Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK
BOOOOM!!!
Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.
"Turun!" teriak Bayu.
Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.
*TAT... TAT... TAT...*
Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.
Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.
Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 : LANGKAH PATRIOT WADANA RAKSAPATI
Embun masih menempel lebat di ujung daun, membuat setiap sentuhan terasa dingin menembus kulit. Fajar baru saja mengintip samar di ufuk timur, menyisakan sisa kegelapan yang perlahan luntur.
Di pinggiran sungai Ciroas tempat jalan rahasia menuju kota Banjar, Wadana Raksapati berdiri merapikan ikat pinggang dan memastikan penampilannya persis seperti hari-hari biasa saat bertugas keliling wilayah. Di belakangnya berdiri Bayu dan Karta menatap penuh harap sekaligus cemas.
"Semua sudah Bapak hafal baik-baik?" tanya Bayu pelan.
"Setiap kata, setiap nama, dan setiap jalan yang harus dihindari sudah tertanam di kepalaku, Nak. Tak akan ada yang meleset," jawab Wadana tenang, namun matanya menampakkan beban berat yang dipikulnya.
"Kalau sampai dicurigai atau ada hal yang tak diinginkan, Bapak segera mundur. Jangan dipaksakan," tambah Karta tak kuasa menahan khawatirnya.
Leluhur itu tersenyum tipis, lalu menepuk bahu keduanya bergantian.
"Selama ini aku hidup di antara aturan yang dibuat orang lain, menahan mulut dan pandangan demi selamat. Sekarang giliranku melakukan sesuatu yang benar. Tenanglah, aku tahu betul bagaimana cara berjalan di antara dua sisi mata pisau."
Ia melangkah perlahan menghilang di balik semak belukar, meninggalkan jejak yang segera ditutup rapat oleh Bayu. Keduanya pun kembali ke tempat persembunyian utama, di mana Kapten Wirayuda sudah menunggu untuk memulai hari panjang penuh latihan dan penantian.
Di sisi lain, pintu gerbang tangsi Belanda terbuka. Wadana Raksapati berjalan tegap namun santai, disambut tatapan curiga dari prajurit yang berjaga. Sersan Pieter yang masih membalut kakinya yang terluka kemarin, melangkah mendekat sambil menatap tajam dari ujung kepala sampai kaki.
"Wadana datang begitu pagi sekali. Ada laporan khusus?" tanyanya kasar.
"Tugas rutin seperti biasa, Sersan. Memastikan jalur aman dan tak ada hal yang mengganggu rencana panen besok," jawab Wadana santai.
Pieter mendengus kasar. "Onzin!" (Omong kosong!) "Kemarin saja sudah ada yang berani melawan, sekarang kau bilang semuanya aman? Kalau ada masalah, kaulah yang pertama disalahkan, domme inlander!" (penduduk pribadi bodoh!)
"Saya sadar tanggung jawab saya. Saya sudah periksa semuanya sejak subuh. Izinkan saya menemui Bupati dan Kapten," ucap Wadana tenang tak tergoyahkan.
"Schiet op!" (Cepatlah!) seru Pieter sambil melambaikan tangan kasar memberi jalan. Wadana mengangguk sopan lalu melangkah masuk, jantungnya berdegup kencang namun raut wajahnya tetap tenang seolah tak menyembunyikan apa pun.
Di ruang kerja Bupati Adiningrat, suasana tegang terasa sejak ia melangkah masuk. Bupati duduk memandangi selembar surat sambil mengetukkan jari di meja. Begitu melihat Wadana, ia memberi isyarat pelan agar mendekat dan berbicara seperlunya saja.
"Kau datang tepat waktu, Raksapati. Mereka makin curiga gerakan penduduk," ucap Bupati pelan.
"Itulah yang ingin saya sampaikan, Bupati. Warga sudah tak punya apa-apa lagi. Kalau terus diambil, yang ada mereka akan nekat," jawab Wadana.
Bupati menghela napas longgar, lalu memastikan ruangan itu aman.
"Saya tahu, tapi tangan saya terikat. Mayor sangat murka. Besok sebelum fajar mereka datang menangkap nama-nama yang tercantum di sini, termasuk Bayu."
Ia menyodorkan secarik catatan rute pasukan. "Bawa ini, sampaikan secepatnya."
Belum sempat terima kasih terucap, pintu terbuka lebar. Kapten De Vries masuk dengan senyum mencekam di bibirnya.
"Rupanya Wadana sudah duluan di sini. Sedang membicarakan daerahmu ya?" tanyanya tajam.
"Saya hanya melapor keadaan warga yang semakin sulit makan, Kapten," jawab Wadana.
