"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.
Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Dara tidak menghiraukan keberadaan Rafa yang seperti makhluk tak kasat mata baginya. Dara menganggap Rafa tidak ada dan tidak penting juga untuk dia tanya kenapa suaminya itu ada di dekat kamarnya.
Rafa yang dicueki seperti itu jelas heran. Apa kacamata yang dipakai Dara tidak membuat gadis itu bisa melihatnya?
Hanya heran, tapi tidak mengucapkan sepatah kata pun sampai Dara masuk ke kamar dan menutup pintunya kembali, Rafa masih diam di sana.
"Hah!" Rafa menyentak napas kasar. "Apa dia tidak melihatku?!" ucapnya kesal.
Kini pria tampan itu nampak berkacak pinggang di depan kamar Dara. Sejak tadi dia menunggu kepulangan Dara untuk meminta maaf atas ucapan dia yang kemarin. Tapi setelah Dara pulang, gadis itu malah cuek padanya.
Rafa sadar, dia sudah keterlaluan. Dia yang memang bukan pribadi yang mempunyai sifat kasar pun jadi merasa bersalah. Apalagi bayangan kedua mata Dara yang nampak berkaca-kaca selalu menghantui pikirannya.
Menurut Rafa, mata Dara amat
ada sandiwara atau kepalsuan dari sorot mata istrinya itu kemarin. Yang ada hanya rasa sakit, marah, kesal yang pasti karena dirinya.
Tapi apa sekarang? Dara bahkan melewatinya begitu saja. Padahal salah dia sendiri yang hanya diam tidak mengatakan apa pun saat melihat Dara datang.
"Tapi, tidak mungkin dia tidak melihatku. Malam itu, meski gelap pun dia bisa berjalan menuju dapur dan dia tidak memakai kacamata nya," gumam Rafa bergelut dengan pikirannya.
Kini dia galau, ingin mengetuk pintu kamar Dara namun ragu. Lebih tepatnya gengsi.
Rafa beberapa kali menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan melalui mulut. Tangan kanannya sudah terangkat dan siap untuk mengetuk pintu kamar berwarna abu-abu tersebut.
Namun, tepat saat dia hendak mengetuk, pintu kamar keburu terbuka. Dara menatap tangan kanan Rafa yang terangkat dengan ekspresi datar.
Sedangkan Rafa, tetap diam dan fokus menatap mata Dara yang terhalang kacamata tebal dan besar.
Sadar tangannya masih terangkat, Rafa pun segera menurunkannya dan dibuat menelan ludah beberapa kali. Heran, mengapa untuk
mengucapkan kata maaf saja lidahnya terasa kelu sekali.
Sampai dia dibuat heran sekaligus jengkel karena Dara kembali mengacuhkannya. Istri kecilnya itu berjalan melewatinya dan turun ke lantai bawah.
"Astaga Rafa. Ada apa dengan dirimu? Mengapa kau hanya diam saja seperti orang bo-doh?!" Rafa memaki dirinya sendiri.
Dara pergi ke dapur untuk mengambil minum. Dia beberapa kali menghela napas dan melirik ke lantai atas. Heran juga mengapa Rafa terkesan seperti sedang menunggunya tapi tidak
mengatakan apa pun padanya.
"Mungkin dia gabut," pikir Dara cuek.
Karena ada tugas Bahasa Inggris yang harus dia kerjakan, Dara pun berniat untuk kembali ke kamar setelah sekalian mengambil cemilan yang ditawarkan oleh Bi Inem.
Saat sudah sampai di lantai atas, Rafa ternyata sudah tidak ada. Dara pun hanya mengedikkan bahunya cuek dan dia terjingkat kaget saat mendengar ucapan seseorang yang secara tiba-tiba di belakangnya.
"Kita harus bicara," ucap Rafa.
Dara mengusap dada nya yang
jadi berdebar kencang dan berbalik hingga kini dia bisa melihat Rafa yang entah sejak kapan berdiri di belakangnya.
"Ikut aku!" titah Rafa kemudian berbalik dan berjalan lebih dulu.
"Tapi aku gak mau!" ucap Dara. "Gak ada juga yang mau aku bicarain sama Om," sambungnya.
Rafa yang mendengarnya pun seketika menghentikan langkahnya.
"Tapi aku yang mau bicara!" ucap Rafa tanpa berbalik.
"Tapi aku gak mau!" kekeh Dara.
