NovelToon NovelToon
Jadikan Aku Pelabuhan Terakhirmu

Jadikan Aku Pelabuhan Terakhirmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berondong / Aliansi Pernikahan
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan seorang celebrity chef terkenal bernama Devina Maharani yang harus menerima kenyataan bahwa pertunangannya dengan Aris Wicaksana harus kandas karena Aris ketahuan masih belum bercerai dengan istri sahnya. Devina begitu shock dan terpukul setelah acara pertunangan itu batal. Di saat terendah dalam hidupnya ia bertemu dengan Gavin Wirya Aryaga seorang pengusaha muda di bidang pembuatan alat memasak. Perlahan kedekatan intens dan cinta pun datang membuat Devina ragu bisakah Gavin menjadi pelabuhan terakhirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kekacauan Terjadi

Di sebuah apartemen tersembunyi yang menjadi tempat persembunyian sementaranya, Aris Wicaksana mengamuk. Suara pecahan kaca kembali memenuhi ruangan yang pengap itu. Ia baru saja melempar botol wiski ke arah cermin besar, menghancurkan bayangan wajahnya sendiri menjadi kepingan-kepingan tajam.

"Sialan! Gavin! Selalu saja laki-laki itu!" Aris meraung, napasnya memburu seperti serigala yang terpojok.

Tangannya gemetar hebat, bukan karena takut, melainkan karena adrenalin kemarahan yang meluap-luap. Rencananya untuk melenyapkan Bu Imroh seharusnya menjadi titik akhir dari segala kecurigaan. Ia sudah membayangkan tubuh wanita tua itu hancur di bawah roda mobilnya, mengakhiri semua teriakan tentang "pembunuhan Salsa". Namun, keberadaan Gavin yang selalu muncul di saat yang salah membuat segalanya berantakan.

Aris menyeka keringat dingin di dahinya. Matanya melotot, menatap tajam ke arah kegelapan di luar jendela. "Ibu tua itu harus mati. Dia harus menyusul putrinya ke neraka. Selama dia masih bernapas, dia adalah bom waktu yang bisa meledakkan semua kekuasaan yang kubangun."

Di kepalanya, sebuah rencana baru yang lebih sadis mulai terbentuk. Jika menabrak di jalanan gagal karena intervensi orang lain, maka ia akan memastikan Bu Imroh mati di tempat di mana tidak ada yang bisa menolongnya—di dalam keheningan yang mematikan.

****

Sementara itu, di sebuah kantor kepolisian daerah yang tenang namun sibuk, Gavin Wirya Aryaga duduk di hadapan seorang perwira menengah yang dikenal memiliki integritas tinggi, Komisaris Pratama. Di atas meja kayu jati itu, tertumpuk puluhan dokumen, laporan keuangan yang dimanipulasi, hingga bukti-bukti transfer gelap yang mengarah pada penyuapan oknum aparat di masa lalu.

Gavin melepaskan kacamata hitamnya, matanya yang sipit nampak lelah namun penuh determinasi. "Semua bukti ini otentik, Komandan. Aris Wicaksana bukan hanya menipu investor, dia telah menciptakan sistem yang membungkam keadilan selama bertahun-tahun. Penipuan, penggelapan pajak, hingga indikasi kekerasan yang berujung pada kematian istrinya sendiri."

Komisaris Pratama membolak-balik dokumen itu dengan dahi berkerut. "Ini sangat detail, Pak Gavin. Jika semua ini terbukti di pengadilan, Aris tidak hanya akan kehilangan bisnisnya, dia akan menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi."

"Saya ingin dia diproses secepat mungkin," tegas Gavin, suaranya rendah namun berwibawa. "Pria ini berbahaya. Dia baru saja mencoba membunuh seorang saksi kunci di depan mata saya. Keselamatan Bu Imroh adalah prioritas utama."

"Kami akan segera mengeluarkan surat perintah penyelidikan dan pencekalan," jawab sang Komisaris. "Tim kami akan mulai bergerak malam ini untuk memverifikasi aliran dana ini. Terima kasih atas keberanian Anda, Pak Gavin."

Gavin keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang sedikit lebih ringan, namun firasatnya mengatakan bahwa Aris tidak akan menyerah tanpa perlawanan yang berdarah.

****

Di sebuah rumah aman (safe house) milik keluarga Aryaga yang dijaga ketat, Bu Imroh duduk meringkuk di atas tempat tidur. Ia terus memegangi tas tasbih di tangannya, bibirnya tak henti merapalkan doa-doa pelindung. Tubuhnya masih bergetar hebat mengingat deru mesin mobil dan sorot lampu yang hampir merenggut nyawanya malam itu.

Devina duduk di sampingnya, mendekap bahu wanita tua itu dengan penuh kasih sayang. "Ibu, tenang ya... di sini aman. Ada penjaga di depan."

