Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KELOMPOK PECAH
Tidak ada satu pun dari mereka yang bisa memejamkan mata malam itu.
Setelah kepayahan meloloskan diri dari kepungan tentara yang terinfeksi, kelompok Damar memutuskan untuk berlindung di sebuah gedung apartemen tak berpenghuni. Gedung itu terhubung langsung dengan area atap tempat mereka mendarat sebelumnya. Kondisinya mengenaskan—lama ditinggalkan, sebagian besar jendelanya telah hancur total, sementara dinding-dinding betonnya digerogoti jamur hitam dan noda lembap akibat rembesan air.
Namun, untuk situasi mendesak seperti sekarang, tempat lapuk ini sudah lebih dari cukup.
Cukup aman untuk sekadar menarik napas.
Cukup tersembunyi untuk memulihkan sisa tenaga yang terkuras habis.
Sayangnya, tempat ini tidak punya cukup ruang untuk mengembalikan harapan mereka yang telanjur runtuh.
Di lantai tujuh, Damar duduk menyendiri di sudut ruangan, menyandarkan punggungnya pada dinding di dekat bingkai jendela yang langsung menghadap ke arah kota. Dari titik setinggi ini, bentangan distrik utara terlihat jelas di matanya.
Semuanya tampak gelap, sunyi, dan mati.
Sesekali, keheningan mencekam itu dipecahkan oleh dentuman ledakan samar dari kejauhan. Di waktu lain, suara raungan menyayat hati dari para *infected* menggema, memantul di antara lorong-lorong sempit di bawah sana. Menatap semua itu, Damar tahu satu hal: kota ini benar-benar sudah tamat.
Suara langkah kaki yang terseret pelan memecah lamunan Damar. Ia menoleh dan mendapati Alya berjalan mendekat sambil menyodorkan sebuah botol air mineral.
"Nih," ujar Alya pendek.
Damar menerimanya dengan anggukan kecil. "Thanks."
Alya kemudian mengambil posisi, duduk berdampingan dengan Damar. Untuk beberapa saat, tidak ada kata yang terucap. Udara di antara mereka hanya diisi oleh keheningan yang berat.
"Apa yang lagi lo pikirin?" tanya Alya akhirnya, memecah kecanggungan.
Damar memaksakan sebuah senyum tipis di sudut bibirnya. "Banyak hal."
"Tentang?"
Damar kembali melemparkan pandangannya ke luar jendela, menembus kegelapan kota. "Semuanya."
Alya mengangguk pelan tanpa berniat mendesak lebih jauh. Dia sangat mengerti. Mereka semua sudah sampai pada batas akhir kelelahan mereka. Bukan lagi sekadar perkara fisik yang rontok, melainkan mental yang digilas habis-habisan. Sudah terlalu banyak kehilangan yang mereka lalui. Terlalu banyak nyawa yang melayang, dan terlalu banyak hal berharga yang terpaksa dikorbankan di sepanjang jalan.
Namun, jika harus jujur, hal yang paling mengusik ketenangan jiwa Damar malam itu bukanlah bayang-bayang mengerikan dari para *infected*. Melainkan sebaris kalimat yang diucapkan oleh Kapten Rendra sebelum ini.
*Virus ini sedang menciptakan sesuatu yang baru.*
Kalimat itu bagai kaset rusak yang terus berputar di kepala Damar, menolak untuk hilang. Jika spekulasi itu benar—jika para *infected* sialan itu sekarang mulai bisa berpikir dan memakai logika—maka masa depan yang menanti mereka di luar sana jauh lebih mengerikan dari apa pun yang pernah mereka bayangkan.
Pagi hari tiba tanpa disambut hangatnya matahari. Langit sepenuhnya tertutup oleh hamparan awan abu-abu yang pekat dan tebal. Angin dingin berembus konstan, menyelinap masuk melalui celah-celah koridor apartemen yang menganga.
