Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.
Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.
Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.
Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: IBU NEGARA SANG PENYELAMAT
Keheningan yang mencekam dan sarat akan ketegangan hormon di antara mereka mendadak pecah berkeping-keping ketika sebuah lagu dangdut koplo yang sangat nyaring berdering dari saku rok span Anaya.
“Kopi dangdut” versi kendang mantap itu sukses membuat Bima tersentak mundur satu langkah, menghancurkan atmosfer intim yang sudah ia bangun dengan susah payah menggunakan modal dada bidangnya.
Anaya mengerjap, menyadari bunyi lagu rancak itu berasal dari ponselnya, ini pasti kerjaan Arden mengerjainya dengan mengganti ringtone ponselnya. Buru-buru Anaya meraba sakunya dengan napas yang masih tersengal-sengal. Begitu melihat layar ponselnya yang menyala, nyali Anaya yang baru saja setinggi langit mendadak ciut kembali. Di layar itu tertera nama: Ibu Negara Ambar Bimantara. alias Ibu Kandung dari singa narsis di depannya.
“Maaf, Pak. Telepon penting,” ujar Anaya setengah berbisik, suaranya masih agak serak akibat efek kedekatan ekstrem tadi.
Anaya buru-buru menggeser tombol hijau, berdeham profesional, lalu menempelkan ponsel ke telinganya. “Halo, selamat pagi, Ibu Ambar. Ada yang bisa saya bantu?”
“Anayaaa! Sayangku!” Suara cempreng nan heboh khas Bu Ambar langsung memenuhi pendengaran Anaya, bahkan saking kerasnya, Bima yang berdiri satu meter di depannya bisa mendengar sayup-sayup suara mampinya. “Kamu sibuk banget nggak di kantor? Ibu lagi di toko bunga keluarga yang di Menteng, nih. Ini ada kiriman mawar impor baru dari Ekuador baru mendarat, tapi Ibu pusing banget milih kombinasi buat buket acara yayasan besok. Kamu bisa ke sini sekarang nggak? Bantuin Ibu, ya? Tolong banget, Ibu nggak percaya sama selera asisten toko di sini, mereka seleranya kayak bentukan mi instan digoreng, kaku!”
Anaya melirik Bima yang kini sedang bersedekap dada sambil menatapnya dengan mata menyipit penuh curiga.
“Uh... itu, Bu. Sebenarnya saya sedang berada di ruangan Pak Bima untuk—”
“Ah, halah! Nggak usah peduliin si Bima! Suruh dia urus mi instan sama soto ayam kemasannya sendiri dulu. Ibu udah bilang sama sopir kantor buat jemput kamu di lobi. Pokoknya Ibu tunggu dalam tiga puluh menit ya, Sayang! Bye!”
Pip.
Telepon ditutup sepihak dengan keotoriteran khas emak-emak sosialita pemilik saham gabungan. Dari situ, tau kan sifat masa bodoh dan suka maksanya si singa narsis nurun dari siapa?
Anaya menurunkan ponselnya, lalu menatap Bima dengan pandangan ragu. “Pak Bima, Ibu Ambar minta saya datang ke toko bunga di Menteng sekarang. Katanya sudah menyiapkan sopir di lobi.”
Bima mendengus kasar. Dia menurunkan tangannya, lalu berjalan kembali ke balik meja kerjanya dengan langkah gusar. Otak superkomputernya langsung bekerja. Toko bunga? Sekarang? Di saat Anaya baru saja melemparkan bom surat resign ke wajahnya? Bima jelas tidak bodoh. Dia curiga ini adalah taktik Anaya untuk kabur dari ruangan ini dan menghindari kelanjutan konfrontasi mereka. Siapa yang tahu kalau setelah keluar dari gedung ini, Anaya langsung memesan ojek daring dan menghilang selamanya untuk memanggang croissant?
“Tidak bisa,” cetus Bima ketus, sambil duduk kembali di kursi kulitnya yang empuk. “Saya belum mengizinkan kamu keluar dari ruangan ini, Anaya. Pekerjaan kamu hari ini menumpuk. Jadwal dengan vendor Singapura belum kamu rapihkan.”
“Tapi ini perintah langsung dari Ibu Ambar, Pak,” bantah Anaya, nadanya mulai santai karena saking lelahnya menghadapi sifat keras kepala Bima. “Anda tahu sendiri kan, kalau saya menolak, nanti Ibu Ambar akan menelepon Anda selama tiga jam tanpa henti sambil menangis melodramatis? Anda mau?”
Bima terdiam. Ancaman itu nyata. Ibunya kalau sudah mengamuk bisa lebih mengerikan daripada penurunan saham lima persen. Namun, ego Bima menolak untuk membiarkan Anaya menang begitu saja pagi ini. Dia butuh waktu untuk berpikir, butuh waktu untuk menahan wanita ini agar tidak melangkah keluar dari jangkauan teritorinya.
Mata Bima melirik ke atas meja kerja marmernya, mencari apa saja yang bisa digunakannya untuk mengulur waktu. Jarinya tanpa sengaja menyentuh sebuah pulpen Montblanc edisi terbatas berlapis emas miliknya.
Sebuah ide licik, agak kekanak-kanakan, namun sangat efektif mendadak melintas di kepalanya yang genius.
Ting.
Dengan gerakan tangan yang sengaja dibuat ceroboh, Bima menyenggol pulpen mahal tersebut hingga menggelinding melewati tepian meja dan... pluk, jatuh tepat di lantai karpet beludru, meluncur agak jauh ke bawah kolong meja kerja bagian depan, tepat di dekat posisi kaki Anaya berdiri.
