NovelToon NovelToon
The Harmony Of Us

The Harmony Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:SPYxFAMILY / Romansa
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

---

Sinopsis Utama

Di sebuah sudut tenang kota, terdapat sebuah deretan hunian asri di mana pagar-pagar rumah tidak menjadi pembatas, melainkan jembatan bagi sebuah persahabatan yang tulus. Inilah kisah tentang lima wanita dan pasangan mereka yang membangun definisi baru tentang "keluarga pilihan."

Kehangatan mengalir di setiap rumah: Jane dan Mario yang menanti kehadiran buah hati dengan penuh sukacita; Irene dan Elgi yang belajar menjadi orang tua bagi putra kecil mereka yang aktif dan ceria; Soo Young dan Endy yang romantismenya tak pernah pudar meski usia pernikahan terus bertambah; Jisoo yang membesarkan putrinya, Amora, dengan kekuatan cinta setelah ditinggal suami; serta Chaeyoung dan Leon yang membuktikan bahwa cinta tidak mengenal jarak dan benua.

Tidak ada drama besar, tidak ada rahasia kelam. Yang ada hanyalah janji untuk selalu ada satu sama lain, merayakan setiap momen kecil, dan menjaga keharmonisan yang tumbuh subur di lingkungan mereka. Inilah kisah tentang keluarga

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Us

 

Pukul 21.00, Hannah tidur dengan pulas di boksnya.

Jane dan Mario duduk di ruang tamu, menghela napas lega. Setelah seharian penuh dengan tamu dan sambutan meriah, akhirnya mereka punya waktu sendiri.

"Mas, kita istirahat, yuk. Besok mungkin bakal sibuk," ucap Jane.

"Iya, Sayang. Kamu mandi dulu, aku jagain Hannah."

Jane berjalan ke kamar mandi, menikmati air hangat yang menyegarkan. Sembilan bulan hamil, tiga hari di rumah sakit, dan hari pertama di rumah—tubuhnya lelah luar biasa. Tapi ada rasa syukur yang tak terhingga di hatinya.

Selesai mandi, ia bergantian dengan Mario. Mereka berbaring di ranjang pukul 22.00, siap untuk tidur nyenyak.

Atau begitulah kira-kira.

 

Pukul 23.30

"Oaaaa... oaaaa... OAAAA!"

Jane tersentak bangun. Butuh beberapa detik untuk menyadari suara apa itu. Lalu ingatan kembali: Hannah. Bayi mereka. Menangis.

Mario juga bangun, matanya masih setengah terpejam. "Ada apa? Ada apa?"

"Hannah nangis, Mas." Jane sudah bangkit, berjalan ke boks.

Hannah menangis kencang, wajahnya merah, tangannya mengepal. Jane menggendongnya, mencoba menenangkan.

"Ssst... ssst... Bunda di sini, Sayang."

Tapi Hannah terus menangis. Jane memeriksa popoknya—kering. Dicoba disusui—Hannah menolak, malah semakin keras menangis.

"Mungkin kedinginan?" Mario ikut bangun, meraba tangan Hannah. "Hangat kok."

"Atau kepanasan?"

Mario mengambil kipas, mengipasi Hannah pelan. Tidak mempan.

Setelah 20 menit menangis tanpa henti, Jane hampir menyerah. "Mas, ini kenapa, sih?"

Mario berpikir keras. Ia ingat buku-buku yang dibacanya. Bayi menangis bisa karena lapar, popok basah, kedinginan, kepanasan, atau kolik.

"Kolik, kali, Sayang."

"Kolik?"

"Iya. Biasanya bayi suka digendong posisi tegak, atau diperutinya."

Mario mengambil Hannah dari gendongan Jane. Ia menggendongnya dengan posisi tegak, menempelkan dada Hannah ke dadanya, lalu menepuk-nepuk punggungnya pelan.

Perlahan, tangisan Hannah mereda. Beberapa menit kemudian, ia bersendawa keras, lalu tertidur di dada Mario.