"Geen excuses!" (Tak ada alasan!) "Semua harus diserahkan. Yang menolak dianggap musuh," tegas De Vries.
"Pastikan jalan aman, atau kau yang akan menggantikan mereka di penjara. Begrijp je het?" (Mengerti?)
"Saya usahakan sebaik mungkin, Kapten. Tapi ingatlah, orang yang sudah tak punya apa-apa tak akan takut lagi mati," peringat Wadana halus.
De Vries tertawa sinis. "Laat ze maar komen!" (Biarkan saja mereka datang!)
"Semakin berani, semakin mudah kami habisi sekaligus."
Wadana segera berpamitan. Langkah kakinya terasa berat seolah diikuti ribuan mata, ia harus secepatnya kembali membawa kabar yang nyaris terlambat ini.
--------------
Sementara itu di tempat persembunyian, latihan sedang berlangsung sengit. Kapten Wirayuda mengawasi satu per satu gerakan mereka. Karta menusukkan bambu runcing ke batang kayu mati berulang kali.
"Pergelangan tangan kaku. Luruskan, arahkan ke titik lemah, bukan menusuk sembarangan," tegur Kapten memperbaiki posisi.
Bayu berlatih mengatur napas. "Kalau tenaga habis di jalan, sebelum bertempur kau sudah kalah. Hembuskan perlahan, tetap irama."
Di sisi lain tempat teduh, Bu Siti bersama Nyi Mas Inten dan beberapa ibu lain sibuk merangkai pembalut dari kain bekas yang sudah direbus bersih, serta menata ramuan akar dan daun penahan darah.
"Kalau terluka nanti, tekan dulu bagian yang darahnya paling deras keluar, bersihkan pakai air bersih lalu ikat erat. Ingat baik-baik ya caranya," pesan Bu Siti berulang kali memastikan semuanya paham.
Tiba-tiba Dul Kalong yang berjaga di bukit memberi isyarat: Wadana datang sendirian dengan tergesa. Semua segera berkumpul menyambutnya, begitu melihat wajah pucat dan keringat dingin yang membasahi pelipisnya, semua langsung paham ada kabar buruk yang sangat mendesak.
"Mereka tahu. Besok sebelum matahari terbit, mereka datang mengepung dan menangkap kita semua," ucap Wadana tanpa basa-basi begitu sampai di hadapan mereka.
Suasana seketika hening mencekam. Jaka Kelitik mengepal tangannya kuat-kuat.
"Berarti Haji Lontang dan Kiai Karimun benar-benar mengkhianati kita."
"Jumlah mereka berapa? Lewat jalan mana?" tanya Bayu tegas, meski hatinya sempat bergetar hebat.
"Empat puluh orang, lewat jalan utama dan jalan samping sungai. Rencananya mengepung dari dua arah sekaligus. Kita harus pindah sekarang juga," jelas Wadana sambil duduk sejenak menenangkan napasnya.
Kapten Wirayuda menatap peta tua yang terhampar di hadapannya, lalu menatap mereka satu per satu.
"Pindah memang aman, tapi kalau terus lari, kapan kita berhenti? Sekarang justru kitalah yang tahu rencana mereka, mengapa tidak kita yang menyambut duluan di tempat yang kita pilih?"
Semua mata beralih ke arah Bayu. Ia diam sejenak memikul segala risiko, lalu mengangguk mantap.
"Benar kata Kapten. Kita takkan lari lagi. Di jalan sempit berbatu itu, merekalah yang akan terjebak."
"Tapi kekuatan dan senjata mereka jauh lebih unggul," ingatkan Embek Gombloh masih tampak ragu.
"Mereka tak bisa berbaris rapi, tak bisa memakai kekuatan bersamaan di sana. Kita menunggu di atas tebing, di balik semak, di setiap tikungan yang kita hafal luar kepala," jawab Bayu tegas.
Sisa hari itu dipakai sepenuhnya untuk bersiap. Tak ada yang beristirahat tenang. Semua sibuk memindahkan barang berharga ke tempat paling tersembunyi, memasang jebakan sepanjang jalan masuk, dan membagi tugas sejelas-jelasnya. Wadana kembali ke Banjar sebelum malam benar-benar pekat, memastikan tak ada yang curiga ia pergi terlalu lama.
Malam itu menyelimuti lembah dengan sunyi, namun tekad di dada mereka menyala terang: besok bukan lagi hari penangkapan, melainkan hari ujian keberanian pertama bagi mereka semua.
----------
Catatan penulis:
Mohon maklum jika ada kesalahan tata bahasa Belanda, disesuaikan demi kebutuhan suasana cerita dan hasil dari Google Translate