Arjuna Adhitama terbiasa mendapatkan segalanya dengan mudah. Uang, kekuasaan, wanita, semuanya tunduk pada kemauannya. Sampai satu malam yang hujan deras, mobil sport mahalnya mogok di jalan sepi yang jauh dari kota. Di tengah kegelapan dan badai itu, harapannya untuk diselamatkan hampir hilang... sampai ada sepeda motor tua melintas dan berhenti.
Pengendaranya adalah seorang gadis muda dengan baju kotor penuh oli, wajah cantik yang setengah tertutup rambut basah, dan senyum jahil yang bikin Arjuna kesal setengah mati. Dia Kirana.
Sejak malam itu, hidup Arjuna tidak pernah sama lagi. Di mana pun dia berada, takdir seolah mempertemukannya terus dengan Kirana. Gadis itu terusik ketenangannya, membuat emosinya naik turun, bikin dia marah tapi sekaligus ingin tahu lebih dalam.
Apa yang terjadi ketika Tuan Muda paling dingin jatuh hati pada satu-satunya wanita yang tidak peduli sama sekali padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Rahasia terbongkar
Pagi ini, Arjuna tidak pergi ke bengkel pasir. Dia memutuskan untuk pergi ke rumah besar peninggalan kakeknya, sebuah rumah tua di pinggir kota yang jarang dikunjungi, tempat di mana arsip lama, foto-foto kuno, dan barang-barang peninggalan keluarga disimpan. Dia butuh jawaban. Dia butuh tahu apa yang disembunyikan dari dirinya selama ini.
Dan di sinilah dia sekarang di ruangan arsip berdebu, berbau kertas tua dan kayu jati. Arjuna berjalan di antara tumpukan lemari kaca berisi dokumen-dokumen bisnis lama, buku harian, dan album foto tebal berkulit cokelat. Dia mencari apa pun yang berhubungan dengan masa lalu sekitar 15 hingga 20 tahun yang lalu, masa di mana menurut Pak Hendra, jejak Kirana seolah "dihapus", dan masa di mana terjadi perubahan besar-besaran dalam sejarah perusahaan keluarganya.
Tangan Arjuna gemetar sedikit saat menarik sebuah album foto besar yang tertutup debu tebal. Di sampul depannya tertulis tulisan tangan Kakeknya: "Keluarga & Rekan Terdekat".
Dia membukanya pelan. Halaman-halaman awal berisi foto kakek, nenek, ayah, dan ibunya. Mereka yang bahagia dan penuh semangat membangun usaha. Lalu, di pertengahan album ... jantung Arjuna berhenti berdetak sejenak.
Di sana ada sebuah foto besar, berwarna, namun warnanya mulai memudar. Foto sebuah pesta ulang tahun atau perayaan keberhasilan bisnis besar. Di dalam foto itu, terlihat Kakeknya yang masih muda dan gagah, berdiri di tengah, dikelilingi oleh orang-orang penting. Tapi mata Arjuna langsung tertuju pada satu pasangan di sisi kanan foto.
Seorang pria tampan berwajah bijaksana dengan senyum hangat, berdiri di samping seorang wanita cantik yang matanya berbinar cerdas dan tegas. Di depan mereka, duduk seorang anak perempuan kecil, berusia sekitar 4 atau 5 tahun, rambut hitam panjang terurai indah, mata besar berwarna cokelat jernih yang menatap kamera dengan senyum ceria namun ada kilatan kewaspadaan di sana.
Dan Arjuna ... rasanya dunia berputar di bawah kakinya.
Wajah gadis kecil itu ... persis sama. Persis sekali dengan Kirana. Bentuk mata, lengkung alis, bentuk hidung, bahkan cara dia tersenyum miring sedikit ... semuanya sama persis!
Di bawah foto itu, tertulis tulisan kecil dengan tinta hitam yang mulai pudar:
"Teman Sehidup Semati: Arya Wijaya & Istri. Putri mereka, Kirana Wijaya. Sahabat sejati keluarga Adhitama."
Wijaya.
Nama belakang yang tidak pernah dipakai Kirana sekarang. Keluarga Wijaya. Nama yang dulu sangat harum, sangat kuat, sangat berpengaruh di dunia industri otomotif dan pertahanan negara. Keluarga yang dulu menjadi mitra terbesar dan terdekat keluarga Adhitama.