Seluruh anggota kelompok kini berkumpul di dalam sebuah unit kosong yang ruang tengahnya cukup lapang untuk menampung semua orang. Atmosfer di dalam ruangan itu terasa mencekam. Fakta di lapangan menampar mereka tanpa ampun: sisa makanan mereka sudah menipis, pasokan air bersih kian kritis, dan persediaan peluru terus merosot ke angka mengkhawatirkan. Ditambah lagi, mereka baru saja kehilangan markas utama yang selama ini menjadi satu-satunya tempat bernaung. Situasi mereka tidak pernah seburuk ini.
Kapten Rendra berdiri tegap di tengah ruangan, memecah kegelisahan yang menggantung. "Kita harus menentukan tujuan berikutnya. Sekarang."
Atensi semua orang langsung tersedot sepenuhnya pada pria berseragam itu. Rendra membentangkan sebuah peta kota yang kondisinya sudah kusut dan sedikit koyak di atas meja improvisasi.
"Kita tidak bisa terus-menerus memutar dan bersembunyi di distrik utara," lanjut Rendra tegas.
Rudi langsung memotong, nadanya menyiratkan ketidaksabaran. "Terus, rencana lo kita mau ke mana lagi?"
Jari telunjuk Rendra bergerak di atas kertas, lalu mengetuk area yang berada di paling pinggir konurbasi tersebut. "Keluar dari kota ini."
Seketika itu juga, ruangan yang tadinya sunyi langsung meledak oleh keriuhan.
"KELUAR KOTA?!"
"Lo gila, ya? Yang bener aja!"
"Itu sama aja kayak bunuh diri massal!"
Protes keras bersahut-sahutan dari mulut para *survivor*. Di tengah kegaduhan itu, Pak Rangga mengangkat kedua tangannya ke udara, memberi isyarat agar semua orang menahan diri.
"Tenang dulu, semuanya. Kasih alasan yang jelas dulu, Kapten," ujar Pak Rangga mencoba menengahi.
Rendra mengembuskan napas berat, lalu mengangguk. "Kota ini sudah terlalu berbahaya untuk ditinggali. Perhatikan baik-baik." Ia menunjuk beberapa titik krusial di peta. "Distrik pusat sudah sepenuhnya dikuasai *infected*. Distrik timur berubah jadi sarang mutasi yang tidak terkendali. Dan distrik utara, tempat kita berpijak sekarang, sudah dipenuhi oleh tentara yang terinfeksi. Tiap minggu yang kita lewati, skala ancamannya terus membesar."
Rendra menatap mata mereka satu per satu. "Kalau kita tetap bertahan di dalam kota ini, cepat atau lambat kita semua akan mati."
Kalimat terakhir Rendra membungkam ruangan. Tidak ada yang bisa membantah kebenaran dari argumen logis tersebut. Namun, memahami fakta bukan berarti mereka serta-merta setuju dengan soluski yang ditawarkan.
Salah satu *survivor* bernama Joko tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya. Pria berkepala empat itu merupakan salah satu anggota lama yang sudah melewati banyak asam garam bersama kelompok ini.
"Kita bahkan gak punya gambaran sedikit pun tentang kondisi di luar kota sana," cetus Joko, suaranya bergetar menahan amarah yang terpendam.
"Justru karena itu kita harus keluar dan cari tahu sendiri," balas Rendra tenang namun mutlak.
Joko menggelengkan kepala, sanggahan itu terdengar konyol di telinganya. "Dan bagaimana kalau ternyata situasi di luar sana jauh lebih parah dari neraka ini?"
Rendra terdiam. Pertanyaan Joko menjeratnya, karena memang tidak ada satu pun orang di ruangan ini yang memegang jawabannya. Semenjak wabah ini meletus, seluruh akses jalan dan jalur transportasi menuju luar kota telah berubah total menjadi zona kematian yang tidak tersentuh.
Damar hanya duduk menyimak perdebatan sengit itu tanpa niat untuk mengintervensi, sampai akhirnya Rudi ikut bangkit berdiri dari posisinya.
"Gue setuju sama Joko," tukas Rudi lantang. Semua pasang mata kini beralih padanya. Rudi menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Kita baru aja kehilangan markas kemarin. Orang-orang di sini capek, mentalnya jatuh. Luka fisik mereka bahkan belum sempat diobati dengan layak. Makanan kita juga menipis. Kalau dalam kondisi sekarat begini kita nekat terobos luar kota, kita bukan lagi cari jalan keluar, Kapten. Kita cuma lagi anter nyawa."
