Baca dulu "CALLIE SI BOCAH GENIUS"
Pergerakannya tidak bisa ditebak. Tingkahnya sangat random seperti remaja lainnya. Namun otaknya hampir 24 jam bekerja untuk membuat senjata dan sistem, meretas, dan melakukan eksperimen. Dunia bawah dan laboratorium khusus yang diwariskan padanya dari sang Opa, membuat gadis remaja itu tumbuh menjadi sosok yang cerdik. Dia adalah Callie Noura Eleanor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keponakan
"Onty Callie, jadi jalan-jalan ndak sih? Lama mamat lho. Kai yang tampan sudah siap lho," seru seorang bocah laki-laki kecil berusia 3 tahun yang sudah tak sabar untuk pergi jalan-jalan bersama Callie.
Brakk... Brakk...
Pintu kamar Callie dipukul kencang oleh bocah cilik bernama Kaizar Abimanyu Rayt itu. Dia biasa dipanggil Kai oleh keluarganya. Kai adalah anak dari Mika dan Axel. Yang artinya adalah keponakan Callie. Sore ini Callie berjanji pada Kai untuk pergi ke taman menggunakan sepeda. Namun Kai yang sudah tidak sabar, menjemput Callie di kamarnya. Pasalnya menurut Kai, Callie sangat lama turunnya. Padahal ini sudah jam 4 sore.
Namun setelah pintu kamar digebrak dan ditendang oleh Kai, tidak terdengar suara Callie. Hal itu membuat Kai mengerucutkan bibirnya sebal. Bahkan matanya sudah berkaca-kaca. Salah seorang maid bernama Ayu mendekati Kai yang duduk di lantai sendirian. Melihat ada orang yang mendekatinya, Kai langsung menangis histeris.
Huaaaa...
Onty Callie ndak mau main sama Kai,
"Sebentar... Kita coba ketuk pintunya dulu pelan-pelan ya. Siapa tahu Onty lagi ke kamar mandi makanya tidak dengar," ucap Ayu menenangkan Kai.
"Coba ketuk itu pintu kamalnya. Tangan dan kaki Kai sudah mati lasa ini gala-gala buat pukul pintu," rengek Kai sambil menunjukkan telapak tangannya yang memerah pada Ayu.
"Waduh... Ini kalau Nona Mika tahu, habis lah sudah itu Nona Callie." gumam Ayu yang tahu bagaimana posesifnya Ibu dari Kai itu.
Nona Callie, ini sudah ditunggu sama Tuan kecil.
"Siapa yang bilang kalau Kai itu kecil? Kai sudah besal," seru Kai yang kini malah menyalahkan Ayu.
Iya, besar jempolnya dibandingkan kelingkingnya.
Bi Ayu ngomong apa?
Ndak kok,
Nona Callie, selamatkan diriku dari tikus kecil ini.
Heh...
Ceklek...
Pintu terbuka dan menampilkan Callie dengan rambut berantakan. Tak lupa matanya masih terpejam dan kepala disandarkan pada pintu. Sepertinya Callie baru bangun tidur sehingga tadi tidak mendengar panggilan Kai dan Ayu. Kai yang melihat Callie baru bangun tidur pun langsung memelototkan matanya. Sudah berjanji dengannya malah baru bangun tidur. Padahal dia sudah siap dengan pakaian rapi dan tas kecil pada punggungnya.
"Onty Callie, kenapa balu bangun sih?" teriak Kai sambil berkacak pinggang.
"Sudah bangun kok ini, Kai. Jangan teriak-teriak, nanti lehermu putus lho. Kalau putus, nggak bisa disambung lagi." ceplos Callie dengan suara seraknya.
"Matanya belum telbuka itu. Astaga... Onty Callie minta ditembak dol dol dol," seru Kai yang menirukan gaya bicara Callie saat kesal.
Heh... Jangan ngomong gitu. Dengar Mamamu yang cerewet itu, Onty bisa digantung di pohon mangga depan rumah.
Callie langsung membuka matanya saat mendengar ucapan Kai. Bisa-bisanya Kai mengucapkan kata-kata keramat yang tidak boleh diucapkannya. Tembak dor dor dor itu lah kata keramat yang selalu diucapkan oleh Callie saat sedang kesal. Bahkan Kai pun selalu mengikutinya. Namun Mika tidak suka karena khawatir anaknya yang masih kecil terkontaminasi dengan senjata milik Callie. Mika juga sudah mengingatkan Callie agar tidak mengajarinya aneh-aneh. Walaupun sekarang hampir semua sepupunya bisa menggunakan senjata, tapi Mika tidak mau anaknya mengenal itu saat masih kecil.
