Di Alam Fana yang kejam, bakat adalah segalanya. Lin Ye, seorang pemuda dengan meridian cacat, ditakdirkan menjadi pelayan seumur hidupnya. Namun, nasibnya berubah ketika darahnya tak sengaja membangkitkan sebuah relik berkarat: Kuali Penelan Bintang.
Kuali kuno ini bukan sekadar alat pelebur pil, melainkan artefak primordial yang mampu melahap esensi langit dan bumi, bahkan menelan energi bintang-bintang. Dalam perjalanan kultivasi yang lambat, penuh perhitungan, dan berdarah, Lin Ye perlahan mengubah fisik fananya, menembus kemustahilan, dan melangkah ke jalan keabadian.
Ini bukan kisah pahlawan instan, melainkan seorang pemuda biasa yang merangkak dari debu, menentang takdir surga, dan pada akhirnya, melahap seluruh kosmos untuk melindungi apa yang ia hargai. Langit kesembilan pun akan gemetar di bawah kualinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starlope, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Sang Tiran
Su Yue terbelalak, secara naluriah ia langsung menarik perisai es-nya. Dan apa yang ia lihat berikutnya akan terukir di dalam jiwanya untuk selamanya.
Kabut beracun yang bisa melelehkan tulang pembentukan fondasi itu menyentuh kulit perunggu Lin Ye. Namun, bukannya melepuh, kabut mematikan itu justru berputar liar, seolah-olah ditarik oleh pusaran badai raksasa.
Lin Ye merentangkan kedua tangannya. Pakaian pelayannya yang lusuh hancur terbakar oleh racun, memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang terbentuk sempurna, dihiasi urat-urat berwarna merah keemasan yang berdenyut-denyut menyilaukan.
Sutra Kekosongan Penelan Bintang meledak melampaui batas cangkang fisiknya.
Sebuah bayangan pusaran hitam pekat berukuran sepuluh tombak muncul secara nyata di belakang punggung Lin Ye, memancarkan aura Primordial Kegelapan yang membuat seluruh udara di dalam gudang itu bergetar ketakutan.
"Ribuan tahun akumulasi racun, jutaan pil gagal yang memendam kebencian karena tak terbentuk, dan hawa kemarahan dari ribuan tungku yang meledak..." Lin Ye menengadahkan kepalanya, tertawa serak—tawa seorang tiran kelaparan yang menemukan lautan anggur. "Puncak Naga Api benar-benar tuan rumah yang murah hati!"
"MAKAN!" raung Lin Ye.
WUUUSSS—BLAAARRR!
Pusaran Kuali Bintang di punggung Lin Ye terbuka sepenuhnya. Hisapan kosmik yang menentang hukum langit bumi menyapu seluruh ruang dalam gudang raksasa tersebut.
Kabut hijau kehitaman yang tenang mendadak berubah menjadi badai puting beliung. Jutaan kati uap beracun, kabut pil mematikan, dan hawa Yin Yang yang rusak, ditarik paksa ke arah tubuh Lin Ye.
Rasa sakit yang ribuan kali lipat lebih menyiksa dari kematian merobek-robek saraf Lin Ye. Racun dua ribu tahun ini mencoba melawan. Ia mencoba membakar kulitnya, membekukan darahnya, dan melelehkan tulangnya secara bersamaan.
Namun, Fondasi Tubuh Primordial Lin Ye terlalu keras. Tulangnya yang seputih pualam berderak, darah emasnya mendidih bagai lahar. Kuali di Dantian-nya berputar dengan kecepatan tak terhingga, menggiling racun tingkat tinggi itu tanpa belas kasihan. Hawa mematikan itu dihancurkan, dikunyah, dan dimuntahkan kembali sebagai esensi kehidupan purba murni yang paling padat.
Di pinggir ruangan, Su Yue jatuh terduduk. Ia aman karena daya hisap Lin Ye menciptakan kubah hampa di sekitarnya. Namun, jiwanya bergetar hebat. Ia sedang melihat seorang manusia menelan sebuah alam neraka hidup-hidup.