"Ish. Gadis ini!" desis Rafa kesal.
Sudah susah payah menurunkan ego nya, tapi Dara malah menolak ajakannya.
Tidak ada pilihan lain, Rafa menghela napas dalam-dalam dan kembali berbalik menghampiri Dara yang sejak tadi tidak beranjak dari tempatnya.
Keduanya saling tatap, tatapan yang tajam dan intens seolah-olah ada sinar laser yang keluar dari mata mereka.
Keduanya berdiri hanya beberapa langkah dari satu sama lain, namun jarak di antara mereka terasa begitu jauh.
"Ck. Maaf," ucap Rafa dengan suara yang hampir terdengar lirih.
Gengsi Rafa masih setinggi langit, namun perasaan bersalah yang mendominasi hatinya membuatnya terpaksa mengakui kesalahannya.
Dara terkejut dengan pengakuan Rafa barusan. Namun, dia berusaha keras untuk tidak menunjukkan rasa terkejutnya itu.
"Untuk?" tanya Dara.
"Ish. Masa iya dia gak ngerti sih? Masa iya aku harus mengatakan alasanku meminta maaf padanya?" batin Rafa malah kembali jengkel.
"Ya maaf aja. Masa kamu gak ngerti aku minta maaf karena apa?" sahut Rafa.
Pikir Rafa, dia hanya melakukan satu kesalahan saja pada Dara. Kesalahan yang kemarin itu. Ucapannya yang sudah keterlaluan menghina Dara dan juga orang tuanya.
Tapi berbeda bagi Dara. Dari versinya, Rafa itu kesalahannya lumayan banyak dan tidak hanya satu. Jelas Dara heran, Rafa ini minta maaf untuk kesalahan yang mana? Apa semuanya?
Tiba-tiba Dara tersenyum tipis. Dia ada ide. Kapan lagi menjahili suaminya yang dingin, jutek, bermulut pedas dan sangat menyebalkan itu?
"Orang kalau minta maaf tuh dengan tulus, dan bukan kayak gitu caranya," ucap Dara.
Rafa langsung melotot. Kurang tulus apa lagi dirinya?
"Barusan aku tulus minta maafnya," ucap Rafa. Nada nya masih terkesan jutek.
"Masa? Mana ada minta maaf tapi jutek begitu!"
Mendengar reaksi Dara, Rafa pun langsung menatap galak. Sedangkan Dara malah berbalik dan masuk ke kamarnya.
"He-hei! Aku belum selesai bicara!" seru Rafa. Namun Dara tidak kembali membuka pintunya.
"Ish. Jadi dia maafin apa enggak?" gumam Rafa.
"Ah, terserah lah! Yang penting aku sudah minta maaf!"
"Tapi tunggu, bukankah dia juga harusnya minta maaf karena sudah menamparku kemarin?" gumam Rafa.
~❤️~
Rafa, Dara, dan Oma Atira sedang menikmati makan malam bersama. Seperti biasa, Dara dan Rafa duduk berdampingan di meja makan yang sebetulnya cukup luas untuk menampung lebih banyak orang.
Saat Dara hendak mengambil ayam goreng lengkuas bagian paha yang hanya tersisa satu. Siapa sangka kalau Rafa pun melakukan
hal yang sama.
Keduanya saling tatap sampai tidak sadar kalau tangan mereka saling memegang sendok yang sama.
Oma Atira sendiri hanya diam sambil memperhatikan, dan memegang paha ayam yang tadi sudah dia ambil satu.
"Kamu yang lain aja, ini punya saya!" ucap Rafa.
"Mana bisa? Aku udah pegang sendoknya duluan!" Dara tidak mau kalah. Paha ayam adalah bagian favoritnya.
"Tapi yang pertama kali ngeliat paha ayamnya saya duluan!"
"Ih ngeliat sama ngambil
duluan ya jelas harusnya yang ngambil duluan yang menang!" ujar Dara.
"Enggak! Tuh, cewek biasanya suka bagian sayap yang ada kulit-kulitnya. Kamu itu aja!" ujar Rafa memberi saran.
Dara menggelengkan kepalanya. "Lah, cowok biasanya suka bagian da-da. Kenapa Om gak ambil da-danya aja?"
Uhuk!
Oma Atira langsung terbatuk saat mendengar ucapan Dara. Sedangkan Dara, sadar kalau ucapannya terdengar ambigu, saat itu pula dia menutup mulut menggunakan kedua tangan.