Pernyataan Rudi langsung disambut anggukan setuju dari beberapa *survivor* di sudut lain. Jumlah mereka yang sejalan dengan Rudi ternyata tidak sedikit.
Melihat pemandangan itu, dada Damar mendadak berdesir aneh. Sebuah realitas pahit menghantam kesadarannya: kelompok mereka mulai terbelah. Dan ini adalah pertama kalinya hal seperti ini terjadi sejak kelompok mereka pertama kali terbentuk.
Memasuki siang hari, perdebatan tidak kunjung mereda, justru tensinya semakin memuncak hingga membakar emosi. Kelompok tersebut kini benar-benar terpecah menjadi dua kubu yang saling berseberangan.
Sebagian besar anggota memilih berdiri di belakang visi Kapten Rendra, percaya bahwa bergerak maju dan mencari peruntungan di luar kota adalah satu-satunya opsi rasional yang tersisa. Sementara kubu lainnya merapatkan barisan di sisi Rudi, bersikeras bahwa bertahan dan mencari titik aman baru di dalam kota jauh lebih masuk akal daripada bertaruh pada ketidakpastian di luar sana.
Masalah terbesarnya adalah: tidak ada ruang untuk jalan tengah.
Muak dengan atmosfer yang kian memanas, Damar akhirnya berdiri dari posisinya dan berteriak lantang, "Semua diem dulu!"
Suara tegas Damar berhasil menekan volume keributan. Ruangan perlahan-lahan kembali senyap. Damar mengedarkan pandangannya, menatap lekat-lekat wajah-wajah di hadapannya yang tampak begitu kuyu, ketakutan, dan dipenuhi rasa frustrasi yang akut.
"Saling teriak kayak gini gak bakal bikin keadaan kita membaik," cetus Damar dingin.
Rudi menyilangkan kedua tangan di depan dada, menatap Damar dengan kening berkerut. "Terus? Menurut lo kita harus gimana?"
Damar terdiam sejenak, menimbang opsi di kepalanya sebelum menjawab, "Kita kumpulin informasi dulu. Kita kirim tim pengintai. Kalau memang di luar sana ada jalur aman yang terbuka untuk keluar kota, baru kita pertimbangkan opsi Kapten. Tapi kalau jalurnya buntu, kita cari markas baru di dalam kota sesuai kemauan kalian. Adil, kan?"
Rendra mengangguk setuju atas usul itu. "Itu langkah yang masuk akal."
Meski begitu, gurat ketidakpuasan masih tercetak jelas di wajah Joko. Beberapa *survivor* di belakangnya pun menunjukkan gestur serupa. Bibit-bibit perpecahan telah tertanam kuat di tempat ini, dan Damar bisa merasakannya dengan sangat nyata—rasa saling percaya di antara mereka mulai mengikis.
Menjelang sore, sebuah tim pengintai kecil akhirnya dikirim keluar. Tim itu terdiri dari Damar, Alya, Kapten Rendra, dan Rudi. Tujuan mereka adalah sebuah pusat komunikasi terbengkalai yang dulunya dioperasikan oleh pemerintah sebelum seluruh tatanan kota ini runtuh total. Harapan mereka tidak muluk-muluk; mereka hanya ingin mencari data, dokumen peta militer, atau petunjuk apa pun yang berkaitan dengan jalur evakuasi massal.
Sepanjang perjalanan, atmosfer di antara mereka berempat terasa sangat gersang. Hampir tidak ada percakapan yang mengalir. Suasana yang biasanya cair kini berubah drastis—terasa begitu tegang dan canggung. Bahkan Rudi, yang dalam situasi normal selalu punya lelucon untuk mencairkan suasana, kali ini memilih mengunci mulutnya rapat-rapat dan fokus menatap jalan di depannya.
Setelah hampir satu jam mengendap-endap membelah jalanan mati, langkah mereka mendadak terhenti di sebuah persimpangan jalan yang besar. Di sana, sebuah pemandangan memaksa tubuh mereka membeku di tempat.
