"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!
...
Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.
Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 // MBKCM
Matahari pagi menembus celah-celah ventilasi kamar kos Kiana, membawa serta kehangatan yang sayangnya sama sekali tidak mampu mencairkan kebekuan di dalam hati gadis itu. Kiana duduk di tepi kasur dengan tubuh gemetar. Meski sepasang garis merah terang sudah meruntuhkan dunianya kemarin sore, dia masih belum percaya dengan hasilnya. Setelah sempat menangis tersedu-sedu hingga matanya bengkak dan sembap semalaman, pagi ini Kiana mencoba kembali meyakinkan diri bahwa alat itu mungkin saja rusak. Ya, bisa jadi hasilnya salah. Kesalahan medis adalah hal yang lumrah, bukan?
Dengan harapan tipis yang tersisa, Kiana kembali melangkah ke kamar mandi luar dengan membawa alat tes baru sisa stock miliknya. Namun, ketika dia menunduk untuk melihat hasilnya beberapa menit kemudian, pertahanan mentalnya benar-benar hancur. Hasilnya sama. Dua garis merah tegas, tanpa cela. Dia benar-benar hamil.
Kiana kembali ke kamar dengan langkah menyeret, menjatuhkan dirinya di sudut ruangan. Di dekat pintu, Saskia yang sudah rapi mengenakan seragam Butik Elegance dan siap berangkat kerja, menatap sahabatnya dengan pandangan penuh rasa iba sekaligus cemas yang mendalam.
Saskia berlutut di depan Kiana, memegang kedua belah tangan sahabatnya yang sedingin es. "Kia, dengarkan aku. Kita tidak bisa diam saja seperti ini. Kita harus bertindak."
Kiana hanya menggeleng lemah, air matanya kembali meluncur melewati pipinya yang pucat. "Bertindak apa, Sas? Aku harus bagaimana?"
"Kita beritahu saja pada Pak Ardan," cetus Saskia mantap, matanya memancarkan keseriusan. "Dia adalah ayah dari bayi ini. Aku akan menemanimu ke kantornya atau ke mana pun untuk menemui pria itu. Kita bicarakan ini baik-baik."
Mendengar nama Ardan disebut, sepasang mata Kiana langsung melebar penuh ketakutan. Dengan tegas, Kiana menarik tangannya dari genggaman Saskia dan mengatakan tidak. "Tidak, Sas! Jangan gila! Aku tidak akan pernah menemui pria itu lagi."
Saskia mengerutkan kening, tidak habis pikir dengan penolakan Kiana. "Tapi kenapa, Kia? Dia harus bertanggung jawab! Kamu hamil karena perbuatannya!"
"Kamu lupa?" suara Kiana meninggi, bergetar karena emosi yang tertahan. "Malam itu, setelah dia melempar amplop uang sepuluh juta itu ke wajahku, dia memperingatkanku dengan sangat kejam. Dia bilang dia tidak mau mendengar drama kehamilan atau pemerasan apa pun dari mulutku karena dirinya mandul! Dia mencap aku sebagai wanita pemburu harta yang murahan, Sas!" Kiana mencengkeram dadanya yang terasa luar biasa sesak. "Jika aku datang menemuinya sekarang membawa kabar ini, dia hanya akan menganggapku sebagai penipu yang mencoba menjebaknya dengan anak pria lain!"
"Tapi Kia!" Saskia mencoba menyanggah, memotong kalimat pilu sahabatnya. "Bisa saja hasil vonis dokter tentang kemandulannya itu salah! Nyatanya sekarang kamu hamil, dan kamu hanya berhubungan dengannya saja seumur hidupmu! Kamu tidak pernah dekat dengan pria lain selain si brengsek Dafa, dan kamu bahkan tidak pernah melakukan apa pun dengan Dafa selama ini. Anak ini seratus persen adalah anak Pak Ardan!"
