Anisa adalah gadis yang gendut dan juga pendek, beda jauh dengan sang adik yang bertubuh langsing serta berkulit putih.
siapa yang tidak tertarik bila melihat Arumi, bahkan mulut para tetangga juga tak segan mencemooh Anisa yang beda jauh dengan sang adik.
Hingga suatu hari Anisa di temukan tewas tergantung di dalam kamar, membuat seluruh keluarga menjadi berduka, namun mereka menutupi kematian Anisa yang gantung diri itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Anisa yang sensitif
"Kamu mana saja sampai baru pulang larut malam seperti ini?" pak Hardi bertanya kepada Anisa yang baru pulang.
"Hanya jalan-jalan saja menghibur pikiran, Pak." jawab Anisa dengan wajah yang begitu lesu sekali.
"Nak, Bapak tahu apa yang sedang kamu pikirkan saat ini. namun kita juga tidak bisa untuk mengerem mulut orang agar berbicara sesuai dengan apa yang kita mau!" pak Hardi mengajak sang anak untuk berbicara.
"Mungkin bila hanya dari orang lain saja maka aku tidak akan sesakit ini, Pak!" Anisa menjawab dengan mata yang mulai berembun.
"Ibu kamu ngomong begitu bukan karena dia tidak menyukai kamu, tapi karena dia ingin kamu berubah dan menjalani hidup yang lebih baik." pak Hardi berusaha untuk mendinginkan hati Anisa.
Anisa menghelai nafas panjang sambil membuang tatapan keluar rumah karena dia merasa terkadang bu Ningsih bukan menasehati tapi sama saja menghujat dia, omongan yang keluar dari mulut wanita itu seolah menjadi pisau yang begitu tajam untuk Anisa ini sendiri.
Padahal bu Ningsih adalah orang yang telah melahirkan Anisa ke dunia ini dan ternyata sekarang justru dia ikut menghujat juga, tunggu itu sangat menyakiti hati Anisa karena dia telah berusaha untuk berpikir positif namun tetap saja hasil yang dia terima sangat menyakitkan hati seperti saat ini.
Untuk orang lain terkadang dia masih bisa menerima dengan perasaan berkecamuk juga Karena bila mendapat hinaan tentu saja itu sangat menyakiti hati, tapi yang jauh lebih parah adalah ketika omongan itu keluar dari keluarga terdekat sehingga Anisa semakin tertekan dan dia rasa ingin kabur saja dari dunia yang kejam ini.
Melihat Arumi yang begitu cantik dan banyak dikagumi oleh semua orang sehingga pasti ada rasa iri di dalam hati Anisa, kesalahan Anisa hanyalah Dia tidak ingin berubah dan justru ingin memaksa semua orang untuk menerima keadaan dia apa adanya, tidak ada niat di dalam hati untuk berubah menjadi lebih baik dan memiliki tekad yang sangat kuat.
Arumi padahal juga sering mengajak dia untuk sering olahraga agar tubuh ini sedikit berbentuk, namun Anisa menerima itu semua sebagai hinaan dan dia akan langsung marah kepada sang adik karena menganggap itu adalah ucapan yang sangat pedas sehingga bisa dikatakan bahwa Anisa bermasalah pada hati dia sendiri.
"Aku mau istirahat dulu, Pak." Anisa masuk ke dalam kamar sambil mengusap air mata ini.
"Kamu seharusnya bisa menerima omongan dari kami, kami ini orang tua kamu Dan bukan ingin menjerumuskan kamu ke dalam lobang neraka." pak Hardi lama-lama emosi juga dengan Anisa.
"Bapak bisa bicara seperti itu saat ini, padahal aku memiliki paras yang buruk karena menurun dari kamu!" Anisa berteriak dan menunjuk wajah pak Hardi.
"Apa apaan kamu Anisa!" bu Ningsih keluar dari kamar karena dia mendengar keributan itu.
"Kalian yang salah karena telah membuat aku seperti ini, ini semua karena Bapak memiliki paras buruk sehingga menurun pada diriku!" Anisa menyalahkan pak Hardi.
PLAAAAAAK.
Satu tamparan keras mendarat di wajah Anisa ketika bu Ningsih sudah tidak sanggup menahan emosi yang ada di dalam diri, permasalahan tadi siang masih saja berlanjut Dan sekarang dia merasa Anisa semakin kurang ajar kepada orang tua dia sendiri.
