*Sinopsis Singkat:*
Kafe Senja terkenal di Jogja karena satu hal aneh: setiap minggu, di meja nomor 7 selalu ada surat tanpa pengirim. Isinya selalu puisi, cerita pendek, atau nasihat yang seolah ditulis khusus untuk orang yang membacanya minggu itu.
Alya, barista baru di kafe itu, iseng buka salah satu surat yang ketinggalan. Sejak saat itu, hidupnya mulai berubah. Surat-surat itu seperti tahu masa lalunya, ketakutannya, bahkan orang yang diam-diam ia sukai.
Masalahnya… siapa yang menulisnya?
Dan kenapa surat terakhir yang datang, menyebut namanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*Bab 6 ; Halaman Baru*
Meja 7 sekarang nggak pernah kosong lagi setiap Senin sore.
Bukan karena surat misterius.
Tapi karena dua orang yang sengaja duduk di sana, bawa laptop, buku catatan, dan dua gelas kopi hitam tanpa gula.
Alya ngetik cepat.
Jarinya udah nggak ragu lagi di atas keyboard.
Di sebelahnya, Revan nulis tangan di buku lusuh milik Rani, sesekali berhenti buat ngeliat layar Alya.
“Baris ini kebanyakan kata,” kata Revan tiba-tiba, nunjuk layar.
Alya melirik. “Kebanyakan menurut siapa? Editor Jakarta yang nolak aku 47 kali?”
Revan ketawa pelan. “Menurut aku. Dan aku yang baca sekarang.”
Alya mendengus, tapi ia hapus tiga kata.
“Ya udah, bos editor. Puas?”
“Belum,” jawab Revan.
“Tapi lebih jujur.”
Mas Bayu dari pojok cuma geleng-geleng kepala sambil nyeduh kopi.
“Jadian aja sekalian kalian berdua. Capek aku jadi mak comblang nggak dibayar.”
Alya langsung salah tingkah.
“Mas! Kita lagi kerja!”
Revan cuma senyum tipis, nggak nyanggah.
---
Sejak hari Mas Bayu buka kartu, suasana di Kafe Senja berubah.
Nggak ada lagi curiga. Nggak ada lagi jarak.
Revan cerita lebih banyak tentang Rani.
Tentang gimana adiknya suka nyelipin catatan kecil di buku masaknya, tentang tawa Rani yang gampang pecah kalau denger lelucon jelek.
Alya cerita tentang Dara. Tentang gimana kakaknya selalu nyimpen cokelat di laci meja belajar, buat ‘darurat deadline’.
Mereka ketawa. Mereka diem. Mereka nangis sebentar, terus lanjut nulis lagi.
Suatu malam, setelah kafe tutup, hujan turun lagi.
Alya dan Revan masih di meja 7. File _Senja yang Tertunda_ udah 40 halaman.
Buku Rani udah separuh penuh.
“Aku takut,” kata Alya tiba-tiba.
Revan ngangkat kepala. “Takut apa?”
“Takut kalau ini cuma sebentar. Takut kalau nanti aku selesai nulis, aku bakal kabur lagi. Kayak di Jakarta.”
Revan menutup buku Rani. Ia dorong ke tengah meja, lalu meraih tangan Alya.
“Kalau kamu kabur, aku bakal taruh surat di meja 7. Dan aku yakin, kamu bakal balik.”
Alya menatapnya lama.
“Kenapa kamu yakin?”
“Karena kamu udah nggak nulis buat kabur,” jawab Revan pelan.
“Kamu nulis buat pulang.”
Alya nggak jawab. Ia cuma meremas tangan Revan balik.
Di luar, hujan makin deras. Di dalam, meja 7 hangat.
---
Minggu depannya, ada amplop cokelat lagi di meja 7.
Nggak ada angka. Nggak ada tulisan
_Untuk yang butuh didengar hari ini_.
Cuma ada satu kalimat, tulisan tangan Revan:
> _Untuk Alya,
> Halaman baru dimulai hari ini. Mau mulai bareng aku?_
Alya baca itu sambil berdiri di depan meja.
Ia ngangkat kepala. Revan ada di belakang bar, pura-pura sibuk ngaduk susu, tapi telinganya merah.
Alya ambil pulpen dari saku celemeknya.
Di bawah kalimat itu, ia tulis:
> _Iya.
> —A_
Ia lipat suratnya, taruh di meja.
Nggak dikirim. Nggak perlu.
Karena orang yang nulis surat itu, ada tepat di depan dia.
Mas Bayu dari pojok cuma mengangguk puas.
“Akhirnya. Meja 7 bisa pensiun , kasian kerja terus jadi tukang pos haha .”
Tapi Alya tahu, meja 7 nggak akan pernah pensiun.
Karena mulai hari ini, meja itu bukan tempat surat datang dan pergi.
Melainkan, meja itu akan menjadi tempat mereka berdua untuk pulang dan saling bertukar cerita .
*[Bersambung:
*Halo guys Terimakasih banyak ya untuk support dan dukungan nya ❤🥳