Ini adalah cerita tentang seorang remaja yang dianggap sebagai generasi muda terkuat saat ini. Ia tidak hanya kuat, ia juga kaya. Semua ia dapatkan berkat campur tangan gurunya.
Takdir mempertemukannya pada seorang pendekar misterius. Pendekar itu sangatlah kuat, walaupun tingkahnya agak sembrono.
Di kemudian hari ia akan mengetahui identitas dari pria itu. Petualangan mereka berdua akan sangat seru dan penuh intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan dengan Pria Misterius
Gao Rui tetap duduk di bangku taman. Pandangannya tidak pernah lepas dari pria bertubuh tinggi besar itu.
Bahu pria itu masih bergetar pelan. Isak tangisnya belum berhenti. Tangannya sesekali menyentuh tanah di depan kolam, seolah benar-benar sedang berada di hadapan makam kedua orang tuanya.
Pemandangan itu terasa begitu ganjil. Pria itu memiliki tubuh yang besar. Pundaknya lebar dengan kedua pedang hitam di pinggangnya memancarkan aura yang membuat siapa pun akan menganggapnya sebagai pendekar yang kuat. Namun sekarang, pria yang terlihat begitu kuat itu justru menangis sesenggukan seperti seorang anak kecil yang telah lama menahan kesedihan.
Gao Rui menghela napas pelan. Ia sebenarnya mengerti alasan pria itu menangis.
Sejak tadi, diam-diam ia meningkatkan kemampuan pendengarannya hingga beberapa kali lipat. Seluruh ucapan pria itu terdengar jelas di telinganya.
Ia tahu, pria itu seolah sedang berbicara kepada ayah dan ibunya. Bukan sekadar berbicara melainkan sedang mencurahkan seluruh isi hatinya kepada mereka. Namun justru itulah yang membuat Gao Rui semakin bingung.
Tatapannya kembali mengarah ke kolam ikan. Airnya tenang. Beberapa ikan koi berenang perlahan di bawah cahaya bulan. Batu-batu besar yang mengelilinginya hanyalah hiasan taman yang sengaja dibuat agar terlihat indah.
Ini adalah Penginapan Kayu Mawar. Salah satu penginapan paling mewah di Ibukota Weiyang.
"...apa benar ada makam di taman seperti ini?"
Gao Rui bergumam dalam hati.
Semakin dipikirkan, semakin tidak masuk akal. Namun ia memilih tetap diam. Ia tidak berniat mengganggu pria itu. Sebaliknya, ia terus mendengarkan.
Suara pria bertubuh besar itu terdengar lirih.
"...Ayah... Ibu... aku benar-benar minta maaf... aku terlalu lama baru bisa kembali."
Tangisnya kembali pecah.
Ia menceritakan kehidupannya sekarang. Tentang perjalanan yang sangat panjang. Tentang bagaimana akhirnya ia bertemu seseorang yang mengubah hidupnya.
Tentang bagaimana kini ia tidak lagi dibenci. Tidak lagi ditakuti dan tidak lagi hidup sendirian.
Nada suaranya begitu pelan. Namun justru karena itulah setiap kalimat terdengar semakin menyedihkan.
Gao Rui tanpa sadar mengepalkan tangannya. Masa lalunya sendiri sebenarnya juga tidak indah. Ia pernah dikhianati, hampir dibunuh, dan dibuang ke sungai hingga nyaris kehilangan nyawa.
Namun entah kenapa. Setelah mendengar cerita pria asing itu, Gao Rui justru merasa masa lalunya sendiri masih jauh lebih ringan. Pria itu sepertinya telah melalui penderitaan yang bahkan tidak sanggup ia bayangkan.
Suasana taman kembali sunyi. Hanya terdengar suara isakan pelan.
Beberapa menit berlalu. Tiba-tiba langkah kaki terdengar dari arah lorong penginapan.
Gao Rui langsung menoleh. Empat orang penjaga Penginapan Kayu Mawar sedang berjalan cepat menuju taman.
Salah seorang dari mereka berbisik.
