NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anvika

Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.

Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?

📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Kebohongan

Mendapatkan pertanyaan seperti itu, sontak saja membuat Nara gelagapan. Belum lagi tatapan dari para pelanggan yang begitu intens. Nara meneguk ludahnya susah. Dari semua tatapan itu, tatapan ibunya lah yang paling tajam.

"Bu Nurlela cerita ke saya barusan, bahkan baru sekali. Kita berpapasan saat saya mau ke sini, katanya ... dia ketemu kamu di pasar, terus kamu bilang tidak butuh suami karena bisa melakukan semuanya sendiri," cerocos wanita itu, bibirnya yang merah menyala bergerak maju-mundur demi menceritakan berita yang baru saja didengarnya itu. Tentu tujuannya untuk menanyakan kebenaran dari sang empunya langsung dan di depan semua orang sekalian agar mereka semua juga mengetahui.

"Benar itu Nara?" tanya ibunya.

Pertanyaan itu seketika menyadarkan Nara dari ingatannya tadi pagi, saat ia bertemu dengan tetangganya Nurlela di pasar.

Nara menarik napas, lalu membuangnya perlahan. "Wah ... Ibu Lela salah paham itu," ujar Nara berusaha setenang mungkin, Imas yang bertanya menjadi semakin penasaran. Ia pun mengambil tempat duduk agar nyaman mendengarkan penjelasan dari sumbernya langsung, tidak lupa tangannya mencomot perkedel jagung sebagai cemilannya. Lupa sudah tujuannya datang ke warung untuk membeli sarapan pagi suami dan anaknya di rumah.

"Salah paham gimana maksud kamu, Nara? Memang, ya! Bu Lela itu suka sekali membawa berita-berita hoax. Saya sih tidak gampang percaya, makanya langsung mencari kebenaran dari sumbernya langsung." Bangga Imas, mengipasi wajahnya dengan jumawa.

"Berita-berita? Aslinya itu gosip, Bu!" sahut Mamat di mejanya, kembali melanjutkan makannya yang sempat terhenti. Astaga! Hampir saja ia percaya dengan ucapan Imas, tetapi yang bersangkutan segera membantah.

"Tadi pagi beliau sapa saya, katanya kasian lihat saya yang ke pasar bawa motor sendirian. Tidak kaya dia yang ditemani suaminya. Ya terus saya jawab saja, karena saya masih sanggup sendiri, jadi belum butuh suami. Semuanya itu cuman agar jaga-jaga saja dengan ucapan Bu Lela selanjutnya, yang suka sekali menjodoh-jodohkan saya dengan duda anak satu di kampung sebelah," jelas Nara. Tetangganya yang satu itu, selain suka menanyakan kapan nikah, juga suka sekali mempromosikan para duda kenalannya. Mungkin ia mendapatkan komisi dari hal tersebut, makanya bersemangat sekali.

"Lailahailallah ..." Dani menggeleng pelan. "Kenapa, ya, Bu Lela itu suka sekali mencampuri urusan orang lain? Kemarin saja dia yang paling depan memanas-manasi teteh di ujung gang untuk melabrak suaminya yang katanya selingkuh. Padahal, suaminya cuma menolong perempuan yang jatuh dari motor. Tapi menurut Bu Lela, mereka sedang berpelukan mesra di pinggir jalan. Hais ... heboh sekali kemarin itu. Saya sempat lihat grasak-grusuknya." Dani kembali menyuap makanannya, meski pikirannya masih dipenuhi kekesalan.

"Ellleh, itu berita lama. Dua hari yang lalu, sudah basi mah itu. Saya juga sudah dengar beberapa menit setelah kejadian, tentunya dari sumber yang terpercaya juga." Imas melambaikan tangan, itu tidak menarik. Ia lebih tertarik dengan kalimat terakhir yang diucapkan oleh Nara. "Memangnya kenapa dengan duda anak satu, Nara? Kamu tidak mau karena dia bawa anak nanti? Kalau itu sih gampang, tinggal suruh saja titip ke mantan Ibu mertuanya. Kan, beres." Ia memberikan solusi yang menurutnya sangat tepat.

Nara geleng-geleng, tidak habis pikir dengan pemikiran dan ucapan Imas. Berbicara dengan wanita ini memang tidak akan ada habisnya. Padahal sudah tersirat dalam penjelasan dan raut wajahnya, bahwa ia tidak suka membahas perjodohan. Tapi Imas sepertinya menutup mata akan hal tersebut.

"Hhhh ... iya, Bu." Nara tertawa canggung. "Tapi bukan karena itu alasannya, Bu. Saya tidak mau dijodohkan dengan duda anak satu kampung sebelah itu karena ..." Nara meneguk ludahnya, berusaha menyembunyikan gelagapannya.

"Karenaaa ...?" mata Imas melebar, mengeja dengan panjang kata terakhir Nara yang tidak diteruskan.

Ratna ikut penasaran dengan alasan anaknya itu, ia melirik sekilas lalu kemudian kembali fokus pada bungkusan nasi pesanan pelanggannya yang tidak makan di tempat.