Kiana yang terlalu takut akan kekuasaan pria itu tetap menggelengkan kepalanya dengan histeris. Ketakutan bawah sadarnya sebagai orang kecil menenggelamkan semua logika sehatnya. "Aku tetap tidak bisa, Sas. Untuk saat ini, aku mohon dengan sangat... tolong rahasiakan ini dari siapa pun. Jangan sampai ada satu orang pun di butik atau di luar sana yang tahu."
Saskia menatap Kiana yang tampak begitu rapuh dan ketakutan. Air mata Saskia akhirnya ikut luruh. Dia maju, lalu Saskia memeluk Kiana dengan erat, menyembunyikan wajah sahabatnya di bahunya. Dia tidak menyangka nasib sahabat yang paling baik dan jujur ini akan serumit dan setragis ini. "Iya, Kia... iya. Aku janji akan tutup mulut. Aku akan selalu ada di sampingmu."
***
Dua minggu berlalu dalam keheningan yang menyiksa. Usia kandungan Kiana merangkak naik, namun dia masih belum berani pergi ke dokter kandungan demi memeriksakan dirinya secara resmi. Dia terlalu takut jika harus melihat kenyataan di atas kertas medis, dan dia juga tidak punya cukup keberanian untuk mendatangi rumah sakit sendirian.
Setiap pagi, Kiana harus berjuang melawan morning sickness yang luar biasa parah. Perutnya selalu bergejolak, memaksanya bolak-balik ke kamar mandi untuk memuntahkan sisa cairan lambung hingga tubuhnya lemas. Tapi beruntung, setiap kali jam menunjukkan pukul delapan ke atas, tubuhnya berangsur-angsur sehat kembali dan rasa mual itu mereda, meskipun sisa rasa lemas masih menggelayuti sendi-sendinya.
Kendati bisa menyembunyikan kondisinya saat pagi hari, Kiana tetap cukup tersiksa saat harus bekerja melayani pelanggan di Butik Elegance. Hidungnya mendadak menjadi sangat sensitif terhadap bau wangi yang menyengat. Setiap kali ada sosialita atau pelanggan VIP yang masuk dengan semprotan parfum mahal yang pekat, Kiana harus mati-matian menahan napas dan meremas jemarinya di balik punggung agar tidak muntah di depan mereka.
Siang itu, saat jam istirahat kerja dimulai, suasana di ruang istirahat karyawan tampak sepi karena yang lain sedang mencari makan di luar. Kiana hanya duduk di kursi pojok, mencoba memakan bekal buah potongnya dengan pelan. Tiba-tiba, pintu ruangan digebrak dari luar.
Saskia masuk dengan wajah panik, napasnya memburu, dan tangannya memegang ponsel dengan erat. "Kia... lihat ini! Kamu harus lihat ini sekarang!"
Saskia setengah berlari mendekat, lalu memperlihatkan layar ponselnya tepat di depan wajah Kiana. Di sana, sebuah situs berita bisnis dan gaya hidup papan atas menampilkan foto besar Ardan Arkatama yang berdampingan dengan Dania Abraham. Judul beritanya terpampang nyata "Pertunangan Megah Pewaris Tunggal Arkatama Group dan Putri Keluarga Abraham Akan Dilangsungkan Minggu Depan."
Tangan Kiana yang memegang garpu buah seketika membeku. Matanya menatap tajam foto Ardan yang tampak begitu tampan dan berwibawa dengan setelan jas hitamnya, bersanding dengan Dania yang tersenyum anggun. Dadanya mendadak dihantam oleh rasa perih yang teramat sangat, sebuah rasa sakit tersembunyi yang bahkan tidak berhak dia miliki.
"Ini nggak adil, Ki!" seru Saskia meradang, wajahnya memerah karena emosi. "Ini benar-benar keterlaluan! Di saat kamu di sini menderita setiap pagi karena perbuatannya, dia di atas sana malah mau menggelar pesta pertunangan mewah dengan wanita lain! Kamu harus beritahu dia sekarang, Kia. Dia itu tidak mandul! Dia harus tahu kebenarannya dan harus bertanggung jawab sama kamu dan calon bayi ini!"