Satu unit truk taktis militer tampak terguling ringsek tepat di bagian tengah jalan raya. Badannya sudah digerogoti karat yang tebal, namun pada bagian sisinya, sebuah tulisan cat semprot masih bisa terbaca dengan jelas: **EVAKUASI SEKTOR BARAT**.
Damar melangkah perlahan mendekati bangkai kendaraan tersebut, sementara Kapten Rendra dengan sigap menyentak pintu kabin kemudi hingga terbuka. Kosong. Tidak ada tanda-tanda keberadaan mayat maupun sisa barang bawaan di dalamnya. Namun, perhatian mereka berempat langsung tersedot pada sebuah benda yang tergeletak di bawah dasbor.
Sebuah peta. Peta taktis militer yang masih terlipat rapi di dalam wadah kedap air.
Rendra bergegas mengambil dan membentangkannya di atas kap truk. Detik berikutnya, kedua mata perwira itu membelalak sempurna, tubuhnya menegang.
"Ada apa, Kapten?" tanya Alya cemas, menyadari perubahan ekspresi tersebut.
Tanpa suara, Rendra mengarahkan jari telunjuknya yang gemetar pada bagian batas luar kota, tepat di sepanjang garis merah tebal yang membatari wilayah tersebut.
Damar ikut mencondongkan tubuhnya demi melihat lebih dekat. Detik itu juga, rahangnya mengeras dan wajahnya seketika pias.
Seluruh jalur, jalan tikus, hingga rute arteri yang mengarah ke luar kota yang tertera di peta itu... semuanya telah dicoret dengan tinta merah tebal. Dicoret silang tanpa terkecuali. Tidak ada satu pun rute evakuasi yang dibiarkan terbuka.
Dan yang paling mengerikan, tepat di sudut bawah lembaran peta, ada sebaris kalimat pendek yang ditulis terburu-buru dengan guratan tangan yang tegas:
*JANGAN BIARKAN MEREKA KELUAR.*
Seketika itu juga, keheningan yang dingin dan mencekam langsung menyergap mereka berempat. Damar bisa merasakan bulu kuduknya meremajang, ada hawa sedingin es yang menjalar turun ke sepanjang tulang punggungnya.
"Itu... maksudnya apa?" bisik Alya, suaranya bergetar menahan ketakutan yang mendadak menyerang tanggul pertahanannya.
Kapten Rendra tidak memberikan jawaban. Untuk pertama kalinya sejak bencana global ini meluluhlantakkan kehidupan mereka, pria tangguh itu tampak benar-benar kehilangan kata-kata. Dia tidak punya jawaban.
Ketika semburat merah matahari mulai tenggelam di ufuk barat, keempatnya kembali ke gedung apartemen. Namun, atmosfer di dalam markas sementara itu ternyata jauh lebih kacau daripada saat mereka meninggalkannya tadi siang.
Bahkan sebelum melintasi pintu, telinga mereka sudah menangkap suara teriakan kasar dan benturan fisik. Begitu Damar menggeser pintu pembatas dan melangkah masuk ke ruangan utama, pemandangan di depannya langsung membuat darahnya berdesir. Dua kubu *survivor* sudah berdiri saling berhadapan dengan emosi yang menyala-nyala.
Joko berdiri kokoh memimpin di satu sisi, sementara Pak Rangga tampak kepayahan berdiri di tengah-tengah, berusaha meredam amarah dari sisi yang berlawanan.
"Udah cukup, Joko! Tahan emosi lo!" bentak Pak Rangga dengan sisa tenaga yang dimilikinya.
"Nggak ada kata cukup, Pak!" balas Joko berapi-api. Pria itu berbalik arah, lalu mengacungkan telunjuknya tepat ke wajah Kapten Rendra yang baru saja tiba di ambang pintu. "Semenjak kita mutusin buat ngekor di belakang tentara ini, kita gak berhenti kehilangan orang-orang kita!"
Seluruh ruangan mendadak hening seketika. Fokus semua orang kini beralih sepenuhnya pada sosok Rendra yang berdiri membisu.