Wajahnya memerah karena malu. Apalagi Rafa nampak tertawa pelan. Tawa yang membuat Dara terkesima sesaat, karena ini adalah kali pertama dia melihat serta mendengar suaminya itu tertawa. Bibir sang suami yang biasanya lempeng, kini tertarik ke atas membentuk senyuman juga.
Melihat kesempatan, Rafa pun langsung mengambil paha ayam yang sejak tadi jadi rebutan antara dia dan Dara itu.
"Sudah ada di piring saya. Kamu ambil yang lain aja," ucap Rafa menyeringai.
Kedua bahu Dara langsung melemah, bibirnya mengerucut dan dia pun mengambil bagian
sayapnya saja.
"Ada untungnya juga aku mengambil paha ayamnya tadi," batin Oma Atira merasa gemas dengan tingkah cucu dan cucu menantunya.
Sepertinya Oma Atira mulai menemukan ide untuk membuat interaksi antara Dara dan Rafa agar semakin dekat.
~❤️~
Paginya, saat Dara keluar dari kamar, dia kaget melihat kotak kecil yang hampir saja dia injak. Dara berjongkok mengambil kotak tersebut dan memutuskan untuk membukanya.
Dua alisnya terangkat kala
melihat kalau ternyata isinya adalah kartu ATM yang waktu itu diberikan oleh Rafa.
Melihat kartu itu, malah mengingatkan dia pada ucapan Rafa yang berakhir dia menamparnya. Dara memutuskan untuk menutup lagi kotak tersebut dan menyimpannya di depan pintu kamar Rafa.
"Dia pikir, aku udah maafin dia apa?" gumam Dara lalu turun ke lantai bawah.
Di meja makan, Rafa sudah tidak ada, mungkin pergi lebih pagi. Cuek, Dara pun duduk di meja makan dan menikmati sarapan yang sudah disediakan.
"Gimana sekolahnya?" tanya Oma Atira yang juga sedang menikmati sarapan. Tidak boleh telat, karena harus minum obat.
Dara mengangguk. "Alhamdulillah lancar, Oma."
"Gak ada kendala apa pun, 'kan?" tanya Oma Atira.
Kali ini Dara menggeleng. "Nggak ada, Oma."
Oma Atira mengulas senyum hangat. Setidaknya dia merasa lega karena pernikahan Dara dengan Rafa tidak membuat konsentrasi belajar cucu menantunya itu terganggu.
Selesai sarapan, Dara langsung pamit karena ojol yang dia pesan
sudah datang.
Teng! Teng! Teng!
Bunyi bel istirahat pertama membuat sebagian murid bergegas untuk pergi ke kantin, sebagian lagi tetap berada di kelas dan sebagian lagi entah pada ke mana.
Dara sendiri langsung pergi ke toilet karena dia sudah menahan pipis sejak lima menit yang lalu. Mau izin ke toilet tapi tanggung, jadilah Dara memilih untuk menahannya saja dulu.
Dara keluar dari bilik toilet dengan perasaan lega, dia langsung mencuci tangannya di wastafel dan mengeringkannya menggunakan
tissue yang ada di sana.
Bhuk!
"Aww!"
Dara merasa bokongnya terasa ngilu saat dia akan keluar tapi ada seseorang yang mendorongnya hingga dia terjatuh.
"Ups! Sorry, gue gak sengaja!" Monica berdiri dan menutup mulut dengan sebelah tangan.
Dara menghembuskan napas berat dan berdiri lalu mengusap tangan dan rok bagian belakangnya.
"Gue tau lo sengaja, kan?" tuduh Dara.
"Apa sih? Gue udah bilang gak sengaja juga!" sentak Monica.
Dara membetulkan letak kacamata nya dan melipat kedua tangan di depan dada. "Gue heran, apa lagi masalah lo kali ini sama gue? Kemarin juga gue tau lo sengaja kan ngelempar bola basket ke arah gue?" ucapnya.
Monica langsung tertawa, di belakang sana ada kedua temannya yang berjaga dan melarang murid lain yang akan masuk ke toilet.
"Syukur deh kalau lo tau. Tapi sayangnya gue gak mau minta maaf, gimana dong?"
"Cih, siapa juga yang nyuruh lo minta maaf sama gue?" tanya Dara.
Monica kembali tertawa pelan.
Dia berjalan lebih dekat ke arah Dara hingga kini jarak keduanya tinggal beberapa senti saja.