"Makanya buluan siap-siap, Onty Callie. Kai tuh belasa dibeli halapan palsu lho ini. Sudah menunggu sejak shubuh tadi lho," seru Kai dengan raut wajah memberengut kesal.
"Itu namanya kurang kerjaan, Kai. Lebay amat ini bocah. Orang perginya sore, ngapain siap-siap dari shubuh." Callie pun memilih masuk ke dalam kamar mandi daripada mendengar ocehan Kai.
"Perasaan di keluarga ini, yang cowok tuh biasanya dingin dan nggak cerewet. Ini keponakan satu cowok kok cerewetnya minta ampun. Mana setiap hari datang ke sini minta diajak jalan terus jajan. Emaknya juga pelit, anaknya pergi nggak dikasih duit." lanjutnya menggerutu.
Buluan, Onty Callie. Kebulu sole jadi pagi lagi ini,
Sabar...
Hatchi...
Kok kaya ada yang lagi ngomongin aku di belakang ya?
***
Saat ini Callie tengah memboncengkan Kai dengan sepeda mininya. Sengaja Callie menggunakan sepeda karena ingin sekalian berolahraga sore. Tampak wajah ceria dari Kai yang bernyanyi lagu anak-anak. Pegangan Kai pada perut Callie begitu erat karena beberapa kali gadis itu mengayuh sepedanya dengan kencang.
"Kai, suaramu kaya kaleng wadah rengginang. Cempreng amat," seru Callie agar Kai menghentikan nyanyiannya.
"Ndak sadal dili kamu ini, Onty Callie. Suala kita sama-sama cempleng," seru Kai membuat Callie memelototkan matanya.
"Suara Onty itu mirip Shakira lho. Sembarangan kamu ngatain Onty ini," seru Callie tak terima.
"Shakila kalau lagi kejepit lemali itu sualanya Onty," Callie mendengus sebal mendengar ucapan dari Kai.
Krek... Krek...
Eh... Kenapa nih sepedanya?
Tiba-tiba saja terdengar bunyi gesekan pada sepeda yang tengah dikayuh oleh Callie. Hal itu membuat Callie segera menghentikan kayuhannya dan membawa sepedanya ke pinggir jalan. Callie turun dari sepedanya kemudian melihat ke arah rantai. Ternyata rantai sepedanya sudah kendor dan berkarat. Callie menepuk dahinya pelan karena lupa memeriksa sepedanya sebelum tadi dipakai.
"Onty, ndak ada ya celitanya sepeda mogok sepelti mobil." peringat Kai yang tahu pasti alasan Callie ketika kendaraan berhenti.
"Rantainya rusak ini," Callie menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia melihat ke arah jalan sekitarnya yang terlihat sangat sepi.
"Katanya sepeda puluhan juta, masa lantainya bisa lusak sih? Beli yang KW supel ini pasti," seru Kai yang mencibir kesombongan Callie.
"Namanya juga barang, pasti rusak kalau tidak dirawat atau kelamaan nggak dipakai. Lagian ini sepeda mahal ya, rusak pun nanti dijual harganya jadi 1 milyar." ucap Callie melebih-lebihkan.
Satu milyal itu uangnya sepelti apa, Onty?
Sebesar gunung himalaya,
Ha?
Tentu saja Callie hanya berucap asal saja untuk menjawab pertanyaan Kai. Lagi pula anak seusia Kai ini masih bisa dibohongi. Callie terkekeh geli melihat Kai tampak kebingungan. Akhirnya Callie pun kembali menaiki sepedanya. Namun tidak dengan Kai yang dimintanya mendorong. Pasalnya rantai sepeda itu tak bisa Callie perbaiki.
"Dorong terus, Kai." seru Callie dengan santainya menjahili Kai.
"Halusnya Kai yang naik lho. Kok ini jadi Onty sih?" seru Kai tak terima. Bahkan wajahnya sudah memerah dan dahinya bercucuran keringat.
"Kakimu kan masih pendek. Nanti gimana bisa kakimu itu menapak jalanan? Jatuh dong," ucap Callie dengan asal. Padahal ini hanya alasan Callie saja agar tidak berjalan kaki sambil membawa sepeda dengan Kai duduk di atasnya.
Aneh sekali. Ada bau-bau Kai kena plenk ini,
Cittt...
Awas...
Dor... Dor... Dor...
Huaaa...
Onty ada yang tembak dol dol dol,