"Itu dia."
"Ada orang asing masuk ke taman."
"Entah bagaimana dia bisa masuk."
Penjaga lain mengangguk.
"Ayo. Kita usir sebelum mengganggu para tamu."
Mereka segera mempercepat langkah.
Gao Rui yang melihat itu langsung mengerti situasinya. Para penjaga jelas tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Bagi mereka, pria bertubuh besar itu hanyalah penyusup yang tiba-tiba muncul di tengah malam.
Namun Gao Rui tahu. Pria itu sedang "menjenguk" kedua orang tuanya. Apa pun alasan sebenarnya, ia tidak tega melihat pria itu diusir saat sedang menangis seperti sekarang.
"..."
Gao Rui terdiam beberapa saat. Ia mulai bimbang. Haruskah ia membiarkan para penjaga menjalankan tugas mereka? Atau ia harus membantu pria asing yang bahkan belum ia kenal?
Sesaat kemudian, ia mengambil keputusan.
Tap!
Tubuh Gao Rui menghilang dari bangku taman. Dalam sekejap ia sudah berdiri tepat di depan para penjaga.
Keempat penjaga itu langsung menghentikan langkah. Mereka terkejut.
"Tuan Muda Rui?"
Begitu mengenali wajah Gao Rui, keempatnya buru-buru membungkukkan badan dengan hormat.
"Salam, Tuan Muda."
Gao Rui tersenyum canggung.
"Ehm..."
Ia melirik sekilas ke arah pria bertubuh besar yang masih berlutut di dekat kolam. Lalu kembali menatap para penjaga.
"Orang itu..."
Ia berhenti sesaat.
"...pamanku."
"..."
Keempat penjaga berkedip hampir bersamaan.
Gao Rui berusaha mempertahankan ekspresi tenangnya.
"Ia sedang..."
Ia mencari alasan secepat mungkin.
"...e...e..e... sedang mengenang sesuatu."
"Jadi... bisakah kalian tidak mengganggunya dulu?"
Para penjaga saling berpandangan. Tatapan mereka bergantian mengarah kepada Gao Rui, lalu kepada pria bertubuh besar yang masih menangis sendirian. Suasana menjadi sedikit canggung.
Sementara itu, Gao Rui sendiri mulai merasa gugup. Ia hampir tidak pernah berbohong kepada siapa pun. Terlebih lagi, kebohongan ini terdengar sangat mendadak.
Beberapa detik kemudian, salah seorang penjaga akhirnya tersenyum lega.
"Syukurlah kalau begitu."
"Kami sempat mengira ia penyusup atau pengunjung gelap."
Penjaga lainnya ikut mengangguk.
"Kalau ternyata keluarga Tuan Muda Rui, kami jadi tenang."
"Maaf sudah mengganggu."
Mereka kembali membungkukkan badan dengan sopan.
"Kalau begitu kami kembali berjaga."
Tanpa bertanya lebih jauh, keempat penjaga itu segera berbalik dan meninggalkan taman. Langkah kaki mereka perlahan menjauh hingga akhirnya menghilang.
Baru setelah mereka benar-benar pergi, Gao Rui mengembuskan napas panjang.
"Huff..."
Ia mengusap pelan dahinya.
"...untung mereka percaya."
Gao Rui masih berdiri di tempatnya. Ia melirik sekilas ke arah pria bertubuh tinggi besar yang masih berlutut di depan kolam.
Pria itu sama sekali tidak menyadari apa yang baru saja terjadi. Atau mungkin ia menyadarinya, tetapi terlalu tenggelam dalam kesedihannya hingga tidak peduli.
Gao Rui memperhatikannya beberapa saat lagi. Lalu tanpa sadar ia menguap.
"Huaaah..."
Kelopak matanya mulai terasa berat.
Malam sudah terlalu larut. Hari ini juga merupakan hari yang sangat panjang baginya. Mulai dari pesta ulang tahun, kejutan yang disiapkan Lan Suya, hingga kemunculan pria misterius dari sebuah portal dimensi. Ia benar-benar lelah.