Bima bersandar, menatap Anaya dengan wajah datar tanpa dosa yang luar biasa menyebalkan. “Aduh. Pulpen saya jatuh. Tolong ambilkan, Anaya. Saya mau pakai untuk menandatangani berkas... yang bukan surat resign kamu.”
Anaya mengembuskan napas panjang lewat mulut. Gusti, kuatkan hamba, keluhnya dalam hati. Dia tahu persis pulpen itu dijatuhkan dengan sengaja. Skala kenarsisan Bima memang berbanding lurus dengan tingkat kekanak-kanakannya kalau sedang terdesak.
Tanpa curiga, Anaya melangkah maju. Karena dia memakai rok span hitam kerja yang cukup ketat*—potongan standar sekretaris korporat yang membungkus rapi pinggul hingga lututnya—*Anaya tidak bisa langsung berjongkok dengan leluasa. Dia harus menekuk lututnya sedikit, lalu perlahan membungkukkan tubuhnya ke depan, mengulurkan tangan kanannya ke bawah kolong meja marmer untuk menggapai pulpen emas tersebut.
Dia tidak sadar bahwa posisi itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya pagi ini.
Dari tempatnya duduk di kursi kulit yang agak tinggi, pandangan mata Bima secara otomatis terarah ke bawah. Dan detik itu juga, seluruh pasokan oksigen di paru-paru Bimantara seolah disedot habis oleh alam semesta.
Napas Bima tercekat. Matanya melebar, terkunci lurus pada pemandangan di depannya.
Saat Anaya membungkuk, kain rok span satin hitam yang membungkus tubuh bagian belakangnya mendadak tertarik maksimal, mengetat dengan begitu ekstrem hingga mencetak dengan sangat sempurna lengkungan pinggul Anaya yang ternyata... nampak padat dan sintal. Ditambah lagi, pose membungkuk itu membuat belahan rok bagian belakang sedikit terbuka, memamerkan lekuk betis porselennya yang mulus.
BUM!
Jantung Bima mendadak berdegup kencang seperti habis menenggak lima kaleng minuman berenergi sekaligus. Darahnya berdesir panas, melesat naik ke kepala hingga membuat telinganya mendadak memerah. Selama lima tahun ini, dia tahu Anaya itu perempuan, tapi karena fokusnya selalu pada pekerjaan (dan pada bagaimana cara menjahili wanita itu), Bima tidak pernah memperhatikan detail se-sensual ini dari jarak sedekat ini.
Pikiran Bima yang biasanya dipenuhi oleh grafik IPO, profit margin, dan ekspansi gandum, mendadak korsleting total, digantikan oleh bayangan-bayangan erotis yang sangat tidak ramah untuk jam kerja kantoran.
Sialan, Bima mengumpat dalam hati, tangannya mencengkeram pegangan kursi kulitnya sampai urat-urat tangannya menonjol. Kenapa bentukannya bisa se-seksi itu? Dia sengaja mau bikin saya jantungan di hari Senin?
“Dapat, Pak,” suara Anaya terdengar agak teredam dari bawah meja.
Mendengar suara itu, Bima buru-buru menegakkan tubuhnya, membenarkan posisi duduknya dengan panik, lalu mengambil cangkir kopi espresso-nya yang sudah agak dingin dan langsung meneggaknya dalam satu tegukan besar demi mendinginkan tenggorokannya yang mendadak sekering padang pasir.
Anaya kembali berdiri tegak, sedikit merapikan bagian depan kemejanya yang agak bergeser, lalu mengulurkan pulpen Montblanc itu ke hadapan Bima. Dia agak heran melihat wajah bosnya yang mendadak terlihat tegang dengan telinga yang merah padam.
“Ini pulpennya, Pak. Kenapa wajah Anda merah begitu? AC-nya rusak?” tanya Anaya polos, sama sekali tidak tahu kalau dia baru saja menyajikan menu sarapan visual yang membuat iman bosnya nyaris runtuh berkeping-keping.
Bima berdeham keras, berusaha mati-matian mengembalikan suara bariton berwibawanya yang mendadak hilang entah ke mana. Dia merebut pulpen itu dengan agak kasar. “AC-nya terlalu panas. Kamu... buruan pergi ke toko bunga Mama. Jangan lama-lama di sana. Kalau dalam dua jam kamu belum balik ke kubikel, saya potong gaji kamu untuk biaya sewa sopir kantor.”
Anaya memutar bola matanya malas. “Potong saja sepuas Anda, Pak. Uang Arden masih cukup untuk memberi makan saya sampai tujuh turunan. Saya permisi, Pak Bima yang terhormat.”
Dengan senyum kemenangan yang tulus, Anaya berbalik dengan anggun, melangkah lebar meninggalkan ruangan CEO dengan perasaan menang besar.
Sementara itu, di balik meja marmernya, Bima hanya bisa bersandar lemas di kursinya setelah pintu tertutup. Dia melonggarkan satu kancing lagi, kali ini bukan kancing kemja, namun kancing celana bahannya yang kini terasa sesak ditambah debaran dadanya yang benar-benar terasa membara. Pria genius itu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, mengembuskan napas frustrasi.
“### Sialan kamu, Anaya,” bisik Bima pada ruangan yang kosong, suaranya terdengar frustrasi namun dipenuhi oleh letupan gairah yang semakin tidak bisa dikendalikan. “Kamu benar-benar bikin saya gila pagi ini.”
*
*
Tungguin bab Selanjutnya jam 11.00 ya...selamat menikmati. Dukung aku terus ya kakak. *
-
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...