Prabu, seorang pria yang dulunya penuh ambisi, kini tenggelam dalam depresi berat yang merenggut gairah hidupnya. Melihat kondisi sang putra yang kian memprihatinkan, ayahnya yang merupakan seorang pilot senior, merasa hanya ada satu orang yang mampu menarik Prabu keluar dari kegelapan: Xena.
Xena bukan sekadar wanita dari masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Prabu saat SMA, ia kini adalah seorang dokter spesialis jiwa yang handal. Sang ayah yakin bahwa kombinasi antara keahlian medis dan ketulusan hati Xena adalah kunci kesembuhan Prabu.
Meski dipenuhi penolakan dan sikap dingin yang membeku, Prabu akhirnya menyerah pada desakan orang tuanya. Ia menyetujui pernikahan tersebut dengan satu syarat mutlak di kepalanya: pernikahan ini tak lebih dari sekadar sesi pengobatan.
Xena pun melangkah masuk ke dalam hidup Prabu, bukan lagi sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai penyembuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Setelah Ayah Prabu berpamitan, Xena segera mengambil ponselnya.
Ia tahu waktu sangat berharga untuk memulai proses pemulihan ini.
Xena segera mencari kontak Dena, perawat sekaligus asisten kepercayaannya di rumah sakit.
Xena mengetik pesan dengan cepat:
"Dena, saya akan mengambil cuti selama beberapa hari ke depan untuk fokus pada terapi Mas Prabu. Tolong handle jadwal pasien saya di rumah sakit ya."
Tak berselang lama, ia mengirimkan pesan tambahan mengenai persiapan tempat rahasia tersebut:
"Satu lagi, tolong siapkan vila kecil di dekat pantai yang pernah kita bahas. Pastikan lingkungannya tenang, jauh dari keramaian, dan siapkan peralatan medis standar serta bahan makanan organik untuk satu minggu. Ini akan menjadi tempat terapi intensif untuk suami saya. Terima kasih, Dena."
Selesai mengirim pesan, Xena menatap Prabu yang masih duduk mematung di sofa.
Ada beban berat yang ia pikul, namun melihat Prabu yang hancur membuat tekadnya semakin bulat.
"Kita akan berangkat sekarang Pra," ucap Xena pelan namun pasti.
Prabu tidak menjawab, ia hanya menatap kosong ke arah jendela, namun Xena bisa melihat rahang suaminya yang mengeras.
Prabu mungkin merasa dipaksa, tapi bagi Xena, ini adalah satu-satunya cara untuk menarik kembali jiwa suaminya dari jurang kegelapan yang selama ini menenggelamkannya.
Xena mulai mengemasi pakaian dan kebutuhan medis mereka ke dalam koper, menyiapkan diri untuk perjalanan yang tidak hanya berpindah tempat, tapi juga perjalanan untuk menyembuhkan luka yang paling dalam.
Setelah semua koper dan perlengkapan medis masuk ke dalam bagasi, Xena mengunci pintu rumah mereka dengan perasaan campur aduk.
Ia berharap, saat mereka kembali nanti, suasana rumah ini tidak lagi sedingin sekarang.
Namun, saat menuju mobil, Xena mendapati Prabu sudah duduk dengan tenang di kursi penumpang bagian belakang.
Pria itu menatap lurus ke jendela, seolah-olah Xena adalah sopir pribadi yang sedang disewa untuk mengantarnya.
Xena menghentikan langkahnya di samping pintu kemudi, menatap suaminya dari kaca spion tengah.
Ia menggelengkan kepalanya pelan, melihat bagaimana Prabu masih terus membangun tembok tinggi di antara mereka.
Bukannya duduk di sampingnya sebagai seorang suami, Prabu justru memilih menjaga jarak sejauh mungkin.
"Baiklah, aku yang akan menyetir," ucap Xena tenang, mencoba tidak memasukkan sikap dingin itu ke dalam hati.
Xena masuk ke kursi kemudi, mengenakan sabuk pengaman, dan mulai menyalakan mesin mobil.
Ia melirik sekilas ke arah Prabu yang masih membisu.
Tanpa banyak bicara lagi, Xena melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang mulai padat, meninggalkan hiruk-pikuk Jakarta menuju tempat tersembunyi di pinggir pantai.
Di dalam mobil hanya terdengar suara mesin dan embusan AC yang dingin.
Xena tahu perjalanan ini akan sangat panjang, bukan hanya soal jarak tempuh kilometer, tapi juga soal perjalanan menyembuhkan hati Prabu yang telah membeku.
Di sela-sela kemudinya, Xena merapal doa dalam hati agar tempat yang dituju benar-benar bisa menjadi awal yang baru bagi mereka.
Perjalanan menuju kaki gunung itu terasa sangat panjang.
Sunyi yang merayap di dalam mobil hanya diisi oleh suara deru mesin dan gesekan ban dengan aspal.
Xena melirik dari kaca spion tengah, melihat Prabu yang masih setia menatap keluar jendela dengan tatapan kosong, seolah jiwanya tertinggal jauh di belakang.
