Kebebasan dari balik jeruji ternyata bukanlah akhir dari hukuman.
Setelah bertahun-tahun mendekam di penjara, Indri berharap dapat memulai hidup yang baru. Namun, dosa masa lalu yang telah menghancurkan kehidupan seseorang membuatnya menjadi sasaran balas dendam.
Di balik kepulangannya, Evan telah menyiapkan sebuah permainan yang dirancang dengan sempurna. Bukan untuk membunuh Indri, melainkan membuat wanita itu merasakan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Sedikit demi sedikit, kehidupan Indri direnggut—harga dirinya, kebebasannya, hingga harapan untuk hidup bahagia.
Namun, semakin jauh Evan melangkah menjalankan rencana balas dendamnya, semakin dalam pula ia terjebak dalam perasaan yang tak pernah ia duga.
Lantas... Akankah Indri berhasil terbebas dari belenggu dendam yang mengikat hidupnya? Ataukah justru Evan yang akan terperangkap dalam rasa yang sama beracunnya dengan kebencian yang selama ini ia pelihara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Sudah hampir satu bulan berlalu, tetapi hidup Indri tidak pernah benar-benar kembali seperti semula.
Setiap pagi ia tetap mengenakan pakaian kerja terbaiknya, menyapa para karyawan dengan senyum yang tampak wajar, menghadiri rapat, dan mendampingi Haris mengurus perusahaan.
Di mata semua orang, ia adalah direktur muda yang semakin matang dan bertanggung jawab.
Hanya Indri yang tahu bahwa setiap senyum itu terasa semakin berat.
Setiap malam sebelum tidur, ia memeriksa pintu dan jendela kamarnya berkali-kali. Setiap kali ponselnya bergetar, jantungnya berdegup lebih cepat.
Ia selalu takut melihat nama atau pesan yang berasal dari Evan.
Bukan karena pria itu selalu muncul. Justru karena Evan bisa muncul kapan saja.
Di ruang kerjanya, Indri mencoba memusatkan perhatian pada laporan keuangan. Angka-angka yang biasanya mudah dipahami kini terlihat berantakan.
Ia mengusap pelipisnya. Belum sempat kembali bekerja, ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat muncul.
"Jangan pernah berpikir kau bisa melupakan masa lalumu."
Tidak ada nama pengirim. Tetapi Indri tahu siapa yang mengirim pesan itu. Tangannya langsung dingin.
Ia menghapus pesan itu, tetapi kata-kata tersebut tetap terngiang di kepalanya.
"Bu Indri?" Suara Nisa membuatnya tersentak.
"Ibu baik-baik saja?" tanya Nisa yang sejak tadi memperhatikan Indri tampak melamun.
Indri buru-buru menyimpan ponselnya. "Aku baik-baik saja."
"Tapi Ibu terlihat pucat. Apa Bu Indri lagi sakit?"
"Enggak, kok. Mungkin cuma efek kurang tidur."
Nisa tampak ragu. "Kalau ada yang bisa saya bantu..."
Indri tersenyum tipis. "Terima kasih."
Namun setelah Nisa keluar, senyum itu langsung menghilang.
Ia mulai merasa tidak mampu lagi membedakan mana rasa takut yang nyata dan mana yang hanya lahir dari pikirannya sendiri.
Sepulang kerja, Haris mengajak Indri minum teh di taman belakang. Matahari mulai tenggelam. Udara sore terasa sejuk.
"Kamu ingat," kata Haris pelan, "Dulu waktu kecil kamu paling suka bermain di taman ini."
Indri mengangguk sambil tersenyum kecil. "Papa selalu pulang membawa es krim."
Haris tertawa pelan. "Padahal dokter melarangmu makan terlalu banyak."
Keheningan kembali hadir sejenak. Haris memperhatikan wajah putrinya cukup lama.
"Akhir-akhir ini kamu banyak berubah."
Indri menoleh. "Maksud Papa?"
"Kamu lebih banyak diam. Kalau ada masalah, cerita sama Papa. Atau kamu juga bisa cerita sama kakakmu. Jangan dipendam sendiri."
Indri menundukkan kepala. "Maaf, Pa. Aku hanya sedang banyak pikiran. Tapi aku gak bisa cerita."
Haris tidak memaksa. Ia hanya menggenggam tangan putrinya.