"Dia mau membunuhku, Nak... Aris benar-benar mau membunuhku," bisik Bu Imroh dengan suara parau. "Matanya... aku sempat melihat matanya di balik kaca mobil itu. Itu bukan mata manusia, itu mata iblis yang lapar."

Devina merasakan bulu kuduknya meremang. Ia semakin menyadari betapa mengerikannya pria yang nyaris ia jadikan suami itu. "Ibu tidak perlu takut lagi. Gavin sudah melaporkan semuanya ke polisi. Kebenaran soal Salsa akan segera terungkap."

Bu Imroh menatap Devina dengan tatapan yang dalam dan penuh duka. "Hati-hati, Nak Devina. Orang seperti dia, jika tidak bisa memiliki apa yang dia mau, dia akan menghancurkannya. Jangan biarkan dirimu sendirian."

****

Kembali ke apartemennya, Aris sedang menatap papan tulis yang ia penuhi dengan foto-foto Devina dan Gavin. Sebuah seringai tajam tersungging di wajahnya yang pucat. Ia tidak lagi peduli pada bisnisnya yang mulai goyah atau polisi yang mulai mengincarnya. Fokusnya kini hanya satu: Devina.

Bagi Aris, Devina bukan hanya sekadar wanita, melainkan simbol kejayaannya. Jika ia kehilangan Devina, maka ia benar-benar kalah. Dan Aris tidak pernah sudi menerima kekalahan.

"Kamu pikir kamu bisa lari ke pelukan Gavin, Devina?" Aris berbicara pada foto Devina yang tertempel di dinding. "Setelah semua yang kuberikan padamu? Setelah semua sandiwara yang kumainkan demi mendapatkanmu?"

Ia mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan bening dan sebuah alat setrum listrik dari dalam laci. Rencana penculikan itu sudah tersusun rapi di otaknya. Ia akan memancing Devina keluar dari perlindungannya, membawanya ke sebuah vila terpencil di puncak, dan memaksanya untuk kembali padanya—entah dengan kata-kata atau dengan paksaan yang lebih gelap.

"Kalau dunia ini tidak mengizinkanku bersamamu, maka aku akan menciptakan dunia kita sendiri," gumam Aris dengan tawa yang terdengar sangat tidak waras.

Ia tahu Gavin sedang mengumpulkan bukti. Ia tahu polisi sedang mengepungnya. Tapi Aris adalah tipe pria yang akan membakar seluruh hutan hanya untuk menangkap satu ekor burung. Ia akan menculik Devina, dan jika perlu, ia akan melenyapkan siapa pun yang menghalanginya, termasuk Gavin.

Malam semakin larut, dan di bawah rembulan yang tertutup awan hitam, Aris mulai mengemasi senjatanya. Badai besar sedang menuju ke arah Devina, dan kali ini, tidak akan ada peringatan sebelum kehancuran itu datang.

****

Studio syuting Kitchen Master yang biasanya tertata apik dengan pencahayaan dramatis dan aroma rempah yang menggoda, sore itu berubah menjadi medan pertempuran yang mencekam. Bau bawang putih yang ditumis kini tertutup oleh bau permusuhan yang menyengat.

Devina Maharani berdiri di balik meja dapur utamanya, jemarinya mencengkeram pinggiran marmer hingga memutih. Di bawah sorotan lampu studio yang panas, ia melihat sosok yang paling ia benci masuk melalui pintu samping dengan langkah yang tidak stabil.

Aris Wicaksana datang dengan penampilan yang sudah jauh dari kata rapi. Jasnya kusut, rambutnya acak-acakan, dan matanya memerah oleh amarah serta kegilaan yang tak lagi bisa disembunyikan.

"Aris! Berhenti di situ!" suara lantang itu bukan datang dari Devina, melainkan dari Bu Ines.

Bu Ines, yang selalu mendampingi putrinya di lokasi syuting, langsung berlari menghadang langkah Aris di koridor teknis sebelum pria itu mencapai panggung utama. Wajah Bu Ines nampak pucat namun penuh keberanian seorang ibu.

"Jangan berani-berani kamu mendekati putriku lagi, bajingan!" teriak Bu Ines sambil merentangkan tangannya, menghalangi jalan Aris.

"Minggir, Tua Bangka!" Aris menggeram, suaranya terdengar seperti binatang buas. "Devina itu milikku! Kalian semua yang merusak kepalanya!"

"Dia bukan milikmu! Dia manusia, bukan barang daganganmu!" Bu Ines mencoba mendorong dada Aris, namun kekuatan wanita paruh baya itu tentu tak sebanding dengan kegilaan Aris.

Tanpa rasa kemanusiaan sedikit pun, Aris mencengkeram bahu Bu Ines dan mendorongnya dengan tenaga penuh. "Kubilang minggir!"

Tubuh Bu Ines terpental ke arah deretan kabel lampu dan penyangga besi. BRAK! Bu Ines jatuh menghantam lantai beton dengan keras, kepalanya membentur kaki tripod kamera hingga ia mengerang kesakitan dan tak mampu bangkit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!