"Pra," panggil Xena memecah keheningan.
"Ceritalah sesuatu atau bernyanyilah agar aku tidak bosan menyetir sendirian. Perjalanan kita masih dua jam lagi."
Prabu mendengus kesal. Ia bahkan tidak sudi mengalihkan pandangannya dari pepohonan yang berlari di luar sana.
"Salah sendiri," jawabnya ketus.
"Siapa yang menyuruhmu membawaku ke tempat antah berantah ini? Aku tidak pernah memintamu menjadi sopirku, apalagi menjadi istriku."
Xena menghela napas panjang, mencoba menjaga jemarinya agar tetap stabil di atas kemudi.
"Aku tidak sedang meminta imbalan, Pra. Aku hanya butuh teman bicara agar tidak mengantuk. Kamu tidak mau kita kecelakaan karena sopirnya tertidur, kan?"
Mendengar kata 'kecelakaan', tubuh Prabu tampak menegang sesaat.
Rahangnya mengeras, dan tangannya mengepal kuat di atas pangkuan.
Kata itu adalah pemicu yang paling ia takuti, namun alih-alih melembut, ia justru semakin defensif.
"Kalau takut kecelakaan, berhenti saja di pinggir jalan dan biarkan aku pergi," desis Prabu tajam.
"Kamu yang memulai permainan ini, Xena. Jadi nikmati saja kesunyianmu."
Xena tersenyum tipis, sebuah senyuman getir yang hanya ia tunjukkan pada aspal di depannya.
Ia tidak membalas lagi. Ia meraih tombol radio, mencari frekuensi yang memutar lagu-lagu lembut untuk mengusir rasa kantuknya sendiri.
Meskipun Prabu memperlakukannya seperti orang asing, Xena tetap memperhatikan suaminya lewat pantulan cermin.
Ia melihat bagaimana napas Prabu yang sedikit memburu setiap kali mobil mereka berpapasan dengan kendaraan besar.
Xena tahu, di balik keangkuhan itu, Prabu sedang bertarung melawan traumanya sendiri. Dan di sinilah Xena, tetap melajukan mobilnya menuju tempat yang ia harap bisa menjadi tempat persembunyian bagi jiwa suaminya yang terluka.
Xena membesarkan volume radio yang kebetulan memutar melodi familiar dari band Drive.
Ia mulai mengikuti liriknya, suaranya mengalun lembut, mengisi ruang sempit di dalam mobil yang tadinya terasa mencekam.
Sesungguhnya dia ada di dekatmu
Tapi kau tak pernah menyadari itu
Dia s'lalu menunggumu
Untuk nyatakan cinta...
Xena melirik Prabu lewat spion. Pria itu tampak tidak nyaman, seolah lirik lagu tersebut sedang menelanjangi rahasia yang selama ini ia kunci rapat-rapat.
Xena melanjutkan bagian reff dengan perasaan yang lebih dalam, suaranya sedikit bergetar namun tetap merdu.
Sesungguhnya dia adalah diriku
Lebih dari sekedar teman dekatmu
Berhentilah mencari
Kar'na kau t'lah menemukannya...
Prabu mendengus, lalu menggelengkan kepalanya perlahan.
Sebuah seringai sinis muncul di sudut bibirnya.
"Itu lagu atau kisah nyata? Terlalu dramatis untuk sebuah lagu radio," sindir Prabu tajam, matanya kini beralih menatap tajam ke arah belakang kepala Xena.
Xena tertegun sejenak, namun ia tidak membiarkan sindiran itu melukai pertahanannya. Ia tetap fokus pada jalanan di depannya yang mulai menanjak dan berkelok.
"Sepertinya itu kisahku," jawab Xena pelan sambil tersenyum tipis.
"Kisah tentang seseorang yang sudah lama ada, tapi selalu dianggap tidak ada karena matamu terlalu sibuk mencari yang sudah hilang."
Prabu terdiam. Jawaban Xena yang tenang namun telak itu seolah menampar egonya.
Ia kembali memalingkan wajah ke arah jendela, menyaksikan kabut yang mulai turun menyelimuti perbukitan.
"Jangan merasa paling menderita, Xena. Kamu tidak tahu apa-apa tentang kehilangan yang sesungguhnya," gumam Prabu lirih, hampir tak terdengar.
"Aku memang tidak tahu rasanya menjadi kamu, Pra," balas Xena tanpa menoleh.
"Tapi aku tahu rasanya mencintai seseorang yang raganya ada di depan mata, tapi jiwanya sedang memeluk orang mati. Itu juga sebuah kehilangan, bukan?"
Suasana kembali senyap, jauh lebih sunyi dari sebelumnya.
Hanya suara rintik gerimis yang mulai membasahi kaca depan, seolah ikut merasakan kepedihan yang menyelimuti perjalanan mereka menuju tempat pengasingan itu.
wwkwkwkwk
gemes bgt sama nie orang dech
hahahahaha
ketawa jahat ini🤭
nanti kalau bucin Kutendang dari pesawat🤣