"Dia adalah anakku, bukan anak haram"
~Rosita Salsabila Akbar~
"Mereka tak pernah benar-benar ada karena cinta. Mereka disampingku hanya untuk harta dan kedudukan, bahkan mereka akan mundur perlahan karena malaikat kecil yang selalu ada di sisiku. Tapi kau, bagaimana dengan kau?"
~Rosita Salsabila Akbar~
"Aku tak pernah benar-benar mencintai wanita sebesar ini"
~Bimantara Eka Julian~
"Melihatlah ke arahku! Dan jangan katakan itu lagi, karena itu sangat menyakitkan buatku"
~Bimantara Eka Julian~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon r_eka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikah?
"Ada apa Mbak Sita memanggilku?" Tanya Mila yang baru saja masuk ke ruangan Sita. Hari ini adalah hari pertama Mila bekerja di kantor Sita. Tentu saja tanpa jabatan penting. Dia hanya menjadi karyawan biasa.
"Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" Tanya Sita dengan wajah datar, tanpa ekspresi.
Belum sempat Mila menjawab, pintu ruangan Sita terbuka dan masuklah Rafi ke dalamnya.
"Bisakah kamu mengetuk pintu dulu sebelum masuk kesini!" Sindir Sita.
"Maaf sayang, aku buru-buru. Aku khawatir dengan kondisimu. Aku baru dapat kabar, kamu kemarin kecelakaan", kata Rafi sembari berjalan mendekati meja Sita dan melewati Mila yang masih berdiri di tempatnya.
"Sayang?" Kata Mila dalam hati. Ia mengamati Rafi, mencoba menerka siapa pria yang ada di depannya itu.
"Dia tunangan Mbak Sita?" Tanya Mila penuh selidik, sambil berjalan mendekati Rafi.
Mendengar suara Mila, Rafi pun membalik badannya. Pria itu memasang senyum pada calon adik iparnya, ketika melihat siapa wanita yang kini berdiri di hadapannya.
"Mila", Mila menjulurkan tangannya pada Rafi dengan senyum menggodanya. "Saya adik dari tunangan anda".
Dan dengan sanang hati Rafi menyambut uluran tangan Mila. "Rafi", ucapnya. "Siapa yang tidak tau anda, meski kakak anda tidak pernah menceritakan sosok anda, namun nama besar kakek anda akan membuat semua keluarganya menjadi sorotan".
"Oh ya! Anda terlalu berlebihan, tuan Rafi", kata Mila.
"Ehmmm", suara Sita membubarkan acara perkenalan Rafi dan Mila. Wanita itu berdiri dari tempat duduknya. "Apa sudah selesai acara perkenalannya? Jika belum silahkan dilanjutkan. Saya akan menemui klien di luar", kata Sita yang kemudian berjalan keluar, melewati dua orang yang ada di dalam ruangannya itu.
"Sita tunggu! Aku mau bicara denganmu!" Teriak Rafi pada Sita yang sudah melangkah keluar melewati pintu. Pria itu kini meninggalkan Mila yang masih tak beranjak dari tempatnya.
Sita tetap berjalan, tak menengok sama sekali ke arah Rafi yang mengekor di belakangnya. Hingga sampai di depan lift, Rafi akhirnya berhasil mensejajarkan dirinya dengan Sita.
"Aku ingin bertemu kakekmu", kata Rafi sambil berjalan masuk ke lift yang pintunya baru saja terbuka.
"Untuk apa?" Ucap Sita yang masih tak mau menengok sedikitpun ke arah Rafi. "Sampai saat inipun, kakek masih belum bisa menerima pertunangan kita. Jadi aku rasa ia tak akan mau menemuimu".
"Aku akan meminta izin untuk menikahimu segera". Ucapan Rafi itu berhasil membuat Sita untuk menoleh kepadanya. "Kamu mau kan menikah denganku?" Kata Rafi pada wanita di sebelahnya.
"Maaf, aku belum siap", kata Sita datar.
"Kenapa? Apa karena kamu belum mencintaiku?" Sita terdiam, tak sepatah katapun keluar untuk menjawab pertanyaan Rafi.
"Jika memang karena itu, yakinlah bahwa cinta akan muncul dengan sendirinya ketika kita sudah terbiasa ada pada satu atap",p kata Rafi berusaha meyakinkan Sita.
"Karena ada banyak hal yang harus ku kejar, sebelum aku menikah", Kata Sita.
Tingg.... Bunyi pintu lift terbuka, Sita memilih untuk keluar lebih dulu, namun setelah berjalan tak jauh dari pintu lift yang kini sudah tertutup kembali, tiba-tiba Rafi mencengkeram pergelangan tangannya tanpa menghentikan langkahnya.
"Rafi lepaskan!" Cicit Sita, sambil menunduk menghindari pandangan para karyawannya. Namun Rafi tak mau melepaskan, malahan cengkraman itu semakin kuat, ketika mereka sudah keluar dari gedung kantor milik Sita.
"Duduklah, jangan kemana-mana!" Perintah Rafi pada Sita yang baru saja tubuhnya ia dorong masuk ke dalam mobil miliknya.