Kiana memejamkan matanya rapat-rapat, meremas pinggiran meja kayu di depannya. Meski hatinya terasa sangat perih dan tersayat-sayat, dia tetap menggelengkan kepala. "Tidak, Sas. Aku tidak akan merusak apa pun."
"Kenapa?! Kenapa kamu selalu mengalah seperti ini, Kiana Mahira?!" tanya Saskia frustrasi.
Di dalam otaknya, Kiana mulai berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi jika dia nekat maju. "Saskia, dengarkan aku. Arkatama adalah keluarga terpandang, salah satu dinasti bisnis terbesar di negara ini. Sementara aku? Aku hanya sebutir debu di bawah sepatu mereka. Meski Ardan akhirnya tahu kebenaran tentang kehamilanku karena dia ternyata tidak mandul, bagaimana jika pria kejam itu justru menganggap anak ini sebagai noda yang akan merusak reputasinya? Bagaimana jika dia yang berkuasa itu justru menyuruhku menggugurkan kandunganku dengan paksa?"
Kiana menatap Saskia dengan mata yang berkaca-kaca, memancarkan trauma mendalam atas perlakuan kasar Ardan malam itu. "Dan bagaimana jika keluarganya tidak terima, lalu aku justru dituntut atas pasal pencemaran nama baik atau pemerasan? Aku tidak punya uang untuk menyewa pengacara, Sas. Aku bisa dijebloskan ke penjara, dan anak ini akan lahir di dalam sel."
Saskia terbungkam, tidak mampu membantah ketakutan realistis yang dipaparkan oleh Kiana.
"Dan satu hal yang pasti," Kiana mengusap perutnya yang masih rata dengan lembut, seulas senyum getir terukir di bibirnya. "Aku tidak mau merusak kebahagiaan Ardan dan Dania. Mereka berdua setara, mereka cocok. Biarlah malam itu menjadi kesalahan yang aku tanggung sendiri. Aku akan membesarkan anak ini sendiri, bagaimanapun caranya nanti, Sas. Aku akan bekerja lebih keras lagi."
**
Di saat yang sama, kediaman utama keluarga Arkatama sedang diselimuti kebahagiaan yang meluap-luap. Di dalam ruang pertemuan utama yang mewah, sedang dilakukan pertemuan formal antara dua keluarga besar, yaitu keluarga Arkatama dan keluarga Abraham. Gelak tawa dari Kakek Wirya dan Tuan Abraham terdengar bersahut-sahutan, merayakan kesepakatan rencana pertunangan yang akan digelar minggu depan.
Ardan duduk di kursi tengah dengan ekspresi wajah yang sangat datar, nyaris tanpa emosi. Dia tidak bisa menolak rencana ini, apalagi membongkar soal rahasia kemandulannya di depan keluarga Abraham. Setiap kali dia ingin membuka mulut untuk memprotes, tatapan mata Kakek Wirya yang penuh harap dan kondisi kesehatan orang tua itu yang belum stabil selalu berhasil membungkamnya. Ardan merasa tidak ada jalan mundur lagi.
Di seberang meja, Paman Arya dan istrinya, Widya, terlihat tersenyum sangat lebar, sesekali menuangkan minuman dan bersulang dengan orang tua Dania. Mereka berdua tampak seperti paman dan bibi yang sangat menyayangi keponakannya dan mendukung penuh kebahagiaan Ardan.
Namun, di balik senyum ramah dan sandiwara manis itu, tidak ada satu orang pun di ruangan itu yang mengetahui sebuah fakta mengerikan. Arya dan Widya adalah dua orang yang paling gila kekuasaan dan harta di dalam silsilah keluarga Arkatama. Demi memastikan bahwa seluruh harta warisan Kakek Wirya dan takhta kekuasaan Arkatama Group jatuh ke tangan anak kandung mereka kelak, dua orang ini adalah dalang yang tega menyuap dokter dan mengubah setiap hasil pemeriksaan kesuburan Ardan sejak sepuluh tahun lalu. Mereka memalsukan dokumen medis di setiap rumah sakit internasional yang dikunjungi Ardan, menanamkan kebohongan mutlak di otak Ardan bahwa dirinya mandul seumur hidup agar Ardan frustrasi dan tidak pernah berniat memiliki pendamping hidup.