Joko mengambil langkah maju, mengintimidasi dengan tatapan matanya yang tajam. "Markas kita hancur lebur! Temen-temen kita mati mengenaskan! Logistik kita habis bis! Dan sekarang, dengan entengnya dia mau seret kita semua keluar kota tanpa tahu ada bahaya apa yang nunggu di sana? Gila!"
Rudi yang berdiri di samping Damar tampak bergeser gelisah, namun pria itu memilih tidak menyanggah sepatah kata pun dari ucapan Joko. Bagaimanapun juga, Rudi tidak bisa membohongi nuraninya bahwa sebagian besar argumen yang dilemparkan Joko adalah fakta yang nyata.
Damar mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia tahu, sesuatu yang buruk yang selama ini ia takuti akhirnya benar-benar terjadi di depan matanya.
Joko berbalik, lalu dengan sentakan kasar menyampirkan tas ransel besarnya ke bahu. "Kami pergi."
Dua kata itu bagai petir di siang bolong. Semua orang terpaku di tempatnya.
"Apa maksud lo, Jok?" tanya Alya, suaranya tercekat.
"Kami gak bakal ikut dalam rencana gila ini lagi." Joko menegaskan posisinya.
Di belakang tubuh Joko, lima orang *survivor* lainnya mulai melangkah maju merapatkan barisan. Masing-masing dari mereka ternyata sudah mengemas barang-barang pribadi mereka ke dalam tas. Keputusan itu sudah bulat, matang, dan tidak bisa diganggu gugat.
Pak Rangga kembali mencoba menahan mereka, melangkah mendekat dengan raut memohon. "Jangan gegabah, Joko. Pikirin lagi matang-matang. Di luar sana terlalu berisiko."
Joko menggelengkan kepalanya mantap, senyum pahit terukir di wajahnya yang lelah. "Kita harus cari jalan keselamatan kita sendiri, Pak."
Damar memotong jarak, mencoba menahan dengan otoritas yang dimilikinya. "Di luar sana sama sekali gak aman buat kelompok kecil, Jok!"
Joko menoleh pada Damar, melempar sebuah tatapan sinis. "Dan lo pikir berlindung di bawah ketiak tentara di dalam ruangan busuk ini aman buat kita?"
Pertanyaan retoris itu sukses membungkam Damar. Tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki argumen untuk membalasnya. Karena fakta di lapangan berbicara jujur: mereka semua memang nyaris meregang nyawa dalam insiden kemarin malam.
Joko mengedarkan pandangan terakhirnya ke sekeliling ruangan, menatap sisa anggota kelompok yang memilih tinggal. "Lakuin apa pun yang pengen kalian lakuin. Silakan lanjutin perjalanan kalian buat nemenin tentara itu kalau kalian memang ngebet pengen mati. Tapi kami berenam... pamit."
Tanpa menunggu respons atau salam perpisahan lebih lanjut, Joko membalikkan badan dan memimpin kelompok kecilnya berjalan mantap menuju pintu keluar apartemen.
Damar hanya bisa berdiri terpaku di tempatnya, menatap punggung-punggung itu yang perlahan menjauh dan menghilang di balik kegelapan lorong. Satu per satu. Enam orang rekan yang telah berjuang bersama, kini melangkah keluar secara sukarela, menantang maut di dunia luar yang telah mati.
Dan begitu daun pintu apartemen berdentum tertutup rapat, tidak ada satu pun manusia di dalam ruangan itu yang berani mengeluarkan suara. Keheningan yang tercipta kali ini terasa jauh lebih mencekam daripada sebelumnya.
Sebab, di dalam hati masing-masing, mereka kini menyadari sebuah kebenaran baru yang mengerikan. Musuh terbesar yang harus mereka hadapi mulai detik ini mungkin bukan lagi barisan *infected* yang kelaparan di luar sana. Melainkan rasa takut dan ego yang perlahan-lahan menggerogoti dan menghancurkan benteng pertahanan mereka dari dalam.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak kelompok tersebut dideklarasikan... mereka resmi terpecah belah.