Tapi ... Arjuna ingat samar-samar cerita ayahnya. Sekitar 18 tahun lalu, keluarga Wijaya tiba-tiba lenyap. Menghilang dari peta bisnis. Perusahaan mereka bangkrut mendadak, rumah besar mereka dijual, dan kabarnya terjadi kecelakaan tragis yang menewaskan kepala keluarga dan istrinya. Dikatakan seluruh keluarga itu musnah. Tidak ada yang selamat. Berita itu ditutup rapat, disembunyikan publik, dan nama Wijaya perlahan dihapus dari sejarah agar tidak merusak nama baik Adhitama.
Arjuna jatuh terduduk di kursi kayu tua di sana. Tangannya menutup mulutnya yang terbuka kaget, air mata hampir menetes karena rasa kaget dan sedih yang luar biasa.
"Kirana Wijaya." lirihnya pelan.
Dia adalah putri satu-satunya keluarga Wijaya. Satu-satunya orang yang selamat dari kehancuran keluarganya. Gadis yang dikira mati atau hilang selamanya ... ternyata hidup. Hidup, tumbuh besar, bersembunyi, dan sekarang ... berdiri tepat di depan mata Arjuna sebagai montir cantik yang keras kepala, jenius, dan penuh misteri.
"Ya Tuhan ..." bisik Arjuna parau. "Jadi begini asal-usulmu ... kau bukan orang asing, Kirana. Kau adalah bagian dari sejarah keluargaku. Kau adalah anak dari sahabat terdekat ayahku. Dan ... kehancuran keluargamu ... ada hubungannya dengan keluargaku? Apakah itu sebabnya kau bersembunyi? Apakah itu sebabnya kau tidak mau percaya padaku?"
Semua kepingan teka-teki mulai menyatu.
Kecerdasannya, keahliannya, pengetahuannya yang luar biasa tentang mesin dan teknologi canggih, rasa hormat orang-orang kepadanya, kemampuan bela dirinya, bahasa sandinya, dan alasan mengapa dia memilih hidup sederhana di bengkel pinggir jalan ... semuanya masuk akal sekarang.
Dia bukan kabur dari kemewahan karena bosan. Dia kabur dan bersembunyi karena harus bertahan hidup. Dia menyembunyikan identitasnya agar musuh-musuh keluarganya yang dulu menghancurkan segalanya tidak tahu dia masih ada. Dan dia hidup sederhana, bekerja keras, membuktikan bahwa keturunan Wijaya tidak lemah, tidak mati, dan masih berdiri tegak.
Arjuna menutup foto itu perlahan dengan tangan gemetar. Hatinya sakit sekali. Sakit membayangkan gadis kecil itu kehilangan segalanya, hidup sendirian, berjuang melawan dunia, menanggung dendam dan rahasia besar sendirian selama bertahun-tahun. Dan dia, Arjuna Adhitama, yang selama ini hidup enak, mewah, aman, dan bahagia ... ternyata adalah anak dari keluarga yang entah bagaimana terlibat dalam tragedi itu.
Dia ingat kata-kata Kirana di pinggir kali dulu:
"Kalau kau tahu siapa aku sebenarnya ... dan apa hubungan keluargaku dengan keluargamu ... kau akan membenci hari di mana kau pertama kali melihatku."
Dan kata-kata Kirana sore itu:
"Masa laluku sudah hancur lebur ... dan aku hanya sisa-sisa dari apa yang tersisa."
Kirana ... dia sudah tahu. Dia tahu siapa dirinya. Dia tahu siapa Arjuna. Dia tahu sejarah itu semua. Dia mendekat, dia ada di dekat Arjuna, bukan sekadar kebetulan. Mungkin dia sedang mencari kebenaran. Mungkin dia sedang memantau. Mungkin dia ingin tahu apa peran keluarga Adhitama dalam kehancuran keluarganya.
Dan Arjuna ... dia yang tadinya merasa dia yang sedang mengejar dan meneliti Kirana ... ternyata dialah yang ada di dalam jaring Kirana sejak awal. Persis seperti yang dikatakan Kirana pada pria tua itu.
"Dia pikir dia yang memegang kendali, padahal dia yang terperangkap dalam jaringku."
Tapi anehnya ... rasa marah, rasa curiga, rasa dikhianati itu tidak ada sama sekali di hati Arjuna. Yang ada hanyalah rasa sakit yang mendalam, rasa kagum yang makin membumbung tinggi, dan cinta yang makin kuat mengakar.
Dia tidak peduli lagi siapa benar siapa salah di masa lalu. Dia tidak peduli lagi siapa keluarganya. Dia hanya tahu satu hal: Gadis bernama Kirana Wijaya ini telah berjuang sendirian terlalu lama. Dan sekarang, dia Arjuna Adhitama, akan berdiri di sampingnya. Bukan sebagai musuh, bukan sebagai orang yang harus diwaspadai, tapi sebagai pelindung, sebagai teman, dan sebagai cinta sejatinya.