"Denger ya! Gue gak bakal puas gangguin lo sampai kapan pun," ucap Monica.
"Braden emang berhasil gue rebut dari lo. Tapi, gue rasa semua itu belum cukup. Gue gak suka liat lo baik-baik aja kayak gini!"
"Apa maksud lo? Jadi ... Lo sebenernya tau kalau gue sama Braden saling kenal?" tanya Dara heran.
Tidak menjawab, Monica malah tersenyum miring lalu berbalik pergi. "Kuy, pergi!" ajaknya pada kedua temannya yang berjaga tadi.
Sedangkan Dara, dia masih termenung meresapi ucapan Monica barusan padanya. Bingung bin heran ada apa sebenarnya dengan Monica? Apa dia dan Monica dulu pernah saling kenal?
Jam istirahat kedua, barulah Dara dan Bebi pergi ke kantin. Perut mereka sudah keroncongan sejak jam pelajaran biologi barusan.
"Mau makan apa?" tanya Bebi.
"Emm ... Mie ayam aja deh. Pake bakso tapinya. Baksonya juga bakso urat yang gede," balas Dara.
"Lo, laper banget?" tanya Bebi heran.
"Iya. Bu, saya mau mie ayam bakso, baksonya yang urat dan jumbo ya," ucap Dara pada Bu Wahyuni.
"Siap, Non. Jadi dua mangkok gak apa-apa ya? Soalnya takut nanti baksonya menggelinding," sahut Bu Wahyuni.
Dara pun mengacungkan dua jempol sebagai jawaban. Gegas dia duduk di bangku yang masih kosong, menunggu Bebi yang masih memesan makanan.
"Lo badan kecil tapi makannya banyak," ucap Bebi saat melihat Dara mulai makan.
Dara hanya tersenyum saja. Dia sudah merasa sangat lapar sekarang.
Suasana kantin tiba-tiba riuh oleh suara murid perempuan. Ternyata Rafa masuk ke kantin juga karena hendak memesan makanan.
"Pak Rafa, di sini aja duduknya sama saya!" seru murid perempuan lain.
Mendengar nama suaminya, Dara mendongak dan tatapan keduanya beradu hingga Dara yang memutus tatapan itu lebih dulu.
Melihat Dara sedang makan, Rafa berpikir pasti gadis itu sudah mengambil kartu ATM yang tadi dia simpan.
Rafa mengambil makanan yang dia pesan dan duduk di sebelah Dara.
Uhuk!
Dara langsung terbatuk karena kaget. Kenapa juga suami rahasianya itu memilih untuk duduk di sampingnya. Di saat murid lain merasa ogah, mungkin karena penampilan Dara dan Bebi yang terkesan culun.
Terdengar suara murid lain yang mungkin merasa kecewa karena guru tampan itu memilih untuk duduk di sana.
"Pak," sapa Bebi jadi canggung.
"Silahkan dilanjut saja makannya," ucap Rafa.
Rafa melirik ke arah Dara yang tidak menyapa nya sama sekali. Dia tersenyum tipis, tipis sekali bahkan mungkin tidak ada yang bisa melihatnya lalu memilih untuk makan.
Tidak berselang lama, ada guru lain datang dan Rafa langsung mengajaknya untuk duduk di samping Bebi.
Makin canggung lah Bebi, sedangkan Dara cuek saja memakan mie ayam baksonya sampai habis.
"Udah?" tanya Dara pada Bebi.
Bebi mengangguk karena soto ayam nya juga sudah habis, hanya tersisa kuahnya saja.
"Yuk balik ke kelas!" ajak Dara.
"Duluan ya, Pak." Dara dan Bebi pamit.
Pulang sekolah, seperti biasa Dara akan pulang menggunakan ojol. Dia pamit duluan pada Bebi yang katanya masih menunggu ayahnya untuk menjemput.
"Babay, Bebi!" seru Dara sambil melambaikan tangan.
Di pertengahan jalan, motor ojolnya tiba-tiba berhenti.
"Ada apa, Pak?" tanya Dara.
"Duh, Neng. Kayaknya motornya mogok. Turun dulu sebentar gak apa-apa? Saya mau cek dulu," jawab kang ojolnya.
"Aduh, ngadat lagi ini mah."
Dari kejauhan, Rafa yang juga sedang menuju perjalanan pulang melihat Dara yang berdiri di trotoar jalan sambil memegang helm.
