Demi melunasi utang almarhum ayahnya dan membiayai sekolah adiknya, Andra (23 tahun), seorang pemuda desa yang tampan dan bersahaja, nekat merantau ke Jakarta. Berbekal kejujuran dan ijazah SMK, ia diterima sebagai asisten administrasi di Apex Media, sebuah agensi periklanan papan atas yang gemerlap di kawasan Sudirman.
Di sana, Andra berhadapan langsung dengan sang bos besar, Nadia (32 tahun), seorang wanita karier sukses yang perfeksionis. Di balik kemewahan hidupnya, Nadia menyimpan kesepian mendalam karena pernikahannya dengan seorang pengusaha kaya telah lama mendingin dan hambar.
Di tengah belantara Jakarta yang penuh kepalsuan, ketulusan dan kepolosan Andra perlahan mencuri perhatian Nadia. Intensitas kerja hingga larut malam membuat batas profesional di antara atasan dan bawahan ini perlahan mengabur. Andra kini dihadapkan pada dilema moral terbesar dalam hidupnya: bertahan pada ketulusan prinsipnya demi keluarga di desa, atau menyerah pada godaan sang bos yang menawarkan keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Pagi yang Berbeda
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah tirai tipis jendela besar lantai atas unit apartemen Kebayoran Baru, membiaskan pendar keemasan di atas lantai kayu ek yang bersih. Suasana di dalam ruangan sangat sunyi, hanya menyisakan deru halus pendingin ruangan yang senantiasa menjaga suhu tetap sejuk sejak malam tadi.
Andra terbangun lebih dulu. Ketika ia membuka mata, hal pertama yang ia rasakan adalah beban hangat yang bersandar di dada bidangnya. Nadia masih tertidur lelap di sampingnya, dengan posisi kepala yang berbantal lengan kiri Andra. Selimut tebal berwarna putih gading menutupi sebagian besar tubuh mereka. Wajah Nadia yang tanpa riasan pagi ini terlihat sangat tenang, jauh dari topeng ketegasan pimpinan perusahaan yang biasa ia kenakan di lantai 17. Sisa gurat kesedihan dan air mata dari malam gala semalam telah digantikan oleh kedamaian yang murni.
Andra menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan perasaan yang berkecamuk hebat. Rasa bersalah, kepuasan yang mendalam, serta bayangan doa ibunya di desa bercampur aduk menjadi satu pusaran emosi yang mencekik tenggorokannya. Batas terlarang itu kini telah benar-benar terlewati. Ia bukan lagi sekadar seorang asisten administrasi yang duduk di balik meja kayu depan; ia telah masuk terlalu jauh ke dalam kehidupan pribadi dan batin dari istri seorang Gunawan.
Andra perlahan-lahan menggeser lengan kirinya dengan sangat hati-hati, berusaha tidak membangunkan Nadia yang tampaknya baru bisa tidur nyenyak menjelang subuh setelah melepas seluruh beban batinnya. Setelah berhasil bangkit dari tempat tidur, Andra memungut kemeja putihnya yang tergeletak di atas lantai, lalu memakainya kembali tanpa mengancingkannya secara penuh.
Ia melangkah keluar menuju ruang tengah yang luas, menghampiri jendela kaca besar yang menampilkan panorama gedung-gedung pencakar langit Jakarta di bawah siraman cahaya pagi. Kota ini terlihat sangat megah dari atas sini, namun di mata Andra, kemegahan ini terasa seperti labirin penuh jebakan yang siap menelan siapa saja yang lengah memegang prinsip hidupnya.
Saat Andra sedang termenung menatap jalanan di bawah, suara langkah kaki yang halus terdengar dari arah belakang. Sepasang lengan yang lembut dan hangat tiba-tiba melingkar di pinggang tegap Andra, disusul oleh sentuhan pipi Nadia yang bersandar di punggung kokohnya. Aroma melati yang familier kembali memenuhi rongga dada Andra.
Kenapa bangun cepat sekali, Andra? bisik Nadia dengan nada suara yang serak khas orang baru bangun tidur, mengencangkan dekapannya seolah tidak mau kehilangan kehangatan yang baru saja ia temukan.
Andra memegang jemari Nadia yang bertautan di perutnya, lalu membalikkan tubuhnya perlahan agar mereka bisa saling berhadapan. Selamat pagi, Mbak Nadia, ucap Andra dengan nada suara yang rendah dan penuh penghormatan, namun ada gurat kecemasan yang tidak bisa ia sembunyikan di sepasang mata hitamnya.
Nadia mendongak, menatap wajah sawo matang Andra yang tampak sangat jantan di bawah siraman cahaya pagi. Ia bisa membaca ketegangan yang ada di dalam pikiran asisten pribadinya tersebut.
Jangan berpikir terlalu keras tentang apa yang terjadi semalam, Andra. Malam ini, dan semua yang kita lalui di kamar ini, adalah hal terbaik yang saya rasakan setelah bertahun-tahun hidup dalam kepura-puraan dengan Mas Gunawan, ujar Nadia tulus, kedua tangannya naik merapikan kerah kemeja Andra yang terbuka. Saya tidak menyesal sedikit pun, dan saya harap kamu juga tidak perlu merasa bersalah.
Saya hanya seorang anak desa yang tidak memiliki apa-apa, Mbak. Sementara Mbak Nadia adalah pimpinan perusahaan dan... istri sah dari Pak Gunawan. Penghinaan Pak Gunawan semalam di hotel adalah pengingat bahwa posisi saya di sini sangat berbahaya untuk kita berdua, jawab Andra jujur, menyuarakan logika sehat yang masih tersisa di kepalanya.
Nadia menempelkan telunjuk kanannya di bibir tegas Andra, memotong kalimat pemuda itu. Hubungan saya dengan Mas Gunawan sudah mati sejak lama, Andra. Pernikahan kami hanya tinggal status di atas kertas demi kepentingan bisnis saham korporasi. Dia punya kehidupannya sendiri di Bali, dan saya tidak peduli lagi. Yang saya pedulikan sekarang adalah kamu. Kamu yang ada di sini, yang melindungi saya saat saya hancur.
Nadia merapatkan kembali tubuhnya ke dalam dekapan Andra, mencari perlindungan yang nyata. Mulai hari ini, kamu tidak perlu lagi merasa sungkan di kantor. Kita akan tetap profesional di depan staf yang lain, tapi di luar jam kantor, kamu adalah milik saya, Andra. Saya akan memastikan seluruh kebutuhan keluargamu di desa tercukupi, dan saya akan menaikkan posisimu di Apex Media agar tidak ada lagi orang seperti Gunawan yang berani merendahkanmu.
Andra terdiam, memeluk kembali tubuh ramping Nadia dengan erat. Janji manis tentang kenaikan posisi dan jaminan ekonomi untuk ibu serta adiknya di desa adalah sebuah penawaran yang teramat sulit untuk ditolak oleh seorang pemuda miskin. Namun, di sudut batinnya yang paling dalam, Andra tahu bahwa keterikatannya yang semakin dalam dengan Nadia akan memicu badai yang jauh lebih besar dari sekadar kemarahan Gunawan. Langkahnya di ibu kota kini telah resmi bergeser, membawanya masuk ke dalam pusaran asmara terlarang yang penuh dengan intrik kekuasaan, sementara di tempat lain, Diana masih memegang kartu truf yang kelak akan mengubah arah hidup Andra seutuhnya di masa depan.