Jane dan Mario saling pandang, lega.

"Mas, lo jenius."

"Buku, Sayang. Semua dari buku."

Mereka tertawa pelan. Mario menidurkan Hannah kembali di boksnya. Bayi itu tidur dengan damai, seolah tidak terjadi apa-apa.

Jane melihat jam. Pukul 00.15. Mereka baru tidur 45 menit dari total satu setengah jam.

"Mas, tidur lagi, yuk. Besok mungkin bakal lebih sering."

 

Pukul 02.45

"OAAAA! OAAAA!"

Kali ini Mario yang lebih dulu bangun. Ia sudah hafal suara itu.

"Aku ambil, Sayang. Lo tidur aja." Mario turun dari ranjang, menggendong Hannah.

Popok basah. Mario menggantinya dengan hati-hati, mengingat instruksi dari buku dan video YouTube. Hannah menangis selama proses ganti, tapi begitu selesai dan digendong, ia tenang.

Mario menggendongnya sambil jalan pelan di ruang tamu. Hannah menatap sekeliling dengan mata terbuka lebar, meski jam menunjukkan hampir pukul 3 pagi.

"Lo nggak ngantuk, ya?" bisik Mario. "Ini udah malem, lho. Harusnya tidur."

Hannah hanya menatapnya dengan polos.

Mario tersenyum. Ia duduk di sofa, menggendong Hannah sambil bersenandung pelan. Lagu apa pun yang terlintas di kepala.

"Nina bobo, oh nina bobo... kalau tidak bobo... digigit nyamuk..."

Hannah mulai menguap. Matanya sayu.

Mario tersenyum. "Nah, gitu dong. Tidur, yuk."

Setelah 20 menit, Hannah tertidur di dadanya. Mario menggendongnya sebentar, memastikan ia benar-benar pulas, lalu menidurkannya di boks.

Jam menunjukkan pukul 03.30.

Mario kembali ke ranjang. Jane sudah tidur pulas, tidak terganggu. Mario memeluknya dari belakang, bersyukur memiliki istri yang kuat.

 

Pukul 05.00

"OAAAA! OAAAA!"

Sekarang Jane yang bangun. "Giliran aku, Mas. Lo tidur."

Mario hanya bergumam, sudah terlalu lelah untuk bangun.

Jane menggendong Hannah, memberinya ASI. Kali ini Hannah mau menyusu dengan lahap. Sambil menyusu, matanya terpejam, tubuhnya rileks.

Jane mengelus rambut halus Hannah. "Kamu lapar, ya? Kenapa nggak dari tadi bilang? Bunda kan udah siap."

Hannah terus menyusu, tidak peduli dengan omongan ibunya.

Setelah kenyang, Hannah tidur lagi di dada Jane. Jane menggendongnya sebentar, menikmati kehangatan bayi mungil itu.

Di luar, langit mulai terang. Burung-burung berkicau menyambut pagi.

Jane tersenyum. Malam pertama yang melelahkan, tapi juga indah.

 

Pukul 07.00, Mario bangun. Ia menemukan Jane di sofa, menggendong Hannah yang sudah tidur.

"Sayang, lo begadang?" tanyanya.

"Bangun jam 5, nyusuin. Dia tidur lagi jam 6."

"Lo nggak tidur lagi?"

"Nggak. Udah melek."

Mario duduk di sampingnya, memijit bahu Jane. "Capek, ya?"

"Capek. Tapi seneng."

Mereka memandangi Hannah yang tidur dengan damai. Bayi mungil itu tidak tahu betapa repotnya ia semalam. Ia hanya tahu, ia butuh sesuatu, dan orang tuanya akan memberikannya.

"Ini baru permulaan, Mas." Jane mengingatkan.

"Iya, aku tahu." Mario menghela napas. "Tapi kita lewati bareng-bareng."

"Bareng-bareng."