Mau cuek tapi hati nuraninya tergerak untuk menghentikan mobilnya ke samping dan Rafa keluar lalu menghampiri Dara.
"Kenapa?"
"Astaga!" Dara mengusap dadanya yang berdebar kencang karena kaget. Dia menoleh ke samping, ternyata Rafa yang bertanya.
"Ya ampun, bisa kan gak ngagetin?!" sembur Dara dengan wajah galak.
Rafa sempat kaget karena Dara malah marah padanya. Padahal kan dia hanya bertanya saja. Benar-benar, emang. Hanya Dara yang berani galak padanya.
"Motornya kenapa?" tanya Rafa lagi.
"Mogok!" jawab Dara ketus.
Rafa tersenyum kecut. "Pulang bareng aja," ajaknya.
Kening Dara sampai berlipat mendengar ajakan suaminya. "Dia gak salah ngomong, 'kan?" batin Dara.
"Mau gak? Kayak mau ujan nih!" ujar Rafa karena Dara malah diam.
"Gak! Makasih!" tolak Dara.
Rafa kembali tersenyum kecut, sudah susah payah menurunkan ego dan gengsinya, tapi Dara malah menolak ajakannya.
"Ya sudah," ucapnya lalu berbalik dan berjalan menuju mobil.
Tiba-tiba terdengar suara petir menggelegar dan dilihatnya langit pun semakin menghitam. Sepertinya memang akan turun hujan.
"Neng pulang sama yang barusan aja. Ini motornya mau saya bawa ke bengkel. Bengkelnya agak jauh juga," ujar kang ojolnya memberi saran.
Dara jadi gamang, dia melihat ke arah Rafa yang sudah masuk ke dalam mobil. Suara petir kembali terdengar dan Dara akhirnya memberikan helm ke kang ojol beserta ongkosnya.
"Lho, gak usah, Neng. Kan gak sampe rumah," ucap kang ojol.
"Gak apa-apa, buat tambah-tambah bayar ke bengkel," sahut Dara.
Dia berlari ke arah mobil Rafa yang hendak pergi lalu mengetuk kaca jendelanya. "Tunggu, aku ikut!"
Rafa membuka kunci mobilnya dan membiarkan Dara masuk. Dia kira Dara akan duduk di depan, eh ternyata malah di belakang.
"Ngapain kamu di situ?" tanya Rafa.
"Ya kan mau nebeng pulang," jawab Dara.
"Ck. Duduk di depan! Saya bukan sopir kamu!"
Dara mengerucutkan bibirnya lalu keluar lagi dan beralih duduk di depan.
"Pakai sabuk pengamannya!" titah Rafa.
"Iya."
Di persimpangan jalan, mobil terpaksa berhenti karena lampu lalu lintas menunjukkan warna merah.
Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, membuat pengendara motor sibuk memakai jas hujan, ada juga yang membiarkan saja tubuhnya basah kuyup kehujanan.
"Padahal menurut BMKG, cuaca kemungkinan bakal panas sampai agustus," gumam Dara.
Tak sengaja menoleh ke kanan, Dara melihat Rafa memegang setir mobil dengan begitu erat hingga urat-urat tangannya terlihat menonjol. Urat di lehernya pun tampak sama.
Rafa terlihat gelisah, berulang kali menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Keringat bahkan bercucuran di pelipis pria tampan tersebut, padahal AC di dalam mobil sudah menyala.
"Dia kenapa?" gumam Dara dalam hati.
Tin! Tin! Tin!
Suara klakson mobil terdengar saling bersahutan dari belakang sana saat lampu sudah berubah hijau tapi Rafa tetap diam.
"Om, lampunya udah hijau," ucap Dara mengingatkan. Siapa tau suaminya itu sedang melamun.
Rafa menghembuskan napas berat dan mulai kembali melajukan mobilnya.
Tiba di rumah, Oma Atira ternyata sedang menunggu di teras bersama Suster Tiara yang menemani nya.
Rafa segera keluar dari mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Dara. Dara pun bergegas keluar, melindungi kepalanya dari hujan dengan tas sekolahnya.
"Rafa, kamu baik-baik saja?" tanya Oma Atira dengan wajah penuh kekhawatiran.
Rafa hanya menggeleng, lalu buru-buru masuk ke dalam rumah.
Dara semakin bingung, mengapa Oma Atira terlihat cemas dan ada apa sebenarnya dengan Rafa?