Setelah santap malam selesai, Ardan bangkit berdiri. Dia melirik Dania yang duduk di samping ibunya. "Dania, bisa kita bicara berdua saja di balkon belakang?"
Dania mendongak, matanya berbinar senang. "Tentu, Kak Ardan."
Kedua insan itu berjalan menjauh dari keramaian ruang tengah menuju balkon belakang yang sepi, menghadap langsung ke arah taman labirin yang luas. Angin malam berembus pelan, memainkan helai rambut pirang Dania.
Ardan membalikkan tubuhnya, menatap Dania dengan sorot mata yang dingin namun sarat akan keseriusan. Merasa dirinya sudah terpojok oleh takdir dan tidak ada jalan untuk lari lagi, Ardan terpaksa memilih untuk jujur tentang kondisi dirinya sebelum pernikahan ini melangkah terlalu jauh.
"Dania, sebelum pertunangan minggu depan dilangsungkan, ada satu hal sangat penting tentang diriku yang harus kamu ketahui," buka Ardan, suaranya terdengar berat. "Dan setelah mendengar ini, kamu bebas untuk membatalkan semuanya."
Dania mengernyitkan dahi, menatap Ardan bingung. "Hal penting apa, Kak? Jangan membuatku takut."
Ardan menarik napas dalam-dalam, mengepalkan tangannya di balik saku celana. "Aku mandul, Dania. Secara medis, aku tidak akan pernah bisa memberikanmu seorang anak atau keturunan darah dagingku sendiri. Jika kamu menikah denganku, kamu harus menerima fakta bahwa kita tidak akan pernah memiliki anak biologis."
Ardan bersiap melihat ekspresi syok, kecewa, atau kemarahan dari wajah Dania. Dia mengira wanita sosialita seperti Dania akan langsung menolak dan pergi meninggalkannya.
Namun, di luar dugaan Ardan, Dania ternyata sama sekali tidak terkejut atau keberatan. Wanita itu justru terkekeh pelan, melangkah mendekat dan dengan berani meletakkan kedua tangannya di dada bidang Ardan.
"Hanya karena itu, Kak?" tanya Dania dengan nada meremehkan yang halus, matanya menatap Ardan dengan penuh binar kepemilikan. "Bagi wanita lain mungkin anak adalah segalanya, tapi bagiku, anak itu tidak penting, Kak. Di duniaku, yang paling penting adalah status, kekuasaan, dan nama besar Arkatama yang melekat pada diriku setelah menikah denganmu nanti. Soal anak, kalau Kakek Wirya terus menuntut, kita bisa melakukan adopsi dari keluarga jauh atau bayi mana saja nanti. Itu urusan mudah."
Dania kemudian berjinjit, melingkarkan lengannya di leher Ardan dan memeluk pria itu dengan erat. "Aku tidak peduli dengan kondisimu, Kak Ardan. Aku tetap ingin menjadi nyonya di hidupmu."
Mendengar jawaban Dania, Ardan terpaku di posisinya. Harapannya untuk melihat perjodohan ini batal seketika sirna. Dania bersedia menerimanya, namun entah mengapa, hati Ardan sama sekali tidak tersentuh oleh pengorbanan wanita itu. Jiwanya justru terasa semakin kosong dan hambar.
Meskipun bibirnya terpaksa mengatakan, "Ya, terima kasih atas pengertianmu, Dania," tangan Ardan tetap diam menggantung di sisi tubuhnya. Dia sama sekali tidak membalas pelukan hangat Dania. Di dalam benak Ardan yang terdalam, bayangan sepasang mata indah milik seorang gadis pelayan butik yang sore itu tertawa lepas di parkiran tiba-tiba melintas kembali, mengusik nuraninya yang mulai meragukan jalan hidup yang sedang dia tempuh saat ini.