Cukup lama semua orang menunggu balasan dari gadis yang hampir berumur 30 tahun itu, termaksud Mamat dan Dani beserta yang lainnya yang berada di satu meja tersebut.

"Karena saya sudah punya calon suami, Bu. Mana bisa saya terima perjodohan itu," jawab Nara meluncur begitu saja, manik matanya sedikit bergetar karena itu merupakan sebuah kebohongan. Nara memperbaiki kacamata bulat tebalnya, berharap itu dapat menutupi kebohongannya agar tidak tercium.

"Serius kamu, Nak?!" tanya Ratna yang tiba-tiba saja sudah berada tepat di depan wajah Nara. Menatap intens mata anaknya yang terhalang oleh kacamatanya.

Imas sampai terlonjak kaget. "Eh! Bu Ratna ini bikin kaget saja," ucap wanita itu mengelus dadanya.

Nara berusaha setenang mungkin menghadapi interogasi dari ibunya. Wajahnya ia buat setenang mungkin. "Iya, Bu. Benar," jawabnya kemudian, dengan wajah yang tenang, meyakinkan. Maaf, Bu. Nara bohong, lanjutnya dalam hati, meringis bersalah.

"Aduhhh, Bu Ratnaaa. Itu loh, di tungguin sama pelanggannya. Sana ... lihat dulu," usir Imas, merasa wanita sepantarannya itu mengganggu perbincangannya dengan Nara.

"Nanti kita bicara lagi, Ibu layani pelanggan dulu." Putus Ratna dan mendapatkan anggukan dari sang anak.

"Oh ... begitu, toh. Syukur kalau begitu. Selamat, ya. Aku ikut bahagia." Imas menarik tangan Nara, senyumannya merekah indah. Terlihat senang sekali setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Nara barusan.

"I-iya, Bu." Tangan Nara mengikuti gerakan tangan besar Imas yang menjabat tangannya. Dalam hati, ia bertanya mengapa wanita ini sebahagia ini?

"Ya bener, Teh Nara? Selamat ya, saya juga ikut senang." Dani mengucapakan dengan tulus. Begitu pula dengan ketiga rekannya di meja, termasuk Mamat. Sebenarnya, ia dan yang lainnya sudah gedek mendengar beberapa rekan mereka di pabrik yang membahas wanita bohay, lalu beberapa yang lainnya mengaitkan Nara ke dalam pembahasan. Terutama penampilan dari anak pemilik warung makan ini yang kata mereka sama sekali tidak sedap di pandang. Kaos lebar dengan celana kedodoran, rambut yang diikat asal begitu saja. Tidak ada menariknya sama sekali. Percuma lah putih, kalau penampilannya seperti itu. Belum lagi kacamata bulatnya yang tebal, sungguh membuat sakit mata. Tapi begitulah menurut mereka yang memang berotak kotor, jika mereka mengenal Nara, maka penampilannya bukanlah hal yang perlu dipersoalkan. Yang penting kepribadiannya.

"Jadi, sekarang calonmu di mana, Nara? Apakah orang kampung sebelah, karena di kampung kita sih saya yakin tidak ada. Soalnya belum mendengar kabarnya, atau saya yang ketinggalan? Tapi itu tidak mungkin," Imas mulai heboh sendiri. Memastikan Nara benar-benar memiliki calon, yang nantinya akan ia beritahu pada suaminya yang selalu saja menggatal itu, padahal sudah memiliki dua madu.

Nara membuang napas. Benarlah, satu kebohongan akan diikuti oleh kebohongan yang lain. Ia tidak memiliki pilihan lain, selain berbohong lagi. "Tidak di kampung ini, maupun di kampung sebelah, Bu. Calon suaminya saya orang kota. Ketemu dan kenalan di sana pas kami sedang kerja." Semua mulut di sana membulat, angguk-angguk mengerti.

"Jangan bilang kalau kamu pulang kampung karena mau urus pernikahan, ya?" tanya Imas lagi.

Duuhhhh, Rabbi. Berdosakah hamba, jika menyumbat mulut Bu Imas dengan perkedel agar beliau berhenti bertanya? batin Nara.

***

Bersambung ...

1
Maulidia Okta
wah karna ada uwak sakit, nara sama sagara pasti bisa lebih dekat lagi, udh kayak suami istri beneran...
Maulidia Okta
gitu donk yang akur dan mendekati mesra nick.....
Maulidia Okta
duh...mulau ada bau² kedekatan nich
Maulidia Okta
duh... enteng banget aa gara, ngomong ya....
Anvika: Iya, kaya ngajak main diaa🤭
total 1 replies
Maulidia Okta
suka cefitanya....
Anvika: Makasih kak😍🥰
total 1 replies
Maulidia Okta
nara ribet banget ya
Anvika: Heheh, memang ribet dia kak🤭
total 1 replies
fabdul
Walaupun tanpa cinta, tapi tetap berkomitmen 👍
Anvika: Setuju, kak😊
total 1 replies
fabdul
Mampir💪
Anvika: Siap, Kak. Semoga suka ceritanya 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!