 

Pukul 09.00, bel rumah berbunyi.

Mario membuka pintu. Irene berdiri dengan sepiring makanan.

"Selamat pagi! Aku bawa sarapan. Kasihan kalian pasti capek habis jagain bayi semalaman." Irene tersenyum.

Mario menerima piring itu dengan haru. "Mba Irene... makasih."

"Sama-sama. Itu nasi goreng sama telur. Makan biar kuat."

Irene masuk, menghampiri Jane yang masih di sofa dengan Hannah. "Wah, cantiknya tidur. Semalem gimana?"

Jane menghela napas. "Bangun tiap dua jam. Capek, Mba."

Irene tertawa. "Itu normal. Rafa dulu juga gitu. Tiga bulan pertama paling berat."

"Terus gimana caranya kuat, Mba?"

"Inget, ini cuma sementara. Nanti dia akan tidur lebih panjang. Nikmatin aja prosesnya." Irene mengelus kepala Jane. "Lo hebat, Jan. Aku tahu."

Jane terharu. "Makasih, Mba."

 

Tak lama kemudian, Jisoo datang dengan Amora. Amora langsung mencari Hannah.

"Mana adek? Amo mau lihat!"

Jisoo menahan Amora. "Sabar, Sayang. Adek lagi tidur."

Amora mengintip ke boks. "Ciiil... imut..."

Jisoo ikut mengintip, lalu menoleh pada Jane. "Capek?"

"Iya, Kak."

"Itu biasa. Nanti kalau udah bisa tidur malem, lo kangen masa-masa ini."

Jane mengernyit. "Kangen begadang?"

"Kangen gendong dia tengah malem, kangen nyusuin, kangen momen cuma berdua di jam-jam sunyi." Jisoo tersenyum. "Itu momen yang nggak akan terulang."

Jane merenung. Mungkin kakaknya benar.

 

Siang harinya, Soo Young datang membawa sup hangat. "Ini buat Jane. Sup ayam, bagus buat ibu menyusui."

"Matur nuwun, Tante." Jane menerima dengan senang.

Endy ikut datang, membawa koran untuk Mario. "Nih, biar lo update berita. Nggak usah keluar-keluar dulu."

Leon dan Chaeyoung datang dengan kamera, tentu saja. "Foto Hannah lagi, dong!" pinta Chaeyoung.

Leon memotret Hannah dari berbagai sudut. "She's so beautiful. Like a little doll."

Hannah, yang sedang bangun, menatap kamera Leon dengan polos. Leon hampir meleleh.

"Chae, kita harus punya anak!"

Chaeyoung tertawa. "Sabar, Leon. Sabar."

 

Sore harinya, Jane dan Mario duduk di teras, menikmati angin sore. Hannah tidur di gendongan Jane, memakai baju baru pemberian Soo Young.

"Mas, kita dikelilingi orang-orang baik banget."

"Iya, Sayang. Mereka semua sayang sama kita."

"Hannah beruntung. Dia punya banyak tante dan om yang sayang."

"Dia juga punya orang tua yang sayang." Mario meraih tangan Jane. "Makasih, ya, udah mau berjuang."

"Malah aku yang makasih. Lo udah jadi suami siaga, ayah siaga, semuanya."

Mereka tersenyum. Di pangkuan Jane, Hannah menggeliat kecil, lalu kembali tidur.

Malam akan segera tiba. Malam kedua dengan Hannah. Mereka sudah lebih siap. Atau setidaknya, mereka pikir begitu.

Tapi apapun yang terjadi, mereka akan menghadapinya bersama. Dengan bantuan keluarga pilihan yang selalu ada di sekitar mereka.

Di Griya Asri, malam turun dengan damai. Dan di rumah nomor 7, sebuah keluarga kecil belajar menjadi orang tua. Satu tangisan bayi, satu popok basah, satu malam tanpa tidur pada satu waktu.

Dan cinta, yang membuat semua itu terasa berharga.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!