Gao Rui menggaruk pelan pipinya.
"...lebih baik aku kembali."
Ia melirik sekali lagi ke arah pria asing itu. Pria tersebut masih duduk berlutut di tempat yang sama. Bahunya sesekali bergetar, sementara suaranya terdengar lirih diterpa angin malam.
Gao Rui menghela napas pelan. Ia memutuskan tidak mengganggunya. Kalau pria itu memang sedang mengenang kedua orang tuanya, mungkin saat ini ia memang membutuhkan waktu sendirian.
Gao Rui pun berbalik. Langkahnya perlahan menjauh meninggalkan taman.
Tidak lama kemudian, suasana kembali sunyi. Hanya cahaya bulan yang menemani seorang pria bertubuh besar yang masih berlutut sendirian di tepi kolam.
...*******...
Keesokan harinya, sinar matahari sudah cukup tinggi ketika Gao Rui akhirnya membuka matanya.
"...hmm..."
Ia berkedip beberapa kali. Biasanya ia sudah bangun sejak fajar. Namun mungkin karena semalam tidur terlalu larut, kali ini ia benar-benar terlambat bangun.
Setelah merapikan tempat tidur, ia segera membersihkan diri. Beberapa saat kemudian, Gao Rui keluar dari kamarnya.
Perutnya mulai terasa lapar. Ia pun berjalan menuju ruang makan utama Penginapan Kayu Mawar. Saat memasuki ruangan itu, Gao Rui sedikit terkejut.
"...sepi?"
Biasanya pada jam seperti ini sudah ada beberapa anggota Harta Langit yang sedang sarapan sambil membahas urusan dagang.
Harta Langit merupakan salah satu kelompok dagang terbesar di Kekaisaran Zhou. Kelompok itu dipimpin langsung oleh Lan Suya.
Sedangkan dirinya kini juga merupakan salah satu pemilik Harta Langit. Semua itu berawal dari campur tangan gurunya di masa lalu yang memberinya bagian kepemilikan kelompok dagang tersebut.
Namun pagi ini tidak terlihat satu pun wajah yang dikenalnya. Mungkin Lan Suya dan yang lainnya sedang keluar mengurus bisnis.
Gao Rui tidak terlalu memikirkannya. Ia memilih sebuah meja di dekat jendela lalu duduk. Tidak lama kemudian beberapa pelayan menghidangkan sarapan. Semangkuk bubur hangat, beberapa lauk sederhana, dan secangkir teh.
Gao Rui mulai makan dengan santai. Suasana ruang makan begitu tenang.
Sambil menikmati makanannya, pikirannya kembali melayang pada kejadian semalam. Tentang pria asing yang tiba-tiba muncul dari portal dimensi.
Tentang pria bertubuh tinggi besar yang menangis sesenggukan di depan sesuatu yang ia anggap sebagai makam kedua orang tuanya. Malam tadi, ia benar-benar bisa merasakan kesedihan pria itu. Bahkan sampai sekarang pun suara tangisnya masih terngiang di telinganya.
Namun entah kenapa, saat mengingatnya di pagi hari, bayangan itu justru terasa sedikit lucu. Gao Rui membayangkan kembali sosok pria yang begitu besar, membawa dua pedang hitam, namun menangis seperti anak kecil.
Tanpa sadar sudut bibirnya terangkat.
"Hehehe..."
Ia tertawa kecil seorang diri. Saat itulah sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakangnya.
"Boleh aku duduk di sini?"
"...!"
Senyum Gao Rui langsung membeku. Tubuhnya menegang. Ia mengenali suara itu.
Perlahan, dengan gerakan yang sedikit kaku, Gao Rui menoleh ke belakang. Di sana berdiri seorang pria bertubuh tinggi besar. Pundaknya lebar dengan pakaian gelap sederhana. Di pinggangnya, masih tergantung sepasang pedang hitam kembar yang sama seperti semalam.
Itu adalah pria misterius yang muncul dari portal dimensi di taman penginapan ini semalam.