Rafi ikut masuk ke dalam mobil, setelah berjalan memutar melewati bagian depan mobil dan membuka pintu untuk pengemudi.
"Kita mau kemana? Aku mau bertemu klien sekarang!" kata Sita, saat mesin mobil mulai dinyalakan oleh Rafi.
Rafi menoleh ke arah Sita sejenak, namun tak mau menjawab pertanyaan Sita.
"Rafi katakan, kita mau kemana? Jika tidak kau katakan, aku akan memaksa turun", Sita berusaha mengancam Rafi, namun Rafi justru menaikkan kecepatan mobilnya.
"Coba saja kamu keluar", kata Rafi dengan senyum sinisnya. "Aku tak akan membiarkanmu pergi sekarang, kerena untuk bisa mengajakmu seperti ini saja, aku harus bersusah payah".
"Tapi waktunya tidak tepat! Aku masih ada kerjaan!" Kata Sita jengkel, namun kemudian ia hanya diam, menerima saja Rafi akan membawanya kemana.
Mobil yang dikendarai Rafi akhirnya berhenti juga. "Ayo turun, sayang!" Ajak Rafi.
Sita tak menggubris ucapan Rafi. Dia sibuk mengamati kondisi disekitar tempat ia berada sekarang. "Kita mau apa?"
Rafi menutup kembali pintu mobil yang tadi sudah ia buka sedikit. Ia lalu mengangkat dagunya untuk menunjukkan suatu tempat, membuat Sita mengerutkan keningnya.
"Untuk apa ke toko perhiasan?" Tanya Sita.
"Tentu saja untuk membeli cincin perkawinan. Tadi kan sudah kubilang, bahwa aku akan menikahimu segera, Ok!" Kata Rafi dengan senyum simpul yang menghiasi wajahnya.
"Aku nggak mau! Aku nggak siap, Fi! Tolonglah mengerti!" kata Sita dengan Nada tinggi.
"Ayolah, Sita, kali ini ikuti kemauanku!" Suara Rafi ikut meninggi. "Aku sangat mencintaimu! Dan aku berharap dengan segera menikahimu, kamu akan mencintaiku juga", Rafi mulai menggeser badannya mendekati Sita. Membuat Sita ikut bergeser mundur.
"Dengan cara apa aku bisa mendapat cintamu hmmm", Rafi terus merinsek ke Sita hingga Sita yang sudah terpojok, merasa ketakutan. Ia berusaha membuka pintu mobil di belakangnya, namun tak berhasil.
"Jangan mendekat! Pergi!" Sita mendorong dada Rafi dengan kuat, namun karena kalah tenaga, Rafi semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Sita. Sita mulai gemetar dan keringat dingin mulai bercucuran.
Flashback on
"Sayang, aku tidak menyangka, Harun memiliki anak secantik dan seseksi dirimu", Ucap Yudha sambil meraba tubuh Sita yang saat itu belum genap berumur 17tahun.
Saat itu Sita sedang memasak di dapur, karena seluruh pembantu sedang libur lebaran. Sementara penghuni rumah lainnya, yaitu Tante Ely dan Mila sedang pergi ke Mall.
Gadis itu tak berani melawan karena sebelumnya akan diancam untuk dibunuh, oleh orang yang tak lain adalah adik ipar ibunya. Anak itu hanya gemetar dan meneteskan air mata, tatkala pria berumur 40-an itu menciumi rambut, leher, pundak, dan bagian tubuh lainnya yang terbuka.
Tangisnya semakin keras, tatkala Yudha mulai melucuti pakaiannya dan mendorong badannya hingga terpojok dan membentur tempat cuci piring. Bersamaan dengan itu, tangannya dapat menjangkau pisau yang tergeletak di situ.
Jleppp....dengan tangan yang bergetar, Sita menancapkan pisau yang ada di genggamannya ke perut Yudha. Darah mengucur deras dari perut pria yang hampir saja mati itu. Dengan sisa-sisa tenaganya Sita berlari untuk meminta bantuan tenaganya.
Karena perbuatannya itu, Sita hampir saja dipenjara, namun karena kekuasaan kakeknya, ia dapat lepas dari jerat hukum dan hanya diwajibkan lapor.
Sejak peristiwa itu, Sita selalu ketakutan berlebihan jika ada laki-laki asing yang mencoba berada sangat dekat dengan dirinya.
Flashback off
Brukkkk.... Dengan kuat Sita menendang bagian ******** Rafi, hingga pria itu meringis kesakitan. Momen itu digunakan Sita untuk segera membuka pintu mobil dan berlari sejauh mungkin dari Rafi.
########
Alhamdulillah hari ini bisa up 2 bab, semoga kalian menikmati🤗
Happy Reading🌹
smga sehat" trs dan bs lnjut lg thor
nah semangat thor, semoga sukses.
memang ada sih yang bilang biar penasaran.
mending mantan penjahat ya kan
buat perjanjian pranikah antara mila dan rafi misalnya " apabila rafi ketahuan selingkuh maka gugur kepemilikkan saham"