelamun apa sih? Sekarang dengerin gue."
Altair mengangkat alis, suaranya dingin. "Kalau nggak penting, jangan ngomong."
Aquilla menghela napas panjang, lalu berdecak pelan. "Ini penting banget buat kita berdua, sumpah..." katanya, matanya menatap tajam ke Altair.
Altair hanya mengangkat sebelah alis, ekspresinya dingin tapi tak memotong ucapannya.
"Lo harus nolak pernikahannya, ya," desak Aquilla.
"Pernikahan?" Altair menoleh, ragu, lalu matanya membesar perlahan saat menyadari malam ini memang dia akan dinikahkan dengan gadis di hadapannya oleh Mr. Daniel. Tapi waktu itu Altair tak tahu gadis itu bukan anak kandung Mr. Daniel, dia justru tersenyum tipis, merasa ini bisa jadi jalan untuk menghancurkan Mr. Daniel lewat putrinya.
"Tahu dari mana?" tanya Altair pura-pura bingung.
Aquilla menunduk, wajahnya sedikit memerah. "Semalam gue gak sengaja denger Papa mau jodohin kita berdua."
Altair menggeleng pelan, nada suaranya berat. "Emangnya gue ada hak apa nolak Mr. Daniel? Sama aja gue langgar perintahnya."
Aquilla mengacak pinggangnya dengan wajah yang makin mengeras, napasnya berat. "Pokoknya, lo harus nolak. Ngomong aja, lo sukanya sama Ruby," ucapnya tegas sambil menatap Altair penuh tantangan.
Ia menghela napas panjang, lalu menambahkan dengan suara dingin, "Inget ya, lo harus gagalin pernikahan ini. Gue nggak mau hidup susah sama lo." Tanpa menunggu jawaban, Aquilla langsung berbalik dan melangkah pergi.
Altair terpaku, mulutnya tercekat saat nama itu terulang lagi di udara. Dadanya sesak, amarahnya menggelegak sampai tangannya tak sadar mengacak-acak rambutnya sendiri dengan frustrasi. "Gue nggak bakal termakan sama wajah polos lo lagi, Ruby," gumamnya pelan, matanya menyipit tajam.
Ia menghela napas panjang, mencoba mengendalikan diri sebelum melangkah dengan langkah besar mengikuti Aquilla menuju ruang kerja Mr. Daniel.
Sekilas mengetuk pintu, Altair masuk dan matanya langsung tertuju pada Mr. Daniel dan istrinya yang duduk tenang di sofa, sementara Ruby dan Aquilla berdiri di depan mereka, tak jauh. Altair berdiri di samping Aquilla, sejajar dengan dua gadis itu, dia tenang seperti biasanya.
Mr. Daniel mengangkat wajahnya pelan, sorot matanya memburu menatap ketiga sosok di depannya. “Aku mau Aquilla menikah denganmu Altair,” ucapnya singkat.
Aquilla tetap tenang, tak menampakkan tanda kaget, sementara Altair juga tak terkejut, dia hanya menatapnya dengan wajah datar, tatapan tajam tertuju ke Daniel.
“Semua keinginanmu sudah kuberi, Altair,” lanjut Daniel, membuat Aquilla menegang. Perjodohan ini ternyata atas permintaan Altair sendiri—sebuah fakta yang tak pernah ia duga. Dalam hati, Aquilla bertanya-tanya, apa sebenarnya maksud Altair?
“Iya, Mr. Andrea's,” jawab Altair tanpa ekspresi. Pernikahan ini memang permintaan Altair sebelumnya. Waktu itu dia kira Aquilla putri kesayangan keluarga Andrea’s.
Daniel menatap tajam, suaranya semakin dingin. “Karena kau sudah mengabdi untuk keluarga ini, aku izinkan kau menikahi Aquilla. Tapi...” ia menarik napas sejenak. “Kau tidak akan mendapatkan apa-apa. Aquilla bukan anak kandungku.”
Kata-kata itu menusuk hati Aquilla, membuat tubuhnya mendadak kaku. Kata-kata dingin itu membungkamnya, membuat ia tak mampu menjawab apa pun. Tatapan Daniel tidak berbelas kasihan.
Apa maksudnya dia bukan anak kandung mereka?
Apa semua kasih sayang yang mereka tujukan semua palsu?
“Kau punya pilihan,” lanjut Daniel. “Tolak pernikahan ini, atau tetap menikahinya setelah tahu fakta itu.”