"Dia adalah orang tua yang sudah membesarkan kamu!" geram Buk Ningsih.
"Ya tampar saja aku yang jelek ini, bila Arumi yang berkata demikian maka dia tidak akan mendapat tamparan karena Arumi berwajah cantik!" Anisa menjawab dengan suara gemetar.
"Mau sampai kapan kau akan terus menyiksa diri seperti ini Anisa? bila kau tidak ingin melakukan perubahan maka terima saja nasib yang buruk ini." bu Ningsih berkata dengan lantang.
"Kalian orang tua tidak berguna dan aku tidak akan pernah bisa menerima takdir buruk ini." Anisa segera masuk ke dalam kamar dan membanting pintu.
Braaaaaak.
"Ya Allah." pak Hardi hanya bisa mengusap dada melihat kelakuan sang anak.
Anisa semakin tidak terkendali karena dia merasa rendah diri dan semua orang yang menatap Dia seolah menjadi hinaan, mungkin karena selama ini dia memang hidup tertekan dan selalu mendapat perbandingan dari Arumi sehingga orang melihat sedikit saja maka dia akan merasa bahwa tatapan itu adalah sebuah hinaan.
Selama ini dia juga sudah mencoba berbagai macam cara agar kulit sedikit bersih karena menurut dia walau gemuk tapi berkulit bersih masih sedikit lebih baik, namun ternyata itu tidak mudah karena Anisa justru banyak tertipu dengan barang abal-abal dan dia tidak mendapatkan hasil yang maksimal, Arumi sudah sering merekomendasikan yang bagus namun Anisa menolak karena dia tidak ingin berhubungan dengan Arumi.
"Kau membenci kami yang ada di dalam rumah ini, padahal kami semua tidak pernah membenci dirimu!" Arumi keluar juga dari dalam kamar Karena dia sudah tidak tahan.
"Sudah, Nak." pak Hardi tidak ingin bila sang anak banyak bertengkar.
Namun Arumi tidak bisa untuk diam saja karena selama ini dia juga sudah banyak mengalah dan walau terkadang ucapan Anisa jauh lebih pedas kepada dia, maka Arumi diam saja karena dia beranggapan bahwa itu semua adalah tekanan mental yang begitu berat karena Anisa mendapat banyak hinaan dari orang-orang.
"Aku sama sekali tidak bersalah karena aku tidak pernah menghina dirimu, kau marah padaku karena banyak orang yang memuji aku." Arumi masih berteriak di depan pintu kamar Anisa.
"Diam kau, binatang!" Anisa menjawab dari dalam kamar dia sendiri.
"Jangan keterlaluan seperti itu, Anisa!" Bu Ningsih juga ikut panas mendengar ucapan Anisa kepada sang adik.
"Binatang, kalian semua adalah binatang dan tidak pernah bisa peduli dengan perasaan aku!" ujar Anisa kembali.
Bu Ningsih berusaha keras untuk membuka pintu kamar Karena dia sudah tidak sanggup menahan emosi, terlebih orang tua mana yang akan menerima bila di katai binatang oleh anak sendiri seperti itu. namun pintu kamar Anisa terkunci rapat dari dalam sehingga tidak bisa untuk dibuka dari luar.
"Bu, sudahlah dan jangan dipikirkan lagi." Arumi segera menarik bu Ningsih menjauh karena dia tahu keadaan menjadi semakin tidak terkendali.
"Tolong berhenti karena sekarang kepala ku sudah sangat sakit." pak Hardi memegangi kepala dia sendiri.
Bu Ningsih berusaha untuk mengatur nafas karena dia tahu pak Hardi memiliki darah tinggi sehingga bila terus seperti itu maka bisa saja nanti tekanan tensi semakin tidak karuan, walau dia juga menyadari bahwa permasalahan antara jelek dan cantik ini tidak akan pernah bisa selesai di dalam rumah mereka sampai kapan saja.
selamat siang semuanya, jangan lupa like dan komentar kalian ya.
ga nyangka si pocong patah hati bs gelut jg👻
calon mantu pangeran ular itu,
ada yg datang ngk sich nolong Digo bisa mampus tu anak orang