Arjuna berlari keluar dari rumah tua itu, masuk ke mobilnya, dan melesat kencang menuju Bengkel Pasir. Dia harus bertemu Kirana. Dia harus melihat gadis itu. Dia harus memastikan satu hal: Apa pun yang terjadi di masa lalu ... masa depan mereka akan dia buat bersama-sama.
_________________________________
Sesampainya di bengkel, suasana sore itu tampak tenang. Kirana sedang duduk di bangku panjang seperti biasa, satu kakinya menekuk, sedang mengupas buah mangga dengan pisau lipat kecil. Penampilannya lusuh, sedikit kotor oli, rambutnya berantakan kena angin, tapi di mata Arjuna, dia terlihat paling indah di dunia ini.
Kirana mengangkat wajahnya saat mendengar suara mobil kencang berhenti mendadak. Dia melihat Arjuna berlari mendekat dengan napas terengah, wajahnya pucat tapi matanya berbinar hebat, campuran antara kaget, haru, dan rasa sayang yang meluap-luap.
"Wah, Tuan Dingin? Lari dari apa? Ada harimau kejar ya? Atau ada tagihan pajak datang?" sapa Kirana santai, mencoba bersikap biasa saja, meski matanya menangkap ada yang berbeda sekali dari raut wajah Arjuna.
Arjuna berhenti tepat di depan Kirana. Dia tidak bicara. Dia hanya menatap lekat-lekat wajah yang sangat dia cintai itu. Wajah anak kecil di foto itu dan wajah gadis di depannya sekarang perlahan menyatu menjadi satu.
"Kirana Wijaya ..."
Suara Arjuna berat dan jelas. Dua kata itu keluar begitu saja, lembut namun menohok tepat ke jantung.
Gerakan tangan Kirana yang sedang mengupas mangga berhenti mendadak. Pisau kecil itu terlepas dari tangannya, jatuh berdentang ke tanah. Senyum di bibirnya perlahan lenyap. Wajahnya yang tadi ceria berubah pucat seketika. Matanya melebar, menatap Arjuna dengan tatapan tak percaya, campuran rasa takut, kaget, dan pertahanan diri yang langsung bangkit.
Keheningan panjang menyelimuti mereka. Suara bising bengkel seolah hilang ditelan bumi.
Perlahan, sangat perlahan, Kirana bangkit berdiri. Dia tidak mundur, tapi dia menegakkan badannya setinggi mungkin, menutup diri, memasang tembok pertahanan set high gunung. Tatapannya yang biasa berbinar jenaka kini menjadi dingin, tajam, dan penuh luka lama yang terbuka kembali.
"Jadi ... kau akhirnya tahu ..." bisik Kirana. Bukan pertanyaan, tapi pernyataan pasrah. Suaranya bergetar pelan, sangat berbeda dari suaranya yang lantang dan tegas biasanya. "Kau cari ke arsip lama. Kau lihat foto itu. Kau tahu siapa orang tuaku. Kau tahu siapa aku sebenarnya."
Arjuna mengangguk pelan. Dia melangkah selangkah mendekat, tapi Kirana langsung mundur selangkah, menggelengkan kepalanya cepat.
"Jangan mendekat ..." suara Kirana bergetar keras sekarang. Air mata mulai menggenang di matanya, tapi dia berusaha sekuat tenaga menahannya agar tidak jatuh.
"Sekarang kau tahu, kan? Aku bukan gadis biasa. Aku bukan cuma montir bengkel. Aku anak dari keluarga yang hancur. Anak dari orang yang mungkin dihancurkan oleh keluargamu sendiri. Aku ... musuh dalam selimut, Arjuna. Aku datang ke sini bukan karena kebetulan. Aku ada di dekatmu karena aku ingin tahu kebenaran. Aku ingin tahu ... apakah keluargamu yang membuatku kehilangan segalanya."
Kirana menundukkan wajahnya, air mata pertamanya jatuh membasahi pipinya yang kotor sedikit debu.
"Kau sudah tahu semuanya. Sekarang ... kau akan apa? Kau akan menangkapku? Kau akan mengusirku? Kau akan membenciku? Sama seperti orang-orang dulu yang menghapus nama Wijaya dari muka bumi? Ayo, lakukan saja. Aku sudah siap. Aku sudah siap kalau akhirnya harus begini."
Kirana menutup matanya, menanti kemarahan, menanti kebencian, menanti penolakan yang sudah dia prediksi akan datang sejak awal dia mendekati Arjuna.
Bersambung ...
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
👍👍👍👍👍
❤️❤️❤️❤️❤️