"Ini... ini bukanlah seni kultivasi iblis," gumam Su Yue dengan mata berbinar fanatik. "Kultivator iblis pun akan mati menelan sampah racun kacau ini. Ini adalah... Dao Penghancuran Primordial!"
Dua jam berlalu. Empat jam berlalu.
Lin Ye masih berdiri seperti patung dewa perang kuno di tengah badai. Warna kulitnya berganti-ganti dari hijau pekat, ungu mati, hingga kembali ke perunggu bercahaya emas. Kekuatan fisiknya terus melonjak, mendaki dari setara Pembentukan Fondasi Tahap Awal, merangkak naik menuju Tahap Menengah.
Tiba-tiba, mata Lin Ye terbuka. Ia menunduk menatap dasar gudang.
Daya hisapnya yang gila telah membersihkan lebih dari separuh kabut beracun di udara, memperlihatkan lautan lumpur limbah cair di dasar gudang. Dan di tengah lautan lumpur mematikan tersebut, ada sesuatu yang bereaksi terhadap kekuatan Kuali Bintang.
Sesuatu yang memiliki kesadaran.
Lumpur beracun itu bergolak hebat. Dari dalam cairan hijau kental tersebut, sesosok raksasa perlahan bangkit. Ia terbentuk dari gabungan ampas ribuan jenis rumput spiritual dan jutaan pil gagal. Tubuhnya setinggi lima tombak, menyerupai raksasa lumpur dengan mata yang memancarkan api hijau menyala.
"Roh Ampas Alkimia..." Su Yue berseru kaget. "Limbah ini telah disegel terlalu lama hingga energi kekacauannya membentuk kesadaran iblis!"
Roh Ampas itu mengaum, suaranya seperti ledakan seribu tungku. Ia merasakan ancaman pemusnahan dari pusaran hitam di belakang Lin Ye. Dengan langkah berat yang membuat seluruh gunung bergetar, raksasa limbah beracun itu menerjang maju, mengayunkan tinjunya yang terbuat dari lahar racun kental lurus ke arah Lin Ye.
Menghadapi pukulan seukuran gubuk yang bisa meratakan bukit itu, Lin Ye tidak menghindar. Ia justru tersenyum lebar hingga memamerkan deretan giginya.
Ia menurunkan tangan kanannya, mengepalkan tinjunya yang kini dikelilingi oleh lapisan aura emas kemerahan, dan memukul balik menyongsong tinju raksasa tersebut.
BAMMM!
Bentrokan antara tinju daging seorang pemuda dan tinju lahar racun raksasa meledak dengan suara memekakkan telinga.
Namun, hasilnya sungguh menentang akal sehat fana. Lengan raksasa lumpur itu tidak bisa menembus pukulan Lin Ye. Sebaliknya, energi fisik Lin Ye yang telah menyerap separuh racun gudang ini meledak ke depan.
Ledakan tenaga fisik merobek seluruh lengan raksasa tersebut, mengubahnya menjadi hujan lumpur asam.
"Kau pikir kau adalah penguasa tempat ini?" geram Lin Ye, melesat ke udara dengan kecepatan kilat, meninggalkan lubang kawah di tempatnya berpijak.
Lin Ye mendarat tepat di atas kepala raksasa Roh Ampas tersebut. Tangan kanannya yang kini sekeras batu bintang jatuh menancap jauh ke dalam tengkorak lumpur sang monster.
Sutra Kekosongan Penelan Bintang difokuskan ke satu titik.
"Kau hanyalah pil utamaku malam ini. Ditelan olehku!"
Raksasa itu meronta histeris, mengeluarkan jeritan yang membekukan jiwa. Namun tidak ada gunanya. Wujud lumpurnya mengempis dengan kecepatan mengerikan, tersedot habis ke dalam lengan Lin Ye bagai air yang ditarik ke dalam badai topan, meninggalkan inti api hijau menyala seukuran kepala manusia di tangan Lin Ye.
Lin Ye menatap inti api kekacauan itu dengan mata berbinar, membuka mulutnya, dan langsung menelannya bulat-bulat.