"Apa pun yang terjadi... Papa percaya kamu bisa melewatinya."
Kalimat sederhana itu justru membuat hati Indri semakin sesak. Ia ingin menceritakan semuanya.
Tetapi ia takut. Takut jika kesehatan Haris kembali memburuk. Takut jika keluarganya kembali terseret ke masa lalu yang selama ini berusaha mereka tinggalkan.
Sementara itu di apartemennya, Evan menerima laporan dari Dimas.
"Pak. Bu Indri tidak pernah pergi ke mana-mana selain kantor dan rumah. Dia juga semakin jarang bertemu teman."
Evan membaca laporan itu tanpa ekspresi.
"Masih mengawasinya?"
"Iya. Dia selalu merasa ada yang mengikuti."
Evan menutup map perlahan.
"Cukup."
Dimas tampak bingung. "Pak?"
"Kurangi pengawasan."
Rio menatap Evan. "Bapak berubah pikiran?"
Evan berdiri dan berjalan ke arah jendela. "Aku ingin dia mengingat kesalahannya. Bukan kehilangan kewarasannya."
Rio terdiam. Kalimat itu terdengar berbeda dari Evan yang dikenalnya.
Malam itu, Indri kembali terbangun karena mimpi buruk.
Ia bermimpi berada di sebuah lorong panjang tanpa ujung.
Di setiap pintu yang ia buka, selalu ada bayangan masa lalunya.
Suara tangis Laura.
Ruang sidang.
Jeruji penjara.
Dan tatapan Evan yang penuh kebencian.
Indri terbangun dengan napas memburu. Bajunya basah oleh keringat. Ia menyalakan lampu kamar dan duduk memeluk lutut.
Air matanya kembali jatuh.
"Aku lelah..." Untuk pertama kalinya sejak bebas dari penjara, ia mengucapkan kalimat itu dengan suara keras.
Bukan karena pekerjaan. Bukan karena perusahaan. Melainkan karena rasa bersalah yang tidak pernah benar-benar pergi.
Keesokan harinya, Cinta menghampiri kamar Indri. "Aku masuk ya."
Indri buru-buru menyembunyikan matanya yang sembap. "Kak."
Cinta duduk di samping adiknya.
"Laura bilang akhir-akhir ini Tante Indri jarang tersenyum. Kamu lagi ada masalah?"
Indri tersenyum tipis. "Biasalah, kak. Lagi banyak pikiran tentang kerjaan."
Cinta menggeleng. "Aku ini kakakmu. Aku tahu kapan kamu sedang menyembunyikan sesuatu."
Indri menunduk. Tangannya saling menggenggam erat. "Kalau suatu hari nanti... aku melakukan kesalahan lagi."
Cinta langsung memotong. "Setiap orang bisa salah. Yang penting jangan berhenti memperbaiki diri."
Air mata Indri kembali mengalir.
Cinta memeluk adiknya tanpa bertanya lebih jauh. Ia tidak tahu masalah apa yang sedang dihadapi Indri. Namun ia tahu satu hal. Adiknya sedang berjuang sendirian.
Setelah cinta keluar dari kamarnya, Indri merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamar.
Ia merasa hidupnya seperti berada di dalam sebuah penjara yang tidak memiliki jeruji.
Ia bebas berjalan. Bebas bekerja.
Bebas berbicara. Namun jiwanya tetap terkurung oleh rasa bersalah, ketakutan, dan ancaman yang tidak kunjung berakhir.
Dan untuk pertama kalinya, sebuah pikiran yang selama ini berusaha ia usir mulai tumbuh di dalam benaknya. Mungkin satu-satunya cara untuk benar-benar bebas... adalah menghentikan Evan.
Di tempat lain, Evan membuka kembali menatap foto Laura, adiknya.
Tatapannya kosong. Dendam telah membuatnya bertahan hidup selama bertahun-tahun.
Tetapi kini ia mulai menyadari bahwa dendam juga telah mengubah dirinya menjadi seseorang yang nyaris tidak dikenalnya lagi.
semoga saja benar Evan masih hidup... Evan jangan lama" sembunyi nya entar si Indri jadi milik Royco, cepat keluar ya bikin surprise Indri kamu masih hidup...mau ku 😩🤣🤣🤣🤣
sepertinya kecebong babang Evan udah berubah jadi berudu kecil ❤️😁